Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Lamaran Rudi


__ADS_3

"Pagi pak." Sapa Agung.


"Hmm." Jawab pak Roni.


"Yuk berangkat." Ucap Agung.


"Ya." Ucapnya seraya melangkah keluar.


Sementara aku di rumah, nampak terduduk di teras. Karena Nia sudah pamit pulang. Tanpa ku tahu, pak Roni menatapku.


"Ada apa pak ?" Tanya Agung.


"Itu kenapa istrimu ?" Tanya pak Roni.


Spontan Agung langsung menatap istrinya. Dia kenapa ? Tanyanya dalam hati.


"Ck, malah melamun." Ucapnya.


"Bentar pak." Ucap Agung seraya menyebrang dan menghampiri aku.


"Ehem, ada apa ?" Tanya suaminya.


Spontan aku menolehnya dan tersenyum, lalu menjawab.


"Keponakan aku menikah, aku pengen datang tapi nanti kamu gimana ?" Tanyaku.


"Bahas nanti saja ya, aku kerja dulu. Masuk dan kunci rumahnya." Ucap suamiku.


"Ya." Ucapku seraya takzim.


Sepeninggal aku, suamiku kembali kerja lagi.


"Kenapa ?" Tanya pak Roni.


"Saudaranya mau nikah, dia bimbang tapi ingin ikut juga." Ucap Agung.


"Kamu jawab apa ?" Tanya pak Roni.


"Aku suruh nunggu aku pulang." Ucap Agung.


"Biarkan saja dia datang." Ucap pak Roni.


"Nanti saja pak." Ucap Agung.


Sesampai di rumah konsumen, mereka pun mengucapkan salam.


"Assalamualaikum." Salam mereka.


"Waalaikumsalam." Ucap seseorang di sana.


"Bapaknya ada mbak ?" Tanya Agung.


"Ada mas, silahkan masuk." Ucapnya.


Tak lama bapak Ayub datang. Mereka pun langsung ke intinya, namun pak Ayub minta maaf tidak bisa sekarang. Mereka pun langsung pamit dan kembali ke kantor lagi.


...Sesampai di kantor, mereka pun langsung menghadap kepada bosnya. Selesai menemui bosnya, mereka lalu keluar dan langsung menuju meja kerjanya....


^^^Sementara aku di sini, ragu-ragu untuk ikut. Aku lalu memutuskan sholat istiqaroh dan hajat, minta petunjuk pada ALLAH lalu mengaji. Setelah selesai aku lalu mengerjakan semua tugasku.^^^


Tepat makan siang, suamiku pulang ke rumah. Dia lalu mengetuk pintu pelan.


Tok...Tok...Tok...


"Assalamualaikum." Salam suamiku.


Mendengar salamnya aku lalu melipat mukena dan keluar. Dan membuka kunci pintu.


"Waalaikumsalam." Ucapku seraya takzim.


"Sedang apa ?" Tanya suamiku.


"Selesai sholat." Ucapku seraya tersenyum dan membuka pintu, agar dapat pergantian udara.


"Ya sudah aku sholat dulu ya, tolong juga ambilkan makanan untukku." Ucap suamiku.


"Ya." Ucapku seraya tersenyum.


Selesai sholat, suamiku lalu keluar kamar dan langsung menghampiri aku.


"Ay, soal tadi aku-." Ucapnya terhenti karena aku sela.


"Makan dulu saja mas, kita bahas nanti sore saja." Ucapku seraya tersenyum.


"Ya sudah." Ucapnya seraya mengambil lauk dan makan.


Selesai makan, aku lalu membersihkan meja dan selesai itu aku menghampiri suamiku.


"Ini." Ucapku seraya menyerahkan potongan buah segar kepadanya.


"Makasih." Ucapnya.


"Sama-sama." Ucapku.


Selesai makan buah, suamiku menatapku yang tertidur di kursi, entah sejak kapan istrinya itu tertidur.


...Lha tidur. Ucap Agung seraya tertawa kecil. Tadi aku mengizinkan kamu, namun maaf aku enggak bisa ikut. Ucapnya lirih seraya membopongku masuk ke dalam kamar. Sesampai di kamar, Riri langsung ditidurkan di kasur....


Aku kerja dulu ya sayang. Ucapnya lalu pamit dan berlalu. Tepat jam 4, Agung sudah pulang. Sementara Riri sedang melamun di depan jendela kamar.


"Assalamualaikum." Salam Agung tiba-tiba.


"Waalaikumsalam." Ucap Riri seraya takzim dan minta maaf.


"Maaf buat apa ?" Tanya Agung.


"Buat tadi siang dan sekarang." Ucap Riri.


"Ya. Lain kali jangan melamun lagi." Ucap Agung seraya beranjak mau mandi.


Sementara Riri langsung menyiapkan baju untuk suaminya itu. Dan mengambilkan minuman serta cemilan.


"Diminum dulu mas." Ucap Riri, setelah tahu suaminya sudah selesai.


"Makasih." Ucapnya.


"Ya." Ucapku.


"Ay, soal tadi pagi aku memberimu izin, namun maaf aku enggak bisa ikut." Ucapnya.


"Ya sudah aku di rumah saja mas, tadi ibu juga bilang aku enggak usah ikut dulu. Mengingat kandunganku yang masih rentan." Ucapku jujur.


"Yakin ?" Tanya suamiku.


"Insyaa ALLAH." Ucapku seraya tersenyum.


Mendengar hal itu suamiku tersenyum senang.


"Alhamdulillah." Ucap suamiku.


"Mas Kaka." Panggilku lembut.


"Siapa Kaka ?" Tanya suamiku.


"Kamulah." Ucapku.

__ADS_1


Dia pun menggelengkan kepala tanda enggak paham.


"Agung Eka Pratama, bolehkah aku panggil Kaka ?" Tanyaku lembut seraya menggenggam tangan suamiku.


"Ck, enggak suka aku." Ucapnya.


"Baiklah enggak jadi." Ucapku seraya tersenyum dan menoel hidung kecilnya.


"Sukanya toal-toel hidung aja." Ucapnya seraya memelukku.


"Habisnya lucu sih, cowok berhidung mungil." Ucapku seraya tertawa.


"Oh jadi suka sama hidungku ni ?" Tanya suamiku.


"Aku suka semuanya." Ucapku lirih seraya memegang pipinya.


"Tatapanmu, senyumanmu tiada pernah aku lupakan. Bisikanmu suaramu merdu merayu menggoda." Ucapku lagi.


"Ck, bisa juga gombalannya." Ucap suamiku lalu menciumku.


Selesai bercanda dan berbincang, kami pun menonton tv. Sedang asiknya lihat tv, terdengar suara ketukan pintu di luar. Kami pun langsung keluar dan menemui tamu tersebut.


"Assalamualaikum." Salam Sindi tetangga suamiku.


"Waalaikumsalam." Ucap kami.


"Ada apa ?" Tanya suamiku seraya memeluk pinggangku.


"Mau ajak main kalian." Ucapnya.


Aku hanya menyimak, tanpa ingin menyahutnya.


"Maaf kami capek." Ucap suamiku.


"Naik mobil kok, enggak motor." Ucap Sindi.


"Mas, ngantuk." Ucapku menyela obrolan mereka.


"Ya sudah yuk tidur. Dengar sendirikan Sin, maaf kami mau rehat." Ucap suamiku seraya menutup pintu rumah.


...Sindi masih mematung di depan pintu, masih tidak percaya dengan penolakan orang yang selama ini dia kagumi. Sementara kami masih di depan jendela, melihat Sindi yang masih berdiri tak bergerak sedikit pun....


"Kenapa dia masih diam ditempat ?" Tanyaku lirih.


"Mungkin kehabisan ide." Ucap suamiku seraya menatap wajahku.


"Hmm, kasihan dia berjuang lama, tapi kamu abaikan." Ucapku.


"Bukan mengabaikan ay, kan aku sudah sering bilang sama kamu kalau aku sudah terpaut padamu." Ucapnya lirih.


"Ish, bisa aja kamu." Ucapku seraya tersenyum.


Tak lama dia pun menangis, dan memanggil nama ibunya.


"Make, aku di tolak." Ucapnya seraya berlari.


Sepeninggal dia, aku lalu beranjak pergi dan masuk kamar diikuti suamiku.


"Mau ngapain ?" Tanyaku lembut seraya merebahkan tubuhku di tempat tidur.


"Tidur." Ucapnya seraya tersenyum.


"Kan tempatmu di kiri mas." Ucapku.


"Aku lagi pengen disini sama kamu." Ucapnya seraya menatapku.


"Sempit dong." Ucapku.


"Enggak apa-apa, yang sempit lebih enak dan nikmat." Ucapnya seraya tertawa kecil.


"Haha, bentar ya." Ucapnya seraya tertawa.


"Ya, tapi pelan. Ingat ada debaynya." Ucapku lirih.


"Ya sayang." Ucapnya seraya memulai ritual.


Sementara di rumah Bayu, nampak Nia sedang asik bikin susu. Sedangkan Bayu asik melihat sang istri.


"By, aku ke depan dulu ya." Ucapnya.


"Mau ngapain ?" Tanya Bayu.


"Mau duduk saja." Ucapnya.


"Besok saja, ini sudah malam." Ucap Bayu.


"Ya sudah, kalau gitu tidur yuk." Ajaknya seraya tersenyum.


"Ya ayuk." Ucap Bayu.


Di tempat lain, lek Parjo mencoba telfon sama Agung.


"Wah jan, kayanya udah tidur ni si Agung." Ucapnya lirih.


"Tumben ?" Tanya istrinya.


"Ya mungkin." Ucapnya seraya tertawa.


"Coba lagi saja." Ucap sang istri.


"Ya." Ucapnya seraya mencoba menelpon.


Saat sedang asik, hp Agung berbunyi.


"Angkat dulu mas." Ucapku.


"Bentar lagi sayang, nanggung." Ucapnya.


Tak lama, dia lalu tersenyum ke arahku dan menjawab telfon.


("Assalamualaikum lek, ada apa ?" Tanya lek Parjo.)


("Waalaikumsalam. Sori ganggu Gung, sudah tidur apa ?" Ucap dan Tanyanya.)


("Ya lek." Ucap suamiku.)


("Maaf ya, gini Gung seminggu lagi Rudi mau melamar kekasihnya. Kamu dan istrimu bisa datang enggak ?" Tanya lek Parjo.)


("Kapan lek ?" Tanya suamiku.)


("Rabu sore." Ucapnya.)


("Insyaa ALLAH lek, dapat orang mana lek ?" Tanya suamiku.)


("Masih orang sini juga, cuma beda desa." Ucapnya.)


("Oh, ya lek akan aku usahakan." Ucap suamiku.)


("Makasih ya assalamualaikum." Ucapnya.)


("Waalaikumsalam." Ucap suamiku.)


"Siapa ?" Tanyaku seraya membenarkan rambutnya yang berantakan.


"Lek Parjo." Ucapnya.

__ADS_1


Dia lalu menjelaskan semuanya. Aku pun menganggukkan kepala.


Hari pun berganti, tiba waktunya kami mengantar Rudi lamaran.


"Hai Rud." Sapa suamiku.


"Kang, makasih banget lho sudah mau direpotin." Ucapnya seraya tersenyum.


"Enggak ada yang direpotin, kita ini kan saudara." Ucapnya seraya memeluknya.


"Ya kang. Kamu kesini sama mbak Riri kan ?" Tanyanya.


"Iya." Jawab suamiku.


"Mana dia ?" Tanya Rudi lagi.


"Tu." Ucapnya seraya menunjuk.


"Ndok, gimana kabarnya ?" Tanya lek Parjo dan istrinya.


"Alhamdulillah baik lek." Jawabku seraya takzim dan tersenyum.


"Syukurlah." Ucap mereka.


"Yuk masuk." Ajak bude Marni.


"Maaf bude, saya tunggu suamiku saya dulu." Ucapku lirih.


"Weh iya ya, kamu lagi hamil maaf bude lupa." Ucap Bude Marni.


"Hehe, iya bude." Ucapku seraya tertawa kecil.


"Ayo berangkat." Ucap lek Parjo.


"Ay, cari siapa ?" Tanya suamiku.


"Cari kamulah mas, tahu sendiri debaynya enggak bisa jauh dari kamu." Ucapku seraya cemberut.


Cup


"Iya maaf, yuk masuk." Ucapnya seraya menciumku.


"Hmm." Ucapku.


^^^Tak lama kami pun sampai di rumah calon Rudi. Kami pun lalu turun, aku dan mas Agung berjalan paling belakang. Sementara yang lain sudah berjalan duluan, sesampai di rumah calonnya Rudi kami bersalaman dan mengucapkan salam.^^^


"Mari mbak dan mas masuk." Ucapnya.


"Iya bu." Ucap kami bersama.


Sesampai di rumah, aku lalu duduk di dekat suamiku. Sementara suamiku selalu mengelus lembut perutku.


"Mbak, sana saja." Ucap bapak pemilik rumah.


"Oh maaf pak, mereka suami istri dan istrinya sedang hamil. Enggak bisa jauh." Ucap Bude Marni, karna tahu aku disuruh pindah.


"Oh gitu, maaf ya mbak kirain belum menikah." Ucap bapak itu seraya tersenyum.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kenapa ?" Tanya suamiku lembut.


"Lebay ya aku." Ucapku.


"Enggak kok, justru aku lebih suka begini." Ucap suamiku.


"Hmm." Jawabku.


"Sudahlah, jangan cemberut terus kasihan debaynya." Ucap suamiku seraya tersenyum dan memelukku.


Tak lama calon istri Rudi datang, dia lalu tersenyum ke arah kami semua. Lalu menyalaminya, sementara suamiku hanya fokus menatapku.


"Calon pengantinnya disana, kenapa malah natap istrimu terus ?" Tanya Galuh.


"Biarin, sirik saja kamu." Ucap suamiku lirih.


Sementara aku fokus melihat mereka. Lalu kami pun berfoto bersama.


"Cie, selamat ya Rud." Ucapku seraya tersenyum.


"Ya mbak." Ucapnya seraya tersenyum juga.


"Rud, selamat ya." Ucap suamiku.


"Iya kang." Ucap Rudi.


Selesai foto, kami pun makan bersama. Selesai makan kami ngobrol bersama sejenak lalu pamitan. Dan di dalam mobil, aku nampak terdiam mendengar obrolan mereka.


"Kenapa ?" Tanya suamiku lembut.


"Ngantuk." Ucapku.


"Tidurlah." Ucapnya seraya memelukku.


"Makasih." Ucapku.


"Sama-sama." Ucap suamiku.


Aku pun tertidur pulas di pelukannya, hingga sampai rumah aku masih tertidur. Suamiku lalu membopongku, mereka yang melihat pun langsung terkejut.


"Lho tidurkah ?" Tanya mereka bersama.


"Iya." Jawab suamiku.


"Lek kami pamit ya." Ucap suamiku seraya mengeluarkan motornya.


"Terus istrimu ?" Tanya mereka.


"Ya aku bawa." Ucapnya.


"Sinting kamu, masih tidur dibawa naik motor." Ucap lek Parjo.


"Enggak apa-apa lek." Ucap suamiku.


"Enggak, kalian tidur disini saja." Ucap lek Parjo.


"Ya sudah." Ucap suamiku mengalah.


"Tidurnya pulas banget, dipindahkan enggak ke bangun." Ucapnya.


"Ya kecapekan mungkin." Ucap Bude Marni.


"Enggak kok bude, semenjak hamil saja dia enggak mudah terbangun." Ucapnya.


"Oh gitu." Ucapnya.


"Tapi aku yakin, calon anakmu cowok Gung." Ucap Bude Marni.


"Aamiin." Ucap suamiku seraya tersenyum.


"Emak ini, lahir aja belum sudah sok tahu." Ucap Galuh.


"Dilihat aja bisa Luh." Ucap Bude.


Sementara mereka berdebat, suamiku milih pamit tidur. Mereka pun langsung mengizinkan.

__ADS_1


Mau cowok atau cewek tetap ku terima, yang penting sehat tidak kurang satu apapun. Ucapnya lirih seraya mencium bibirku lama. Lalu tidur.


__ADS_2