
"Makasih." ucap Zaiden sambil menggendong Zira.
"Ayo Mas masuk!" ucap Derly mempersilahkan Zaiden untuk segera masuk.
Lalu mereka duduk di ruang keluarga, Zaiden membawa banyak oleh-oleh dari Prancis. Berbagai makanan, minuman, dan barang-barang lainnya dari Prancis.
Beberapa aisiten rumah tangga membantu membawakan koper-koper milik Zaiden.
"Koper Kakak banyak banget," ucap Zira sambil terus memandangi koper.
"Koper ini untuk Zira," ucap Zaiden.
"Kok Zira dapetnya koper kecil sih Kak?" ucap Zira sambil merajuk.
"Kan Zira masih kecil, coba dibuka dulu kopernya," ucap Zaiden.
Zira langsung turun dari pangkuan Zaiden dan segera membuka kopernya.
"Wah banyak banget, ada baju, permen, coklat, sepatu, tas, dan mainan," ucap Zira sambil melihat-lihat seisi koper itu.
"Makasih Kakak." sambung Zira sambil berjalan menuju Zaiden dan memeluk kakaknya.
"Sama-sama," ucap Zaiden singkat.
Derly hanya melihat begitu akrabnya suami dan adik iparnya yang masih kecil itu.
"Apakah ada untuk aku?" tanya Derly.
"Tentu saja Mas sudah menyiapkan khusus untukmu," ucap Zaiden.
"Koper yang sebelah kiri untukmu." ucap Zaiden sambil menunjukkan salah satu koper.
Derly hanya tersenyum, ia akan membuka koper itu di dalam kamar.
"Koper yang isinya baju kamu yang mana Mas?" tanya Derly.
"Itu yang ditengah," ucap Zaiden sambil menunjuk salah satu koper.
Derly langsung menuju koper itu, ia mau membereskan baju kotor dan baju yang masih bersih.
"Aku ke kamar dulu ya Mas," pamit Derly. Zaiden hanya mengangguk.
Derly langsung menuju menuju kamarnya untuk memilih baju yang bersih dan kotor. Setelah sampai kamar Derly melihat satu-satu baju tersebut, dan tibalah ia melihat kemeja yang sudah dinodai oleh Kiana.
Deg!
Deg!
Melihat baju yang bernoda lipstik, Derly merasa bahwa Zaiden berbohong akan perihal pekerjaannya keluar negeri.
__ADS_1
"Apa ini Mas? kamu bohong, kamu bilang kamu ke Prancis mau menyelesaikan pekerjaan disana. Tapi kenapa kamu bohong?" batin Derly.
Tanpa sadar, air mata Derly menetes. Dadanya kini rasanya sesak dan pikirannya entah kemana.
"Kamu ke Prancis apakah hanya mau menutupi hubunganmu dengan asistenmu?" tanya Derly dalam hati.
Ingin rasanya Derly marah, tapi ia teringat akan adanya Zira. Ia takut akan membuat Zira merasa tidak tenang.
Setelah membereskan baju-baju Zaiden, Derly berjalan sambil membawa baju kotor dan meminta art untuk mencucinya.
"Mba tolong cuci baju ini sampai gak ada noda satupun," ucap Derly.
"Baik Nyonya." ucap asisten rumah tangga itu dan langsung menuju mesin cuci.
Derly kembali bergabung dengan Zaiden dan Zira. Mereka bercerita panjang lebar hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Mereka kembali ke kamar masing-masing.
Derly membuka koper pemberian dari Zaiden. Ia melihat begitu banyak baju yang cantik dan mahal, sepatu, perhiasan, dan lain-lain sebagainya.
"Mas kok kamu beli semua ini?" tanya Derly.
"Kamu gak suka ya apa yang Mas beli?" Zaiden bertanya balik.
"Bukannya gak suka Mas, di ruangan baju, tas, dan sepatu aja itu masih banyak yang belum dipakai," ucap Derly.
"Yaudah buat koleksi aja," ucap Zaiden dengan santai.
"Dari sikap Mas Zaiden sekarang sudah beda dari yang dulu," batin Derly.
Makan malam kini sudah siap, Derly dan Zaiden berjalan bersama menuju ruang makan.
Mereka langsung memakan makan malamnya tanpa sepatah katapun. Setelah makan malam Zira langsung kembali ke kamarnya dan membuka satu-satu mainan pemberian dari kakaknya. Derly dan Zaiden juga kembali ke kamar mereka.
Derly ingin melupakan apa yang ia lihat di baju suaminya. Ia tidak ingin rumah tangganya hancur.
Hari-hari berlalu, rumah tangga Derly dan Zaiden sungguh sangat harmonis. Kiana semakin geram melihat semua itu. Ia kembali merencanakan seperti apa yang ia rencanakan.
Sudah waktunya makan siang, Zaiden dan Kiana menuju salah satu restoran di seberang jalan kantor. Kiana menyuruh seseorang untuk menabrak dirinya, ia berharap Zaiden menolongnya setelah makan siang. Makan siang pun sudah selesai, Kiana dan Zaiden pun menyebrang jalan.
Tanpa Zaiden sadar, motor yang akan menabrak Kiana sudah bersiap-siap menabrak Kiana.
Tiiiiiit!!
Tiiiiiiiit!!
Suara klakson motor berbunyi,dengan buru-buru Zaiden menarik tangan Kiana. Dan akhirnya Kiana berada didalam pelukan Zaiden.
Kiana menempelkan bibirnya di jas kerja milik Zaiden tanpa Zaiden sadari.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zaiden.
__ADS_1
"Iya Pak, saya tidak apa-apa," ucap Kiana.
"Makasih Pak, sudah mau menolong saya tadi." sambung Kiana sambil berpura-pura malu.
Kiana senang rencana yang ia rencanakan kini berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu hasilnya saja.
Hari semakin sore, semua karyawan pun sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini tinggal Zaiden yang berada di kantor, karena melihat semua sudah pulang. Maka kini Zaiden memutuskan untuk pulang.
Kini Zaiden sudah sampai rumah.
Derly langsung melepaskan jas Zaiden. Ia melihat ada noda lipstik lagi di jas milik Zaiden. Kerena tak tahan Derly pun mulai bicara.
"Ini apa Mas!" ucap Derly sambil memperlihatkan noda liptik di jasnya.
"Sabar Sayang, ini buka seperti yang kamu pikirkan," ucap Zaiden.
"Waktu dulu kamu ke Prancis juga ada noda ini, terus kenapa kamu mengelak Mas!" ucap Derly sambil meneteskan air matanya.
"Ini bukan seperti apa yang kamu lihat. Kamu harus percaya sama Mas." ucap Zaiden sambil melangkah mendekati Derly.
"Jangan sentuh aku!" ucap Derly sambil menangkis tangan Zaiden.
Derly melempar jas ke arah Zaiden dan berlari menuju kamarnya. Lalu dengan cepat Derly mengunci pintu kamarnya. Zira mendengar bahwa kakak dan auntynya sedang bertengkar, Zira langsung menghindar ia takut jika melihat orang yang sedang bertengkar.
Zaiden menyusul Derly ke kamarnya. Tapi Derly tidak membukakan pintu kamarnya.
"Sayang, Mas bisa jelasin semua ini." ucap Zaiden sambil mengetuk pintu kamar.
"Malam ini kamu tidur di kamar lain Mas, hiks… hiks," ucap Derly sambil terisak.
"Bukain dong pintunya. Mas bisa jelasin semua ini, ini hanya salah paham," ucap Zaiden yang masih terus berada di depan pintu kamar.
"Jelasin apanya? ini sudah kedua kalinya kamu selingkuh di belakang aku Mas!" ucap Derly.
"Semua ini hanya salah paham, Sayang. Kamu buka pintunya dulu, Mas akan jelasin semuanya," ucap Zaiden.
"Hiks… hiks… hiks!" tangis Derly semakin pecah.
Zaiden yang mendengar semakin keras tangisan istrinya, ia pun mulai melangkah menjauh dari kamar tersebut.
Kini waktu makan malam sudah tiba, tapi Derly belum muncul ke meja makan. Zira takut jika akan terjadi sesuatu dengan auntynya.
"Zira, nanti kamu anterin makanan buat Aunty ya," ucap Zaiden.
"Iya Kak," jawab Zira singkat.
.......................................................................
Terimakasih sudah mampir😊
__ADS_1
Jangan lupa like ya😊