
..."Kak Bayu itu beda tipis dengan kak Agung, Kalau kakakku marah dipeluk langsung luluh. Sedangkan dia dipeluk malah minta nambah." Ucap Nia....
"Ya bagus dong dek". Jawab kami bersama seraya tersenyum.
Sementara Bayu, terdiam seraya memijit keningnya.
"Ya sudah, intinya gini sayangku. Menikah itu godaan dan cobaannya banyak, jadi jalani, nikmati dan syukuri." Ucapku lirih.
^^^"Dan menikah itu, menyatukan 2 hati yang berbeda menjadi 1. Butuh waktu dan proses yang tidak hanya sebentar. Kurangi ego masing-masing, jika Bayu marah kamulah yang jadi airnya. Begitupun sebaliknya." Ucap suamiku.^^^
"Instropeksi diri juga penting Nia." Ucap suamiku lagi.
"Iya kak." Ucap Nia.
..."Dengar, kamu adik aku satu-satunya, buatlah almarhum bapakmu bangga memilikimu. Kalau bukan aku dan istriku yang nasehati kamu, lalu siapa lagi. Dan 1 lagi jangan suka main tangan." Ucap suamiku....
"Insyaa ALLAH kak." Ucap Nia lalu memeluknya.
"Alhamdulillah adem liatnya." Ucapku seraya tersenyum.
"Iya, sedingin salju di kutub Utara." Ucap Bayu seraya tertawa.
Kami pun saling tertawa dan mereka pun saling maaf memaafkan. Barulah Bayu memanggil pak Madin. Perjalanan pun berlanjut.
"Besok, jam berapa mas berangkatnya ?" Tanya pak Madin.
"Sama kaya pas berangkat jam pak." Ucap suamiku.
"Ok." Ucap Pak Madin.
Hening.
Hingga tepat pemberhentian lampu merah, sayup-sayup terdengar suara Nia berkata lirih, namun masih bisa kami dengar.
"Apa Nia ?" Tanyaku seraya balik ke belakang.
"Ya ALLAH." Ucapku seraya menutup wajahku.
...Suamiku yang juga ikut melihat itupun langsung istighfar dan memeluk pinggangku. Dasar enggak tahu tempat, sudah tahu suaminya tidur. Masih saja dibuka. Ucap suamiku lirih, namun masih bisa ku dengar....
^^^Kami semua pun terdiam, dan tak berapa lama kami sampai tujuan di apartemen. Sesampai di parkiran, aku lalu membuka pintu dan bergegas pergi. Bayu yang baru bangun, nampak terheran-heran dengan sikapku. Sementara Nia cengar-cengir enggak jelas.^^^
"Gung, istri kamu kenapa ?" Tanya Bayu yang sudah sampai di apartemen.
Suamiku lalu menjelaskan semuanya, mendengar hal itu Bayu langsung menundukkan wajahnya dan minta maaf.
"Itu bukan salahmu, aku tahu kok." Ucap suamiku seraya berlalu.
Sepeninggal suamiku, Bayu lalu melangkah ke kamar. Melihat Nia tengah terdiam dia lalu menemuinya.
"Hanny." Panggil Bayu.
"Kak, maaf ya gara-gara aku kakakku dan kakak ipar jadi lihat yang enggak semestinya di lihat." Ucap Nia jujur.
"Iya hany, lain kali lihat kondisi ya." Ucap Bayu seraya tersenyum.
"Iya kak." Ucap Nia lalu memeluk suaminya.
Sementara di sini, aku sedang bertukar pesan dengan Wulan.
"Sedang ngapain ?" Tanya suamiku.
"Ini, balas chat teman." Ucapku seraya tersenyum.
"Wulan ?" Tanya suamiku.
"Iya mas." Ucapku.
"Ay, besok pulangnya agak sorean enggak apa-apakan ?" Tanya suamiku.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Tadi pak Roni mengabariku, jalan arah ke kantor sedang diperbaiki karena ambles." Ucap suamiku.
"Ya mas, tadi aku juga dapat kabar dari ibu." Ucapku.
"Tapi alhamdulillah kantor dan rumah kita aman." Ucapnya seraya tersenyum.
"Alhamdulillah mas." Ucapku seraya tersenyum juga.
"Jalan-jalan yuk." Ajaknya.
"Kemana ?" Tanyaku.
"Ke mall." Ucapnya.
"Enggak ah mas, aku capek." Ucapku seraya naik ke tempat tidur.
"Ya sudah." Ucapnya seraya tersenyum.
Hening.
Hingga terdengar suara ketukan pintu keras, membuat kami langsung keluar.
"Ada apa sih ?" Tanya suamiku.
Tanpa menjawab pertanyaan suamiku, Bayu lalu menarik tangan kami. Dan membawa kami ke Barinton.
"Lihatlah." Ucapnya seraya menunjuk arah apartemen depan kami.
"Mereka lagi apa ?" Tanya suamiku.
"Sedang syuting dodol." Ucap Bayu kesel.
Mendengar hal itu, kami menatap Bayu dan Nia.
"Jadi kamu menarik tangan kami sampai kesini, buat liatin mereka syuting ?" Tanya kami bersama.
"Yoha." Ucapnya seraya tertawa.
"Huh, gak penting amat sih." Ucap suamiku seraya berlalu bersama denganku.
Sementara Nia tertawa senang. Melihat itu Bayu lalu membopong Nia dan membawanya ke kamar.
"Ada-ada saja, kirain ada apa." Ucapnya kesal.
"Udah kenapa, kesel terus. Enggak capekkah ?" Tanyaku.
"Capek ay." Ucapnya seraya berbaring.
Kami pun akhirnya tertidur pulas, sementara Nia dan Bayu masih terjaga. Mereka saling memandang dan tak lama ikut terlelap juga.
Tepat jam 10 malam, aku terjaga karena perutku tiba-tiba terasa lapar. Aku lalu melangkah ke dapur, aduh habis semua ternyata. Ucapku lirih.
"Cari apa ?" Tanya Bayu.
"Cemilan." Ucapku.
"Oh, tadi enggak sempat beli ?" Tanya Bayu lagi seraya menatapku.
"Ya ni, mana laper banget lagi." Ucapku seraya mengelus lembut perutku.
"Mau aku beliin cemilan ?" Tanya Bayu.
"Makasih, tapi maaf enggak usah takut aja nanti suami dan adik iparku salah paham." Ucapku jujur.
"Enggak kok kak, aku enggak akan salah paham." Ucap Nia tiba-tiba.
Membuatku langsung menatapnya.
"Ya sudah." Ucapku seraya tersenyum.
"Yuk hanny, beli cemilan." Ajak Bayu.
"Asiap suamiku." Ucapnya seraya tersenyum.
...Mendengar hal itu aku ikut tersenyum, aku menunggu mereka sambil lihat tv. Namun tiba-tiba listrik padam. Aku pun hanya terdiam seraya berdoa, semoga lekas hidup. Dan alhamdulillah tak lama listriknya menyala lagi....
Alhamdulillah nyala. Ucapku lirih.
Saat asik lihat tv, terdengar suara ketukan pintu. Aku lalu beranjak, namun aku ingat Bayu tadi bawa kunci. Tidak mungkin itu mereka, aku pun langsung bergegas ke kamar. Membangunkan suamiku.
"Mas, ada yang mengetuk pintu rumah tu." Ucapku.
"Siapa ?" Tanya suamiku.
"Enggak tahu." Ucapku.
"Yuk." Ajaknya seraya menggenggam tanganku.
"Ya." Ucapku.
Sesampai di depan pintu, suamiku bertanya.
"Siapa ?" Tanya suamiku.
"Aku Gung." Ucap Bagus.
Mendengar jawabannya, suamiku lalu membuka pintu.
"Bagus, ngapain kamu kesini ?" Tanya suamiku seraya menyuruhnya masuk.
"Aku di suruh kesini sama bos, besok kan kalian sudah pulang." Ucapnya seraya mendorong kopernya.
"Busyet banyak amat bawaan kamu ?" Tanya suamiku.
"Iya, sama nini rempong." Ucapnya.
"Maksudnya ?" Tanya suamiku.
"Sama Dewi, Lulu dan Erwin." Ucapnya.
"Oh." Ucap suamiku.
"Ya, sumpah malas banget aku sama mereka." Ucapnya.
"Sabar." Ucap suamiku.
Tak lama mereka bertiga pun datang, mereka datang dengan penuh berisik. Melihat hal itu aku langsung pindah tempat.
Lama banget sih." Ucapku lirih.
"Nunggu siapa mbak ?" Tanya Erwin.
"Nunggu Bayu." Ucapku datar.
"Oh." Jawab Erwin seraya tersenyum.
Sementara suamiku, menatapku dengan tersenyum. Karena hanya dengannya dan keluarga saja, aku murah senyum.
Tak lama Bayu pun datang.
"Ini pesanan kamu." Ucapnya seraya memberikan kepadaku.
"Makasih." Ucapku seraya tersenyum.
Dan lalu makan, sementara Nia yang sudah kenyang langsung ke kamar. Dan rekan-rekan kerja mas Agung juga sudah masuk ke kamar masing-masing sebelum Bayu datang.
__ADS_1
Setelah kenyang, aku pun mencuci tangan dan gosok gigi lalu tidur.
Paginya kami sudah priper, dan tinggal berangkat. Namun karena sudah ada rekan-rekan mas Agung, aku memilih duduk di kamar.
Sementara suamiku mengobrol dengan mereka, tak beda jauh denganku. Nia kini lebih memilih diam dalam kamar. Sementara Bayu, juga asik mengobrol dengan mereka.
Tepat jam 8, mereka sudah berangkat. Barulah kami keluar kamar.
"Ay." Panggil suamiku.
"Hmm." Jawabku.
"Kamu kenapa ?" Tanya suamiku.
"Enggak apa-apa." Ucapku lirih.
"Sini duduklah." Ucapnya.
Aku pun menurutinya, begitupun dengan Nia.
"Kamu marah ?" Tanya suamiku.
"Ck, enggak tahu mas setiap melihat Lulu aku ngerasa dia ada rasa suka sama kamu." Ucapku jujur.
"Iya, dia memang suka. Bahkan saat kita bertengkar, dia chat aku nyatain perasaannya. Namun tidak aku tanggapi dan langsung aku blokir, sampai sekarang pun aku enggak nanggepin dia." Ucap suamiku jujur.
Aku pun hanya terdiam lalu menjawab.
"Resiko, nikah sama pria tampan ya gini." Ucapku seraya cemberut.
Sementara Bayu dan Nia hanya menyimak.
"Insyaa ALLAH aku akan menjaga janji suciku." Ucap suamiku seraya tersenyum dan memelukku.
"Aamiin." Ucap kami bertiga.
"Aku juga ngerasa Dewi juga suka sama kakak." Ucap Nia.
"Insyaa ALLAH aku juga bisa menjaga janji suciku hanny." Ucap Bayu.
"Aamiin." Ucap kami bersama.
Sementara itu, Dewi dan Lulu pulang ke apartemen untuk menawari suamiku dan Bayu makan. Namun sesampai di apartemen, kami sudah tidak ada. Karena rupanya, setelah pembicaraan kami tadi pagi. Kami memutuskan berangkat siang.
"Sial, mereka sudah pulang." Ucap mereka berdua.
"Ck, sia-sia dong kita." Ucap Lulu.
"Iya." Jawab Dewi.
Sementara kami sudah dalam perjalanan, suamiku menatapku yang sedari tadi moodku lagi kurang bagus.
"Cemberut terus." Ucapnya lirih.
"Sebel dan kesel tahu." Ucapku seraya istighfar dan mengelus lembut perutku.
"Dengan cara apa aku bisa menyembuhkan kekesalanmu ?" Tanya suamiku.
"Diemin tu pelakor." Ucap Nia.
"Baiklah." Ucap suamiku seraya tersenyum dan memelukku.
"Aku hanya milikmu, begitupun kamu. Kamu juga hanya milikku. Hanya maut yang bisa memisahkan kita sejenak. Dan bertemu kembali di jannah." Ucap suamiku dengan lembut.
Mendengar itu aku tersenyum dan terharu. Lalu mengaamiinkan ucapannya.
"Aamiin ya ALLAH." Ucapku.
"Makasih ay." Ucap suamiku.
"Sama-sama." Ucapku.
Bayu dan Nia ikut tersenyum memandang kami.
Tak lama, kami pun terlelap semua. Dan tepat jam 3 aku terjaga. Aku lalu tayamum dan pindah di depan untuk ibadah.
"Maaf pak, izin sholat." Ucapku lirih.
"Oh ya neng, silahkan." Ucapnya.
^^^Saat sedang sholat, suamiku yang terbangun langsung mencariku dan menatapku yang sedang sholat. Bayu yang sudah bangun pun tersenyum melihatku. Sementara Nia masih terlelap.^^^
Selesai sholat dan mengaji, aku lalu kembali ke belakang lagi.
"Makasih pak." Ucapku.
"Sama-sama neng." Ucap pak Madin.
"Sudah bangun ?" Tanyaku.
"Ya." Ucap suamiku seraya pindah depan.
Selesai sholat, kami turun di pom bensin untuk mandi. Selesai mandi, aku duduk sebentar di kursi dekat pom. Sambil melihat orang berlalu lalang, tak lama Nia sudah keluar.
"Segarnya." Ucap Nia seraya mengibaskan rambutnya.
Melihat itu aku hanya tersenyum. Kini Bayu dan suamiku sudah selesai mandi, mereka lalu membayar. Barulah pak Madin keluar toilet dan izin tidur sebentar. Kami pun mempersilahkan. Saat asik menunggu di luar, tiba-tiba gawai suamiku berdering.
"Siapa ?" Tanyaku.
Mendengar pertanyaanku, suamiku lalu memberikan gawainya kepadaku. Aku lalu menyerahkan gawainya lagi.
Begitupun dengan Bayu, Namun langsung di angkat oleh Nia.
("Hai, Bay kemana saja ?" Tanya Dewi.)
Namun bukannya di jawab, Dewi langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Kenapa Wi ?" Tanya Lulu.
"Ck, bininya yang angkat." Ucapnya seraya beranjak.
Sementara di pom, kami yang melihat Nia langsung menggelengkan kepala.
"Sekali-kali mesti ditanggapi tu pelakor." Ucap Nia.
"Sabar dek." Ucapku.
"Pastinya dong." Ucap Nia.
Suamiku langsung menatap dan memelukku. Aku langsung memandang dirinya. Sementara Bayu dan Nia langsung pura-pura tidak melihatnya.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Capek." Ucapnya.
"Istirahatlah." Ucapku lirih.
"Tapi aku maunya kamu." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Ck, kakak adik sama saja." Ucapku lirih.
"Hehe, namanya juga sepaket ay." Ucap suamiku seraya tertawa.
Kami pun langsung melangkah ke toko depan pom, sesampai di toko. Aku lalu mengambil aneka roti dan cemilan. Selesai membeli, suamiku lalu membayar dan berjalan lagi mendekati mobil.
"Sudah bangun pak ?" Tanya suamiku.
"Sudah." Ucapnya.
"Makan dulu yuk pak." Ajak suamiku.
"Baiklah." Ucapnya.
Kami berlima pun langsung masuk ke rumah makan.
Setelah memesan, dan terhidang kami langsung makan. Dan 15 menit, mereka selesai makan. Sementara aku dan Nia belum selesai makan.
"Kok enggak di habisin ?" Tanya suamiku.
"Kenyang." Ucapku.
"Hanny, kamu kenyang juga ?" Tanya Bayu.
"Iya by." Ucap Nia.
Ya sudah, yuk berangkat." Ucap suamiku yang baru selesai membayar.
Kami berlima pun langsung melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil.
"Bismillah." Ucap kami semua.
...Tepat separuh jalan, Nia mengeluh dan menangis kesakitan di punggungnya. Bayu pun mencoba menenangkannya seraya mengelus lembut punggungnya. Alhamdulillah Nia sudah tenang, namun masih terjaga. Sementara Bayu malah terlelap. Dan kami juga terlelap, hanya pak Madin dan Nia saja yang terjaga....
Tepat jam 10, perutku tiba-tiba kram hebat. Aku mencoba menahannya. Namun sayang, tidak berhasil hingga suamiku terjaga.
"Ay, kenapa ?" Tanya suamiku lembut.
"Sakit mas." Ucapku lirih.
^^^Mendengar hal itu, suamiku lalu mencium perutku dan mengelus lembut perutku. Entah doa apa yang suamiku panjatkan, hingga perutku yang tadi sakit sudah berangsur-angsur membaik.^^^
"Makasih mas." Ucapku.
"Sama-sama." Ucapnya.
"Tidurlah." Ucapnya seraya membaringkan kepalaku di pahanya lagi.
Tanpa kami tahu, pak Madin menatap kami seraya berkata lirih. Sama-sama saling menguatkan, seperti almarhumah istriku.
Sementara di belakang lagi-lagi Nia kesakitan, Bayu pun terbangun lagi. Suamiku yang masih terjaga pun, langsung menghadap ke belakang dengan pelan. Takut aku terbangun lagi, dan kesakitan lagi.
"Doakan Bay, insyaa ALLAH sembuh." Ucap suamiku lirih.
...Namun bukannya sembuh, Nia malah tambah kesakitan. Akhirnya kami membawa Nia ke RS terdekat. Sesampai di sana, Nia lalu di periksa. Sementara kami bertiga menunggu di mobil....
Mas Agung tak henti-hentinya berdoa dan bertanya pada Bayu. Bayu pun menjawab, tidak ada apa-apa hanya kecapean saja. Dan sudah diperbolehkan pulang. Sesampai di mobil, Nia menatapku yang terlelap langsung menangis. Mereka pun bertanya.
"Ada apa ?" Tanya Bayu.
"Kakak ipar tadi sudah nasehati aku, tapi aku ngeyel." Ucapnya lirih.
"Nasehati apa ?" Tanya mereka.
"Jangan terlalu membungkuk kalau duduk, punggung kamu nanti mudah sakit." Ucap Nia.
"Ya sudah sekarang masuk dan tidurlah." Ucap mereka bersama.
Selesai naik, dia pun langsung terlelap.
"Efek kecapean juga, jadi kerasanya sekarang." Ucap pak Madin.
"Iya mungkin pak." Jawab mereka.
"Mas, kita bentar lagi, melewati alas terus berdoa." Ucapnya.
"Ya pak." Ucap mereka lagi.
__ADS_1
Tak lama kami melewati alas sroban, yang terkenal angkernya. Aku pun terbangun, dan lalu duduk.
"Sudah bangun ?" Tanya suamiku.
"Iya." Ucapku seraya menatap belakang.
"Akhhh." Teriakku seraya melafaskan asma ALLAH.
"Kenapa ?" Tanya mereka bersama.
"Aku hanya menangis, berdoa mas dan Mbaknya. Jangan lihat belakang. Tutup kordennya mas Bayu." Ucapnya.
"Baik pak." Ucapnya lalu menutup kordennya.
Sementara suamiku berdoa seraya memelukku dan menenangkanku. Pak Madin langsung membunyikan klakson.
Tak lama kami sudah keluar dari alas, mereka bernafas lega. Namun tidak denganku.
"Enggak aku enggak mau." Ucapku lirih.
"Ay." Panggil suamiku.
"Mas dia diatas mobil." Ucapku lirih.
"Mbak, lawan ya." Ucap pak Madin.
Mereka saling menatap pak Madin, yang sepertinya sudah tahu maksud ucapanku.
"Begini mas, di atas mobil ada bocah kecil yang ingin ikut istri kalian. Namun sama salah satu istrimu menolak, dia marah dan akan membuat kita celaka." Ucap pak Madin.
"Terus kita harus gimana ?" Tanya Bayu seraya memeluk Nia.
"Doa." Ucap pak Madin.
Akhirnya kami pun berdoa dan tak lama, makhluk astral itu pergi.
"Alhamdulillah." Ucapku seraya tersenyum.
Mendengar hal itu suamiku dan yang lain bernafas lega. Aku lalu membuka cemilanku lagi. Dan minum susu.
"Lapar ?" Tanya mereka bersama.
"Ya." Ucapku seraya tersenyum.
Aku lalu menatap ke depan, dan melihat mobil yang menyalip kami sekilas. Aku lalu bergidik ngeri dan istighfar.
"Kenapa ?" Tanya suamiku.
"Ada pocong dan kuntil." Ucapku lirih.
Astagfirullah. Tidur yuk." Ajaknya.
"Ya." Ucapku.
Tepat jam 2, Nia terjaga. Lalu melihat sekitar. Dia tersenyum menatap suaminya yang terlelap dengan nyenyak. Dan menatap kami yang juga terlelap, Waduh kakakku meluknya sampai segitunya. Ucap Nia lirih.
Sementara pak Madin, fokus nyetir. Namun terkadang mencuri pandang kami, dan terkadang menggelengkan kepala.
"Pak, sampai mana pak ?" Tanya Nia.
Sampai Semarang neng." Ucap pak Madin.
"Oh, nanti berhenti di pom ya pak." Ucap Nia.
"Siap." Ucap Pak Madin.
Tak lama, mobil pun sampai di pom bensin, Nia pun turun di bantu pak Madin. Kakiku disentuh Nia pelan, lalu pak Madin melipat jok mobilnya perlahan.
"Makasih pak." Ucap Nia seraya berlalu.
"Sama-sama." Ucap pak Madin.
Tak lama, aku dan mereka terjaga.
"Lho bini aku mana ?" Tanya Bayu penuh khawatir.
"Sedang di toilet mas." Ucap pak Madin.
"Alhamdulillah." Ucapnya seraya beranjak menyusul.
Aku pun ikut turun juga, mau mandi dan sholat. Setelah selesai semua, mereka pun menatapku dengan intens.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Jam segini mandi enggak dingin kak ?" Tanya Nia.
"Sudah biasa." Ucapku seraya tersenyum.
Tak lama suamiku selesai mandi juga. Melihat kami mandi, mereka pun kini ikut mandi juga. Lalu subuh bersama dan sarapan.
"Hmm, akhirnya selesai juga." Ucap kami semua.
"Masih berapa jam pak ?" Tanya Nia ? 7 jam." Ucap pak Madin.
"Hmm." Jawabnya seraya olah raga.
Sementara aku kini terlelap di pangkuan suamiku. Begitupun dengan suamiku, dia juga terlelap. Melihat kami terlelap, mereka pun dengan hati-hati menutup pintu mobil.
"Kasian semalam kurang tidur." Ucapnya.
"Kenapa ?" Tanya Nia.
"Ada yang ganggu." Ucap Bayu.
"Hii serem." Ucap Nia seraya memeluk Bayu.
"Beruntung aku terlelap." Ucapnya lirih.
"Hmm." Jawab Bayu.
Tepat jam 8 pagi, kami pun terbangun. Dan sekarang giliran mereka yang tertidur.
"Dah sampai mana pak ?" Tanya suamiku.
"Sampai Jogja mas." Ucap pak Madin.
"Tinggal bentar lagi sampai ya." Ucapnya.
"Ya." Ucap pak Madin.
"Pak, tolong berhenti di pom ya, aku kebelet." Ucapku.
"Siap neng." Ucapnya.
Tak lama mobil pun berhenti di pom. Aku keluar ditemani suamiku. Selesai itu, kami kembali lagi ke mobil.
"Sudah ?" Tanya pak Madin.
"Sudah pak." Ucapku.
"Mbaknya yang satu kebelet juga enggak ?" Tanya pak Madin.
"Dia tidur pak." Ucap suamiku.
"Ya sudah." Ucapnya seraya menyalakan mesin mobilnya dan berangkat.
...Tak terasa jam 2 siang, kami sampai dengan selamat. Aku yang masih terlelap langsung di bopong suamiku, begitu juga dengan Nia. Sesampai di rumah, aku ditidurkan dengan perlahan lalu suamiku beranjak kembali. Mengambil tas dan koper kami....
"Sudah ?" Tanya suamiku.
"Sudah, biniku makin berat." Ucap Bayu seraya tertawa.
"Namanya juga hamil, istriku juga begitu." Ucap suamiku.
"Beruntung kamu dapat perawan ting - ting dan rajin." Ucap Bayu.
"Alhamdulillah." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Aku juga bersyukur walau bekas, tapi mampu menjaga syahwatku." Ucap Bayu lirih.
"Aamiin." Ucap suamiku seraya istirahat sejenak.
Tak lama pak Robby datang, dia meminta dokumen yang ditandatangani oleh suamiku dan Bayu. Setelah dapat, dia hendak pamit. Namun karena melihatku keluar kamar, dia menatapku sejenak.
"Mas, aku mau beli buah dulu ya." Ucapku lirih.
"Kemana ?" Tanya suamiku.
"Ke pasar." Ucapku.
"Jam segini sudah tutup mbak." Ucap pak Robby.
Spontan aku langsung menatapnya dan meminta maaf lalu menyalaminya. Setelah itu pak Robby pamit.
"Aku pengen rujak." Ucapku.
"Ya sudah, yuk kita coba lihat. Bay titip rumah dulu ya." Ucap suamiku.
"Ok." Ucapnya.
...Sepeninggal kami, Bayu berdecak kagum. Prediksi Agung emang enggak salah, dia tulus menerima kekurangan pasangan. Namun aku juga bersyukur dapat kakak ipar lebih muda dan istri muda juga. Ucapnya lirih....
Dan disini, kami sudah sampai di pasar. Aku memilih beli saja, karena penjual buah sudah pada pulang. Terpaksa beli ke penjual rujak.
Suamiku mengamati aku, lalu tak lama dia tersenyum kepadaku. Karena aku banyak permintaan. Dan alhamdulillah penjualnya sabar banget.
"Pak jangan pakai nanas." Ucapku.
"Oh ya maaf neng." Ucapnya seraya tertawa.
"Aduh si bapak malah ketawa." Ucapku lirih.
"Sumeh neng." Ucapnya lagi.
"Kaya suamiku dong pak." Ucapku seraya tersenyum dan menatapnya.
"Iya neng. Beda jauh kalau soal wajah." Ucapnya seraya tertawa.
"Enggaklah, beda di kulit, umur dan takdir ja pak." Ucapku seraya tersenyum.
Melihat kami akrab, sang istri langsung menghampiri.
"Mbak, maaf bapak ini suami saya. Jaga jarak yang. " Ucapnya.
"Iya buk, saya tahu. Maaf." Ucapku seraya mundur selangkah.
"Sudah tahu, tapi malah mendekat." Ucapnya seraya menatap suamiku dan mendekati suamiku.
"Mas mau rujak juga ?" Tanya ibu itu.
"Saya anter istri buk." Ucap suamiku seraya berlalu mendekati aku.
Melihat demikian ibu itu langsung masuk ke dalam. Sepeninggal ibu itu, pak penjual rujak langsung minta maaf kepada kami.
"Maaf ya mbak dan mas soal istri saya tadi." Ucapnya.
"Enggak apa-apa pak,maklum perempuan." Ucap suamiku.
__ADS_1