Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Nikahan


__ADS_3

"Mau kemana ?" Tanya suamiku.


"Ya man-" Ucapku terhenti saat mengetahui tubuhku tanpa penutup.


...Aku lalu menatap suamiku dengan penuh selidik, yang ditatap langsung tertawa lebar seraya mengangkat dua jarinya. Dan tak lama membungkus tubuhku dengan handuk, lalu mengantarku sampai kamar mandi. Sesampai di toilet, aku bergumam sendiri. ...


Kok bisa ya, aku enggak kerasa ? Tanyaku lirih.


Selesai mandi dan wudhu, aku lalu sholat dan mengaji. Lalu melipat mukena dan menghampiri suamiku yang sedari tadi menatapku.


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Enggak apa-apa." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ya udah, aku keluar dulu." Ucapku seraya beranjak melangkah dan keluar.


Sepeninggal aku, suamiku tersenyum lebar serta menggelengkan kepala. Kenapa sejak hamil kamu jadi susah bangun ay ? Tanyanya lirih.


Hari pun berganti hari, dan tak terasa kini usia kandunganku memasuki usia 5 bulan. Sedangkan Nia tujuh bulan, dan malam ini aku dan suamiku kesana.


"Ay." Panggil suamiku.


"Ya mas." Ucapku seraya memilih baju.


"Ayo." Ajaknya.


"Sebentar mas, bajunya enggak muat." Ucapku.


Mendengar itu dia lalu keluar dan membelikan aku baju di toko.


"Mbak, tolong carikan baju untuk acara 7 bulanan. Buat istri aku yang hamil 5 bulan." Ucap suamiku.


"Yang ini mas." Ucapnya.


"Kurang bagus mbak." Ucap suamiku seraya memilih sendiri.


"Ini saja mbak, putih tulang." Ucap suamiku.


"Ya." Ucap mbak itu.


Sesampai di kasir, suamiku lalu membayar. Dan langsung pulang. Sesampai di rumah, suamiku terdiam sejenak. Mereka lagi, ngapain mereka ? Tanya suamiku lirih.


"Hai Tri." Sapa Tari.


"Hai Tar, masuk dulu yuk." Ajakku.


"Enggak usah Tri, aku kesini mau kasih ini untuk kamu." Ucapnya seraya memberiku undangan.


"Wah selamat ya." Ucapku kepadanya.


"Ya Tri, datang ya." Ucapnya.


"Insyaa ALLAH." Ucapku.


"Berapa bulan ?" Tanya Tari.


"Lima." Ucapku seraya tersenyum.


"Ok, sehat terus ya. Jangan lupa datang dan kasih kabar." Ucapnya seraya pamit.


"Aamiin. ya Insyaa ALLAH." Ucapku.


Sepeninggal mereka, suamiku lalu masuk ke dalam rumah dan menyerahkan baju itu padaku.


"Ini apa mas ?" Tanyaku lembut.


"Baju." Ucapku datar seraya berlalu.


"Ck, salah terus." Ucapku lirih.


Tak lama aku mengganti baju dan bersiap berangkat.


"Sudah, yuk." Ajaknya.


"Hmm." Ucapku seraya berjalan.


"Sudah ?" Tanya suamiku.


"Hmm." Ucapku lirih.


Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, hingga tepat lampu merah ada ibu gendong anak kecil menatapku seraya tersenyum.


"Ba." Ucapku.


Anak kecil itu tertawa, suamiku dan orang tua anak itu menatap kami dengan senang.


Tak lama lampu hijau pun menyala, aku langsung melambaikan tanganku padanya. Setelah tak terlihat, aku terdiam lagi. Dia lalu mengelus lembut kakiku.


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Enggak apa-apa, senang saja." Ucap suamiku.


"Oh." Ucapku lirih.


^^^Tak terasa kami sampai di rumah Bayu, dan kami pun langsung duduk. Sementara Nia, duduk di kursi bersama Bayu dan kedua mertua dan emak. ^^^

__ADS_1


"Kenapa ?" Tanya suamiku lembut saat melihatku melamun.


"Nanti kamu temani emak ya, kasihan Nia." Ucapku seraya menangis.


Cup.


"Ada lek Parjo dan lek Cahyo ay." Ucapnya.


"Hmm." Jawabku.


"Sudah ya jangan nangis lagi." Ucapnya seraya menciumku.


Tanpa ku tahu, Bayu, Nia dan yang lainnya menatap kami dengan iba. Sementara emak, juga sangat sedih melihatku menangis.


Acara demi acara pun dimulai, hingga tak terasa sudah di penghujung acara. Saat sesi foto keluarga, aku meneteskan air mata lagi. Namun langsung dipeluk oleh suamiku.


"Nia, selamat ya acaranya berjalan lancar." Ucapku dengan suara parau.


"Ya kak, makasih ya." Ucapnya seraya memeluk dan mengelus perutku.


"Bay, jaga Nia ya." Ucapku seraya tersenyum.


"Insyaa ALLAH." Ucap Bayu seraya tersenyum.


"Emak, sehat-sehat ya mak. Maaf jika saya jarang menengok emak." Ucapku seraya takzim dan mencium pipinya.


"Iya nak, kamu enggak salah sayang." Ucap emak seraya menangis.


"Sudah to yo, ini kok malah nangis. Ucap ibu Bayu.


"Hehe, bu maaf." Ucapku seraya tersenyum.


Melihat itu mereka tersenyum dan kembali berfoto lagi. Kali ini hanya aku dan Nia saja. Lelah berfoto, aku yang hendak kembali langsung di bopong suamiku.


"Mas." Panggilku.


"Lihat sini mbak, senyumnya jangan lupa ya." Ucap potografer itu.


Aku hanya menurut saja. Selesai foto barulah kami turun dan tak lupa sekalian pamit.


"Gung." Panggil lek Parjo.


"Iya lek." Jawab suamiku.


"Besok jangan lupa datang ya." Ucap lek Parjo.


"Datang kemana lek ?" Tanyaku.


"Ke nikahan anakku." Ucapnya seraya tertawa.


"Bukannya masih 6 bulan lagi ya lek ?" Tanya suamiku.


"Maju Gung, Rudi kebelet pengen nikah cepat." Ucapnya.


"Walah gusti." Ucap suamiku.


"Hehe, tolong ya." Ucap lek Parjo.


"Ya lek." Ucap suamiku seraya pamit pulang.


"Jam berapa lek ?" Tanyaku.


"Malam ndok." Ucap lek Parjo.


Setelah itu kami pamit lagi, sesampai di rumah suamiku menatapku dengan tatapan teduh.


Aku yang belum sadar ditatap pun hanya terdiam.


Hingga tatapan dia teralihkan oleh suara gawainya.


("Cie-cie makin mesra aja nih." Tulis pesan itu.)


("Hehe Alhamdulillah." Balas suamiku.)


("Semoga samawa terus ya Gung." Ucapnya.)


("Aamiin ya ALLAH. Makasih pak." Balasnya suamiku lagi.)


Selesai ganti baju, aku lalu keluar.


"Kemana ?" Tanya suamiku.


"Keluar bentar mas." Ucapku seraya tersenyum.


"Ikut." Ucapnya.


"Ya." Ucapku.


Sesampai di luar, aku membuka aneka makanan yang kami dapat dari Nia. Lalu menyimpannya di kulkas.


"Mas, besok aku izin ya enggak bisa ikut." Ucapku jujur.


"Kenapa ?" Tanya suamiku.


"Capek." Ucapku.

__ADS_1


"Sebentar saja ay." Ucap suamiku.


"Ya sudah." Ucapku seraya tersenyum.


"Ay." Panggil suamiku.


"Ya." Ucapku.


"Besok ada banyak cowok tampan, aku harap jaga pandangan kamu dan jaga jarak." Ucap suamiku.


Mendengar hal itu aku ketawa, lalu berkata.


"Enggak kebalik tuh? " Tanyaku.


"Ya enggaklah." Ucapnya.


"Besok juga perempuan yang cantik, yakin bisa jaga pandangan ?" Tanyaku.


"Insyaa ALLAH." Ucap suamiku seraya mendekati aku dan membopongku.


Sesampai di kamar, kami pun langsung tertidur. Dan sore harinya kami kerumah lek Parjo.


"Assalamualaikum." Salam kami berdua.


"Waalaikumsalam." Ucap mereka bersama.


"Wah ini, gunung Agung datang." Ucap pakde Jimmi.


Mendengar hal itu mereka tertawa tak terkecuali aku. Membuat suamiku mencium tanganku.


"Ijabnya jam berapa ?" Tanya suamiku.


"Ya sekarang, makanya tadi Rudi di bawa duluan." Ucap dhe Jimmi.


"Oh." Ucap suamiku.


"Yuk berangkat. Yang bumil di di depan aja." Ucap Galuh.


Aku hanya menurut. Tak lama kami pun sampai ke rumah calon pengantin.


Kami turun, lalu menyalami para ibu-ibu.


"Lho Riri, kamu sudah nikah to ?" Tanya seseorang.


"Iya." Ucapku seraya tersenyum.


"Mesti lupa sama aku ?" Tanyanya.


"Ya, maaf siapa ya ?" Tanyaku.


"Parno aku." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ealah, ya to. Gimana kamu ?" Ucap dan tanyaku.


"Masih sendiri dulu." Ucapnya seraya tertawa.


"Ya lah." Ucapku seraya pamit duduk.


Suamiku menatapku dengan expresi menahan marah.


"Ngapain ?" Tanya Bayu.


"Enggak." Ucapnya lirih.


"Masih cemburuan ?" Tanya Bayu lagi seraya tertawa.


"Iyalah, dia kan pasangan aku." Ucapnya.


"Ok ok." Ucapnya seraya tersenyum.


Sementara aku duduk di sebelah Nia, dan Belakangnya bude Marni.


Tiba sesi ijab qabul, kami pun terdiam semua. Musik pun juga di matikan, momen sakral itu langsung diabadikan Nia. Sementara aku sibuk balas chat suamiku yang marah.


Hingga tak sadar, ijab qobul pun selesai. Kami lalu berfoto bersama, Bayu memeluk Nia, aku dipeluk suamiku.


"Selamat ya Rud, semoga samawa ya dan cepat punya momongan." Ucapku seraya tersenyum.


"Ya mbak." Ucap Rudi.


"Selamat ya Risa." Ucapku.


"Ya mbak." Ucapnya seraya tersenyum dan mengelus lembut perutku.


Barulah aku turun bersama yang lain.


"Duduk denganku saja." Ucap suamiku seraya menggenggam tanganku.


"Ya." Ucapku seraya tersenyum.


Begitupun dengan Bayu, dia duduk di sebelah Nia. Tanpa ku tahu, saudara suamiku pada bergumam.


"Dasar Agung, cuma ngobrol sebentar saja cemburunya Masyaallah." Ucap mereka.


"Beruntung yu, dapat istri sabar." Ucap yang lain.

__ADS_1


__ADS_2