
Sebelum membaca, buruan tinggalkan tap jempolnya dulu. Agar tidak lupa guys 😆😆😆
***
Mia sekarang telah sampai di kosannya. Membuka pintu lalu menutup dan menguncinya dengan rapat. Mia kembali melanjutkan tangis pilu, yang sedari tadi dia tahan dalam perjalanan menuju pulang.
Benar-benar tidak bisa di percaya, kenapa harus begini. Haruskah aku yang mendapatkan semua ini. Setelah aku yakin dan sudah menyayanginya, kok tiba-tiba jadi begini. Ya Tuhan... tunjukanlah aku kebenaranmu, aku tak bisa di sepelekan seperti ini.
Gumam Mia dengan tangisnya yang tersendat-sendat. Mia tidak mengerti akan semua hal yang terjadi pada dirinya. Sempat dia berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun, dia kembali menjernihkan pikiran-pikiran buruk yang bersemayam dalam batinnya itu.
Masih di tempatnya Elena, Ali terlihat tetap mengerjakan tugas kelompok. Sedangkan Elena masih dalam kamarnya, sambil memelankan suara telepon yang sedang berlangsung.
Tak lama kemudian, Elena keluar dari bilik kamarnya. Dengan senyum sumringah dia pancarkan di hadapan Ali. Dengan spontan, Ali membalas senyum Elena.
***
"Barusan kamu teleponan sama siapa?" ujar Ali bertanya santai sambil mengetik di laptopnya.
"Eh bukan siapa-siapa kok," jawab Elena tertawa seperti di buat-buat.
"Oh begitu,"ujar Ali menganggukan kepalanya.
"Iya emang benar begitu," ketus Elena sambil menyenduh teh yang sudah mulai dingin.
"Iya sudah jangan di bahas lagi." Pinta Ali agar tidak memperpanjang pembicaraan tentang siapa yang menelpon Elena barusan.
Mereka berdua melanjutkan tugas kelompok tersebut. Baik Ali maupun Elena, terlihat dengan seriusnya mengerjakan tugas itu. Sampai-sampai mereka lupa bahwa tadinya mau membeli makan dahulu.
"Oh iya Elena, tadi kan aku nanya, kamu mau makan apa?" ingat Ali kembali bertanya perihal makan yang akan Elena utarakan.
"Em apa ya, menurut kamu apa?" ujar Elema meminta Ali untuk merekomendasikan makanan untuknya.
__ADS_1
"Lah kok aku yang di suruh memikirkan makanan untukmu?" ucap Ali sambil berdiri.
"Iya maksudku, siapa tau kamu masih ingat makanan yang biasa ku makan dulu," sindir Elena sambil tersenyum.
"Oh yasudah, nanti aku ingat-ingat dulu ya dalam perjalanan," sahut Ali langsung bergegas pergi.
Dalam perjalanan, Ali mencoba mengingat makanan apa yang sering Elena sukai dahulu. Sambil juga dia mengingat momen bersama Elena. Di atas motor, Ali terlihat tersenyum-senyum sendiri. Ntah apa yang ada di benaknya hingga dia selalu tersenyum.
Kali ini dia menyadari apa yang sering Elena makan, yaitu mie ayam. Memang Elena sangat suka dengan makanan yang berbau-bau mie gitu.
Oh iya baru ingat, dia kan paling doyan mie ayam. Hem dimana ya tempat mie ayam pakde waktu itu.
Gerutu Ali sambil menggelengkan kepalanya itu. Dia mencoba mengingat tempat mie ayam yang sering mereka beli saat masih dekat dulunya.
Flashback...
Saat itu, mereka sangat mesra ketika sedang makan mie ayam di tempat pak De. Ali paling mengingat momen dimana, Elena makan dengan belepotan, hingga tepian bibirnya lumer dengan kuah mie ayam tersebut. Ali mengusap dengan pelan tepian bibir Elena menggunakan ibu jarinya. Saat itu, batin Elena kian bergejolak hebat atas hal yang di lakukan Ali.
Begitulah kiranya sepenggal cerita yang dapat Ali ingat. Tak terasa, tempat mie ayam nya sudah ketemu.
Ali memesan dua porsi mie ayam, padahal Ali maunya membeli nasi goreng, berhubung dia sudah lama tidak makan mie ayam bareng Elena, akhirnya dia memutuskan untuk memesan mie ayam juga.
Hampir sekitar dua puluh menit, Ali kini kembali berada di kosan Elena.
"Nih makanannya, ambil wadahnya ya," pinta Ali sambil meletakan makanan dalam plastik tersebut ke lantai.
"Loh kamu beli apaan?" tanya Elena sambil memegangi kantongnya.
"Sudah...nanti juga kamu tau, buruan ambil wadahnya," ujar Ali yang akhirnya Elena menuju dapur untuk mengambil wadahnya.
Elena tersenyum ketika mengetahui makanan yang Ali beli. Sontak dia bertanya, kenapa si Ali membeli mie ayam ini?
__ADS_1
"Kok tumben kamu beli ini? Kamu masih ingat aja makanan yang aku sukai," ujar Elena membuka kantong plastik mie ayam lalu menuangkannya ke wadah.
"Iya itu harus aku ingat. Hal sekecil apapun tentang kamu, selalu aku ingat dalam relung hatiku Elena," ujar Ali berbicara penuh dengan kenyakinan.
"Alah kamu bisa aja gombalnya Ali." Ujar Elena dengan wajahnya sedikit memerah.
.
.
.
.
.
------- **TO BE CONTINUED -------
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA TAP JEMPOLNYA GUYS😍😍
BANTU KOMEN BESERTA VOTENYA ❤❤❤
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BTC INI 😘😘😘😘**