
Matahari telah terbit, hari ini adalah hari sabtu, Ali dan kawan-kawannya tidak ada jam perkuliahan. Ali terbangun setelah mendapatkan telpon dari Mia.
Pembicaraan di telpon.
"Hallo, Li udah bangun belum?" tanya Mia.
"Iya hallo, aku baru bangun, kenapa emangnya?" Ali balik bertanya.
"Udah buruan bangun,"
"Iya deh, aku sudah bangun sekarang,"
"Nah gitu dong, hari ini kamu mau ngapain Li?"
"Em, belum tau mau ngapain, mungkin dirumah aja kali,"
"Serius, kamu mau diam dirumah aja seharian ini, nggak bosan gitu?"
"Iya emangnya mau kemana lagi, kalo ada jam kuliah, paling-paling pergi ke kampus kan,"
"Bukan gitu maksudku Li, gimana kalo kamu nemenin aku hari ini,"
"Ha? nemanin kamu kemana Mia?" tanya Ali dengan heran.
"Udah deh, kamu nanti temui aku dikossan oke, aku tunggu jam 10 sudah ada disini," ujar Mia.
"Hm, iya deh baiklah, nanti aku kesana."jawab Ali kemudian.
Tidak terasa hari sudah menunjukan pukul 09.30 wib, Ali masih berbaring di atas tempat tidurnya. Rupanya Ali setelah menerima telpon dari Mia, dia melanjutkan tidurnya. Maklumlah, tadi malam sehabis telponan sama Mia, dia bergadang menonton bola hingga tidur sudah jam 04.00 wib.
Mia kembali menelpon Ali.
"Hm, kenapa lagi Mia," ujar Ali bernada lembut.
"Kamu tidur lagi ya?" tanya si Mia.
"Iya, masih ngantuk soalnya,"
"Ini sudah jam berapa Ali, katanya mau nemanin aku,"
"Emangnya sudah jam berapa sekarang,"
"Ntahlah, aku nggak tau, lihat aja sendiri, kamu punya jam kan?" kata Mia yang mulai jengkel.
Ali kemudian bangun dan langsung melihat jam yang terpasang didinding.
"Astaga, iya tunggu bentar Mia, aku mau mandi dulu," kata Ali yang mulai terburu-buru.
" Yasudah, buruan kamu mandi, kalo sudah selesai, langsung aja kemari,"
"Iya deh iya, pokoknya jam 10 aku pastikan sudah ditempatmu."
Akhirnya jam 10.15 wib, Ali sampai di tempatnya Mia.
"Maaf ya, sedikit terlambat,"
"Dasar kamu ya, emangnya semalam tidur jam berapa?"
"Em, habis telponan sama kamu semalam itu, aku langsung tidur kok,"
"Ah, nggak usah bohong kamu Ali, jujur aja kenapa," kata Mia mengancam Ali agar berkata jujur.
__ADS_1
"Eh, iya iya, semalam aku lanjut nonton bola dan tidur sudah hampir adzan subuh," jawab Ali dengan cepat, karena perutnya dicubit oleh Mia.
"Tuh kan, aku sudah menduga Ali, semalam nutup telpon bilangnya sudah mau tidur, dasar tukang bohong,"
"Eh, bukan gitu Mia, aku semalam itu sudah mau tidur, tapi ada pertandingan bola, jadinya aku bangun lagi dan nyalain tv,"
"Alah, ngeles aja kamu, awas ya kalo lain kali kamu bohong lagi kayak gini," ucap Mia sambil melanjutkan cubitannya keperut Ali.
"Iya, ampun Mia, tolong lepaskan tangannya," pinta Ali agar Mia melepaskan cubitan tersebut.
"Yasudah, buruan kita pergi,"
"Emangnya mau kemana Mia,"
"Sudah, pokoknya kamu ikut aku hari ini, ntar juga kamu bakalan tau,"
"Hm, baiklah Mia."
Ali dan Mia akhirnya pergi dari tempat kossan Mia tersebut. Dalam perjalanan, Ali terlihat merenung, perkataan dari Mia tidak didengar olehnya.
"Kok kamu seperhatian ini si samaku Mia, aku makin baper sama kamu jadinya, semoga aja kita selalu dekat Mia." Renungan Ali dalam hatinya.
"Woi, Ali, kamu dengar nggak si apa yang aku bilang," ucap Mia sembari menepuk pundak Ali.
"Eh, iya barusan kamu bilang apa Mia?"
"Ntahlah, malas mengulangi perkataanku tadi,"
"Tolong diulangi sekali lagi dong,"
"Udahlah, malas, makanya kalo orang lagi ngomong itu didengarin, bukannya malah bengong," Ketus Mia yang semakin jengkel dengan ulah Ali.
"He, iya deh aku minta maaf,"
"Iya deh, aku bakalan dengarin kamu kok, coba katakan apa yang kamu bicarakan tadi,"
Akhirnya Mia mengulangi pembicaraannya.
"Tadi itu, aku bilang kita nonton yuk,"
"Nonton, maksudnya?"
"Iya, kita pergi nonton bioskop, mau nggak?"
"Hm, emangnya ada film bagus sekarang?"
"Iya ada, makanya aku pengen nonton,"
"Yasudah, kalo emang kamunya mau nonton, kita langsung aja ke XXI,"
"Nah gitu dong, nanti aku yang bayarin oke,"
"Ah, nggak mau, biar aku yang bayarin kamu," ketus Ali.
"Sudah, tidak masalah Ali, kamu kan udah mau nemanin aku." jawab Mia sembari tersenyum.
Mia memeluk Ali yang sedang mengendarai motor. Terlihat mereka berdua sangat cocok, akan tetapi Ali belum tau pasti apa yang sebenarnya telah Mia lakukan terhadapnya dan juga dia belum tau isi hati mia terhadapnya.
Selang beberapa waktu atau pukul 10.40 wib, Ali dan Mia sudah tiba di XXI. Mereka memesan minuman terlebih dahulu, lalu kemudian Mia memesan tiketnya.
"Tunggu sebentar ya Li, aku pesan tiket nya dulu,"
__ADS_1
"Hm, iya baiklah."
Disaat Ali sedang menunggu, tiba-tiba saja dia melihat Romo kekuar dari toilet. Ketika Ali ingin menyamperin Romo, si Mia lalu datang menghampirinya.
"Eh, mau kemana Li?" sembari Mia megang tangan Ali.
"Oh, tidak mau kemana-mana kok, tadinya kalo kamu nya lama, aku mau ke toilet dulu sebentar," kata Ali menjawabnya spontan.
"Yasudah, kita ke toilet aja dulu, aku tunggu kamu didepan nantinya ya,"
"Tapi, ntar filmnya mulai,"
"Sudah, telat sedikit tak masalah, lagian filmnya mulai jam 10.55 kok,"
"Benaran nih, nggak masalah terlambat sedikit masuk teather nya?"
"Iya makanya buruan ke toiletnya," mendorong Ali agar segera menuju toilet.
Tak lama kemudian, Ali keluar dari toilet, dan mereka berdua langsung masuk ke dalam teather.
Lebih kurang satu jam setengah, Ali dan Mia telah selesai menonton film tersebut. Mereka berdua akhirnya keluar dari teather, menujuh ke area parkiran. Tiba-tiba saja, Ali dan Mia melihat Romo bersama dengan seorang wanita yang sudah lebih duluan keluar dari teather tersebut. Mia sempat ingin memanggil Romo, akan tetapi dia mengurungkan niatnya tersebut, karena dilarang oleh Ali.
"Eh, itu bukannya Romo ya?"
"Sepertinya memang Romo, soalnya tadi juga aku lihat dia,"
"Oh, bearti nggak salah lihat, terus cewek disebelahnya siapa ya, Li?"
"Hm, aku kurang tau juga siapa,"
"Aku panggil Romo ya,"
"Eh, nggak usah, ntar dilihat orang-orang kan malu," ujar Ali agar Mia tidak memanggil Romo.
"Hm, iya juga sih."
Tibalah di area parkiran XXI, Ali dan Mia akhirnya mendekati Romo. Kebetulan parkir motor si Romo tidak terlalu jauh dari mereka berdua. Terlihat wanita yang bersama Romo, membelakangi pandangan Ali dan Mia, dengan menggunakan helm berkaca hitam.
"Itu dia si Romo," ujar Mia sambil menunjuk Romo yang sedang menarik motornya agar keluar dari himpitan motor lainnya.
"Iya benar, ternyata memang Romo, buruan naik ke motor, kita langsung dekatin dia," pinta Ali
"Eh, iya baiklah, soalnya aku penasaran dengan cewek yang dibawanya,"
"Hm, tapi aku sepertinya mengenali cewek tersebut deh mia,"
"Ha, serius kamu Li?" tanya Mia.
"Iya, aku serius, soalnya helm tersebut tidak asing lagi dimataku." kata Ali menjawab pertanyaan Mia.
.
.
.
.
.
***BERSAMBUUUNGGGG
__ADS_1
Novel ini sedang dilakukan revisian oleh Author βΊπ