KUPILIH DIA

KUPILIH DIA
" Cemburunya Seorang Elena "


__ADS_3

Matahari sudah tak menampakan cahayanya lagi. Hadirlah bulan dan bintang malam yang kini menerangi. Ali dan Mia segera pulang dari pantai itu.


Disisi lain, ternyata Romo dan Delva sudah jadian. Baru diketahui bahwa Romo sudah begitu lama mengenal Delva, jauh sebelum dia mendekati Elena. Ali yang sebelumnya mendorong Romo untuk mendekati Elena, kini sirna dalam waktu yang singkat.


" Yuk mampir dulu sebentar, " ajak Mia kepada Ali.


" Lain kali aja ya, soalnya nggak enak Mia, "


" Nggak enak apanya Ali? " tanya Mia sambil menatap dengan serius.


" Ya habisnya, badanku lengket semua karena terkena air laut barusan, " jawab Ali.


" Kirain apaan. Yasudah kalo gitu kamu pulang ya, ntar jangan lupa kasih kabar kalau udah sampai, " pinta Mia.


" Iya baiklah, buruan mandi dan jangan lupa untuk sholat, " ujar Ali sambil tersenyum pada Mia.


" Oke.... Terimakasih ya buat hari ini ya, " balas Mia dengan mengedipkan bulu matanya.


" Iya sama-sama. Udah aku pulang dulu ya, " ujar Ali


" Iya hati-hati dijalan, pokoknya jangan lupa kasih kabar. " kata Mia mengingatkan kembali pintanya pada Ali.


Ali bergegas pulang. Dalam benak Ali, kenapa dia bisa seceria ini, padahal dia sudah lama tidak merasakan seperti hari ini. Dia pastikan semua ini didapatkannya berkat dari seorang Mia. Ali akhirnya kian merasa jatuh hati pada Mia. Sedangkan Mia, terlihat ada sesuatu hal yang masih ditutupinya kepada Ali.


Dan ternyata, yang melihat kedekatan mereka di pantai tadi itu adalah Elena, Diah dan Rika.


.


.


.


.


.


Flashback ke beberapa jam sebelumnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


" Eh itu bukannya Mia sama Ali ya? " kata Diah yang melihat lebih dulu.


" Mana, kok aku nggak lihat, " ujar si Rika.


" Mungkin salah lihat kali Ya, " sahut Elena pada Diah.


" Coba kamu perhatikan, orang yang sedang duduk di pinggiran pantai sana, " kata Diah sambil menunjukkan keberadaan Mia dan Ali.


" Darimana kamu tau kalau itu mereka berdua? " tanya Elena merasa tidak yakin.


" Iya benar kata Elena. Soalnya mereka kan menghadap ke arah laut Ya, " ujar Rika menyambung perkataan Elena.


" Dari tadi soalnya aku sudah yakin mereka berdua. Tadi yang kita bilang nggak punya malu itu loh, " ujar Diah yang dari tadi melihat Ali dan Mia, kebetulan mereka bertiga tadinya mengumpatkan orang yang berlari-lari ala-ala sinetron India, yang ternyata itu adalah Ali dan Mia.


" Aku rasa bukan orang yang sama deh, seperti yang kita lihat tadi itu, " kata Elena yang masih tidak percaya.


" Kok kalian berdua nggak percaya sama aku. Soalnya tadi itu mereka menengok ke arah belakang, kebetulan aku sedang memperhatikan mereka. Wajah cowok itu sangat mirip sama Ali. " kata Diah mempertegas pengelihatannya.


" Yasudah, kita tunggu aja dulu sampai mereka beranjak pergi dari sana, " ujar Rika ingin memastikan apa yang sudah temannya lihat itu benaran Ali.


" Sudahlah, kita lebih baik pulang. Daripada menunggu orang yang belum tentu benar adalah mereka. " ketus Elena dengan nada sedikit jutek.


Diah sama Rika belum ingin pulang dan tetap ingin memastikan perkataan dari Diah. Terpaksa Elena tetap bersama mereka berdua. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dugaan dari Diah ternya benar. Ali dan Mia telah beranjak dari tempat duduknya.


" Tu lihat, benarkan mereka adalah Mia dan Ali, " ujar Diah menunjukan jari telunjuknya kembali.


" Berarti mereka berdua, kini sudah menjalin hubungan, " ucap Elena seakan tidak percaya kedekatan mereka berdua.


" Sudah jangan pesimis El, siapa tau aja kan mereka sekedar dekat, " Diah mencoba memberi penilaian lain dengan kedekatan Ali dan Mia tersebut.


" Iya sabar El, mbak Rika yakin bahwa kedekatan mereka, tidak ada hubungan apa-apa kok, " ujar Rika sambil merangkul Elena.


" Aku juga sedari tadi menduga, tapi aku nggak mau ambil pusing. Tapi coba deh kalian lihat, lalu kalian bayangin apa yang sudah kita lihat sedari tadi, mereka sangat bahagia. Menari-nari, tertawa lepas, bahkan Mia berani-beraninya menyenderkan kepalanya dipundak Ali, sampai-sampai Ali merangkulnya. Itu namanya apa coba kalau bukan sepasang kekasih, " tegas Elena yang terlihat cemburu.


" Sudah nanti mbak yang tanyakan pada Ali ya, pokoknya kamu tenang, orang dekat belum tentu bisa jadian kan, " kata Rika yang akan menanyakan status dari Ali dan Mia tersebut.


" Sudah jangan terlalu di pikirkan ya El, kita pulang dulu sekarang, sudah hampir jam tujuh soalnya. " ujar Diah.


Akhirnya mereka pulang. Selama dalam perjalanan, Elena masih saja kecewa terhadap apa yang dia lihat. Rika mencoba menenangkan dia kembali, agar Elena jangan sampai terbebani pikirannya, dengan apa yang sudah dilihat hari ini.


.


.


.


.

__ADS_1


Kembali kepada malam harinya.


.


.


.


.


Ali sudah sampai di rumah. Setelah selesai mandi dan sholat, Ali kemudian ingin memberi kabar pada Mia melalui telepon. Akan tetapi, nomor Mia tidak dapat dihubungi atau sedang berada dipanggilan lain. Beberapa kali dia mencoba, tapi tetap saja sibuk. Ali akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan saja kepada Mia.


Setelah beberapa jam kemudian, Mia baru membaca pesan dari Ali. Kemudian, Mia menelpon Ali. Namun, kali ini giliran Ali yang tidak menerima telepon dari Mia. Mia mengira bahwa Ali sudah tertidur, sebab hari sudah larut malam, dan juga mungkin Ali kecapek an setelah keseruan yang mereka lakukan sore tadi.


Sinar matahari yang masuk melalui ventilasi kamarnya Ali, membuat dia terbangun dari tidurnya. Terlihat jam sudah menunjukan pukul tujuh tepat. Ali kemudian membuka handphone miliknya, akan tetapi batrenya habis. Ali lalu menchargerkan handphone tersebut, kemudian kembali melanjutkan tidurnya.


Disisi lain, sebelum matahari terbit, atau tepatnya malam hari tadi, Elena terlihat murung di kamar kosan nya. Elena masih kepikiran atas apa yang telah dilihatnya tadi sore . Meskipun kini dia dan Ali sudah tidak dekat seperti dulu, akan tetapi dalam hati Elena masih menyisahkan secuil perasaan pada Ali.


Elena terlihat menonton drama korea di laptop miliknya. Seketika saja airmata nya jatuh tak terbendung menahan getirnya sebuah perasaan yang terpendam dan tak tersampaikan. Ditambah lagi drama korea yang dia tonton juga bergenre romantis, membuat dia semakin terpikir dengan semua yang pernah dia alami bersama Ali.


Kelopak mata Elena pagi harinya terlihat sebam dan membengkak. Semua akibat dia menangis tersendat-sendat tadi malam. Beruntung saja kuliah hari ini tidak bisa dilaksanakan, karena dosen yang mengajar sedang berada di luar kota. Diah dan Rika siang harinya datang ke tempatnya Elena. Mereka mencoba menghibur Elena sembari mengerjakan tugas. Romo juga terlihat datang ke kossan Elena tersebut.


.


.


.


.


.


****BEERRSAAAMMMMBUUNGGGG***


.


.


.


.


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE.


BAGI YANG BELUM KASIH RATING, DIHARAPKAN BERI RATING BINTANG LIMA YA.


TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR KE NOVEL YANG MASIH BERANTAKAN INI β˜ΊπŸ™**

__ADS_1


__ADS_2