KUPILIH DIA

KUPILIH DIA
"Rasa Dan Amarah"


__ADS_3

Ali lalu membentak Mia dan meluapkan semua amarah dalam dirinya.


"Apa-apaan kamu Mia. Sangat tidak pantas kamu lakukan itu juga kepada Elena. Aku tidak menyangka kamu bertingkah seperti ini!" ucap Ali memegangi kedua bahu Mia dengan tatapan yang sangat tajam.


Mia hanya bisa terdiam dan menangis. Dengan cara spontan tamparan yang ia lakukan barusan, mendarat tepat di pipi Elena. Elena yan tidak tahu menahu masalah mereka, kini malah menjadi sasaran Mia yang tak bertanggung jawab menampar dirinya itu.


"Aku tidak suka perempuan kasar dan murahan seperti kamu, Mia. Sungguh di luar dugaanku, kamu mempunyai sifat seperti ini!" tegas Ali yang membuat tangisan Mia semakin menjadi-jadi.


Dengan muka tegar dan seperti tidak merasakan sakit, Elena meminta Ali untuk segera berhenti memarahi Mia.


"Ali... Sudahlah, mungkin pikiran Mia sedang kacau. Tenangkan diri kamu, biarkan Mia menangis," pinta Elena kepada Ali.


Pada akhirnya, Mia angkat bicara setelah ucapan dari Elena itu.


"Memang benar aku perempuan murahan dan tak memiliki sifat yang sempurna seperti dia. Aku kira kamu bakalan mencintaiku, setelah apa yang pernah kita lakukan bersama, Ali!" timpal Mia sambil menunjuk Elena, dan dia merasa benar atas apa yang Ali ucapkan. Dia juga merasa menyakini bahwa Ali mencintai dirinya.


"Aku memang sudah menaruh hati dan harapan untukmu. Tapi, tidak seperti ini, tidak dengan sikapmu yang ke kanak-kanakan, Mia. Mulai detik ini juga, rasaku telah hilang untukmu!" jawab Ali memastikan dan juga memutuskan perasaan dirinya kepada Mia.


"Oke baiklah... aku menyesal pernah dekat denganmu Ali. Dan mulai detik ini juga, kamu tak usah lagi menghubungiku dan menjemputku." Ujar Mia lalu pergi meninggalkan Ali dan Elena di kosan tersebut. Sambil mengusap air matanya yang kian deras mengaliri pipinya.


Elena terdiam dan juga bingung. Dia diam karena memang tidak tau apa perkara yang terjadi antara Mia dan Ali. Elena bingung sebab sehari sebelumnya, Mia bilang bahwa dia bersama Ali sudah menjalin hubungan.


"Mia kamu mau kemana?" ujar Elena kini mulai bicara.


"Sudah biarkan dia pergi Elena. Akan menambah panjang masalah kalau dia tetap berada disini," ucap Ali kepadanya.


"Yasudah kalau gitu. Jadi, hanya kita yang akan mengerjakan tugas ini?" tanya Elena kembali duduk dan masih terlihat memegangi pipinya.

__ADS_1


"Pipimu sakit ya? Memang benar-benar kurang ajar si Mia!" dengan spontanitas, Ali ikut mengelus pipi Elena.


"Eh nggak usah Ali, pipiku tidak kenapa-napa kok," ujar Elena menolak elusan Ali itu, sambil tertawa yang agak di tahan.


"Oh iya maaf." Ujar Ali kini duduk sedikit menjauhi dari Elena.


Elena pada akhirnya merasakan kembali belaian lembut oleh Ali. Dia termenung sesaat, dan berpikir untuk tidak terjadi lagi pendekatan yang pernah terjadi antara dirinya dan Ali.


Ali dan Elena memang benar-benar tidak memperdulikan Mia. Mia akhirnya sudah keluar gang yang tak jauh dari kosan Elena. Dia menaiki taksi untuk segera pulang ke tempatnya.


Ali sangat serius untuk mencari jurnal-jurnal tentang epilepsi melalui google cendekia, untuk di jadikan sebagai referensi tugas kelompok mereka yang nantinya akan di rangkum dalam makalah kelompok. Begitu juga Elena, yang saat ini sedang mengetik satu demi satu huruf di keyboard notebook miliknya tersebut.


Sesekali terlihat mereka mengobrol tentang tugas yang sedang di kerjakan itu. Dan juga sesekali Ali mencoba membuat lelucon, agar Elena tertawa. Sebenarnya Elena masih penasaran atas apa yang sebenarnya terjadi antara Ali dan Mia barusan. Namun, dia belum siap untuk menanyakannya saat ini kepada Ali. Karena Elena merasa Ali masih dalam kondisi yang kurang baik.


Mereka akhirnya saling diam, dan melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Seketika Ali merasakan lapar, karena sedari pagi tadi dia belum sarapan sama sekali.


"Kenapa emangnya?" jawab Elena dengan ketus.


"Nggak aku sekedar nanya. Kalau kamu lapar, aku pergi sebentar cari makan, soalnya aku juga lapar," ujar Ali sambil menghentikan tugasnya sejenak.


Baru saja Elena mau menjawab pertanyaan dari Ali, tiba-tiba dering ponselnya berbunyi.


"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu." Ujar Elena berdiri dan meninggakkan Ali untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Siapa juga yang menelpon dia. Baruaja mau kembali mencuri perhatian dia." ketus Ali yang penasaran pada telepon yang Elena terima tersebut.


.

__ADS_1


.


.


.


.


-----> ****To Be Continued <-----


.


.


.


.


.


Jangan Lupa Like and Comment 😊😊😊


Maaf apabila episodenya terlalu pendek 😆😍😍


Semangat membacanya ya❤❤❤❤❤


Salam setia buat sahabat BTC 😘😘😘****

__ADS_1


__ADS_2