
Saat mau bangun, tiba-tiba gawai suamiku bergetar. Aku lalu mengambilnya di saku bajunya, pelakor ? Tanyaku lirih.
("My husband where are you ? Aku rindu padamu Agung Eka Pratama." Tulis pesan itu.)
Membaca itu aku lalu meletakkan gawainya di nakas dan istighfar, dia kenal suamiku bahkan nama lengkapnya. Siapa sih dia, semoga hamba bisa lewatin ini semua ya ALLAH. Aamiin. Ucapku lirih dan beranjak meninggalkan suamiku yang tertidur.
"Maaf ya nunggu lama." Ucapku.
"Santai saja." Ucap mereka bersama.
Aku pun lalu duduk menemani mereka ngobrol bareng, terkadang Nike mencuri pandang ke arah Bayu lalu kembali menatapku.
"Ada apa mbak ?" Tanyaku.
"Ehem, enggak apa-apa. Aku izin ke teras bentar ya." Ucapnya.
"Iya." Ucap Kami bersama.
Sepeninggal Nike, Bayu langsung menatapku aneh. Riri kenapa, apa dia habis di marahi Agung ? Tanyanya dalam hati.
"Ri, kamu kenapa ?" Tanya Bayu lirih.
Aku yang di tanya nampak terdiam saja tanpa merespon pertanyaan darinya. Karena sedang sibuk memikirkan pelakor itu.
Bayu lalu mendekati aku dan menepuk bahuku pelan. Aku langsung tersadar dan bertanya.
"Eh ya ada apa ?" Tanyaku.
"Kamu kenapa ?" Tanyanya.
"Enggak apa-apa kok." Ucapku dusta.
"Oh." Ucapnya seraya berlalu.
Sepeninggal mereka, aku langsung mengucapkan kata istighfar sambil memejamkan mata. Dan beranjak mencari Rindu, sudah waktunya untuk mandi.
"Rindu, mandi dulu yuk." Ajakku. Yang kini sudah dekat dengan simbok dan Rindu.
Sementara bude Marni, dah pergi pulang tanpa pamitan denganku. Aku memaklumi, karena beliau orang yang sibuk kerja dan sibuk mengurus bisnisnya.
...Sesampai di rumah, aku lalu memandikan Rindu, memakaikan baju dan memberinya bedak juga minyak wangi. Selesai semua, simbok datang lagi, pengen mengajak Rindu main. Aku pun mengizinkan, asal masih bisa aku pantau. ...
"Mas bangun." Ucapku.
"Hmm, kok udah cantik banget sih ?" Tanyanya.
"Cantikan mana aku atau perempuan itu, sampai-sampai nama lengkap kamu saja tahu ?" Tanyaku sedikit kesal.
"Hmm, yang pasti lebih cantik istriku, karena kalau perempuan luar tidak tahu sifat asliku. Sementara istriku tahu luar dan dalamku dan juga sifatku." Ucapnya.
"Ck, sudah sana mandi." Ucapku lagi.
"Sayang jangan seperti ini, dengerin aku." Ucapnya seraya menggenggam tanganku.
"Enggak mau. Laki-laki kalau merasa tampan dan merasa perempuannya mencintainya pasti ujung-ujungnya nyakitin." Ucapku.
__ADS_1
Dia lalu menarik tanganku lembut dan menatapku.
"Tidak semua laki-laki berbuat demikian, aku akan usaha aku enggak akan seperti itu. Aku memilihmu, menikahimu dan aku juga ingin menua bersamamu, gendut juga bersamamu." Ucapnya.
"Bohong." Ucapku.
"Serius." Ucapnya.
"Bohong, faktanya aku pas hamil, aku gemuk tapi kamu enggak gemuk." Ucapku.
"Itu karna sudah perawakan aku ay, enggak bisa gemuk." Ucapnya seraya menciumku.
"Hmm." Ucapku.
"Ya sudah, daripada mikirin pelakor mending kita buat adik buat Rindu. Rindu tadi minta adik lho. Beneran." Ucapnya seraya tertawa dan menatapku.
"Haha, apaan sih enggak ada yang Rindu bilang gitu." Ucapku ikut tertawa juga.
"Beneran sayang, ayo." Ucapnya lalu tarik aku pelan dan menarik selimut untuk nutupi tubuh kami.
Dan di luar, Rindu nampak sedang minum susu di gelasnya. Dan simbok menemaninya. Makin lama makin mirip ayahnya. Mulai dari wajah,rambut, hidung, mulut dan kulitnya. Tubuhnya juga kurus, tapi makan dan minum susunya terjamin. Ucap simbok dengan senyuman.
"Mbok, dah." Ucap Rindu lalu memberikan gelas itu kepada simbok.
"Oke non." Ucap Simbok.
Di rumah bude Marni, Nike nampak bertanya sama emaknya.
"Mak, Bayu itu masih duda atau sudah nikah lagi ?" Tanya Nike.
"Masih duda. Kenapa kamu suka ?" Jawab dan tanyanya.
"Ndok, lahir, rezeki, jodoh, meninggal kita enggak ada yang tahu. Hanya ALLAH yang tau, kalau sekiranya kamu suka ya minta sama pemilik hati Bayu." Ucap Emak.
"Iya mak." Jawab Nike.
Tak lama setelah Nike pergi, bude Marni berucap lirih. Kalau emang kamu suka, moga dia juga suka. Karena setahu emak, dia orang yang setia. Ucapnya lirih.
^^^Di lain tempat, kembar nampak asik bermain dan Bayu juga asik menemani mereka. Lalu Bayu kepikiran Nike, gadis yang tadi datang ke rumah Agung. Hmm, cantik sih dia juga perhatian sama kembar. Dan kembar juga nyaman dengannya, tapi sayang dia masih anak bude. Hmm, kenapa jadi kepikiran dia ya. Ucapnya lirih seraya menggelengkan kepala.^^^
...Apa iya hubungan telepati itu ada ? Tanya Bayu lagi. Lalu mengalihkan perhatiannya kepada si kembar. Dan disini, suamiku dan aku berbaring di tempat tidur dengan tubuh di tutupi selimut....
"Ay." Panggil suamiku.
"Hmm." Jawabku.
"Aku cinta kamu." Ucapnya dengan menatapku.
"Cintailah aku karena ALLAH, bukan karena kelebihan. Dan semoga hubungan kita awet hingga tutup usia. Aamiin." Ucap dan doaku.
"Aamiin ya ALLAH." Ucapnya.
"Ya sudah, mandi dulu sana mas. Aku siapin baju kamu dan makan malam untuk kita." Ucapku.
"Shht, nanti dulu ay. Aku masih ingin bersamamu." Ucapnya.
__ADS_1
"Kasihan Rindu mas." Ucapku.
"Bentar saja." Ucapnya.
"Hmm, baiklah." Ucapku yang langsung naik ke tubuhnya dan memandang dia.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Enggak apa-apa om tampan." Ucapku seraya tertawa.
"Haha, om tampan tapi kamu cinta kan ?" Tanyanya campur tertawa.
"Ya, dan tepat banget kamu itu teman sekolah kakakku." Ucapku lagi.
"Jodoh tidak akan kemana-mana." Jawabnya.
Kami tersenyum bersama, dan saling berpelukan bagaikan teletubies. Tepat jam 5 sore, kami keluar kamar. Dan mendapati Rindu tengah melihat televisi bersama simbok.
"Makasih mbok." Ucapku.
"Sama-sama bu." Jawab simbok lalu pergi meninggalkan kami.
"Anak ibu lihat apa ni ?" Tanyaku lirih.
"Ntun." Ucap Rindu lalu menatap layar tv lagi.
"Oh kartun." Ucapku.
"Ya." Jawabnya.
Malam pun tiba, kini kami bertiga makan bersama di meja makan. Rindu yang sudah selesai langsung minta turun, namun aku cegah karena aku belum makan.
"Nanti dulu sayang, ibu makan dulu ya." Ucapku.
"Ya." Ucapnya.
Melihat itu suamiku tersenyum, terima kasih ya ALLAH atas apa yang KAU berikan untuk hamba." Ucapnya penuh rasa syukur.
Selesai makan dan mencuci, aku lalu menghampiri mereka. Nampak Rindu sudah terlelap di pangkuan ayahnya.
"Lho sudah tidur ?" Tanyaku lirih.
"Sudah dari setengah jam tadi." Ucapnya.
Aku lalu beranjak dan membersihkan tempat tidur kami. Lalu keluar lagi, memindahkan Rindu ke kamar.
"Ayo sayang pindah ke kamar." Ucapku.
"Biar aku saja." Ucap suamiku.
"Ya." Jawabku.
Aku pun mengikutinya dari belakang, dan selesai di tidurkan Rindu nampak anteng.
Cup.
__ADS_1
"Mas." Panggilku lirih.
"Hmm." Ucapnya penuh senyuman.