Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Kesiangan


__ADS_3

"Sudah ah, tidur yuk. Besok kamu kesiangan." Ucap Riri.


"Belum ngantuk ay, mumpung kita lagi berdua." Ucap Agung lirih dan tersenyum.


"Ish, kamu mah suka gitu." Ucap Riri.


"Suka apa ?" Tanya Agung.


"Suka-suka cari kesempatan dalam kesempitan." Ucap Riri.


"Ya enggak apa-apa dong yang, kan kita sudah halal." Jawab Agung.


"Mas, besok kamu kerja lho." Ucap Riri kesal.


"Ya tahu sayang." Ucap Agung.


"Ya sudah, tidur yuk." Ajak Riri.


"Tidurlah dulu." Jawabnya.


"Enggak, aku mau kita tidur bareng." Ucap Riri.


"Hehe, ya sayang." Ucap Agung lalu tersenyum.


Setengah jam berlalu, Riri sudah tertidur dalam pelukan Agung, namun berbeda dengan Agung dia masih terjaga.


...Alhamdulillah sudah tidur, jujur ay aku enggak bisa jauh-jauh dari kalian. Dan entah kenapa aku juga malas tidur malam ini, aku enggak mau kamu digodain cowok palagi kalau ku tinggal lama. Bisa dipastikan, kamu pasti digodain mereka. Belum siap Bayu, yang kini berstatus duda. Bukan sudzon dengannya, namun kemungkinan buruk akan selalu ada. Ucapnya lirih....


****


Pagi pun tiba, kami masih terlelap di dalam kamar. Sementara di tempat Bayu, Bayu dan ketiga bocil sedang makan bersama.


"Makannya di habiskan ya." Ucap Bayu.


"Ya." Jawab mereka.


"Rindu, om suapin ya." Ucap Bayu.


"Ya." Jawab Rindu.


Tak berselang lama mereka selesai makan dan kini Bayu bersiap-siap kerja, namun sebelum berangkat dia mengunci pintu dan jendela rumah.


"Yuk, kita ke rumah kak Rindu." Ajak Bayu.


"Yok." Jawab mereka bersama.


"Assalamualaikum." Salam Bayu.


"Waalaikumsalam." Jawab simbok.


"Mbok, Riri kemana ?" Tanya Bayu lalu menyerahkan Rindu pada simbok.


"Masih tidur pak, semalam enggak tidur." Jawab simbok.


"Oh." Jawab Bayu lalu masuk kedalam menunggu kami keluar kamar.


"Ck, Tumben gawainya mati semua." Ucap Bayu.


Lama menunggu akhirnya Bayu lebih memilih mengajak kedua putranya ikut kerja.


"Tumben bawa anak ?" Tanya Sony.


"Ya, Riri masih istirahat." Ucap Bayu lalu mengajak mereka ke meja kerjanya.


"Sayang, kalian duduk disini ya papa kerja dulu." Ucap Bayu.


"Ya." Jawab si kembar.


Duh kalau begini, aku mesti cari baby sister untuk mereka. Enggak mungkin juga kan mereka ikut aku terus, bisa lelah mereka dan bosen juga. Ucap Bayu dalam hati.


"Bay, Agung mana ?" Tanya pak Roni.


"Masih tidur pak." Ucap Bayu.


"Apa ?" Tanya Pak Roni seraya berlalu.


Pak Roni lalu ke rumah Agung, bisa-bisanya jam segini masih tidur. Ucap pak Roni.


"Assalamualaikum." Salam pak Roni.


"Waalaikumsalam." Jawab simbok.


"Majikan kamu mana ?" Tanya pak Roni.


"Dia di kamar pak, sedang meriang." Jawab simbok jujur.


"Meriang ?" Tanya Pak Roni.


"Ya pak." Ucapnya.

__ADS_1


"Duh, padahal hari ini si bos minta dia keluar kota." Ucap pak Roni.


"Mari pak masuk dulu." Ucap Simbok.


"Ya mbok." Ucapnya.


Di kamar Rindu malah terkekeh melihat ayahnya geli karena tangan Rindu menyentuh ketiaknya.


Tok...Tok..Tok..


"Bentar ya mas." Ucap Riri.


"Ya." Jawabnya.


"Ya mbok kenapa ?" Tanya Riri.


"Di luar ada pak Roni buk." Ucapnya.


"Oh gitu. Ya sudah biar aku keluar dulu." Ucap Riri.


"Pagi pak." Ucap Riri.


"Pagi, gimana suamimu ?" Tanya pak Roni.


"Badannya panas pak, mungkin karena kemarin." Ucap Riri.


"Kemarin ?" Tanya pak Roni.


"Ya, kemarin dia tidak tidur." Ucap Riri.


"Ya TUHAN anak itu, sudah bisa di tebak dia tidak mau." Ucap pak Roni.


"Enggak mau apa pak ?" Tanya Riri lirih.


"Ri, suamimu sudah sering begitu. Kalau hatinya menolak pergi, pasti akan sakit. Tapi ya memang si bos juga sih, yang minta jadi mau enggak mau ya harus di lakuin." Ucap pak Roni.


Hampir 3 tahun aku dengannya, tapi baru tahu kalau dia begitu. Ucap Riri lirih.


"Ya sudah, aku balik lagi ya." Ucap pak Roni.


"Ya pak, titip izin juga ya pak buat suami saya." Ucap Riri.


"Oke." Ucapnya.


Riri lalu masuk ke kamar lagi, dan tersenyum memandang suami dan putrinya tertidur saling berpelukan. Masyaallah indah banget melihat mereka begitu. Ucap Riri.


"Maaf mas, aku kompres kening kamu dulu ya." Ucap Riri.


"Enggak perlu ay, aku udah tua. Aku nanti sembuh kok." Ucap Agung.


"Ya sudah, kalau gitu sarapan dulu mas." Ucap Riri.


"Ya, suapin ya." Ucap Agung.


"Utu-utu manjanya melebihi Rindu. Ya sudah, sini aku benerin dulu posisinya." Ucap Riri.


Selesai membenarkan, aku lalu menyuapinya.


"Ini masakan kamu kan ay ?" Tanya Agung.


"Iya mas, aku sempetin untuk kalian." Ucap Riri.


"Sudah ay." Ucap Agung.


"Ya, minum dulu terus minum obat." Ucap Riri.


"Iya istriku yang bawel." Ucap Agung terkekeh.


"Banyak omong dikatakan bawel, giliran diem dikira ngambek." Jawab Riri.


"Hehe, maaf." Ucap Agung lalu memelukku.


"Begini dulu sayang, aku enggak mau jauh-jauh dari kamu." Ucap Agung.


"Ya sudah." Ucap Riri pasrah.


"Buka hijabnya ay." Ucap Agung.


"Ya." Jawabnya.


Selesai di buka, Agung lalu bersembunyi di ceruk leher Riri. Aku kangen seperti ini ay, kangen di masa awal kita berjalan bersama.


"Hmm." Jawabnya.


"Kapan-kapan kita jalan yuk." Ajak Agung.


"Ya, tapi kamu mesti sembuh dulu." Ucap Riri.


"Iya." Ucap Agung.

__ADS_1


"Tidurlah mas." Ucap Riri.


"Memangnya kamu mau kemana ?" Tanya Agung.


"Disini saja, nunggu kalian tidur." Ucapnya seraya menoel hidung suaminya.


"Ck, mulai deh. Ucap Agung dan langsung menarik dagu sang istri lalu mengecupnya.


"Maaf." Ucap Riri terkekeh.


"Ya." Jawabnya.


"Mas, aku ke toilet dulu ya." Ucap Riri.


"Jangan lama-lama." Ucap Agung.


"Iya." Ucap Riri.


"Buk." Panggil simbok tiba-tiba.


"Ya, kenapa mbok ?" Tanya Riri.


"Di luar ada seseorang." Ucap Simbok.


"Siapa ?" Tanya Riri.


"Enggak tahu buk, orangnya tinggi putih dan pakai setelan kantoran gitu." Ucapnya.


"Ya sudah, suruh tunggu dulu ya mbok, aku izin suamiku dulu." Ucap Riri lalu masuk kamar.


"Ya buk." Ucapnya.


"Tunggu bentar mas, ibu sedang repot." Ucapnya.


"Oh ya bik." Ucap pria itu.


"Mas di luar ada tamu, apa itu tamumu ?" Tanya Riri lirih.


"Siapa ?" Tanya Agung.


"Enggak tahu, katanya simbok tinggi, putih dan memakai setelan kantor." Ucap Riri.


"Siapa ya ?" Tanya Agung.


"Ya udah yuk, kita cek bareng saja." Ucap Riri.


"Ya sudah." Ucap Agung.


Sesampai di ruang tamu, lelaki itu mendekati Agung dan hendak menghakimi Agung.


"Apa-apain ini ?" Tanya Riri dengan nada tinggi satu oktaf.


"Suami kamu menghamili istriku." Jawabnya keras.


"Enggak, suamiku enggak begitu." Jawab Riri.


"Oh butuh bukti ?" Tanya pria asing itu.


"Ya." Jawab Riri.


"Ini." Ucapnya lalu menunjukkan bukti foto-foto.


Riri menghembuskan nafasku dengan kasar, lalu melihat Agung dan tersenyum smrik.


"Percayakan ?" Tanya pria itu.


"Ehem, ay aku enggak kenal dia." Ucap Agung lirih.


"Shhtt." Ucap Riri meminta suaminya untuk diam.


"Biarkan aku menghajarnya." Ucap laki-laki itu.


"Langkahi dulu aku, sebelum kau hajar ayah dari anakku." Ucap Riri.


Mendengar itu matanya langsung membola.


"Kamu kira aku bakal percaya dengan foto editan ini ? Anda salah mas, keluar dari rumah kami sekarang atau perlu aku panggil warga biar hajar kamu ?" Ucap dan Tanyaku."


"Lo bakal nyesel. Sudah belain dia. Jawabnya lalu berlari.


Sepeninggal dia, Riri lantas duduk di lantai depan pintu.


"Ay." Panggil Agung.


"Aku percaya kamu enggak akan khianati kepercayaan dan janjimu." Ucap Riri lalu membawa kembali Agung ke dalam kamar.


"Ay." Panggil Agung lirih.


"Shht, tak perlu kamu fikirkan. Sekarang tidurlah." Ucap Riri lalu memeluk Agung dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2