
..."Gaes kemarin kita lupa tidak ambil foto mereka berdua, gimana kalau kita berhenti dulu dan foto bersama dengan mereka. Usul Bayu rekan kerja mas Agung, yang saat itu tengah melihat foto yang kemarin....
"Boleh juga tu." Ucap mereka yang menyetujui saran Bayu.
Kami yang mendengar hal itu, mau tidak mau pun harus mau. Karena kalau menolak, yang ada tambah membuat mereka kecewa.
^^^Sesampai di taman, bus yang kami tumpangi berhenti. Dan kami pun foto bersama dengan mereka, aku berdiri di tengah. Ya maklum ya, aku bertubuh kecil,berkulit sawo matang dan memiliki rambut panjang sepinggang.^^^
"Ok sudah siap semua ?" Tanya Bayu.
"Siap brow." Ucap calon suamiku keras membuat aku terkejut dan menatapnya.
"Hehe, maaf." Ucapnya seraya tertawa.
"Sekarang pake gaya ya gaes." Ucapnya lagi.
"Ok." Ucap mereka semua.
"Sudah siap ?" Tanyanya.
"Sudah." Ucap mereka lagi.
Cup
Ceklik.
Aku terkejut, tiba-tiba pipi kananku diciumnya dan bersamaan dengan hasil jepritan temannya. Melihat itu Bayu tersenyum merekah.
...Selesai foto bersama, kami semua kembali naik bus, namun karena mas Agung di panggil temannya aku pun naik terlebih dulu dengan bersama pak Roni....
"Gimana semalam tidurnya ?" Tanya pak Roni.
"Alhamdulillah nyenyak pak, cuma ya itu nunggu dia tidur dulu." Ucapku lirih.
"Kenapa, kamu takut diapa-apain ?" Tanyanya seraya tersenyum.
"Iyalah pak." Ucapku jujur.
"Dasar, dia enggak akan berbuat apa-apa sama kamu, karena sedari kecil keluarganya mengajarkan agama." Ucapnya.
"Alhamdulillah deh pak." Ucapku jujur.
"Tapi kalau sudah resmi, dia baru berani." Ucapnya seraya tertawa.
"Ye kalau itu harus." Ucapku seraya tersenyum.
Sementara di tempat mas Agung dan Bayu berdiri. Bayu menunjukkan fotonya tadi.
"Gila kamu Gung, belum resmi main sosor bae." Ucapnya seraya menggelengkan kepala.
"Haha, biasa saja kali, kaya kamu enggak saja." Ucap calon suamiku seraya tertawa.
"Iya juga sih." Ucapnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
^^^Setelah percakapan itu,mereka lalu kembali naik bus. Saat aku tengah asik membalas pesan temanku, dia sudah duduk di sampingku.^^^
"Wulan lagi ?" Tanyanya.
"Iya." Ucapku seraya tersenyum dan menatapnya.
...Selesai berbalas pesan, aku lalu menyandarkan kepalaku di bahunya. Sementara dia, tetap diam diri. Hmm, mulai ngambek lagi ni. Ucapku dalam hati. Aku langsung pindah posisi, dan memilih menatap jalanan di luar....
"Masyaallah cakep banget." Ucapku seraya melirik ke arahnya.
Mendengar itu, dia langsung menatap ke arah jendela, dan langsung menatapku.
"Siapa yang cakep ?" Tanyanya penuh selidik.
"Calon suamiku." Ucapku lirih.
"Makasih." Ucapnya seraya tersenyum.
"Sama-sama." Ucapku lirih.
"Sudah enggak marah ni ?" Tanyaku lembut.
"Siapa yang marah ?" Tanya dia balik.
__ADS_1
"Kamu." Ucapku.
"Emangnya aku kaya orang marah ?" Tanyanya.
"Iya." Ucapku.
"Hanny, aku enggak marah. Aku tadi sedang mikirin pernikahan kita." Ucapnya.
"Maaf ya sudah sudzon." Ucapku.
"Iya." Ucapnya seraya memeluk pinggangku.
"Malu tahu." Ucapku lirih.
"Hehehe. Maaf kamu terlalu gemesin." Ucapnya seraya tertawa.
"Oh jadi mau sama aku, karena aku gemesin ?" Tanyaku.
"Bukan." Ucapnya.
"Terus ?" Tanyaku.
"Aku cinta sama kamu karena ALLAH." Ucapnya jujur.
"Aamiin makasih by." Ucapku lirih.
...Perjalanan yang masih panjang, membuat kami semua terlelap dalam bus. Hingga tepat jam 7 pagi, kami sudah sampai di kantor tempat calon suamiku bekerja. ...
"Alhamdulillah." Ucap mas Agung dan mereka semua.
"Turun woy, sudah sampai." Ucap mas Agung membangunkan Bayu, yang kebetulan duduk disebelah kami.
"Ck, baru juga mimpi gangguin saja." Ucapnya seraya cemberut.
^^^Sementara aku masih terlelap, karena aku juga belum lama tidurnya. Dengan sabar dan hati-hati mas Agung membopongku. Tepat keluar bus, mereka semua menatap mas Agung.^^^
"Hmm, masih baru dibopong, udah lama di tinggal." Ucap Ayu.
"Astagfirullah, janganlah kasian. Dapetin hatinya saja susah." Ucap mas Agung lirih.
"Hehehe ntar kalau ada yang bening, yang lama di lupain." Ucapnya lagi.
"Kalian ini ribut terus, bikin kepalaku pusing." Ucap Cinta.
Mendengar itu mas Agung langsung memilih menjauh dan duduk di kursi seraya memangku aku.
"Kamu enggak pulang ?" Tanya pak Roni.
"Bentar lagi pak, dia masih tidur." Ucapnya lirih.
"Nyenyak banget dia." Ucapnya.
"Iya." Jawab calon suamiku.
...Sepeninggal mereka, mas Agung masih sabar menungguku bangun. Dia sesekali melirikku, sambil membalas pesan. Dan tepat jam 8, aku terbangun. Aku terkejut menatap sekeliling tempat. ...
"Kita sudah sampai 1 jam yang lalu." Ucapnya seraya tersenyum.
^^^Aku mengangguk pelan dan mengajaknya pulang. ^^^
"Enggak makan dulu ?" Tanyanya.
"Di rumah saja." Ucapku seraya cuci muka.
"Mampir kerumah camer dulu ya." Ajaknya.
"Tapi aku masih malu." Ucapku.
"Enggak apa-apa, enggak bakal digigit kok." Ucapnya seraya tertawa.
"Emangnya macan ?" Tanyaku.
"Iya. Kan mama cantik." Ucapnya seraya tertawa kecil.
"Hmm." Jawabku.
"Sudah ?" Tanyanya.
__ADS_1
"Sudah." Ucapku.
"Pegangan ntar jatuh." Ucapnya seraya menarik tanganku.
"Enggak biasa." Ucapku.
"Mulai sekarang dibiasakan." Pintanya.
"Ya." Ucapku menurut.
...Di tengah perjalanan, aku melepas pegangan. Membuat dia menggelengkan kepala. Menyadari hal itu, aku lalu memeluknya lagi. Terlihat dari kaca spion, dia tersenyum lebar. ...
Tak terasa kami sudah sampai, aku lalu turun dan dia lalu menggenggam tanganku yang terasa dingin.
"Jangan takut, keluargaku bukan monster." Ucapnya lirih.
"Ish apaan sih." Ucapku seraya menepuk bahunya.
"Assalamualaikum." Sapa kami berdua.
"Waalaikumsalam." Ucap mereka semua.
"Weh ada tamu." Ucapnya seraya tertawa.
"Mak, bapak, mas dan mbak." Ucapku seraya takzim.
"Duduk dulu nak, ndak bikinin teh hangat untuk calon iparmu !" Titah emak.
"Iya." Jawab dia.
Sementara mas Agung masuk kamar, dan menaruh tasnya lalu keluar lagi.
^^^Kami semua saling berbincang hangat, layaknya anak dengan orangtua kandung. ^^^
Hingga saat mas Agung datang, mereka langsung beranjak pergi.
"Kemana mak ?" Tanya calon suamiku.
"Di luar." Ucapnya.
"Oh." Ucap calon suamiku lagi.
"Gimana, mereka asikkan ?" Tanyanya.
"Iya." Ucapku seraya tersenyum.
"Disini dulu ya." Ucapnya.
"Iya." Ucapku lirih.
"Habis ini kita fitting baju nikah." Ucapnya.
"Hmm, kan masih lama ?" Tanyaku.
"Tinggal 1 bulan lagi." Ucapnya yang langsung membuatku tersedak.
Uhuk...Uhuk...Uhuk..
"Pelan-pelan dong sayang, kalau minum." Ucapnya seraya menepuk punggungku pelan.
"Bukannya masih 3 bulan lagi ?" Tanyaku.
"Enggak, aku minta maju." Ucapnya seraya menatapku.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"2 bulan lagi, aku keluar kota." Ucapnya jujur.
"Terus apa hubungannya ?" Tanyaku.
..."Ya adalah, aku dipindah tugaskan disana. Boleh kembali setahun lagi. Itulah sebabnya aku minta maju." Ucapnya lirih....
"Oh gitu." Ucapku.
"Iya, kamu mau kan ?" Tanyanya.
"Iya." Ucapku seraya tersenyum tak ingin buat dia kecewa. Meskipun hatiku masih menolak, karena takut jika sampai gagal.
__ADS_1
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Enggak apa-apa." Ucapku seraya mengelus lembut pipinya.