KUPILIH DIA

KUPILIH DIA
Kelas Bawah!!


__ADS_3

***Berpikir positif sebelum membacanya. Jangan menghayal terlalu jauh. Area 21+ 😂.


---------------------------------------


Kembali dalam cerita...


Sekarang baju kuliah Ali sudah terlepas dari badannya. Mia menggigit dengan lembut bibirnya sendiri sambil mengelus dagu Ali. Ntah apa yang ada dalam pikiran Mia. Ali mencoba untuk melepaskan tangan Mia, akan tetapi tidak semudah yang dia kira. Ada yang berdiri tegap, tapi itu bukanlah prajurit baris-berbaris. Hanya sebuah pedang tumpul nan gundul, yang bersembunyi di balik segitiga bermuda yang digunakan oleh Ali.


Mia tersenyum dan lekas berdiri seraya mengambil baju Ali tersebut. Sambil berkata kepada Ali.


"Si joni mulai mengeras tu Al," goda Mia sambil tersenyum geli.


"A-apa... Tidak ada yang berdiri kok Mia," ketus Ali menjawab dengan terbata-bata.


"Sudah berpikiran yang aneh-aneh aja," canda Mia menuju ke belakang.


"I-iya habisnya kamu bertindak seperti itu Mia. Pria mana coba yang tidak terangsang kalau di perlakukan seperti itu?" ujar Ali sambil membenarkan celananya dan membela diri.


"Haha... Belum saatnya begituan Ali. Aku hanya ingin membilas baju putihmu, yang barusan kotor, akibat dari perkelahianmu dengan Jack." Ujar Mia tertawa sambil memberikan baju kaos oblong miliknya agar di kenakan oleh Ali.


Ali malu dengan sendirinya. Beruntung saja dia masih bisa mengendalikan dirinya dari godaan Mia. Andai saja dia terbawa napsu, mungkin semuanya akan berbeda?


Mia membilas baju kuliah milik Ali, sambil melantunkan tembang kesayangannya. Sedangkan Ali, menatap layar handphone miliknya, sambil sesekali buka facebook dan messegger. Dia mengenang kilas balik, bagaimana awal mula dia berkenalan dengan Elena. Sambil tersenyum sendiri, membaca chatt alay yang mereka lakukan dulu.


Tidak bisa di pungkiri bahwa masih ada asa dalam diri Ali kepada Elena. Namun, dia juga tidak bisa melupa akan semua yang dia terima dan alami saat bersama Elena dulu.


Kenapa tiba-tiba ingat dia ya? Duh Ali Ali, hati kamu ini maunya apa si Li. Jangan plin-plan gini lah. Aku tidak bisa selalu mengingat tentang dia.


Batin Ali bergejolak.


Mia telah usai dari menyuci baju Ali. Dia meminta Ali untuk memberikan dia gantungan baju yang ada di dalam kamarnya. Ali kemudian masuk ke dalam kamar Mia untuk mengambil gantungan tersebut.


Tidak di sangka, Mia orangnya pembersih dan juga rapi. Kamu memang perempuan idaman Mia.


Gerutu Ali dalam batinnya.


"Sudah ketemu belum? Kok lama bener?" tanya Mia sambil mematikan keran air.

__ADS_1


"Iya udah ketemu Mia. Yang ini kan?" ujar Ali memberikan gantungan baju.


Lagi-lagi Ali terbuai lemas, ketika melihat adanya garis katulistiwa yang di himpit oleh dua puncak di dada Mia. Mia tidak menyadari akan hal itu, dia memakaikan gantungan itu ke baju yang barusan dia cuci.


"Ali, kok bengong aja. Apa yang kamu lihatin, Ali?" ujar Mia kini berdiri dari jongkoknya.


"Anu, a-anu Mia tadi itu," Ali belum usai berbicara sudah Mia potong.


"Anu apaan Ali... Yang jelas dikit dong. Jangan bilang kalo kamu lihat belahan dadaku!" celetuk Mia mencubit perut Ali.


"Eh bu-bukan Mia. Aku bengong karena mikirin apa yang mau kita makan," alasan klasik yang Ali lontarkan kepada Mia sambil mendengus kesakitan.


"Dasar otak mes*m kamu ya. Yasudah minggir," pinta Mia kemudian.


Khayalan Ali semakin terbang melayang, seakan-akan menembus langit ke-tujuh. Maklum saja, hal itu terjadi karena Mia hanya menggunakan daster yang seksi nan singkat. Hal itu memang sengaja Mia gunakan untuk mengusik naluri Ali sebagai laki-laki perjaka.


Kini Mia sudah selesai menjemurkan pakaian. Hari sudah menunjukan pukul lima sore. Ali bergegas untuk pulang, karena dia tak tahan melihat pemandangan indah yang bertubi-tubi dari Mia.


"M-Mia, aku pulang dulu ya," ujar Ali dengan ragu.


"Iya itu tadi Mia. Sekarang aku izin pulang dulu ya, soalnya ada janji sama teman untuk main futsal," ujar Ali dengan kebohongannya.


"Oh begitu. Tapi kamu yakin ni nggak mau?" pancing Mia sambil menaik-turunkan alisnya itu.


"Apa Mia. Aku nggak ngerti apa yang kamu bilang," gumam Ali dengan nada sendu.


"Aku lagi pengen Ali. Masa kamu tidak paham maksudku!" seru Mia menggigit mesra jari telunjuknya.


Kali ini Ali benar-benar tidak mengerti apa yang di inginkan Mia. Secara Mia selalu menggoda dirinya dengan penuh gairah.


"M-maaf Mia, aku tidak bisa. Diriku belum siap untuk nikah muda Mia," gerutu Ali menjauhkan diri.


"Jangan pura-pura polos sayang. Kamu mau kan memberikan sedikit kepuasan untuk ku yang sudah jomblo ini?" pinta Mia sambil menarik pelan daster di bagian pahanya itu. Hingga terlihat jelas paha mulus nan putih dari seorang Mia.


"Stop Mia! Aku benar-benar tidak tahu apa maumu. Aku, aku tidak mau berbuat yang aneh-aneh saat ini Mia," ujar Ali sambil memegangi area selangkang*n nya itu.


Mia tertawa terbahak-bahak melihat sebuah kepolosan yang terpancarkan dari wajah Ali. Ali kemudian berdiri dan menyandang ranselnya, untuk segera pulang.

__ADS_1


"Sudah cukup Mia. Lebih baik aku pulang, daripada aku di rasuki setan duniawi oleh napsuku ini Mia," perkataan Ali semakin membuat Mia tak henti-hentinya tertawa.


Mia menstabilkan napasnya, sambil mendekati Ali yang sedang mengikat tali sepatunya itu.


"Ali sayang, jangan salah paham dulu. Aku hanya ingin memintamu untuk membelikan makanan Ali," ujar Mia memeluk Ali dari belakang sambil tertawa genit.


Ali merasa di permainkan oleh Mia. Dan dia sudah terbawa suasana yang diperlihatkan Mia.


"Puas kamu mengerjaiku Mia. Kalau aku langsung mendekap dan melakukan hal-hal yang tak wajar tadinya, apakah kamu siap?" tanya Ali yang kini telah selesai mengikat tali sepatunya dan melepaskan rangkulan Mia, lalu berdiri.


"Maaf ya Li. Aku kan hanya ingin bercanda saja. Aku benar-benar minta maaf kalau sudah membuatmu terangsang," jawab Mia sambil cemberut.


"Iya sudah aku maafkan. Tapi tolong kamu ingat, jagalah harga dirimu sebagai seorang perempuan Mia. Jangan seolah-olah kamu seperti perempuan murahan. Jujur, aku tidak suka dengan caramu ini. Aku permisi pulang, sampai ketemu besok." Tegas Ali dengan meminta Mia untuk memperbaiki sikapnya tersebut sebagai seorang perempuan yang benar.


Mia hanya terdiam di depan pintu, seraya melihat Ali meninggalkan dirinya. Rasa bersalah pun hadir seketika dalam diri Mia.


.


.


.


.


.


\=\=> ***To Be Continued <\=\=


Bantu Like n Comment 💖💖💖


Beri Vote dan tap ❤ agar tidak ketinggalan updatenya...


Jangan lupa Beri Bintang ⭐⭐⭐⭐⭐


Dan maaf apabila ada perkataan yang tidak sesuai pada episode kali ini.


Happy Reading Guys 😚😚😚***

__ADS_1


__ADS_2