KUPILIH DIA

KUPILIH DIA
Siapa yang tersakiti?


__ADS_3

Mia terlihat lemas tak berdaya dibangku tersebut. Ali kali ini menghilangkan sejenak amarahnya kepada Mia saat itu juga. Dia duduk di sebelah Mia dan bertanya dengan nada sedikit khawatir akan dirinya itu.


"Mia kamu kenapa. Kamu habis berantem sama cowok yang kemarin malam itu?" Tanya Ali dengan memegangi tangan Mia.


"Lepaskan Ali. Aku baik-baik saja dan tidak ada yang sedang terjadi denganku!!" Seru Mia bangun dan menoleh ke hadapan Ali.


"I-iya karena aku khawatir sama kamu Mia. Mata kamu terlihat pucat dan aku rasa kamu habis menangis tadi malam," Ujar Ali dengan nada terbata-bata yang mencoba untuk menstabilkan emosi Mia.


"Kenapa, kenapa kamu masih peduli terhadapku Ali. Sudah jelas-jelas kamu melihat lelaki biadab itukan?" Tanya Mia dengan tatapan tajam.


"Iya karena aku punya harapan sama kamu Mia. Dan aku tidak terima kalau kamu diperlakukan semena-mena oleh lelaki itu!!" Gerutu Ali dengan mengenggam erat tangan Mia.


"Apa kamu bilang, kamu menaruh harapan denganku?" Tanya Mia terdiam sesaat dan melanjutkan pembicaraannya kembali, "Lelaki itu tadinya adalah kekasihku. Tapi mulai tadi malam aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya," ujar Mia melepaskan genggaman tangan itu lagi.


"Ohh jadi benar dugaanku selama ini. Tapi lupakan saja, sekarang aku mau bertanya dengan serius sama kamu," ujar Ali yang kali ini menatap Mia dengan serius.


"Iya silahkan. Jika saja pertanyaanmu itu bisa kujawab," gumam Mia memaliskan mukanya.


"Oke baiklah. Apakah kamu diperlakukan tidak senonoh olehnya tadi malam? Atau jangan-jangan kamu putus karena aku?" Ujar Ali melayangkan pertanyaannya itu.


"Pertanyaan kedua tidak ada sangkut pautan dengan masalahku bersama dia. Kalau pertanyaanmu yang pertama, itu benar," jawab Mia berdiri dan menuju ke meja depan.


"Terus apa yang telah dia perbuat padamu Mia?" Ujar Ali ingin tahu lebih mendalam apa yang di alami oleh Mia tadi malam.


"Dia bertingkah semaunya saja. Dan dia juga mau memilikiku sepenuhnya. Tapi aku bilang tidak bisa, sebelum dia menghalalkanku," jawab Mia sambil mengetuk-ngetuk meja tempat dosen mengajar.


"Memilikimu seutuhnya, maksudnya dia mau kamu lebih dari sekedar pacaran yang biasa-biasa saja kah?" Ali penuh dengan ke heranan.


"Iya kamu benar. Makanya aku tidak mau dan memutuskan dia langsung tadi malam. Aku bukan wanita murahan Ali, yang bisa di cicipi dengan mudah layaknya kupu-kupu malam," menatap Ali dengan mengetuk meja begitu dahsyat.


Alipun kemudian ikut berdiri dan mendekat kembali kepada Mia, "Sudah kamu yang sabar Mia. Keputusanmu itu sangat bagus. Tidak sepatutnya kamu menjalin hubungan sama orang yang hanya ingin mengambil keuntungan darimu ini," ujar Ali dengan spontan memeluk Mia di dalam ruangan yang hanya mereka berdua saja penunggunya saat itu.

__ADS_1


****


Elena dan para sahabatnya sedang menikmati soto ayam yang ada di kantin kampus. Ketika sedang enak-enaknya makan sambil ghiba, Romo kemudian mengahampiri mereka dan duduk tepat di sebelah Elena.


"Boleh aku gabung bersama kalian?" Tanya Romo sambil mengedipkan matanya itu.


Rika, Devi dan Diah kompak melihat ke arah Elena. Elena heran kenapa temannya memandangi dirinya seperti itu.


"Loh kok pada melihat ke arahku?" Ujar Mia.


"Si Romo nanya tu, boleh nggak dia gabung sama kita disini," gerutu Diah sambil menyeduh kuah soto dalam mangkok tersebut.


"Iya silahkan saja. Aku si biasa-biasa saja," jawab Elena dengan santainya.


"Nah gitu dong. Makasih sudah mengizinkanku bergabung," ujar Romo sambil mencubit pipi Elena.


Seketika saja Elena marah dan tidak terima perlakuan dari Romo, "Apa-apaan kamu. Main cubit seenaknya saja!" Bentak Elena. "Tolong ya, yang sopan jadi cowok. Jangan main pegang seenak jidatmu saja!" Tambah Elena kemudian.


"Lah biasa saja Elena. Nggak harus marah-marah. Malu di lihat orang sekitar," ujar Romo melihat lingkungan sekitar mereka.


"Sudahlah mbak, nggak guna berbicara sama orang yang pura-pura perhatian dan baik di hadapanku. Padahal dalam hatinya busuk!" Gumam Elena mengingat akan apa yang di ucapkan Romo beberapa hari yang lalu bersama Ali.


"Tapi aku kan belum kelar makannya El, mbak, Dev. Rugi loh makanannya nggak di habiskan," ujar Diah memasang muka polos. Diah memang salah satu teman Elena yang doyan makan, sebelas dua belas sama si Rika.


"Yasudah kalau kalian nggak mau. Biar aku saja yang segera pergi dari sini. Aku muak dengan laki-laki yang sok baik seperti kamu Romo!" mencipratkan air ke wajah Romo, lalu kemudian pergi.


Elena menitipkan uang untuk bayar makannya ke Diah. Romo terlihat kesal dan penuh amarah atas apa yang dilakukan oleh Elena tersebut.


"Ah kurang ajar kamu Elena. Hei tunggu!" Pinta Romo sambil mengusap wajahnya dengan tisu tersebut.


"Aku menyusul Elena duluan ya Diah, Devi dan juga kamu Romo. Tolong bayarkan dikit makanku nanti," pinta Rika dengan segera menyandang tasnya dan berlari mengejar Elena.

__ADS_1


Semua orang yang sedang berada di kantin saat itu, melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Bahkan ada yang tertawa setelah Romo mendapatkan perlakuan yang tidak enak oleh Elena.


Sekarang Elena dan Rika sudah hampir sampai ke ruangan mereka. Dan seketika langkah mereka berdua terhenti dihadapan pintu ruangan itu. Elena terdiam sesaat dan mencoba menstabilkan nafasnya. Sedangakan Rika memandangi ekspresi yang tergambarkan dari wajah sahabatnya itu. Mereka melihat Ali dan Mia sedang berpelukan sangat erat. Dengan diiringi deraian airmata dari Mia.


Elena tak tahan melihat kejadian itu, kemudian pergi meninggalkan Rika dari hadapan pintu tersebut.


"Eh Elena tunggu. Kamu mau kemana?" ujar Rika segera menyusul sahabatnya tersebut.


.


.


.


.


.


**♡♡BERRRSSAAAMMBUUUNNGGGG♡♡


.


.


.


.


.


Tolong bantu like & comment yang membangun buat author.

__ADS_1


Jangan lupa kasih vote dan juga bintang 5 nya. Please 🙏🙏🙏


Serta tekan tombol favorit apabila novel ini bagus menurut readers. 💖💖💖**


__ADS_2