KUPILIH DIA

KUPILIH DIA
"Sentimental"


__ADS_3

Ali mulai berubah sikap pada Elena, semenjak dia tau bahwa Elena sudah memiliki seorang kekasih. Ali galau dan tidak mau menerima telpon dari Elena. Elena sangat khawatir terhadap Ali. Sms dari Elena tak ada satu pun yang di balas Ali.


"Al, kenapa teleponku enggak kamu terima?"


"Kamu kenapa Ali, kok tiba-tiba berubah gini!" Ucap Elena dalam sms yang ia kirim kepada Ali.


Ali sekarang sudah mulai banyak alasan untuk tidak menjemput Elena. Ali mencoba membuat Elena merasa bersalah dan berpikir apa yang terjadi padanya.


"Al, kamu enggak mau jemput aku lagi ya?" Elena bicara lewat telepon yang kali ini di terima oleh Ali.


"Maaf ya, aku mau antar titipan dari kakak ku dulu," jawab Ali ketus.


"Oh yaudah enggak apa-apa kalo gitu." Pungkas Elena dengan mengakhiri teleponnya.


^^^


Setibanya di kampus, Elena mengajak Ali untuk mengobrol empat mata di lantai atas gedung kampus mereka.


"Ali, aku mau berbicara sesuatu sama kamu, ikut aku dulu!" ujar Elena memaksa Ali untuk ikut.


"Eh mau kemana, main tarik aja," sahut Ali yang tampak menolak ajakan Elena.


"Tolong ikut aku dulu sebentar saja Ali!" mohon Elena agar Ali mengikuti permintaannya itu.


"Yasudah ayo kemana?" jawab Ali mengikuti kemauannya.


"Ikut aku ke lantai atas." Ketus Elena.


Kemudian mereka berdua telah sampai di lantai atas. Dengan suasana yang sunyi dan awan biru yang menjadi saksi bisu pembicaraan yang akan berlangsung di antara Ali dan Elena.


"Kamu ini kenapa? kalo ada masalah ngomong dong Ali," ujar Elena.


"Aku enggak kenapa-kenapa kok Elena," jawab Ali.


"Sekarang kamu itu enggak seperti biasanya Ali, sikapmu kini berubah," ujar Elena.


"Berubah bagaimana? Aku tetap Ali," jawab Ali ketus.


"Ntahlah, pokoknya kamu terlihat menghindariku beberapa hari ini," ujar Elena.


"Pikir saja dengan dirimu sendiri Elena. Kenapa bisa aku bersikap seperti ini kepadamu." Pinta Ali agar Elena memikirkan apa yang sedang terjadi.


"Kamu kok bicara gitu. Apa yang salah pada ku Ali?" muka Elena pun mulai merah dan airmata nya mulai menetes.


"Loh kok nangis, yaudah kamu enggak salah. Aku yang salah udah tampak menghindari kamu, maaf ya kalo aku sikapku salah," timpal Ali.


"Kamu jahat Ali!" Elena pun lari meninggalkan Ali.


Setelah hari itu, mereka beberapa hari tidak berkomunikasi dan tidak saling tegur. Namun, Ali merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan hari itu. Dan pada akhirnya, Ali pun datang ke kosan Elena.


"Elena nya ada mbak?" Ali bertanya dengan tetangga kamar kosan Elena.


"Ee... Elena barusan pergi sama temannya,"


"Pergi sama cewek apa cowok mbak?"

__ADS_1


"Sama Rika kalo enggak salah, kata nya mau bikin tugas,"


"Oh makasih ya mbak."


Teman sebelah kamar Elena mengatakan bahwa Elena pergi bareng sama Rika. Setelah tau akan hal itu, Ali akhirnya pergi dari kosan tersebut.


Hari itu Ali belum dapat bertemu dengan Elena. Disaat bersamaan, Elena Rika dan Devi mengerjakan tugas bareng di kosan si Devi. Dan Elena pun bertanya pada mereka kenapa Ali berubah sikap pada nya.


^^^


"Eh Dev, kenapa ya Ali hari-hari ini mengabaikanku?" tanya Elena kepada Devi.


"Kurang tau juga si El, mungkin Ali lagi bosan kali," ujar devi.


"Tapi dia jelas berubah sekarang," ucap Elena sambil merengutkan wajahnya.


"Haa... baper ya El, baru di abaikan si Al beberapa hari udah cemberut gitu," sahut Rika sambil ketawa.


"Orang serius kok mbak Rika," ujar Elena yang terlihat sedih.


"Oh iya El, ada waktu itu Ali datang ke kosanku, sore-sore gitu," ujar Devi.


"Kenapa dia ke kosanmu, Dev?" tanya Elena dengan heran.


"Ya dia curhat tentang kamu. Katanya kenapa Elena belum juga siap jadi pacarnya gitu," jawab Devi.


"Serius kamu Dev? Terus kamu bilang apa lagi ke dia?" pinta Elena agar Devi menceritakannya.


"Iya aku serius. Dia nanya kan, apa alasan kamu masih nggan menerimanya," ujar Devi seraya mengerjakan tugas.


"Iya ku jawab, mungkin kalo untuk saat ini Elena enggak bakalan jadi pacar kamu Li," dengus Devi.


"Lah Dev kok kamu bilang gitu," terlihat Elena tidak terima dengan jawaban Devi.


"Ya habisnya kasihan lihat Ali, dia itu tulus loh El sama kamu dia enggak main-main," ujar Devi.


"Iya aku tau, tapi mau gimana lagi. Aku masih punya Angga juga untuk saat ini," ketus Elena dengan keadaan hatinya yang mulai bimbang.


"Semestinya kamu jujur aja sama Ali El, kasihan lihat Ali soalnya," sahut Rika.


"Iya benar El, lagian aku sudah bilang sama Ali, bahwa kamu udah punya pacar tapi ldr an," tandas Devi.


"Ya ampun kamu bilang gitu ke dia. Wajar dia mulai berubah sikap padaku," Elena pun baru tau apa yang membuat Ali berubah pada nya.


"Ya makanya bilang jujur aja. Ntar si Ali semakin dalam cinta sama kamu, kamu nya bingung pilih yang mana El." timpal si Devi.


Setelah mendengarkan cerita dan pendapat dari kedua temannya, akhirnya Elena berusaha untuk menghubungi Ali. Elena pun ingin mengatakan yang sebenarnya pada Ali.


^^^


Di malam yang sunyi ditambah rintihan hujan, membuat Elena semakin merasa bersalah pada Ali. Dia mencoba menghubungi Ali, akan tetapi nomer telpon Ali selalu tidak aktif. Elena pun terdiam sambil merenungi kesalahan yang dia lakukan.


Maafkan aku Ali. Telah membuatmu begitu kecewa. Tapi kamu tak semestinya begini Ali, aku takut kamu jauh dariku. Tolong aktifkan nomer mu Ali, akan ku ceritakan semuanya. Ujar Elena dalam hati kecilnya.


Elena sungguh merasa bersalah, berkali-kali dia menelpon Ali tapi nomer Ali tak kunjung aktif.

__ADS_1


Keesokan paginya, Elena menunggu Ali untuk datang menjemputnya, akan tetapi sudah hampir jam delapan pagi, Ali tak Kunjung datang. Sekitar lima belas menit lagi jam kuliah pun akan segera dimulai. Akhirnya Elena menelpon Devi untuk menjemputnya.


"Hallo Dev, kamu udah mau pergi ke kampus belum?" tanya Elena.


"Iya halo, ini aku baru mau ke kampus," ujar Devi.


"Aku boleh minta tolong enggak Dev?" mohon Elena.


"Iya minta tolong apaan El? Bilang aja enggak usah ragu gitu," balas Devi agar Elena menyampaikan tujuannya.


"Kamu bisa enggak jemput aku dikosan, soalnya Ali enggak dateng-dateng Dev," Elena tampak murung, sebab Ali tak kunjung menjemputnya.


"Oh iya, tunggu aja dikosan... sebentar lagi aku kesana," pungkas Devi.


"Oke Dev, terimakasih ya sebelumnya." Ujar Elena sedikit legah.


Akhirnya Elena datang ke kampus bareng sama Devi. Setibanya di area kampus, Elena melihat Ali dan Romo sedang asyik mengobrol. Tapi Ali seolah-olah mengabaikan Elena ketika dia melewati mereka.


Saat jam istirahat tiba, Elena dan Ali berbicara empat mata kembali di lantai tiga gedung kampus. Mereka membahas masalah yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir.


"Ali, tolong kamu jawab jujur, kamu ada masalah ya samaku... sampai-sampai kamu ngejahuin aku kayak gini?" tanya Elena.


"Ya jelas ada lah. Elena... rupanya kamu belum sadar juga ya, telah mempermainkan perasaanku?" bentak Ali yang terlihat sangat kesal pada Elena.


"Aku tidak mempermainkan mu Li, tolong dengarin penjelasan aku dulu," mohon Elena.


"Ah sudahlah Elena, aku suda tiga bulan menunggu jawaban darimu, aku setia menunggu jawabanmu. Tapi apa, kamu enggak pernah mau jujur sedikitpun kalo kamu sudah punya seorang kekasih!" Ali terlihat sangat emosi dan tak mau mendengarkan alasan dari Elena sedikitpun.


Elena meneteskan air matanya ketika melihat Ali yang begitu marah sejadi-jadinya kepadanya.


"Maaf Ali, kalo aku tidak jujur sama kamu selama ini," ujar Elena dengan nada murung.


"Aku tak menyangka akan seperti ini jadinya." Tambah Elena.


Ali hanya diam dan menarik napas dalam agar emosinya stabil.


.


.


.


.


Bersambung....


.


.


.


.


Happy Reading Guys

__ADS_1


__ADS_2