KUPILIH DIA

KUPILIH DIA
"Keikhlasan"


__ADS_3

Tap Jempolnya Dulu Iya Readers 😆👍👍👍


^^^


Sialan, siapa juga mengganggu kenikmatanku! Seru Romo menghela napasnya yang ngos-ngosan.


Sedangkan Delva, perlahan membuka matanya dan terlihat hidungnya menarik napas dalam. Lalu, memandangi wajah Romo yang menatap dirinya dengan tajam.


"Sayang, kenapa berhenti?" tanya Delva.


"Apakah kamu tidak mendengar suara orang memanggil?" Romo balik bertanya kepadanya.


"Eh tidak... mungkin kamu salah dengar. Ayo Sayang, buruan genjot lagi," rintih Delva dengan jari telunjuknya membelai mesra bagian dada kekasihnya yang sudah bermandikan keringat.


"Iya sudah, kita lanjutkan." Romo kembali menusukan kail itu dengan sangat dalam.


Terlihat di depan pintu, sudah ada Ali yang berdiri. Dia datang ke kosan Delva, karena melihat adanya motor Romo di depan. Dia berkeinginan untuk menyelesaikan masalah di antara mereka berdua, yang sempat memanas.


Sekaligus, Ali juga penasaran sebenarnya ada status apa antara Delva dan Romo ini. Dia ingin bertanya dengan Devi, di sebelah kosan Delva, sayangnya Devi sedang tidak ada. Dia tidak mendengar suara apapun dari dalam kosan itu, akhirnya dia memutuskan untuk lanjut pulang.


***


Maghrib pun telah berlalu, dan Romo sudah beranjak pulang dari kosan kekasihnya. Setelah sampai, dia langsung bergegas mandi. Dia berdiam diri cukup lama, merenungi apa yang baru saja terjadi di antara dia dan Delva.


Begitu juga dengan Delva, ada rasa menyesal dalam dirinya. Namun, ada juga rasa hangat bercampur gembira dalam benak hatinya. Hal itu di karenakan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.


Apa yang baru saja aku lakukan. Dengan secara cuma-cuma, aku telah memberikan kegadisanku. Kalimat penyesalan yang terucap di mulutnya.


Tapi, aku merasakan bahagia yang sungguh luar biasa. Aku telah mendapatkan apa yang selama ini ku mau. Tambahnya lagi dalam lamunan itu.


Kalau di pikir-pikir, Delva terlalu gampang memberikan sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya. Secara dia baru beberapa bulan saja pacaran dengan Romo. Iya kalo kekasihnya sudah pasti tidak ambil pusing. Ibaratkan kucing lapar, di beri daging segar, tentu saja tidak akan menolak.


Tapi ibaratkan pepatah lama, nasi sudah menjadi bubur. Lagian juga, Delva terlihat ikhlas telah memberikan kegadisannya itu pada Romo.


^^^


Di dalam kamar dan di tempat yang berbeda, Mia terlihat sedang mencoba menghubungi Elena. Tak lama kemudian, Elena menerima telepon darinya.

__ADS_1


"Halo Mia, Kenapa ya?" tanya Elena.


"Eh halo... kamu sibuk nggak?" tanya Mia dengan nada gugup.


"Iya tidak kok, aku hanya rebahan santui doang nih," ketus Elena.


"Bo-boleh aku ngomong sesuatu sama kamu?" ujar Mia masih saja dengan nada gugup.


"Eh sebentar deh, kok nadanya agak berat gitu, Mia?" ujar Elena.


"Nggak kok, aku mau bilang... maaf," ujar Mia sambil menghela napasnya sejenak.


"Maaf?" ujar Elena kaget.


"Iya maaf, untuk kejadian beberapa hari yang lalu," ucap Mia lewat telepon yang sedang berlangsung.


"Oh masalah yang kemarin itu. Aku sudah lupain kok, Mia," jawab Elena dengan suara santai menanggapi perkataan dari Mia.


"Iya aku malu dan salah, tak seharusnya aku bersikap seperti itu," rengek Mia kemudian.


"Sudah Mia. Tidak perlu kamu ingat, aku sudah memaafkanmu kok," ujar Elena menenangkan Mia.


"Aku ikhlas memaafkan kamu. Jika ada masalah, ceritakan saja ya," ketus Elena.


"Em baiklah, terima kasih ya Elena. Kamu sudah mau memafkan diriku." Ujar Mia.


Akhirnya Mia telah mengungkapkan kata maafnya kepada Elena. Dia benar-benar merasa bersalah. Reaksi Elena sudah bisa membuat Mia terkagum akan sikap lembutnya itu.


"Oh iya, besok persiapkan diri kamu ya," ujar Elena masih dalam telepon yang sedang berlangsung.


"Eh untuk apa?" jawab Mia dengan heran.


"Besok kita presentasi kelompok. Jangan lupa belajar ya tentang materi kelompok kita, ntar aku kirim sama kamu," ujar Elena.


"Oh iya, maaf juga kemarin aku pulang lebih awal. Terima kasih sudah mengingatkanku, Elena," jawab Mia sembari tersenyum dengan sendirinya.


"Iya sudah kako gitu, nanti aku kirim file materi kita. Aku mau sholat dulu," ketus Elena.

__ADS_1


"Oke baiklah." Ujar Mia kemudian mengakhiri telepon itu.


^^^


Hari sudah menunjukan jam dua belas malam. Ali terlihat masih saja menatap layar laptopnya. Ntah apa yang sedang ia kerjakan, yang jelas dia terlihat sangat fokus. Sampai-sampai beberapa pesan masuk, tidak ada satupun yang dia lihat.


Ternyata, Ali berpikir keras untuk membuat kata-kata indah. Dia mencoba membuat rangkaian puisi indah. Setelah tiga jam lamanya, dia berhasil menyusun kata per-kata di word laptopnya itu.


Akhirnya sudah selesai. Semoga saja puisi ini bisa di jadikan sebagai ucapan kata maaf sekaligus terima kasih kepadanya. Gumam Ali setelah menyelesaikan pekerjaannya.


.


.


.


.


.


- - - **B E R S A M B U N G - - -


.


.


.


.


.


JANGAN LUPA TAP JEMPOLNYA 👍👍👍


BANTU VOTE DAN BINTANG LIMA 🌟🌟🌟🌟🌟


TERIMA KASIH UNTUK SELALU SETIA MEMBACA CERITA BTC INI GAES ❤❤❤

__ADS_1


Semoga ada pelajaran yang bisa kalian ambil hikma dan maknanya, setelah membaca episode kali ini. Author sangat bersyukur apabila ada yang dapat memahami episodenya. 😊🙏🙏**


__ADS_2