
H a p p y R e a d i n g G u y s !!
Jangan Lupa Tap Jempolnya 👍❤❤
. . .
Angga akhirnya masuk ke dalam ruangan IGD. Dengan mata yang masih saja meneteskan butiran air kesedihan, dia merasa bahwa Elena telah tiada. Ternyata yang ia lihat adalah sang sopir mobil lawan mereka tabrakan sebelumnya.
Sopir tersebut tak mampu di selamatkan lagi. Karena darah terus mengalir dari arah kepalanya. Angga merasa legah setelah mengetahui bukan Elena yang telah tiada. Namun, karena ia tak tau alamat ataupun keluarga dari sopir itu, ia akhirnya keluar. Sebelum itu dia di perbolehkan untuk melihat kondisi Elena sebentar saja.
Dengan terpasang selang oksigen. Kepala di perban serta tangan dan kaki sudah di obati oleh perawat. Elena, terbaring tak berdaya. Angga mencium tangan sang kekasihnya itu sambil berurai air mata. Kemudian ia menuju keluar dari ruangan.
. . .
"Angga... se-siapa yang telah meninggal?" ucap Lisa dengan nada gugup serta menangis juga.
Angga duduk di sebelah Lisa dan temannya. Ia menundukan kepala, menghela napasnya. Lalu menjawab pertanyaan dari Lisa.
"Alhamdulillah bukan dia yang telah meninggal. Dia masih dalam keadaan kritis Lis!" jawab Angga.
"Terus yang meninggal siapa?" tanya Lisa.
"Sopir mobil Lis," ucap Angga sambil mengambil tisu yang di berikan temannya Lisa.
"Ya ampun... semoga saja Elena lrkas sadar, kamu yang sabar ya Ngga!" ujar Lisa mencoba menenangkan Angga.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Karena merasa perut sudah lapar, Angga mencari gorengan di sekitaran area rumah sakit. Dan Lisa serta temannya, menunggu di ruang tunggu itu.
. . .
__ADS_1
Mia dan juga Sintia pamit untuk segera pulang. Dan juga jam besuk pasien pun saat itu telah habis. Ali masih tertidur pulas saat mereka pamit untuk pulang.
"Bu, kita pamit pulang dulu. Besok insha Allah kami kemari lagi!" ujar Mia.
"Enggak perlu repot-repot nak. Kalian jaga kesehatan aja di rumah!" jawab Ibu dari Ali.
"Iya enggak apa-apa kok, Bu. Kalau Ali sudah bangun nanti, tolong bilangin ya Bu, kita pulang!" seru Mia yang kini telah berdiri.
"Buru-buru amat Dek!" sahut Kakak nya Ali.
"Hehe enggak kok Kak, soalnya udah jam sembilan juga!" jawab Sintia.
"Yasudah, kalian hati-hati di jalan ya." Ujar Ibu Ali.
Mia dan Sintia mulai menyalami Ibu dan Kakak nya Ali. Bapaknya sedang pergi keluar untuk mencari kopi hangat sebelumnya.
Mereka berdua kini telah berjalan di koridor rumah sakit. Tiba-tiba saja Sintia tak sengaja di senggol oleh seorang laki-laki.
Rupanya Angga yang telah menyenggol bahu kanan dari Sintia. Dia terburu-buru menuju ke ruang tunggu pasien.
"Iya deh enggak masalah kok. Lain kali lihat-lihat dong, Mas!" cetus Sintia.
Mia hanya tertawa melihat kejadian itu. Angga pergi menjauh dari mereka berdua. Dan mereka juga segera pergi menuju parkiran.
Saat ini setelah tiga menit berlalu, Mia dan Sintia berhenti di salah satu tempat makan. Mereka ternyata sudah sangat lapar. Saat di rumah sakit, mereka malu untuk menerima tawaran makan dari Ibunya Ali. Mereka hanya memaksn roti saja saat itu.
"Pak, nasi gorengnya dua porsi dibungkus!" ujar Sintia.
"Iya dek, tunggu sebentar!" jawab penjual nasi goreng itu.
__ADS_1
. . .
Mia terlihat melamun. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Barangkali dia masih memikirkan Ali. Atau semacam hal yang lainnya. Kemudian, Sintia menyadarkannya dari lamunan itu. Lalu, mereka berdua akhirnya pulang.
Malam itu, Sintia menginap di kosan Mia. Setelah sampai di kediaman Mia, mereka berdua makan terlebih dahulu. Selepas makan, Sintia lebih duluan mandi. Sedangkan Mia, menyalakan televisi.
"Maaf ya Li, kalau kedatangan ku tadi membuatmu tidak enak hati. Aku hanya khawatir akan keadaanmu."
Mia mengirim pesan singkat kepada Ali. Ia meminta nomer Ali dari Sintia. Karena sebelumnya Ali telah mengganti nomernya juga.
Selang beberapa waktu, baik Mia maupun Sintia saat ini sudah selesai mandi. Hari sudah menunjukan pukul dua belas tepat. Mereka berdua merebahkan diri dalam kamar itu.
Sintia sudah lebih duluan tidur. Sedangkan Mia, belum juga mau memejamkan matanya. Berulang kali dia membolak balikan hadapannya. Namun, tetap saja ia tak dapat memejamkan matanya itu.
Duh kenapa masih memikirkan dia. Ayolah mata kita tidur! Gerutu Mia dalam batinnya.
Memang benar jika rasa khawatir terlalu mendalam bisa menimbulkan kegelisahan. Tak mampu dipungkiri lagi bahwa rasa itu tetap ada dan akan selalu ada. Iya benar, itulah Mia. Walau pun sudah di benci bahkan di celah sekalipun, ia tetap cinta. Andai saja Ali segera sadar akan hal itu secepatnya.
.
.
.
**To Be Continue
. . .
Terimakasih selalu mampir🙏😙😙
__ADS_1
Jangan lupa Vote dan Like nya ya ❤😉😉**