KUPILIH DIA

KUPILIH DIA
Tiga Sisi Yang Berbeda


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA, TINGGALIN TAP JEMPOLNYA DULU YA 😊😊😊


.


.


.


.


***


Elena akhirnya memberikan sindiran kepada Ali, atau semacam kata-kata mengingatkan Ali bahwa dia sebelumnya pamit untuk pulang.


"Ee... kamu nggak jadi pulang ni?" ujar Elena mengalihkan topik pembicaraan sebelumnya.


"Oh iya, jadi kok. Maaf ya kalau sudah ngawur kemana-mana," jawab Ali sambil tertawa.


"Eh nggak masalah kok. Lagian juga aku bisa mengerti apa yang sedang terjadi pada kalian," ucap Elena ikutan berdiri dari duduknya.


"Iya sekali lagi maaf Elena. Yaudah aku pamit pulang dulu," ujar Ali sambil menggaruk-garuk kepalanya itu.


"Iya Ali, hati-hati di jalan ya." Pungkas Elena sembari tersenyum di depan pintu kosannya.


Ali akhirnya pulang dari tempat Elena. Dia sempat berpikir untuk ke tempat Mia terlebih dahulu. Namun, karena hari sudah mulai mendung dan sedikit gerimis, dia memutuskan untuk langsung pulang saja.


***


Rotasi bumi masih saja bergerak, hingga membuat sore kini menjadi malam. Putaran waktu telah merujuk pada pukul delapan malam. Seorang pemuda masih saja terbaring di atas tempat tidurnya. Tidak bisa di mengerti, apa yang membuat dirinya nggan beranjak bangun dari atas kasur.


Sudah dua hari dia lalui hanya mengurung diri dalam bilik kamar itu. Beberapa botol minuman keras terlihat berserakan di lantai kamar. Rupanya dia masih gelisah dengan keadaan yang telah dia bikin sendiri. Menuduh sang kekasih, seolah-olah atas perbuatannya lah dia menjadi begini.


Terlalu egois dan menekan diri sendiri, itulah sifat pria tersebut. Membuat orang sudah mulai membuka hati, hingga menuduh sang kekasih menjadikan dia mengalami hal-hal yang rumit, itulah yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


***


Beralih ke tempat lainnya, dalam heningnya malam dan rinai hujan yang kian besar, gadis malang itu masih saja menangisi penyesalan yang sudah terjadi. Rasa bersalah, selalu menempel di kepalanya. Sambil menatap tangan yang telah begitu naif, menampar dua orang yang tidak tau menahu apa yang sebenarnya terjadi akan dirinya.


Oh Tuhan... pantaskah diriku ini untuk di maafkan, wajarkah kalau aku bersikap seperti ini. Aku rapuh, aku menyesali semua yang terjadi padaku.


Gumam gadis itu dalam kamarnya. Dia melihat gambar dirinya dari sebuah cermin datar yang terpasang di dinding kamarnya. Mulai menghapus air mata, dan mulai merapikan rambut yang kusut, kali ini dia mencoba menjadi seseorang yang biasa-biasa saja. Mencoba untuk tidak terlalu mengejar tentang perihal cinta, dan melapangkan hati untuk siap menerima segala konsekuensi yang akan dia hadapi kedepannya.


***


Kali ini berbeda dari apa yang sedang di alami oleh kedua orang sebelumnya. Pria yang seharian ini telah menyaksikan atau bahkan memperlihatkan drama, kini sedikit mulai mengais kembali harapan-harapan yang pernah dia kubur.


Malam kian larut, binar matanya juga belum beranjak untuk tidur. Otaknya mulai berhalusinasi dengan amat tinggi. Seketika saja notif di ponselnya berbunyi, menyadarkan dirinya dari dunia khayalan itu.


"Udah tidur belum?" pesan masuk yang seketika membuatnya menjadi penasaran.


"Belum. Ini siapa ya?" maklum pesan yang ia terima itu dari nomer baru.


"Maaf ya mengganggu, ini aku Elena," balasnya dalam pesan tersebut.


"Oh kamu Elena. Ada apa ya?" balas Ali dengan cuek.


"Tidak ada apa-apa kok. Aku cuman mau bilang, terima kasih sudah membantu mengerjakan tugas kita tadi siang," ujar Elena kepadanya.


"Hehe... santai aja Elena. Lagian kan itu tugas kelompok, jadi wajarlah saling bantu mengerjakannya," balas Ali seakan-akan tertawa langsung di hadapan Elena.


"Iya aku tau, tapi kan mengingat bahwa kamu juga tadinya ada sedikit masalah sama Mia, ya aku takut kalau kamu bakalan pergi juga menyusul Mia," ujar Elena.


"Loh kenapa berbicara begitu? Tadi kan sudah Ali jelaskan," tanya Ali dengan heran.


"Iya bukan apa-apa si. Aku takut aja kalau sampai aku sendiri yang ngerjain tugasnya, haha," balas Elena yang kali ini dia seakan-akan tertawa.


"Ah dasar kamu ya. Yasudah buruan tidur, sudah jam dua belas malam ini," pinta Ali agar Elena segera tidur.

__ADS_1


"Yasudah aku tidur Ali," balas Elena sembari mengirim emotikon senyum.


"Oke semoga mimpi indah," balas Ali kemudian.


"Ih kok mimpiin indah, aku maunya kamu Ali," rayu Elena membuat Ali semakin yakin bahwa harapan buatnya masih ada.


"Ah sudah-sudah, buruan kamu tidur." Ujar Ali sambil tersenyum sumringah, dan menutup pesan tersebut.


.


.


.


.


.


----> **BERSAMBUNG .....


.


.


.


.


.


JANGAN LUPA TAP JEMPOLNYA 😍😍😍


BANTU VOTE DAN KOMEN 😘😘😘

__ADS_1


MAAF BARU BISA UP 🙏❤❤❤**


__ADS_2