
Tak lama kemudian, Ali dan Mia sampai di tempatnya Elena. Mia mengetuk pintu Elena, dan tak butuh waktu lama Elena membukakan pintu.
"Eh kalian sudah datang. Ayo buruan masuk," ujar Elena sambil tersenyum.
Mia lebih duluan masuk dan di iringi oleh Ali. Terlihat raut muka Mia masih cemberut, di karenakan kejadian di atas motor sebelumnya.
"Maaf ya, tempatku berantakan gini," ketus Mia sambil menengahkan kipas angin ke ruang tengah kosannya itu.
"Santai aja Elena," jawab Ali dengan senyuman terpapar di bibirnya.
Mia hanya diam, dia terlihat sibuk memainkan ponselnya. Rencana Mia untuk membuat Elena cemburu akhirnya gagal. Pasalnya dia sudah kesal duluan gara-gara Ali yang di kiranya sengaja tidak mendengarkan pembicaraannya di atas motor.
"Tunggu sebentar ya, aku bikinin teh dulu," ucap Elena menuju ke ruang dapurnya.
"Eh nggak usah repot-repot Elena," pinta Ali menanggapi ucapan Elena.
"Biarlah tidak masalah juga Ali. Iya kan, Mia?" tanya Elena melihat ke arah Mia.
"Oh iya, benar." Jawab Mia cuek saja.
Elena sudah mulai merasakan bahwa di antara Ali dan Mia sedang terjadi masalah. Kemudian Elena kembali kebelakang untuk segera mematikan kompor, yang sebelumnya dia nyalakan untuk memanaskan air.
Ali masih saja penuh dengan ke heranan terhadap Mia. Tapi Ali mengabaikan dan terlihat tidak terlalu perduli dengan keadaan Mia. Karena Ali berpikir, akan malu jika suatu masalah di perdebatkan dalam kosan Elena, dan di saksikan Elena secara langsung.
Elena kini telah menghidangkan satu teko teh hangat dan juga tiga buah gelas di dalam nampan tersebut.
"Ayo buruan di ambil," ujar Elena yang barusan selesai menuangkan teh ke dalam gelas.
"Iya Elena, terima kasih," ucap Ali segera mengambil teh itu.
"Ee kamu nggak suka teh ya, Mia?" tanya Elena dengan bernada sindiran kepada Mia.
"Iya sabar Elena, ntar juga bakalan aku ambil!" seru Mia dengan nada sedikit kasar.
__ADS_1
Elena mengalihkan pandangannya itu kepada Ali. Dia melihat Ali sudah mulai geram dengan sikap Mia yang sampai detik ini masih saja acuh tak acuh.
"Hei Mia, yang sopan sedikit menjawab perkataan orang. Sebenarnya kamu ini kenapa, Ha?" ketus Ali sambil mengambil ponsel Mia itu.
"Apa-apaan kamu Ali. Balikin ponselku sekarang juga!" seru Mia yang kini mencoba meregangi ponsel di tangan Ali.
Elena hanya diam, dan tidak tahu harus menolong dengan cara apa. Dia hanya bisa melihat perdebatan yang terjadi di antara Ali dan Mia.
"Makanya bilang, sebenarnya kamu ada masalah apa? Jangan seperti orang yang sedang penuh dengan masalah. Aku tidak suka!" tegas Ali yang tetap memegang erat ponsel Mia.
"Semua ini atas ulahmu Ali... Aku muak dengan sikapmu!" ujar Mia yang kini menampar muka Ali yang di saksikan secara langsung oleh Elena.
Benar saja apa yang Ali takutkan sebelumnya, sekarang sudah terjadi. Elena terlihat sedikit syok atas perbuatan yang Mia lakukan kepada Ali.
"Mia... Benar-benar kamu ya!" dengan mata yang mulai memerah dan jari jemarinya mulai menggepal, Ali melepaskan ponsel tersebut.
"Ali jangan di balas!" sahut Elena kali ini mencoba melerai pertikaian yang terjadi.
Beruntung saja berkat sahutan Elena, Ali tidak jadi untuk membalas tamparan Mia yang di dapatkan pada wajahnya itu.
Seketika saja Ali menggapai tangan Mia. Dia tidak mengizinkan Mia untuk pergi dari dalam.
"Jangan bertingkah seperti bocah. Aku harap kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Duduklah kembali," pinta Ali dengan bernada dingin dan seakan-akan tidak merasakan malu atas apa yang ia dapatkan di hadapan Elena itu.
Mia mencoba melepaskan tangan Ali, isak tangisnya makin menjadi-jadi. Elena lalu berdiri dan mencoba menenangkan Mia.
"Iya Mia, apa yang Ali ucapkan itu benar. Kalau kalian ada masalah, selesaikanlah dengan cara yang baik," ujar Elena sambil mengelus lengan Mia.
Ali melepaskan tangannya. Dia kagum akan apa yang di lakukan Elena tersebut. Batin Ali akhirnya bergejolak kembali.
Elena... apa yang sedang kamu lakukan. Kenapa aku merasa bersalah begini? Aku kan sudah melupakan dia. Ya Tuhan, aku ini kenapa?
Ratapan Ali dalam batinnya itu. Dia kemudian ikutan berdiri di sebelah Mia.
__ADS_1
Mencoba menenangkan Mia dalam tangisan itu.
"Maaf ya kalau aku sudah membuatmu menangis seperti ini. Aku tidak tahu apa sebab dan masalahnya, sehingga kamu bersikap seperti ini," ujar Ali menghapus Air mata Mia.
Namun, bukannya merasa malu dengan dirinya sendiri, kali ini Mia kembali melayangkan tamparannya itu. Mendarat tepat di pipi sebelah kiri, Mia sungguh tidak ada sedikitpun urat malu lagi kali ini. Sungguh di luar dugaan Ali, atas apa yang telah Mia perbuat.
.
.
.
.
.
------- **TO BE CONTINUED -------
.
.
.
.
.
❤❤❤
JANGAN LUPA LIKE N COMMENT 😉😉😉
BANTU VOTE BESERTA LIMA 🌟 NYA YA 😍😍😍
__ADS_1
TERIMA KASIH 😊❤❤❤**