
Ali dan Mia kini telah tiba dibelakang motornya Romo. Ali menepuk pundaknya, dan Romo kemudian terkejut, lalu berbalik arah melihat Ali.
Mereka lalu turun dari motor, dan mengobrol terlebih dahulu.
" Hei bro, sombong amat, " ketus Ali.
" Oh.... Ali, Mia, kalian habis nonton juga ya? " tanya Romo kepada mereka berdua sambil cengengessan.
" Iya Mo, kami habis nonton juga. Ngomong-ngomong, yang disebelah kamu siapa, Mo? " tanya Mia balik kepada Romo.
" Oh dia. Eh, kenalan dulu sama teman-temanku, " ucap Romo kepada perempuan disebelahnya sembari menyuruh dia membalik arah.
" Nah gitu dong, kenalkan ini Delva. " ujar Romo memperkenalkan perempuan itu, setelah dia berbalik arah menghadap ke mereka.
Ternyata dugaan Ali salah, dia mengira perempuan yang bersama dengan Romo itu, adalah Elena.
Loh bukannya Elena ternyata, tapi kok aneh, sekilas kalau dari belakang mirip Elena. Dari helmnya saja sama persis. Kata Ali dalam hatinya.
" Hai, aku Mia dan dia Ali, " sahut Mia menyodorkan tangannya dari atas motor kepada Delva, teman perempuan Romo.
" Udah jangan malu-malu, salaman sama mereka, " paksa Romo kemudian.
" Eh iya kak, namaku Delva kak, " menjabat tangannya si Mia.
Delva adalah tetangga kosannya si Devi. Romo mengenal Delva dari Devi, ketika dia bermain dikosan mereka saat beberapa haribyabg lalu. Kebetulan, Romo sedang tidak akur bersama Elena, makanya dia mengajak Delva untuk menemaninya ke bioskop tersebut. Delva masih duduk di bangku SMK Farmasi, atau bisa dikatakan adik tingkat dari mereka semua.
Tiba-tiba saja motor yang berada dibelakang Mia dan Ali mengklakson panjang.
.
.
.
.
.
Titttttt.... tiittttttt.... tiiittttttt !!
.
.
.
.
" Eh buruan, yang dibelakang udah pada klakson, " pinta Ali kepada Romo yang didepan mereka untuk segera menaiki motornya.
Selang beverapa menit kemudian, mereka berempat akhirnya sudah keluar dari antrian panjang di area parkiran itu.
__ADS_1
Mia mengajak Ali untuk ke pantai, untuk menikmati suara deburan ombak dan sembari menunggu tenggelamnya matahari. Ali menerima ajakan tersebut, kemudian mereka mengajak Romo dan Delva. Namun, Romo terlihat menolak ajakannya.
" Mo, kita ke pantai dulu yuk. " kata Ali sambil menggandengkan motor ke sebelahnya Romo.
Romo bertanya pada Delva, akan tetapi, Delva menolaknya.
" Eh, lain kali aja sepertinya Li, "
" Loh kenapa? "
" Delva katanya nggak bisa, soalnya dia mau mengerjakan tugasnya, "
" Udah ikut aja dek, kan jarang-jarang loh kayak gini, " sahut Mia sembari menaik turunkan alisnya ke Delva.
" Biarlah kak, lain kali aja, " jawab Delva sambil tersenyum.
" Benaran nggak mau ni? " ketus Mia kemudian.
" Iya kak. " jawaban singkat dari Delva.
Romo dan Delva akhirnya pulang, sedangkan Ali dan Mia melanjutkan niat mereka untuk pergi ke pantai.
Setibanya di pantai, Ali memesan makan dan minuman. Selang beberapa menit kemudian, pesanan mereka berdua akhirnya datang.
Mereka berdua sangat menikmati sekali makanan yang dihidangkan, yaitu sate gurita. Suara deburan ombak yang kian menderu-deru menyentuh bibir pantai, semakin menambah kenikmatan mereka berdua. Namun, seketika Mia sedang lahap-lahapnya makan, Ali memintanya untuk berhenti sejenak.
" Eh, bentar jangan makan dulu, " pinta Ali.
" Loh kenapa? " tanya Mia heran.
Pikiran yang ada di kepala Mia, "duh Ali, kok kamu seromantis ini, tatapan matamu terlihat sangat tulus Ali. Tapi kok aneh, Elena kenapa nggak pernah mau menerima dia ya. "
" Maaf, kalo aku sudah lancang ya, " ujar Ali.
" Eh, iya nggak masalah kok Li, " jawab Mia sambil tersenyum dengan kaku.
" Udah lanjutin lagi makannya, jangan sampai belepotan lagi, "
" siap pak komandan, " timpal Mia sembari tertawa.
" Hm, dasar kamu ya. "
Makanan mereka pun habis, tinggal es kelapa muda yang tersisa diatas meja. Hari semakin sore, cuaca sudah mulai terlihat mendung pertanda matahari kian turun.
" Buruan ikut bersamaku, " ajak Mia sambil menarik tangan Ali.
" Eh, mau kemana. " ujar Ali.
Mia terlihat menari-nari dipinggiran pantai, sembari tertawa dan penuh dengan perasaan bahagia. Sedangkan Ali, hanya menatap keceriaan seorang Mia. Dengan senyuman manis tersulut dari bibir tipisnya. Sudah lama Ali tidak tersenyum lepas seperti ini, dia kembali mendapatkan semua yang hilang dalam dirinya, berkat dari Mia.
Apaan sih Li, kok kamu sesenang ini. Apa benar kamu sudah seperti dulu lagi. Hm, baguslah kalau sudah seperti dulu. Tanya Ali pada dirinya sendiri.
__ADS_1
" Ali, buruan kemari, " ajak Mia agar Ali bergabung bersamanya.
" Eh, baiklah, " sahut Ali.
" Coba kamu ikutin gerakanku ya, " ujar Mia sambil mempraktekan tariannya.
" Gimana barusan, coba diulangin, "
" Perhatikan dengan benar makanya. " ketus Mia.
Mereka berdua akhirnya menari bareng, sambil berlari-lari kecil di pinggiran pantai. Celana yang mereka pakai setengahnya sudah basah oleh hempasan air laut. Mereka tak menghiraukan orang-orang disekitar, yang terpenting mereka menikmati kebersamaan yang mereka miliki.
" Kamu nggak capek? " tanya Ali sambil ngos-ngosan.
" Ah, nggak kok, malahan aku senang., Habisnya, aku sudah lama nggak sesenang ini, " ujar Mia sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin.
" Udah nanti lanjutin lagi ya, soalnya aku haus, "
" Hm, dasar lemah , Ha, " ketus Mia meledek Ali sambil tertawa.
" Dasar kamu ya, udah ah kita minum dulu sebentar. "
Akhirnya Mia mengikuti kemauan Ali. Ternyata Mia juga sudah lama tidak sebahagia seperti hari ini. Ali akhirnya bingung, apa yang membuat dia berkata demikian. Padahal Mia selalu terlihat ceria ketika bersama dia. Atau jangan-jangan ada hal yang Mia sembunyikan dari Ali.
Matahari sudah semakin turun, dan tinggal beberapa saat lagi akan terbenam. Ali dan Mia terlihat duduk bersama di atas pasir putih pantai tersebut. Mia menyenderkan kepalanya ke bahu Ali, sedangkan Ali memegang tangan kanan Mia dengan erat.
Terlihat mereka berdua kian dekat. Hari demi hari, kedekatan mereka semakin erat. Layaknya seperti sepasang kekasih yang baru saja memadu kasih.
" Eh kita nggak foto-foto kayak orang-orang gitu? " tanya Mia.
" Mending nggak usah, lebih baik kita fokus saja melihat mataharinya terbenam, " jawab Ali sambil mengelus tangan Mia dengan jempolnya.
" Hm baiklah kalo begitu. " kata Mia sambil membalas elusan tangan Ali.
Celana yang tadinya basah, kini kering seiring larutnya waktu. Matahari menyaksikan semua kebahagiaan yang menghampiri Mia dan Ali saat itu. Disekitaran mereka juga terlihat banyak pasangan anak-anak muda mengabadikan momen terbenamnya matahari, layaknya seperti mereka berdua.
Namun, tidak terduga bahwa hari itu, ada orang lain yang juga menyaksikan kebahagiaan mereka berdua. Dia duduk bersama kedua orang temannya yang tidak jauh dari Ali dan Mia.
.
.
.
.
.
****BERSAMBUUUNGGG***
JANGAN LUPA BERI LIKE
__ADS_1
SERTA VOTE NYA IYA.
NOVEL INI JUGA SEDANG DALAM TAHAP REVISI DI BAB2 AWAL. βΊπ**