Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Prolog


__ADS_3

Pagi ini, nampak Triyani Susanti masih tidur di king zizenya. Karena begadang semalam untuk melihat televisi. Sedang asik tidur, gawainya berbunyi. Dan yang telfon sahabatnya.


Drtt...drtt...drtt..


("Halo." Ucapnya dengan suara parau.)


("Halo, Triyani." Ucapnya.)


("ALLAH ya Qarim, keras banget." Ucapku seraya menjauhkan gawaiku dari telingaku.)


("Hahahaha...main sini dong." Ucapnya.)


("Ok." Ucapku.)


Ya ALLAH masih jam 3 pagi. Ucapku.


Ibuku yang mendengar suara Wulan, temanku pun menggelengkan kepala.


"Dasar anak zaman sekarang, masih malam di ajak main." Ucapnya seraya pindah tempat.


"Hehehe, ya gitulah bu. Dia lagi mabuk cinta." Ucapku seraya tertawa.


"Ganggu orang tidur saja." Ucapnya.


Mendengar hal itu,aku hanya tertawa lantas bangun. Sholat malam dan langsung bersih-bersih rumah.


Selesai semua, aku langsung mandi dan bergegas mandi. Lalu sholat kembali.


"Kamu kesana jam berapa ?" Tanya ibuku yang bernama Sri Sundari.


"Nanti bu, enggak mungkin jugakan sekarang." Ucapku.


"Iya." Ucapnya seraya tertawa.


Aku anak terakhir dari 3 bersaudara, saudara aku cowok semua. Itulah mengapa, aku selalu di suruh menjaga diri.


Tak terasa jam sudah menunjukkan angka 8 pagi. Aku kini sudah di perjalanan ke arah rumahnya. Bersama teman laki-lakiku. Dia bernama Sitok.


"Lho kok lewat sini ?" Tanyaku.


"Iya, mau beli makan dulu." Ucapku.


"Oh." Ucapku.


"Enggak apa-apa kan ?" Tanyanya.


"Iya." Ucapku.


"Sudah makan belum ?" Tanyanya.


"Sudah barusan." Ucapku.


"Wah maaf ya, aku makan sendiri nanti." Ucapnya.


"Tenang saja." Ucapku.


Sesampai di warung makan, kami berdua turun. Aku yang asik main gawai, tidak sadar ada 2 laki-laki yang aku kenal.


"Tri." Panggil Sitok.


"Hmm." Ucapku.


"Ayolah." Ajaknya seraya menarik tanganku.


"Hp terus." Ucapnya kesal.


"Hehe,sabar dong. Ini Wulwul kirim pesan." Ucapku.


"Ck, ya sudah aku ambil piring dulu." Ucapnya.


"Ya." Ucapku.


Sementara itu bapak dan mas yang di belakang kami tadi, sedang mengambil nasi.


"Ehem."


"Ni." Ucapku seraya memberinya permen tolak angin buatnya.


"Buat apa ?" Tanya Sitok.


"Buat pereda batuk." Ucapku.


"Aku enggak batuk." Ucapnya seraya makan.


"Yang batuk saya mbak." Ucapnya tiba-tiba.


Spontan aku menolehnya, dan mengucapkan ALLAH Akbar.


"Malah azan". Ucap Sitok.


"Tok, cubit tanganku." Pintaku.


"Lah kenapa ?" Tanya Sitok.


"Cepetan." Ucapku.


Dia langsung mencubitku.


"Auw." Ucapku.


Lalu aku menatap mereka, dan terdiam.


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Maaf mas, bisa kita bicara ?" Tanyaku.


"Bisa." Ucapnya.


"Tunggu dulu Tri, kamu kenal mereka ?" Tanyanya.


"Kenal." Ucapku seraya beranjak berdiri dan disusul olehnya.

__ADS_1


"Maaf mengganggu makannya." Ucapku.


"Iya. Ada apa ya? " Tanyanya seraya membungkukkan badannya.


"Maaf, kalau aku pernah salah sama kamu." Ucapku.


"Memangnya mbak salah apa sama saya ?" Tanyanya.


"Pernah membencimu." Ucapku lirih.


"Maaf ya mbak, aku ambil dulu topinya." Ucapnya seraya memindahkan.


Selesai itu, dia langsung bertanya lagi.


"Gimana mbak ?" Tanyanya.


"Maaf saya pernah membenci anda." Ucapku seraya berbisik.


"Iya." Ucapnya.


"Makasih." Ucapku seraya melangkah.


"Sama-sama." Ucapnya seraya meraih tanganku.


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Boleh aku jadi teman kamu ?" Tanyanya.


"Boleh." Ucapku.


"Makasih." Ucapnya seraya berjabat tangan.


"Sama-sama." Ucapnya.


"Ya sudah yuk masuk lagi." Ucapku seraya mengajaknya.


"Tunggu." Ucapnya.


"Ya." Ucapku.


"Namamu siapa ?" Tanyanya.


"Astagfirullah, maaf lupa. Triyani." Ucapku memperkenalkan.


"Agung." Ucapnya.


"Boleh minta nomor hp kamu ?" Tanyanya.


"Ini." Ucapku seraya menyerahkan gawaiku padanya.


Dia lalu mencatat nomer hpnya ke nomer hpku.


"Ini mbak." Ucapnya.


"Jangan mbak, mas tapi panggil aku Tri saja" Ucapku.


"Oh baiklah." Ucapnya.


"Astagfirullah,kamu nambah ?" Tanyaku.


"Hehe ya. Aku dari kemaren belum makan." Ucapnya.


Sementara bapak dan mas Agung, hanya tersenyum.


"Sudah ?" Tanyanya.


"Sudah." Ucapku seraya membenarkan topiku.


Mas Agung yang melihat itu, langsung tersenyum.


Sementara aku merasa tenang setelah maafku diterima.


"Haik alhamdulillah." Ucapnya seraya bersendawa.


"Ish bikin malu." Ucapku.


"Hehe maaf. Kenyang soalnya.


"Ya jelas kenyang, nambah sampai 3 piring." Ucapku.


"Haha, enggak apa-apa." Ucapnya lalu membayar.


"Makasih pak dan masnya, maafin teman saya." Ucapku lirih.


"Iya mbak santai saja." Ucap mereka berdua.


"Makasih, kalau gitu saya permisi dulu." Ucapku.


"Iya mbak." Ucapnya.


Sepeninggal kami, mas Agung langsung membuka hpnya.


"Kenapa ?" Tanya sahabatnya.


"Aku sudah dapat nomernya." Ucapnya.


"Oh." Ucapnya.


Kembali kepada Kami.


Sesampai di rumah Wulan, aku lalu menemuinya.


"Lama banget." Ucapnya seraya cemberut.


"Ya tu, makannya nambah sampai 3 piring." Ucapku.


"Apa ?" Tanya mereka bersama.


"Aduh cuma 3 piring saja kaget." Ucap Sitok.


"Itu perut apa karet ?" Tanya Agus.

__ADS_1


"Perutlah." Ucapnya.


Sementara Hari hanya tertawa dan menyimak.


"Tri, dengar-dengar kamu mau di lamar ?" Tanyanya.


"Di lamar siapa ?" Tanyaku.


"Cowokmulah." Ucapnya.


"Pacar saja belum ada." Ucapku.


"Terus yang tadi siapa ?" Tanya Sitok.


"Dia teman kakakku." Ucapku.


"Oh." Ucapnya.


"Namanya siapa Tri." Tanya Wulan.


"Agung." Ucapku.


"Cie itu mah ini." Ucapnya seraya menunjuk ke arah Hari.


"Bukan." Ucapku.


"Cie udah dapat gantinya ya." Ucapnya.


"Ish, apaan sih." Ucapku kesal.


"Haha, ngambek ni ye." Ucapnya.


"Enggak ya." Ucapkuseraya tersenyum.


Tak terasa sore pun tiba, kami semua pamitan pulang dan tak lupa takzim.


"Tri, kalau dah di lamar jangan lupa chat ya." Ucapnya.


"Oke." Ucapku.


Sesampai di rumah, aku lalu langsung masuk dan bergegas mandi.


"Baru pulang ?" Tanya ibuku.


"Iya." Ucapku.


...15 menit aku selesai mandi, dan langsung ke kamar. Sesampai di kamar, aku lalu berhias. Selesai semua, aku keluar dan langsung menaruh handukku di hanger....


"Besok masih main ?" Tanyanya.


"Enggak, aku ngantuk." Ucapku.


"Kalau sore jangan tidur." Ucap ibuku.


"Iya." Ucapku.


"Assalamualaikum." Sapa seseorang.


"Waalaikumsalam." Jawabku.


"Hai." Ucapnya.


"Mas, tumben." Ucapku seraya mempersilahkan dia masuk.


"Iya ni, kangen saja sama dirimu." Ucapnya.


"Ish, apaan sih." Ucapku.


"Enggak suka ya ?" Tanyanya.


"Suka." Ucapku.


"Mau minum apa ?" Tanyaku.


"Apa saja deh." Ucapnya.


"Ok tunggu sebentar ya." Ucapku.


"Iya." Ucapnya.


Tak berselang lama, ibuku datang.


"Tumben buat teh." Ucapnya.


"Iya, ada teman." Ucapku.


"Oh, siapa ?" Tanyanya.


"Mas Agung." Ucapku.


"Itu bukan tamu, itu tetangga sebelah kita." Ucapnya.


"Hadeh...kalau enggak percaya keluar saja." Ucapku.


Karena penasaran ibuku langsung keluar,weh kok dia ? Tanyanya lirih, namun masih bisa ku dengar.


"Tetangga sebelah bukan ?" Tanyaku lembut.


"Bukan." Ucapnya seraya tertawa.


"Silahkan mas." Ucapku seraya tersenyum.


"Makasih." Ucapnya seraya langsung minum.


"Sama-sama." Ucapku.


...Saat sedang minum, matanya tak henti-hentinya melirikku. Namun aku belum menyadarinya. Aku masih mengingat-ingat, masalaluku yang menyenangkan. Dari postur tubuhnya, kulitnya dan bibirnya juga rambutnya sama. Ketiga orang yang ku temui memiliki ciri sama. Apa diantara mereka ada yang jadi jodohku ya ?" Tanyaku dalam hati....


"Gimana tadi ?" Tanyanya, namun aku masih asik pada lamunanku.


"Hai." Ucapnya seraya mengelus lembut tanganku

__ADS_1


__ADS_2