KUPILIH DIA

KUPILIH DIA
"Perdebatan & Getaran"


__ADS_3

Elena terdiam melihat Romo yang berada di dalam kosan Delva. Terdengar dari bilik kamar, Delva sedang berbicara sama Romo. Romo tidak mengetahui bahwa ada Elena yang berdiri tepat di pintu masuk. Maklum saat itu Romo sedang fokus menonton televisi.


***


"Sayang, kalau aku mengenakan baju ini," seketika saja ucapan dari Delva terhenti. Setelah dia keluar dari kamar dan melihat Elena yang sudah terbesit emosi dalam batinnya.


"Baju yang mana sayang. Kok kamu bengong gitu, ada apa?" tanya Romo yang belum juga menyadari keberadaan Elena.


"Cih! Ternyata benar perkataanmu waktu itu Romo. Oke maaf saja ya, tidak akan pernah ada ruang untuk seorang pecundang sepertimu di dalam hatiku!" ujar Elena mengingat ucapan yang pernah terlontar dari mulut Romo, ketika berdebat dengan Ali di toilet kampus beberapa hari yang lalu. Elena kemudian langsung meninggalkan Romo dan Delva.


Romo mulai bertanya kepada Delva, bahwa kenapa dia tidak bilang kalau ada Elena di depan pintu.


"Kenapa kamu nggak bilang, kalau ada dia? Aku tidak ingin hubungan kita diketahui olehnya!" tanya Ali berdiri mendekati Delva, seraya berkata untuk menutupi statusnya bersama Delva itu sendiri.


"A-aku tidak tahu sejak kapan mbak Elena berdiri disana. Lagian tidak masalah juga kalau dia tahu hubungan kita," jawab Delva dengan nada terbata-bata.


Saat itu, kedatangan Romo ke kosan Delva adalah untuk merayakan hari jadi mereka yang ke satu bulan. Setelah pulang dari kampus tadinya, Romo pulang mengganti baju dan bergegas menemui kekasihnya tersebut. Rencana mereka ingin pergi ke salah satu resto yang ada di kota Raya.


Tetapi, setelah apa yang barusan saja terjadi, Romo nampak tak bernapsu untuk berpergian kemana-mana. Delva beberapa kali membujuknya agar ingin menepati janji yang sudah mereka sepakati tadi malam. Dengan jawaban tegas, Romo membatalkan secara sepihak rencana mereka berdua. Delva akhirnya mengurung diri di kamarnya. Sedangkan Romo masih terdiam, dan merasa kesal kepada Elena yang telah membuat susana hatinya kacau balau.


Elena dan kawan-kawan mulai menyantap makanan yang telah mereka buat sebelumnya. Devi heran dengan wajah Elena yang terlihat memanyunkan bibirnya itu.


***

__ADS_1


"El, kamu kenapa? Setelah pulang dari tempanya Delva, kok kamu diam aja?" tanya Devi yang kemudian di ikuti oleh Rika dan juga Diah menatap Elena penuh dengan kecurigaan.


"Apaan si kalian. Aku tidak kenapa-napa kok. Cuman merasa tidak enak aja dengan ucapan Delva barusan yang menolak ajakanku untuk makan bersama kita," dengan menutupi apa yang baru saja dia pergoki dengan matanya sendiri. Agar para sahabatnya tidak kepo terus menerus nantinya.


"Ohh yasudah mari kita makan," ujar Rika langsung gercap mengambil makan lebih duluan.


"Huhh dasar mbak Rika. Udah main nyosor duluan aja." Ketus Elena lalu mereka berempat tertawa. Sambil menikmati ayam goreng sambel ijo plus tempe dan terong goreng yang mereka buat sebelumnya.


Di tempat sebelah mereka, Romo pergi dari kosan Delva. Tanpa pamit satu kata pun kepada kekasihnya itu. Delva hanya bisa menangis sesegukan di bilik kamarnya itu. Baru satu bulan lamanya, Romo sudah memperlihatkan watak aslinya.


***


Berbeda tempat dan berjarak sekitar sepuluh kilo meter dari mereka, Mia dan Ali nampak mengobrol seru. Yang sebelumnya keruh, kini kembali jernih dengan nuansa baru dalam diri Mia.


"Sudahlah Mia. Yang terpenting sekarang, kamu sudah terhindar dari Jack. Setidaknya kamu bisa melegahkan hatimu yang penuh dengan rasa ancaman dan rasa ke khawatiran yang teramat kuat sebelumnya," jawab Ali sambil menatap sudut bola mata Mia yang indah, dan di tambah ada bintik tahi lalat halus yang terletak di bagian kantung matanya.


"I-iya aku terkesimah dengan keyakinanmu untuk melawan Jack. Dan aku juga takut, takut kalau kamu kalah darinya, aku akan selalu di usik oleh Jack. Keberhasilanmu mengalahkan dia, telah membuatku menumbuhkan hasrat cinta kepadamu Ali," dengan nada yang tersendat, Mia melontarkan perkataan yang sontak membuat Ali terdiam sesaat.


"Hei, Ali... Kenapa bengong si?" mencubit dada Ali dengan lembutnya.


"Eh iya, a-apa yang barusan kamu bilang?" ujar Ali menelan air liurnya yang tertahan mendengar ucapan Mia.


Mia mulai satu persatu melepaskan kancing baju Ali. Sambil meminta Ali untuk diam.

__ADS_1


"Mia, apa yang kamu lakukan. Mia, tolong Mia, aku belum siap untuk ini," ujar Ali yang sudah mulai tremor dengan tingkah laku yang di buat oleh Mia.


"Sttt... Lebih baik kamu diam cintaku. Aku hanya ingin merasakan getaran jantungmu. Aku ingin menyaksikan otot dadamu Ali. Kamu mau kan memperlihatkan itu semua untukku?" dengan genitnya Mia melancarkan rayuan mautnya. Dengan jari tengah menempel ke mulut Ali, agar dia mengikuti kemauannya.


.


.


.


.


.


.


**♡♡♡ To Be Continued ♡♡♡


Hello Guys, jangan lupa bantu LIKE AND COMMENT 😍😍😍😍


BERI BINTANG 🌟🌟🌟🌟🌟


Dan mohon maaf apabila masih banyak typo dan kata yang tak sesuai pada episode kali ini 😆😆😆

__ADS_1


Buat sahabat BTC, nantikan slalu Episode selanjutnya.. 💖💖💖**


__ADS_2