
Pagi harinya....
Zaiden hendak berangkat ke kantor. Tapi Zaiden terlebih dahulu menanyakan apa yang belum dibeli.
"Yang belum dibeli kayaknya cuma perlengkapan yang buat di kamar. Seperti lemari, kasur, dan lain-lainnya," jawab Derly.
"Nanti lusa kita beli ya," ucap Zaiden. Derly hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya
Zaiden pun berangkat ke kantornya. Sedangkan Derly menemani Zail sekolah.
Kini sudah menunjukkan di mana waktu pulang sekolah.
Sebelum pulang sekolah Derly pergi ke ATM. Derly mengecek apakah Zaiden sudah men-transfer atau belum.
Ternyata dugaannya benar, Zaiden belum mengirim uang ke-ATM Derly. Derly pun segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil yang selalu dibawanya.
"Halo ... assalamualaikum, Mas." salam Derly ketika panggilan itu sudah tersambung.
"Iya ... wa'alaikumussalam. Ada apa?" tanya Zaiden dari seberang telepon.
"Kamu lupa ya, Mas? Kamu kan belum ngirim aku uang," ucap Derly.
"Oh ... iya. Mas lupa. Soalnya hari ini sibuk banget, maaf ya. Nanti aja pulang kerja Mas kasih yang cash." ucap Zaiden.
"Tapi aku sama Zail mau beli beberapa baju," ucap Derly.
"Tapi Mas juga gak bisa kalo sekarang. Berkas-berkasnya sudah numpuk di meja," ucap Zaiden.
__ADS_1
Derly mau tidak mau, suaminya sedang sibuk dan kini saatnya dia harus mengalah. Tidak semua keinginannya harus dipenuhi atau dituruti.
"Baiklah, Mas semangat kerjanya ya. Jangan lupa makan," ucap Derly.
"Iya ... nanti aku pulangnya malam. Nanti kalau ngantuk tidur duluan saja," ucap Zaiden.
"Iya. Semangat ya, Mas." ucap Derly menyemangati suaminya.
"Iya. Sudah dulu ya, Mas mau lanjut meriksa berkas-berkasnya," ucap Zaiden.
"Iya. Assalamualaikum," salam penutup Derly.
"Wa'alaikumussalam." jawab Zaiden sambil mematikan sambungan teleponnya.
Derly pun menuju mobil dan membujuk supaya Zail tidak cemberut karena mengetahui, gagal beli baju baru.
Derly berpikir sejenak, memikirkan supaya anaknya tidak ngambek.
"Benar, Bunda. Zail mau beli cemilan yang besar, yang harganya lima puluh ribu rupiah," ucap Zail kegirangan.
"Iya, boleh," jawab Derly sambil tersenyum.
'Untung masih ada uang seratus ribu rupiah,' batin Derly.
Derly pun mulai melajukan mobilnya menuju salah satu penjual cemilan.
Setelah membeli cemilan mereka pun pulang. Setelah sampai Derly merebahkan tubuhnya di kasur.
__ADS_1
Rasa pegal dan lelah menyerang Derly. Hingga sampai tidak sadar Derly tertidur dan melupakan makan siangnya.
Tidak ada yang berani membangunkan Derly, karena mereka tahu bahwa Derly pasti lelah. Makanya mereka tidak membangunkan Derly.
Hingga kini jam menunjukkan pukul tiga sore. Derly terbangun dan melirik jam sekilas. Karena jam menunjukkan sore hari, Derly beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Rasa lapar dan haus terus menyerang. Akhirnya Derly pergi ke ruang makan untuk makan.
Tiba-tiba Zora mengageti Derly dari belakang. "Hayo ... mau ngapain?"
"Mamah, ngagetin Derly deh. Derly laper jadi mau makan sekarang, kan Derly belum makan siang," ucap Derly.
"Kamu makan saja. Mamah cuma mau ambil minuman." ucap Zora.
Derly pun mengambil sepiring nasi dan lauk pauknya. Derly langsung manyantapnya dengan semangat.
Setelah makan, Derly duduk santai sambil menonton film kesukaannya di layar ponselnya. Karena sudah lama Derly tidak menontonnya, maka Derly akan menontonnya sampai selasai.
Tanpa disadari, hari kini sudah malam. Derly asik dengan film yang sedang ia tonton. Sampai tidak sadar bahwa Zaiden sudah pulang. Jam juga menunjukkan pukul sepuluh malam.
Zaiden langsung mendudukkan dirinya ke samping tempat tidur, memeluk Derly dari belakang. Sontak Derly langsung terkejut dan spontan melepaskan ponselnya.
"Kamu ngagetin aku terus. Lagi asik nonton juga," ucap Derly memanyunkan bibirnya.
Zaiden tidak menghiraukan ucapan Derly, Zaiden tetap memeluk Derly semakin erat dan menggelamkan kepalanya di ceruk leher jenjang Derly.
"Kamu mandi dulu gih. Bau tau, terus habis mandi aku siapin makan malam buat kamu." ucap Derly sambil mendorong Zaiden pelan.
__ADS_1
"Sebentar lagi ... Mas capek, mager." ucap Zaiden sambil terus mencium leher Derly.
Derly hanya menuruti. Karena Derly tahu pasti suaminya sedang kelelahan.