
Masih dalam pembicaraan di telpon. Namun, kali ini Elena berbicara sama Ali.
"Halo El, ada apa?" tanya Ali heran.
"Ya halo Al," jawab Elena dengan nada sendu.
"Kamu kedengarannya menangis El!" ucap Ali penasaran.
"Enggak kok Al, aku tidak menangis," ucap Elena.
"Serius kamu. Soalnya suara kamu itu beda El," ujar Ali lembut.
"Aku enggak kenapa-kenapa Ali. Karena hidungku mampet aja makanya suaraku berubah," kata Elena membantah Ali.
"Sudah ceritain ke aku. Emangnya kamu ada masalah apa El?" tegas Ali.
Kemudian Elena menjelaskan bahwa dia menelpon Ali atas perintah Angga.
"Sekarang aku lagi teleponan sama Angga,"
"Loh, kamu serius? terus suara Angga nya mana?" ucap Ali kaget.
"Teleponnya masih kutahan, ntar aja aku sambungkan lagi ke dia Al," ketus Elena.
"Oh... kamu marahan lagi sama dia?" tanya Ali.
"Iya, kita sedang tidak akur. Sekarang dia mau berbicara sama kamu Al," ujar Elena sambil tersendat.
"Yaudah sambungkan sama si Angga," pinta Ali dengan segera.
Namun, sebelumnya Elena menjelaskan terlebih dahulu kepada Ali, agar dalam pembicaraan nanti jangan sampai timbul emosi.
"Bentar dulu, nanti kalo Angga nanya kedekatan kita, bilang aja kamu sudah menjahuiku ya Al," pinta Elena.
"Emangnya kenapa? Biarkan saja dia tau kedekatan kita El," dengus Ali.
"Tolonglah Al, bantu aku kali ini aja ya. Aku tidak ingin semuanya makin bertambah kacau!" mohon Elena biar Ali mengikuti keiinginannya itu.
Akhirnya Ali menuruti keinginannya,
"Hmm... iya baiklah kalo itu mau kamu, aku turutin." Ujar Ali.
Setelah itu, barulah Elena menyambungkan telpon kepada Angga yang sedari tadi menunggu. Elena hanya diam dan menangis pelan tanpa suara. Kemudian, dia menyimak obrolan Ali dan Angga.
"Hallo... woi hallo... ngomong dong Elena," ujar Angga dengan suara keras.
"Iya hallo, enggak usah bernada tinggi begitu kepada perempuan," jawab Ali dengan kalem.
"Oh kamu Ali kan?" Ujar Angga.
"Iya aku Ali ,kenapa emangnya?" tanya Ali.
"Oh ternyata benar kamu orangnya. Sudah puas ya merusak hubungan orang?" kata Angga dengan nada penuh amarah.
"Eh bentar, tunggu dulu. Ini maksudnya apa ya merusak hubungan orang, soalnya kurang mengerti perkataanmu itu!" jawab Ali.
"Jangan bertele-tele, seperti orang ***** kamu Ali!" ujar Angga mendengus kesal.
"Iya aku serius. Aku tidak mengerti maksud kamu itu, Angga!" jawab Ali masih dengan nada pelan.
Kemudian Angga mengingatkan kembali, apa yang pernah dia katakan kepada Ali dulu.
"Apakah kamu sudah lupa, apa yang pernah ku bilang dulu. Kamu harus jauhin Elena!"
__ADS_1
"Hei bro tenang. Jadi cowok jangan terlalu over sama perempuan, karena mereka enggak suka di perlakukan seperti itu!" tegas Ali kepadanya.
" Eh brengs*k... jaga mulut kotormu itu. Aku berhak mau ngelakuin apapun kepada kekasihku, itu semua demi kebaikan dia juga!" tegas Angga kemudian.
Ali dan Angga memulai pertikaiannya. Sedangkan Elena terlihat sesekali menengahi pembicaraan mereka berdua saat itu.
"Apa kamu bilang? Demi kebaikan dia, itu hanyalah bulshitt darimu saja bro," ujar Ali.
" Hei... apa yang kamu bilang barusan? Tolong jaga omongan mu itu bang*at!" ujar Angga mulai berkata kasar kepada Ali.
"Eh asal kamu mau tau, aku enggak mungkin merebut dia dari kamu, Angga!" dengus Ali.
"Alah sudahlah, jangan banyak bac*t anj*ng. Gara-gara kamu Elena kini berubah sikap kepadaku!" Angga sudah mulai menaikan tempo amarahnya, dan bahasa yang keluar dari mulutnya pun sudah sangat kasar.
"Loh kok gara-gara aku? Hei sudahlah, sekarang kamu sadar diri saja Angga," ketus Ali.
"Sadar diri kepalamu. Jika bertemu denganku suatu saat nanti, lihatlah akan kubuat lebam wajah orang yang merusak hubungan orang lain sepertimu, baru kamu tau rasa!" tegas Angga.
"Sudah ngedumel nya? Kalau sudah sekarang kamu mulailah merubah sikap dan sifatmu kepada Elena, aku tidak akan pernah mendekati dia," kata Ali menjawabnya dengan tenang.
"Jangan belagu kamu Ali, orang sepertimu tidak bisa dipercayai." pungkas Angga.
"Sudah hentikan perdebatan ini. Kalian berdua ternyata sama saja. Sama-sama egois, dan tidak ada yang mau mengalah demi aku." Sahut Elena yang kemudian mematikan telepon tersebut.
^^^
Setelah beberapa menit kemudian, Ali menghubungi Elena untuk meminta maaf atas kejadian barusan., Akan tetapi, nomor Elena sudah tidak aktif. Ali memutuskan besok saja dia meminta maaf, sekalian dia menjemput Elena di kosan tempat dia tinggal.
Pagi hari telah tiba, Ali bersiap untuk menemui Elena. Dengan perasaan yang penuh dengan ke khawatiran.
"Elena nya ada mbak?" kata Ali pada penghuni kosan yang lainnya.
"Sepertinya dia ada di dalam,"
" Elena...!"
Tok.... tok....tok....
"Iya tunggu sebentar Al. Aku sedang mengenakan jilbab," ujar Elena dari dalam kosannya.
"Oh iya baiklah El, aku tunggu kamu di depan." Jawab Ali kemudian.
Sreettttt ...!
Elena membukakan pintu kosannya.
"Ayo buruan ke kampus, aku sudah siap," ujar Elena sambil bercermin di kaca jendela kamarnya.
"Iya baiklah, jangan lupa helm nya di pakai El," ujar Ali mengingatkan Elena.
"Siap pak bos, Haa." ujar Elena sembari tertawa.
Elena terlihat baik baik saja, dan tidak menunjukan muka kekesalan nya pada Ali. Akan tetapi,dalam perjalanan Ali tetap meminta maaf.
---
"Aku minta maaf ya," ujar Ali.
"Maaf kenapa emang?" tanya Elena.
"Atas kejadian semalam itu!" seru Ali.
"Oh yang tadi malam itu?" ujar Elena.
__ADS_1
"Iya El, maaf kalo perkataanku semalam terlalu kasar," ucap Ali sambil mengelus lutut Elena.
"Kan emang salah. Sudah dibilangin enggak usah di jawab!" kata Elena mengingatkan Ali.
"Iya habisnya dia berkata kasar. Gimana coba El, aku enggak enak aja di katain hewan seperti itu," jawab Ali.
"Sudahlah, kalian berdua itu sama saja Ali," ketus Elena.
"Eh enggak gitu Elena, aku kan membela kamu semalam," ujar Ali.
"Belain apa coba? Bilang kalo kamu seakan lebih baik dari dia gitu?" rengut Elena.
"Bukan merasa lebih baik dari dia. Emang tidak seharusnya kan dia bersikap seperti itu sama kamu?" tanya Ali.
"Kamu juga egois Al," ujar Elena yang membuat Ali terlihat tak menerima.
"Egois kamu bilang?" lirik Ali dari kaca spion motornya.
"Iya ternyata kalian sama-sama tidak mau mengalah demi aku," ketus Elena.
"Bukan aku tidak mau mengalah. Cowok manapun kalau sudah ditantang seperti itu, bakalan emosi juga Elena!" jelas Ali.
"Sudah cukup Ali. Aku muak dengan semuanya, dengan semua yang aku alami ini." Tegas Elena.
Elena melepaskan tangan Ali, kemudian terlihat raut mukanya yang runyam.
"Yasudah kalo kamu mulai merasa tidak nyaman lagi samaku, lebih baik kita tidak seperti ini lagi Elena,!" pungkas Ali yang kian tidak mengerti maksud dan keinginan Elena.
"Tolong ya, jaga ucapanmu itu Ali. Aku tidak ingin semua berakhir seperti ini," pinta Elena kemudian.
"Kan kamu bilang sudah mulai muak. Yasudah lebih baik aku menjauh saja, daripada makin menambahi beban buatmu!" seru Ali.
"Kamu salah paham apa yang ku bicarakan Ali. Bukan begitu maksud ku," ujar Elena.
"Terus apa? Percuma saja kamu menyakinkan, kalau masih saja tanpa kepastian." Ucapan Ali membuatElena terdiam.
Kemudian, mereka berdua telah sampai di kampus. Ali dan Elena tetap saling diam satu sama lain, dan berjalan berjauhan. Seperti layaknya orang yang tak pernah bertemu sebelumnya.
Ali merasa bahwa, dia memang pantas untuk menjahui Elena. Sedangkan pada Elena, dia merasa bersalah pada Ali atas ucapannya saat itu.
^^^
Satu minggu mereka tak saling sapa dan tak saling telponan atau bahkan berkirim pesan. Ujian semesteran pun di mulai. Mereka belajar bersama di kosan Devi. Namun, tetap saja Ali dan Elena tidak mau saling memulai untuk membuka obrolan di antara mereka berdua. Apakah itu sebuah kegengsian, atau memang mereka sudah berakhir?
.
.
.
.
**BERSAMBUNGGGGG**
.
.
.
.
HAPPY READING GUYS 😉❤❤
__ADS_1