
Derly terus mencarinya. Tapi tidak ketemu juga. Akhirnya Derly memutuskan untuk merebahkan tubuhnya yang sudah sangat capek.
"Udah ketemu?" tanya Zaiden. Derly hanya menggeleng.
"Aku yakin, kalo aku naruh gelang itu di sini," ucap Derly.
"Gelang itu mahal, Sayang. Kenapa bisa sampai hilang?" tanya Zaiden.
"Aku nggak tau, Mas. Dari pagi gelang itu aku taruh di sini, kita pasang cctv aja ya, Mas." ucap Derly yang berpikir bahwa pasti ada yang mengambilnya.
"Kamu jangan berpikir buruk dulu, mungkin gelang itu benar-benar terjatuh. Mending kita tidur dulu. Besok bisa dicari lagi," ucap Zaiden.
Tidak menunggu waktu lama, mereka pun sudah terbawa dalam dunia mimpi.
Pagi hari....
Derly sebenarnya merasa curiga, karena kamarnya sudah bersih. Derly curiga bahwa Fany lah yang mengambil gelang itu.
Derly bangun dari kasurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Setelah mandi, Derly berjalan menuju kamar Zail untuk membangunkan supaya tidak terlambat pergi ke sekolah.
Zaiden melihat di samping, Zaiden tidak melihat adanya keberadaan Derly. Zaiden pun akhirnya memutuskan untuk mandi.
Derly memandikan Zail, setelah anaknya kini siap dan sudah memakai seragam sekolah, tas dan sepatu.
Zaiden sudah siap untuk pergi ke kantor. Zaiden berjalan menuju ruang makan. Setelah sampai ruang makan, Zaiden melohat Zail yang ceria dan siap menuju sekolah.
"Wah ... anak Ayah sudah siap ke sekolah rupanya," ucap Zaiden.
"Iya dong, Zail mau jadi anak pinter buat bahagiain, Ayah sama Bunda." ucap Zail sambil memeluk Derly.
__ADS_1
Derly terharu waktu mendengar kata-kata anaknya. "Aamiin," ucap Derly dalam hati.
Mereka pun duduk. Mereka mulai sarapan tanpa seoatah kata pun. Karena Zaiden harus segera ke kantor. Jadi, setelah sarapan Zaiden langsung berpamitan.
"Ayo, Sayang. Kita berangkat sekolah sekarang!" ajak Derly. Zail hanya mengangguk mengiyakan ajakan Derly.
"Kamu tunggu di sini ya. Bunda mau ngambil mobil dulu." ucap Derly dan langsung menuju garasi mobil.
Derly mengeluarkan mobilnya, Derly berhenti di depan Zail. Zail pun membuka pintu mobil dan duduk di samping Derly.
Derly mulai melajukan mobilnya menuju sekolah Zail. Sebenarnya Derly sudah menyusun rencana dugaannya akan gelang yang Derly punya diambil oleh Fany. Derly menarih cincin emas imitasi. Derly sengaja menaruhnya di atas nakas.
Benar saja, Fany masuk ke dalam kamar Derly. Sambil bersih-bersih, mata Fany jelalatan mencari benda yang bisa ia jual kembali. Yang ringan dan mudah dibawa untuk dijual.
Fany melihat ada cincin emas. Fany tidak tahu bahwa cincin itu imitasi, Fany langsung menaruh di saku celananya.
Sedangkan di kantor, Zaiden masih fokus ke layar laptopnya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama 'Riza' Zaiden pung mengangkatnya. Karena Zakden berpikir bahwa Riza menelepon pasti menanyakan bisnisnya.
"Halo, Pak Zaiden. Kita mau bahas yang waktu kemarin," ucap Riza dari seberang telepon.
"Ok. Nanti malam datanglah ke rumah ku," ucap Zaiden.
"Iya, Pak. Siap," ucap Riza.
Mereka pun memutuskan panggilan teleponnya.
Siang hari.
Sekolah hari ini selesai, Derly dan Zail langsung pulang. Derly mengendarai mobilnya dengan hati.
Setelah sampai rumah, Derly membantu Zail untuk mengganti bajunya.
__ADS_1
"Bunda ... sini bajunya, Zail sydah besar. Zail bisa pakai baju sendiri." ucap Zail sambil mengambil baju tangan Derly.
Sementara Derly hanya tersenyum, melibat anaknya kini semakin mandiri. Setelah semua selesai. Derly dan Zail menuju ruang makan untuk makan siang.
Setelah makan siang. Derly duduk di sofa ruang keluarga. Sedangkan Zail sedang bermain mainannya.
Deely teringat rencananya. Derly langsung menuju kamarnya untuk melihat apakah cincin imitasinya sudah diambil atau nggak diambil oleh Fany.
Setibanya di kamar, Derly mencari cincinnya. Ternyata memang nggak ada. Dengan bukti yang seperti itu, Derly sudah yakin bahwa yang mengambil gelangnya adalah Fany. Tapi Derly akan merencanakan hal lain. Derly akan memasang CCTV di kamarnya, hanya untuk pagi sampai sore.
Karena hari semakin sore, Zaiden pun kini dalam perjalanan pulang. Setibanya di rumah, Zaiden langsung duduk di samping Derly.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Derly sambil mengambil jas dan tas suaminya.
"Oh iya. Mas ngumdan Riza makan malam di sini," ucap Zaiden.
"Kenapa kamu tiba-tiba ngindang dia makan malam di sini, Mas?" tanya Derly heran.
"Kita mau lanjut bahas bisnis. kan waktu itu belum selesai karena Zail tidur di paungkuan kamu. Terus kamunya keberatan," ucap Zaiden.
"Oh iya, Hehehe." ucap Derly sambil cengengesan dan menuju kamar untuk meletakkan tas dan jas suaminya.
Zaiden mengikuti langkah istrinya, kemudian Zaiden menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket.
Sedangkan Derly menuju dapur untuk menemui Fany dan berkata bahwa akan ada tamu.
Fany hanya mengangguk mengiyakan perkataan Derly. Derly berpura-pura baik untuk menangkap basah perilaku Fany yang sudah mengambil gelangnya.
..........................................................
Hai semuanya. Seperti biasa, author hanya menyampaikan jangan lupa tinggalkan jejak dan vote๐.
__ADS_1
Karena semakin hari semakin berkurang likenya. Jangan lupa kasih like ya๐.