
Seketika saja Ali terdiam, mendengar jawaban dari Elena. Mungkin memang dia terlalu cepat untuk mengungkapkan perasaannya itu, atau memang harapan untuknya tidak ada sama sekali darinya.
Kembali pada telepon,
"Halo... Al kok diam?" tanya Elena.
"Iya, yasudah enggak masalah kok El, kalo belum siap," ketus Ali.
"Maaf Al, aku bukan bermaksud tidak menghargai perasaanmu," ucap Elena.
"Untuk sekarang aku belum siap, lagian kita belum begitu tau sifat kita masing-masing," tambahnya lagi.
"Iya tidak masalah El, aku juga paham," ujar Ali dengan suara yang sedikit berubah.
"Kuharap, setelah kejadian ini, kita masih bisa dekat kan, El?" tanya Ali kepada Elena. Sebab Ali merasa takut, setelah malam itu kedekatan mereka akan menjadi renggang.
"Iya kok Al, kita tetap seperti ini, jalani saja semuanya," timpalnya yang membuat Ali sedikit legah.
"Syukurlah El kalo begitu, aku senang mendengarnya."
Satu minggu pun berlalu, mereka mengikuti rapat hima untuk ke sekian kalinya. Kali ini senior mereka membahas tentang acara malam keakraban anggota Hima.
"Baiklah adek-adek, kakak selaku ketua Hima yang baru, ingin mengajak kalian semua nya ikut dalam acara makrab," kata kak Ari selaku ketua Hima keperawatan tersebut.
"Maaf kak, makrab itu apaan dan terus itu kapan dilakukannya kak?" tanya Diah yang begitu polos.
"He, dek makrab itu malam keakraban untuk kita semua yang ikut organisasi Hima ini," ujar mbak Nenty sambil tertawa.
"Oh, ya mbak maaf mbak, soalnya kami kan baru, jadi kurang paham," timpal Diah.
"Jadi adek-adek semua sudah tau kan apa itu makrab? Nah kalo sudah tau, sekarang kita membahas waktunya, kira-kira kapan kita bisa melakukannya?" tanya kak Ari kepada semua anggota Hima.
"Kalo kami mungkin bisa kapan saja, jadi tergantung sama keputusan kakak dan mbak saja," ungkap Elena pada saat itu.
"Lah dek, ini kan kita lagi berdiskusi, jadi kan semua harus berpendapat dong," ungkapan mbak Nenty yang bernada sinis.
"Bukan begitu loh kak maksud si Elena, kami semua anggota baru siap ikut makrab kapan dan dimanapun itu dilakukan kak, mbak," sahut Ali yang membenarkan ucapan Elena tadinya.
"Jadi kalian ikut semuanya kan? Apapun keputusan kami nantinya, kalian harus siap menerimanya oke," kata kak Ari.
"Ya siap kak," ucap dari semua anggota Hima yang hadir saat rapat tersebut.
"Baiklah adek-adek, kita akan mengadakan makrab pada malam kamis, dan tempatnya di rumah kak Robby," pungkas kak Ari kepada anggota Hima semua.
__ADS_1
"Oke baiklah kak." Jawab Elena dan Diah kompak.
Tiga hari berselang, malam acara keakraban pun tiba. Mereka semuanya berkumpul terlebih dahulu di parkiran kampus. Setelah semuanya kumpul, mereka berangkat menuju ke rumah nya kak Robby. Kegiatan mereka pada malam itu, adalah bikin sate dan juga ayam bakar. Semuanya terlihat sudah saling mengenal satu sama lain malam itu. Dan setelah selesai makan-makan dan juga berberes, kak Robby pun mengajak untuk bermain kejujuran dengan cara memutar satu botol.
"Nah adek-adek, kita kan sudah makan nih, daripada kita ngobrol-ngobrol kagak jelas bagaimana kalo kita bikin permainan?" tanya kak Robby.
"Permaian apaan si kak By?" tanya mbak Intan dan diiringi dengan yang lain juga ingin tau.
"Kita bermain kejujuran oke," ujar kak Robby.
"Oh, main kejujuran, bisa kan adek-adek?" tanya mbak Nenty kepada para anggota Hima baru.
"Mainnya yang seperti apa mbak, soalnya baru dengar," timpal Sintia yaitu salah satu teman kelas Ali dan Elena.
"Jadi main nya itu pakek botol dek, sudah tu botolnya diputar, nah kalo kepala botolnya berhenti di depan kamu, kamu bebas mau nanya siapa aja, orang yang kamu tunjuk pun harus menjawab jujur, pahamkan?" kata mbak Nenty yang menjelaskan cara permainan kejujuran.
"Oh, iya mbak udah ngerti," sahut Sintia.
Mereka memulai permainan tersebut. Satu persatu pun sudah kena pertanyaan. Dan tibalah kak Robby yang kena pada saat itu.
"Nah, kak Robby dulu yang kena, ayo mau nanya siapa?" ujar mbak Intan sambil tertawa.
"Em, mau nanya siapa ya... yasudah nanya si Al aja," kata kak Robby yang membuat Ali merasa dag dig dug.
"Al, jawab jujur ya, kamu suka benaran sama si El?" tanya kak Robby yang membuatnya bingung dan cemas mau menjawab dengan jujur.
"Tidak ada pertanyaan lain, harus jawab dulu itu Al!" tegas kak Robby.
Dengan terpaksa Ali menjawab, "iya kak, aku suka sama Elena,"
"Cie cie, ada yang jatuh cinta ni," kata mbak Nenty dan mbak Sifa yang membuat muka Elena menjadi malu.
"Nah El, gimana menurut kamu, Al udah ungkapin perasaan nya ni," sindir kak Robby kepada Elena.
Elena hanya terdiam sambil tertawa kecil menutupi rasa malu atas apa yang Ali ucapkan barusan. Kemudian, botol di putar kembali dan lagi lagi yang kena adalah kak Robby.
"Wow, aku lagi," ujar kak Robby sambil tertawa.
"Kali ini aku mau nanya El. Nah El, kamu suka juga enggak sama si Al?" tanya kak Robby pada Elena.
Sontak Elena terkejut dan bingung atas pertanyaan yang dilontarkan oleh seniornya itu. Dia melihat muka seluruh anggota terlebih dahulu yang memandangnya dengan wajah penuh keseriusan. Hal itu membuat dirinya merasa cemas untuk menjawab pertannyaan dari kak Robby.
"I-iya aku suka kak, suka dalam artian sebagai teman dekat gitu kak," ungkap Elena dengan nada gugupnya.
__ADS_1
Hal itu langsung membuat Ali tak percaya dengan apa yang barusan terucap dari mulut manisnya Elena. Dia langsung merundukan kepalanya, dan membiarkan topik pembicaraan itu dan dia mencoba menjadi pendengar yang baik.
"Oh, bearti suka sama Ali sebagai teman aja ni?" tanya mbak Nenty lebih lanjut.
"iya maksud Elena, kalo untuk serius ke arah pacaran, aku belum siap mbak. Elena masih mau lihat sikap Ali nya kedepan seperti apa dulu," jawab Elena yang masih saja sama seperti saat pertama kali Ali mengatakan cinta padanya.
"Nah Al, jadi kamu harus beri sikap dan perhatian lebih, beri kejutan dan hal-hal yang buat Elena senang agar dia siap jadi pacar kamu." ucap kak Robby yang sedikit menenangkan Ali. Ali hanya diam dan tidak merespon sama sekali.
^^^
Setelah malam keakraban selesai, rutinitas mereka pun seperti biasa, ke kampus pulang makan tidur alias kupu-kupu malam. Ali pun datang ke kosan nya si Devi untuk sekedar bermain biasa.
"Dev, menurut kamu Elena itu nanti bakalan jadian sama aku enggak?" tanya Ali memintan pendapat dari Devi.
"Lah Li, kenapa nanya denganku?" jawab Devi dengan heran.
"Aku mau dengar pendapat dari kamu, Dev," paksa Ali.
"Iya sebenarnya susah Li, kalo Elena itu bakalan jadi pacar kamu," kata Devi yang membuat Ali kini balik heran.
"Kenapa begitu Dev? Emangnya Elena kenapa!" tanya Ali sedikit menghela napasnya.
"Maaf ya Li sebelumnya, Elena itu sudah punya pacar tapi mereka ldr an," ungkap Devi.
"Serius Dev? tapi kok dia enggak pernah bilang sama aku kalo dia sudah punya pacar," kata Ali mendengus kesal dan seakan tidak percaya jika Elena telah mempunyai seorang kekasih.
Ketika mendengar cerita dari Devi, Ali pun berpikir untuk bertanya langsung pada Elena. Tapi dia takut semuanya akan menambah keruh suasana. Ali berpikir ingin menjauh darinya, tapi Ali juga takut itu sesuatu yang salah. Ali pun serba salah di buatnya dan masih tidak percaya bahwa Elena sudah mempunyai seorang pacar.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All