
JANGAN LUPA TAP JEMPOL DULU YA 👍👍❤❤
EITSS AUTHOR KASIH TAU DULU, EPISODE KALI INI SEDIKIT MENGANDUNG KONTEN DEWASA LOH. MAAF KALO ADA YANG KURANG BERKENAN, KARENA APA YANG AUTHOR TULISKAN INI SUDAH DALAM SKENARIO CERITA.
SIAPKAN NIAT TERLEBIH DULU DEH 😂😂😂
Perlahan-lahan matahari mulai tenggelam. Seiring dengan datangnya gelap, kecupan mesra ikut terjadi di antara dua bibir yang memadu kasih. Dengan lembut, kecupan itu berlangsung alot. Selepasnya, Romo dan Delva tertawa dan merasakan bahagia yang sungguh luar biasa.
Orang-orang di sekitar tak menghiraukan mereka. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.
"Terima kasih untuk hari ini, Sayang," ucap Delva sembari memeluk erat Romo.
"Jujur, aku sangaaattt bahagia memiliki dirimu." Ujar Romo yang kali ini mengecup kening kekasihnya itu.
Tepat jam setengah tujuh malam, ke-duanya lalu pulang ke kosan Delva. Dalam perjalanan, banyak hal yang mereka berdua ceritakan bersama. Tak terasa, kini mereka telah sampai di tempat Delva.
"Sayang, aku mandi dulu ya," ketus Delva yang meminta Romo untuk menunggu di ruang tengah sambil menyalakan televisi.
"Iya... jangan lama-lama, Sayang." Pinta Romo kemudian.
***
Flashback di kediaman Elena, jam setengah enam sore.
Keheningan itu berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya. Dalam batin Elena, kenapa bisa perasaan yang telah ia tenggelamkan bisa datang lagi. Sedangkan dalam benak Ali, dia benar-benar menyakini bahwa perasaan antara mereka berdua itu masih teramat besar.
"Eh Elena, sepertinya aku pamit pulang aja ya," ujar Ali menyadarkan Elena dalam lamunannya.
"I-iya kenapa, Li?" tanya Elena dengan terkejut.
"Aku pamit pulang, soalnya bentar lagi sudah mau jam enam," ucap Ali sambil tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Loh baru setengah jam, kok sudah mau pulang?" Elena menghela napasnya.
"Soalnya ada yang bilang, nggak baik bertamu menjelang maghrib kayak gini," ujar Ali berdiri dan segera keluar dari dalam kosan Elena.
__ADS_1
"Eh... kalo gitu ya hati-hati di jalan," pinta Elena.
"Oke siap, hehe." jawab Ali tertawa kecil dan pergi.
Sepelas kepergian Ali, Elena langsung menutup pintunya. Dia menuju kamar dan berbaring sembari berkata dalam hati.
Kalau memang rasa itu masih ada, aku harus bagaimana? batin Elena berbicara.
^^^
Kali ini Delva telah selesai dari mandinya. Dengan hanya mengenakan kain handuk, dia berdiri di hadapan Romo. Merangkulkan tangannya ke leher Romo dan berbisik pelan di balik telinganya.
Sayang, malam ini aku benar-benar ingin menjadi milikmu seutuhnya. Bisik Delva kepada Romo.
Bukan tidak ada alasan ataupun hal konyol, Delva mengatakan hal itu hanya karena dia tidak ingin Romo dekat sama perempuan lain, apalagi dengan Elena.
"Sayang, kamu kenapa?" ujar Romo.
"Kamu jangan pura-pura lugu," ujar Delva sambil menjilat daun telinga Romo.
"Kamu yakin dengan hal ini?" tanya Romo mulai memegangi tangan kekasihnya itu.
Kedua gunung di balik kain itu, menempel erat di tubuh bagian belakang Romo. Dia menikmati dengan hangat belaian dari kekasihnya itu. Tangan kiri Delva, mulai menyusuri seluk beluk bagian intim kekasihnya. Terasa ada yang keras, tapi bukanlah batu akik. Ada yang berguncang hebat, tapi bukanlah gempa.
Romo akhirnya balik menyerang, dia sudah tidak tahan dengan permainan yang di lakukan Delva. Dia lalu menggendong kekasihnya itu, dan masuk ke dalam kamar. Dia mulai melepaskan baju dan ikat pinggangnya. Kali ini Romo sudah bertelanjang dada.
"Oh, Sayang. Badanmu sangatlah seksi," ketus Delva sambil menggigit jari telunjuknya itu.
"Diam, kamu akan segera menikmati puncak kepuasan yang akan aku berikan." Ujar Romo.
Delva tertawa melihat reaksi kekasihnya itu. Dengan napsu, Romo menelusuri setiap lekukan kemolekan yang dimiliki dari kekasihnya. Seakan-akan puncak gunung itu hendak meletus dan mengeluarkan lava nya. Bagian leher Delva, kini memerah bagaikan warna lipstik di bibir.
Jari tengah itu mulai mengais rezeki, mencoba mencari selah untuk mendapatkan sebongkah berlian bening di dalam gua. Rintihan manja kian muncul dari mulut Delva.
"Buruan Sayang." Pinta Delva yang sudah tidak sabar.
__ADS_1
Sekarang, di antara mereka berdua tanpa sehelai benang yang melekat. Kecupan mesra terjadi lagi, kali ini durasinya begitu lama.
"Tahan ya, Sayang." Ujar Romo, dan delva hanya menganggukan kepalanya.
Telaga itu tidak begitu banyak di tumbuhi rerumputan. Hanya ada beberapa batang rumput saja yang baru mekar. Romo dengan perlahan menenggelamkan kailnya ke telaga itu.
Delva terkejut, lalu merintih kesakitan. Romo mencoba menenangkan kekasihnya. Sekali lagi dia kembali menusukan kail itu.
"Arrggghhh..." Lirih Delva setelah dirinya mendapatkan suntikan hangat dari Romo.
Terlihat, darah segar mengalir. Ternyata, kail yang Romo masukan, kini telah berhasil menembus telaga itu. Dengan rintihan dan helaan napas yang tak teratur, terdengar lantang dalam bilik kamar Delva.
"Maafkan aku, Delva." Ujar Romo yang sudah di penuhi keringat.
Baru saja mau sampai di puncak kenikmatan, ada suara orang yang memanggil dan mengetuk pintu.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
.
JANGAN LUPA TAP JEMPOLNYA GAES 👍👍👍
BANTU VOTE DAN KOMEN YA 😍😍😍
TANBAHKAN KE DAFTAR FAVORIT JIKA SUKA CERITANYA ❤❤❤
__ADS_1
TERIMAKASIH DAN MOHON MAAF SEBELUMNYA 😆😆🙏🙏