
Sebelum membaca, jangan lupa tap jempolnya dulu ya 😊🙏🙏
~~~
Matahari kian turun, angin sepoi-sepoi menerpa pohon-pohon cemara di tepian pantai. Ombak menggulung dengan cepat, airnya membasahi bibir pantai. Orang-orang terlihat sudah semakin ramai berdatangan, untuk segera menyaksikan matahari tenggelam.
Jam empat sore, Romo dan Delva kini telah sampai juga di pantai. Mereka berdua lalu duduk dan memesan minuman. Terlihat senda gurau yang sangat bahagia di antara mereka berdua.
"Sayang, kamu mau pesan apa?"tanya Romo.
"Aku es kelapa muda aja Sayang," ucap Delva.
"Oh yaudah, kalo gitu es kelapa mudanya dua ya bu." Pinta Romo kepada pedagang yang menyewakan tempat duduk itu.
Di waktu yang sama, Elena baru menyadari bahwa Ali mengirimi dirinya pesan. Dia segera membalas pesan dari Ali.
"Maaf ya Li, aku baru lihat handphone." balas Elena dengan di tambah emotikon manyun di akhir kalimatnya itu.
Akan tetapi, pesan yang ia kirim tak kunjung di balas oleh Ali. Elena mengira bahwa dia marah akibat terlalu lama membalas pesan sebelumnya.
Kenapa nggak dia balas si... atau dia marah kali ya? Apa aku coba telepon saja ya?
Ujar Elena dalam hatinya. Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Ali. Dering teleponnya berbunyi, tapi belum di terima. Sudah dua kali dia menelpon, tetap saja tak kunjung di terima.
Elena akhirnya kesal dengan dirinya sendiri. Merasa bersalah kenapa tidak sedari tadi membuka handphonenya itu. Padahal selain pesan dari Ali, ada juga puluhan pesan dari Angga. Namun, tidak ada satupun yang dia balas. Sebab, Elena terlalu pusing dan tidak siap jika untuk berdebat bersama Angga.
Duh kenapa nggak di terima. Mudah banget merajuknya ni orang. Gumam Elena dengan sendirinya.
Elena melihat jam sudah setengah lima sore, dia kemudian bergegas untuk segera mandi.
***
Sedari tadi handphone Ali bergetar, tetapi dia belum sempat untuk melihatnya. Sore itu dia hendak pergi ke tempatnya Devi. Sebelumnya dia sudah menghubungi Devi terlebih dahulu.
Tujuan Ali datang ke tempat Devi adalah untuk bercerita sekaligus untuk bermain, karena dia merasa bosan seharian diam di dalam kamarnya.
Selang beberapa waktu, dia telah sampai di kediaman Devi. Ali mengetok pintu, dan tak lama kemudian di bukakan oleh Devi.
"Eh Ali, ayo masuk," ajak Devi.
"Maaf ya kalo kedatanganku mengganggu waktumu, Dev," ujar Ali merasa tidak enakan.
__ADS_1
"Ahh biasa aja Ali. Seperti orang yang baru kenal saja," ketus Devi kepadanya.
"Iya kali aja kan kamu sedang sibuk, dan kedatanganku kan bisa saja mengganggumu," ujar Ali kembali.
"Dasar... yasudah tunggu bentar, aku ambilkan minum." Ucap Devi bergegas kebelakang dang mengambilkan Ali segelas air minum.
Ali melihat handphonenya, dia terkejut setelah melihat berita panggilan tak terjawab dari Elena.
Astaga... bearti dia yang sedari tadi menelponku! Gerutu Ali dalam batinnya.
"Nih minumnya. Hello, Ali kok bengong?" tanya Devi melihat Ali dengan heran.
"Eh iya, kenapa Dev?" ujar Ali terkejut.
"Kamu lagi mikirin apa, Elena ya?" tanya Devi sambil tertawa.
"Apaan sih, Dev. Bukan mikirin dia," ketus Ali.
"Cieee mukanya merah tu," ledek Devi sambil tertawa geli.
"A-apaan sih. Mukaku biasa-biasa aja kok." ujar Ali menatap wajahnya itu.
Devi tak henti-hentinya menetertawakan temannya itu. Sampai-sampai kerongkongannya kering. Ali terus saja ngedumel, tapi Devi lagi-lagi tak bisa menahan tawanya.
Ali kemudian diam, dan Devi bergegas kebelakang untuk minum. Setelah legah, mereka berdua kembali mengobrol.
"Iya kurang tau sih. Yang jelas kemaren itu aku sudah kembali berbicara dengannya," jawab Ali kemudian meminum air yang sebelumnya Devi berikan.
"Oh iya. Bagus dong kalo kalian sudah mulai saling bicara," ujar Devi sambil tersenyum.
"Iya setelah sekian lama. Tapi, selain itu ada juga berita buruknya," ujar Ali sambil mendongakkan kepalanya ke atas menatap plafon.
"Kabar buruknya apa emangnya?" tanya Devi dengan nada penasaran.
"Iya itu, Mia," jawab singkat dari Ali.
"Mia... kenapa dengan dia?" Devi kembali penasaran.
"Sulit untuk di ceritakan. Intinya, aku renggang sama dia," ujar Ali kali ini merundukan kepalanya.
"Oh gitu...tapi ya bersyukur kalo kamu sama Elena sudah baikan," ketus Devi.
"Iya Dev, kamu benar. Aku mesti bersyukur karena sudah bisa berbicara sama Elena kembali." Pungkas Ali.
Obrolan Ali sama Devi kurang lebih satu jam lamanya. Hingga pukul lima, dia akhirnya pulang dari kediaman Devi.
__ADS_1
~~~
Elena baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian. Selepas itu, dia menyalakan laptop untuk memutar lagu-lagu band K-pop. Maklumlah, Elena ternyata salah satu fans dari boyband Korea, yakni EXO.
Sambil merias wajahnya, mulut manis Elena ikut melantunkan nyanyian dari grup boyband kesayangannya itu.
Terdengar samar-samar di telinganya, suara ketukan di pintu depan kosannya. Tidak hanya sekali, suara itu terdengar berkali-kali. Karena ragu kalau ada orang yang mengetuk pintunya, akhirnya dia mengecilkan volume suara di laptopnya. Namun, kali ini terdengar tidak ada siapa-siapa yang mengetuk pintunya.
Dia kembali menaikan volume suara laptopnya, dan mengangguk-anggukan kepalanya itu sambil mengenggam erat sisir rambut untuk di jadikan sebagai mickroponnya. Tiba-tiba dering teleponnya berbunyi.
Siapa lagi nih yang mengusik ke-seruanku. Gumam Elena bergegas mengambil handphone di ruang tengah.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
.
.
.
Jangan Lupa Tap JEMPOLNYA GAES 👍👍👍
Bantu VOTE beserta KOMENNYA iya 😊😊😊
Maaf, baru bisa Update...
Semoga masih banyak yang setia membaca novel BTC ini...😆😆😆
Salam Rindu Buat Kalian Semua ❤❤😍😍😍
__ADS_1