Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Selesai diperiksa dan di beri obat, kami langsung pulang.


"Dijaga yang baik ya ay." Ucap suamiku seraya tersenyum.


"Insyaa ALLAH mas." Ucapku lirih seraya menundukkan wajahku.


"Kenapa ?" Tanya suamiku dengan lembut.


"Aku takut." Ucapku lirih.


"Takut apa ?" Tanya suamiku lagi.


"Takut gemuk." Ucapku lirih.


Mendengar hal itu mas Agung malah tertawa. Aku yang melihatnya, menjadi kesal.


"Maaf, kenapa harus takut gemuk ?" Tanya suamiku.


"Iyalah di luar sana banyak yang langsing." Ucapku.


"Insyaa ALLAH aku enggak begitu ay." Ucapnya yang sudah paham arah pembicaraanku.


"Aamiin." Ucapku mengaminkan.


"Aamiin." Jawab suamiku ikut mengaminkan juga.


Tak berselang lama kami sampai di rumah, setibanya di rumah aku menggenggam tangan suamiku. Suamiku yang awalnya hendak membuka pintu, langsung menatap ke arahku dan bertanya.


"Kenapa ?" Tanyanya lagi.


"Itu." Ucapku seraya menunjuk ke arah samping jendela kamar.


Dia lalu melihat samping kamar dengan hati-hati, dan nampak Bianca di sana yang tertunduk dengan pakaian kotor dan sobek sana sini.


"Bianca, ngapain kamu kesini ?" Tanya suamiku ketus, seraya menggenggam tanganku.


Karena masih takut, dia menamparku tiba-tiba.


"Aku mau minta maaf sama kalian, terutama istrimu." Ucapnya lirih.


"Sudah kami maafkan." Ucap kami bersama.


"Makasih, kalau begitu saya pamit." Ucapnya seraya berlalu.


Namun aku cegah, dan ku minta dia membersihkan diri dulu dan ganti pakaian. Untuk menutupi auratnya. Melihat itu suamiku tersenyum, sungguh indah perbuatan kamu ay. Tak salah aku memilih kamu. Ucapnya seraya memandangi aku.


"Tapi." Ucap Bianca.


"Sudah yuk masuk dulu." Ajakku seraya menggandeng tangannya.


Sesampai di kamar mandi, Bianca lalu masuk dan mulai membersihkan diri.


...Sementara mas Agung nampak duduk di sofa, sedangkan aku langsung masuk kamar mengambilkan baju ganti untuk Bianca....


Tanpa ku sadari, Bianca sudah menunggu di depan pintu kamar.


"Sudah selesai ?" Tanyaku lembut.


"Sudah." Ucapnya.


"Ini, pakailah semoga pas di badan kamu." Ucapku seraya membukakan pintu kamar lain.


"Makasih." Ucapnya.


"Ya sama-sama." Ucapku lalu beranjak pergi.


Saat ingin ke arah dapur, terlihat mas Agung menunggu airnya masak. Melihat itu, aku lalu bertanya.


"Mau bikin apa mas ?" Tanyaku lembut.


Spontan dia menoleh ke arahku dan menjawab.


"Bikin mi rebus. Enggak tahu kenapa,aku pengen banget." Ucapnya lirih seraya mencium bibirku sekilas.


"Kamu juga ngidam mas ?" Tanyaku.


"Enggak tahu ay, padahal aku jarang banget makan mi." Jawab suamiku lagi.


"Ya sudah enggak apa-apa." Ucapku seraya membungkus makanan untuk Bianca.


"Untuk siapa ?" Tanya suamiku lembut.

__ADS_1


"Bianca mas, kasian dia pasti lapar." Ucapku lirih.


"Hmm." Jawabnya seraya melirik arah pintu dapur.


Karena sedari tadi, Bianca sudah berdiri di sana.


"Enggak apa-apa kan mas ?" Tanyaku.


"Enggak apa-apa." Ucapnya lirih seraya memasukkan mie ke dalam panci.


"Makasih mas." Ucapku seraya memeluknya dari belakang dan tak lupa mencium pipinya.


"Hmm." Jawabnya.


Setelah selesai aku lalu keluar dan melihat Bianca duduk di teras depan.


"Alhamdulillah muat ya bajunya." Ucapku.


"Iya." Jawab Bianca seraya hendak pamit.


"Iya, hati-hati ya. Oh iya ini buat kamu makan nanti kalau kamu lapar. Maaf jangan tersinggung aku beri ini karena aku yakin, kamu pasti belum makan." Ucapku.


"Ya makasih." Ucapnya seraya berlalu.


Melihat dia sudah berlalu, aku pun beranjak masuk ke dalam. Dan rupanya suamiku sedang asik makan.


"Mas, kamu sudah izinkan? " Tanyaku.


"Astagfirullah, lupa ay." Ucapnya seraya mengambil gawainya di kamar.


10 menit kemudian, suamiku keluar kamar dengan tersenyum karena melihatku tertidur di meja makan.


Istriku ini sejak hamil, punya hobi baru, ***** nempel langsung molor. Ucapnya seraya tertawa.


Selesai memindahkan aku, dia langsung ikut serta tidur. Namun baru terpejam, tiba-tiba gawainya berbunyi.


("Halo." Jawab suamiku.)


("Eh gimana istrimu ?" Tanya pak Roni.)


("Alhamdulillah sudah baikan. Besok aku berangkat kok pak." Ucapnya.)


("Ok." Ucap pak Roni.)


...Sore pun tiba, aku lalu terbangun dan mandi lalu sholat. Sementara suamiku sudah bangun daritadi. Dia tidak membangunkan aku, karena aku tertidur sangat pulas. Tak tega untuk membangunkannya. Setelah selesai semua, aku lalu keluar kamar dan keluar duduk di teras....


^^^Saat asik duduk, ada sepasang remaja yang sedang adu mulut. Membuatku langsung beranjak dan masuk ke dalam rumah. Namun langkahku terhenti saat gadis itu menyebut namaku, dengan tangan menunjuk ke arahku.^^^


"Kenapa ?" Tanyaku kepada gadis itu.


"Pacarku suka bandingin aku sama kamu." Ucapnya seraya berteriak.


"Ya sallam." Ucapku lalu berjalan masuk.


"Woi, gue lagi bicara." Ucapnya dengan berteriak.


Mengundang orang yang di dalam rumah, langsung keluar. Begitupun dengan suamiku.


"Sudah mas, mbak enggak usah ditanggapi." Ucap ibu Nindi.


"Iya bu." Jawab kami bersama.


Kami pun langsung masuk,dan menutup pintu. Sementara ibu Nindi langsung bilang sama ibu anak itu, yang sudah berteriak dan menuduh istri orang. Mendapat kabar itu, ibu gadis itu langsung datang ke TKP.


Sementara kami sedang tiduran di kamar tengah.


"Ck, astagfirullah. Ku fikir setelah menikah itu enak. Enggak tahunya, sering di tuduh yang bukan-bukan." Ucapku lirih.


"Sabar ay." Ucap suamiku seraya menatapku.


"Insyaa ALLAH." Ucapku lirih.


"Aku takut,pas enggak ada kamu kejadian ini terulang lagi." Ucapku lirih seraya memegang pipinya.


"Berdoa, libatkan terus dengan ALLAH." Ucapnya seraya tersenyum.


"Iya mas." Ucapku lirih.


"Ya sudah, lebih baik kita keluar yuk." Ajaknya.


"Kemana ?" Tanyaku.

__ADS_1


"Ke rumah ibu." Ucapnya.


"Jangan dulu." Ucapku.


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Enggak apa-apa." Ucapku.


"Terus kemana ?" Tanya suamiku.


"Di rumah saja, aku capek mas." Ucapku.


"Ya sudah, baiklah." Ucapnya lirih seraya memelukku erat.


Malam pun menjelang, kini kami sedang duduk di teras depan rumah. Sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang.


"Ay." Panggil suamiku.


"Hmm." Jawabku seraya menatapnya.


"Besok aku lembur, mungkin pulang jam 8 malam. Kamu enggak apa-apakan aku tinggal lebih agak lama ?" Tanya suamiku dengan lembut.


"Insyaa ALLAH." Ucapku lirih seraya menundukkan wajahku.


"Kenapa ?" Tanya suamiku.


"Enggak apa-apa." Ucapku yang langsung beranjak masuk ke dalam rumah.


Melihatku demikian, suamiku langsung menyebut istighfar berkali-kali dan membalas pesan dari bosnya.


...Selesai bertukar pesan, mas Agung langsung masuk ke dalam dan mengunci rumah. Lalu masuk ke kamar utama, namun aku tidak ada di sana. ...


Astagfirullah Riani, kamu tidur dimana ? Tanya suamiku lirih.


^^^Sementara aku tertidur di kamar tengah, tanpa menyalakan lampu. Tak ingin berlama-lama saling diam, suamiku memilih menyusulku masuk ke kamar tengah. Dengan perlahan dia memeluk tubuhku erat, lalu meminta maaf. ^^^


Aku hanya terdiam dan membalas pelukannya. Alhamdulillah kamu memaafkan aku. Ucapnya lirih. Aku hanya terdiam dan terpejam. Tepat jam 9 malam, kami masih terjaga.


"Belum tidur ?" Tanya suamiku.


"Belum." Ucapku.


"Kenapa ?" Tanya suamiku lembut.


Aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepala dan jariku sesekali mencubit hidung mungilnya.


"Sakit ay." Ucapnya seraya menatapku.


"Gemes aku, liat hidungmu." Ucapku seraya tertawa.


Membuat mas Agung ikut tertawa juga dan langsung membalas mencubit hidungku juga. Membuat kami saling tertawa bersama, namun tawa kami terhenti mendengar pintu dapur diketuk kencang.


"Agung, buka pintunya." Ucap emak.


..."Mas Agung langsung turun dari ranjang, dan menemui emak. Aku pun juga langsung menemuinya. Terlihat emak menangis tergugu, tanpa banyak kata emak menggandeng tangan kami. Mak ada apa ?" Tanya suamiku....


"Ikut emak, bapak kalian hiks...hiks..." Ucapnya terhenti karena menangis.


"Gung, sabar ya bapak kamu sudah meninggal." Ucap pak Rt.


"Innalillahi wainnalillahi rojiun". Ucapku lirih seraya menguatkan suamiku.


Bagai petir di siang bolong, mas Agung langsung pingsan. Melihat suamiku pingsan, aku pak Rt dan anak pak Rt langsung mengangkat tubuhnya masuk ke dalam rumah.


"Sudah pak, bawa sini saja." Ucapku.


Sementara emak aku minta tenang dan duduk sejenak.


"Minum dulu mak." Ucapku seraya menyerahkan gelas berisi air kepada emak.


"Makasih nak." Ucapnya.


"Sama-sama mak." Ucapku lirih.


^^^Aku lalu mengoleskan tubuh suamiku dengan minyak. Dan kini di hidungnya. Tak lama dia tersadar, lalu menangis. Aku pun memeluknya, dan meminta untuk sabar, ikhlas dan tabah. ^^^


Tak lama Nia dan Bayu datang, Nia memeluk Emak dan menangis bersama.


"Gung, sabar." Ucap Bayu lirih.


"Iya." Ucapnya seraya melerai pelukanku.

__ADS_1


Para tetangga pun bergotong royong saling membantu. Dan tepat dini hari, bapak dimandikan. Aku dan Nia tidak boleh mendekati, karena mitosnya orang hamil enggak boleh ikut takutnya calon bayinya kena sawan. Mitos orang terdahulu.


Sementara mas Agung dan Bayu, tengah bersiap memandikan jenazah bapak.


__ADS_2