
Sekarang mereka berdua sudah di parkiran kampus dan akan segera pulang. Ali seperti biasa, mengantar Mia dahulu ke tempatnya.
Selang beberapa waktu mereka sudah sampai, dan Mia menyuruh Ali untuk mampir, "Mampir dulu ya Li. Hari juga belum malam kok," pinta Mia.
"Lain kali aja ya. Soalnya ada urusan di rumah," ujar Ali sambil menggarut - garut jidatnya itu.
"Emang ada urusan apaan, kayak penting banget gitu?" Tanya Mia menatap Ali.
"Biasalah kalo tinggal di rumah orang. Mau beres - beres gitu," jawab Ali sambil tersenyum.
"Oh yaudah. Pulanglah kalo gitu Li. Eh t-tapi, ntar malam telepon aku ya," pinta Mia sambil memegang lengan kanan Ali.
"Iya tenang aja. Nanti malam aku telepon oke." Ujar Ali dengan membelai lembut tangan Mia tersebut.
Kemudian Ali menuju pulang ke rumah. Dalam hati Ali seperti ada beban dan rasa bersalah akan seorang Elena. Terlepas dari omongan yang di utarakan oleh Romo tadi siang.
*Flashback* ke beberapa jam sebelumnya.
\
Elena menolak untuk pulang bersama Romo. Dia pulang bersama Rika saat itu. Ada percakapan yang menguras emosi di area parkiran tersebut.
"Kita kemana dulu El," ujar Romo sambil mengenakan helm nya.
"Maaf ya. Aku pulang sama Rika hari ini," ujar Elena.
"Loh nggak bisa gitu Elena. Pergi bareng aku, pulangnya juga harus denganku !?" Paksa Romo dengan memberikan hel Elena.
"Aku tidak mau merepotkan kamu Romo. Lagian juga aku bukan siapa -siapa kamu," jawab Elena dengan binar matanya menahan tangis.
Saat itu, Diah dan Rika agak lumayan jauh dari Romo dan Elena. Mereka berdua hanya menyaksikan apa yang sedang di bicarakan antara Romo dan Elena tersebut.
"Kamu ini kenapa si Elena!! Dikit-dikit ngambekan. Kalau aku ada salah ya bilang!?" Gumam Romo dengan nada tinggi di hadapan Elena.
"Tolong ya. Aku nggak suka di bentak -bentak Romo. Aku tidak ada masalah apapun. Lebih baik kamu sadarkan diri, apa yang sedang kamu sandiwarakan di belakangku sebenarnya," sindir Elena dan kemudian bergegas pergi meninggalkn Romo saat itu juga.
"He Elena, tunggu!! Aku belum selesai berbicara!!" Seakan emosi Romo kian melunjak.
Elena sudah bersama dengan Diah dan Rika. Langsung saja Elena mengajak mereka untuk segera pulang.
__ADS_1
"Ayo mbak kita segera pulang dari sini," ajak Elena kepada Rika.
"Loh ada apa El. Kenapa muka kamu cemberut gitu!?" Ujar Rika dengan memandangi Elena yang langsung memaliskan wajahnya itu.
"Iya El. Kamu bahas apa sama si Romo barusan. Kenapa Romo terlihat begitu sangarnya?" Tanya Diah yang kini sudah menghidupkan motornya.
"Sudah lah mbak, Diah. Kita pulang aja dulu, nggak penting untuk di bahas." Ujar Elena.
Mereka bertiga lebih duluan pergi. Terlihat Romo mengejar mereka. Dan di jalan, Romo kembali bertanya kepada Elena perihal ucapan dari Elena barusan itu.
"Elena!! Kamu ini kenapa? Tiba - tiba saja berkata begitu kepadaku!!" Gumam Romo yang kini di sebelah motor si Rika.
Elena menolehkan pandangannya ke arah lain. Seakan - akan tidak tau dengan apa yang di tanyakan oleh Romo. Bahkan dia meminta Rika untuk melaju lebih kencang.
"Ayo mbak buruan!" pinta Elena.
"I -iya El. Ini sedang mbak usahakan." Ujar Rika.
Mereka memang sudah berpisah sama Diah, yang sudah lebih duluan sampai ke gang tempat dia tinggal.
"Ah Shiitttt !! Kenapa si Elena!?" Ujar Romo dengan memukul bagian spidometer motornya itu. Romo akhirnya membiarkan mereka pulang.
Pada malam hari, Elena menangis lagi sejadi-jadinya di dalam kamarnya itu. Sambil sesekali memukul-mukul bantal mickey mouse kesayangan dia tersebut.
"Kenapa? Kenapa harus aku yang mengalami semua ini Tuhan? Jika tidak ada yang benar-benar siap menerimaku, tolong katakan! Aku sudah tidak sanggup dalam buaian drama ini." Gerutu Elena dalam tangisnya.
Elena bingung dengan dirinya sendiri. Sudah jelas-jelas dia ada Angga sebagai kekasihnya. Angga yang sudah cukup lama dengannya, seakan-akan tidak ada dalam pikiran seorang Elena. Dulu, ada Ali yang begitu tulus ingin bersamanya, dia abaikan dan seolah-olah menarik ulur perasaan Ali.
Elena sekarang mungkin menyesal, kenapa saat itu dia berlama-lama bertahan dengan Angga, dan tidak siap menerima Ali? Sekarang Romo yang sedang dekat dengan dia, yang kini Elena tau bahwa Romo dekat hanya untuk mempermainkan dirinya saja.
Pikiran dia makin kacau, dia tidak bisa berlama-lama dalam balutan rasa bersalah ini. Elena mencoba untuk memperbaiki hubungan dia bersama Angga yang sudah renggang sebelumnya. Dia mencoba untuk tetap bertahan dan memulai membangun cintanya kembali dari awal lagi.
Elena berjanji, bahwa ini adalah tangisan terakhir dia dalam drama yang rumit yang melibatkan perasaannya.
^^^^
Di tempat lain, Ali sekarang sudah berbicara sama Mia via telepon. Sepertinya Ali menyakini bahwa Mia akan menjadi miliknya. Mereka berdua memang terlihat cocok dan kocak. Mia yang seakan-akan tidak ada masalah itu, selalu saja membuat Ali merasa percaya terhadap dia.
Selang beberapa waktu, malam kini telah berganti menjadi siang. Hari ini tidak ada jadwal perkuliahan bagi mereka. Ali yang sudah janji akan pergi dengan Mia hari ini, sudah siap-siap dengan menyetrika baju kaosnya. Setelah selesai dia bergegas mandi.
....
__ADS_1
Kini Ali sudah siap seratus persen, dia langsung bergegas pergi menuju kosan Mia tanpa menelponnya lagi. Setelah sampai di tempat Mia, ada satu motor yang terlihat asing tepat di teras depan kosan Mia tersebut. Ali lalu menempatkan motornya ke pinggir jalan saja, dan dengan perlahan dia menuju kosan Mia itu.
Ali sudah tepat di depan pintu Mia. Terlihat ada sepatu ket pria di atas alas kaki Mia. Ali terdiam dan kian heran, siapakah yang sedang bersama Mia. Ada juga tas ransel di dalam ruang tengah Mia. Terdengar samar-samar di telinga Ali, suara keran air dari bilik kamar mandi.
Dan tak lama kemudian, Mia keluar dari dalam kamarnya sambil memegang handuk, lalu berkata, "Sayang ini handuknya nanti iya." Perkataan itu, terdengar dengan jelas oleh Ali.
Ali terdiam kaku dan seakan apa yang dia dengar itu adalah sebuah kepalsuan. Mia kemudian berbalik arah dan seketika saja dia melihat Ali di depan pintu. Ali langsung pergi dengan mata yang memerah. Mia memanggil dan bergegas kedepan.
"Ali tunggu!!" Ujar Mia, "Apakah dia mendengarkan perkataanku barusan. Ya ampuunnnnn." Tambah Mia dengan mengerutkan keningnya dan mondar-mandir seperti orang yang tak tau arah.
.
.
.
.
.
**♡♡*****BEERRRRSSAAAAMMBUUUNGGGG♡♡
.
.
.
.
.
Jangan lupa bantu Like & Comment💖💖***
**Bantu vote jika kalian Suka 😊😊😊
Dan jangan lupa rate 🌟🌟🌟🌟🌟
Maaf apabila masih banyak TYPO 😢😢**
__ADS_1