
"Kok dapatnya jauh banget ya ?" Tanya suamiku.
"Memangnya kenapa ?" Tanyaku balik.
"Ya kan di desanya ada banyak, kenapa milih yang jauh ?" Tanya suamiku.
"Kamu sendiri kenapa milih aku, sementara di desa kamu juga banyak." Ucapku balik.
"Karena aku sukanya sama kamu, dan kamu itu takdir dan tulang rusukku." Ucapnya seraya tersenyum.
"Aamiin semoga sampai jannah." Ucapku mengaamiinkan doa.
"Aamiin ya ALLAH ya Rohman ya Rohim." Jawab suamiku.
Setelah perbincangan itu, tak terasa malam pun tiba. Saat ini aku sedang duduk di teras rumah seraya makan rujak dan minum jus apel. Sementara mas Agung, sedang asik kirim email.
Namun tetap, netranya sesekali melirikku dari jendela dekat pintu. Alhamdulillah akhirnya kita bisa keluar lagi ay. Jujur aku enggak tega ninggalin kamu lama di rumah sendiri. Beruntung bos memperbolehkan kamu ikut. Ucapnya seraya tersenyum.
Saat sedang asik makan, tiba-tiba ada seseorang yang menyapaku. Spontan aku langsung menatapnya, dan berjalan mundur perlahan.
"Waalaikumsalam." Ucapku seraya mundur.
"Maaf mbak, boleh kenalan enggak ?" Tanya pria muda itu.
"Maaf mas, saya sudah menikah." Ucapku jujur.
"Ck, enggak apa-apa saya hanya ingin kenal enggak lebih." Ucapnya.
"Mas suamiku ada di dalam, maaf saya permisi dulu." Ucapku seraya beranjak melangkah masuk.
"Ck, ***** aja pakai bilang suami." Ucapnya ketus seraya menarik jilbabku.
Mendengar hal itu,suamiku yang baru selesai buang hajat langsung lari. Dan melepas cengkeraman tangan pria itu dari tanganku.
"Lho mas Agung." Ucapnya dengan terkejut.
Suamiku langsung menyuruhku masuk.
"Masuklah dulu ay, dan hubungi pak Robby." Ucapnya seraya tersenyum ke arahku.
Aku pun menurutinya dan menghubungi pak Robby, sementara dari arah luar suamiku nampak marah atas perbuatan dari sepupunya pak Robby itu.
"Maaf mas, dapat ***** secantik itu darimana ?" Tanya Yudi.
"Aku menikah resmi, tidak menyewa *****." Ucap suamiku tegas.
"Kok aku enggak tahu ?" Tanya Yudi lagi.
...Namun suamiku terdiam, tak berselang lama pak Robby beserta keluarga Yudi datang dan meminta maaf kepada suamiku....
"Pak, kali ini saya maafkan tapi kalau sampai terjadi apa-apa sama istri saya, saya enggak akan pernah tinggal diam. Dan kamu, jangan mentang-mentang anak mampu, kau samakan istriku layaknya pe*acur. Karena aku menikah dengannya, dia masih suci dan masih belia." Ucap suamiku keras.
^^^Mendengar hal itu, orang tua Yudi langsung minta maaf kepada suamiku. Dan langsung menyeret Yudi untuk pulang. Sementara pak Robby juga meminta maaf atas ketidak nyamannya kami. Suamiku menganggukkan kepala, setelah itu barulah pak Robby pamit. Namun saat ingin pamit, dia melihatku keluar dengan mata sembab.^^^
Pantes Yudi terpesona wajahnya biasa saja, namun tidak membosankan dan bercahaya. Mungkin inilah kenapa Agung Cepat-cepat meminangnya. Ucap pak Robby dalam hati.
"Ya sudah saya pamit dulu." Ucapnya.
__ADS_1
"Ya pak." Jawab suamiku.
Sepeninggal mereka aku terduduk lemas di depan pintu. Seraya menangis, apa begini rasanya menikah di usia muda ? Tanyaku dalam hati.
Mendapati aku demikian, suamiku langsung memeluk dan memegang pipiku.
"Ay, kamu kenapa ?" Tanya suamiku.
"Aku takut mas, tanganku juga sakit." Ucapku seraya menangis.
"Ya sudah sini aku obati." Ucapnya seraya membopongku dan mendudukkan aku di kursi.
Lalu suamiku mengambil obat P3k, di nakas dekat meja. Dia mengobati dengan sangat hati-hati.
"Sakit ?" Tanyanya.
"Ya." Ucapku.
"Tahan ya." Ucapnya seraya tersenyum.
"Iya." Ucapku lagi.
Selesai mengobati, suamiku lalu memelukku.
"Maaf, tadi pas kejadian tak menyenangkan aku sedang di toilet." Ucapnya seraya memelukku.
"Iya, harusnya tadi aku tidak berada disana." Ucapku.
"Qoudarollah ay, memang sudah jalan ALLAH." Ucap suamiku.
"Iya mas." Ucapku lirih.
"Ya." Ucapku seraya melangkah ke dapur membuat susu.
...Sementara suamiku mengunci pintu, namun belum sampai tertutup dia melihat gawai orang yang jatuh. Dia lalu mengambil dan ternyata itu gawainya Yudi....
Ck, kenapa harus jatuh sih. Ucapnya lirih.
"Mas." Panggilku.
"Ya ay." Ucapnya seraya tersenyum dan menyembunyikan gawai itu di balik badannya.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Kirain siapa, tahunya kucing." Ucapnya dusta.
"Oh." Ucapku.
"Sudah minum susunya ?" Tanya suamiku.
"Sudah." Ucapku.
Sesampai di kamar, kami pun tidur dengan saling berpelukan. Mendengar suara dengkuran halusku suamiku lega dan cepat-cepat dia membuka gawai milik Yudi.
Memang enggak sopan sih, buka gawai orang lain tanpa sepengetahuan pemilik hp tersebut, namun rasa penasaran suamiku makin menjadi. Dan ia pun akhirnya membuka gawai itu.
Tidak ada hal yang mencurigakan, namun saat membuka galeri suamiku menyebut asma ALLAH dan istighfar. Isinya foto tak tak layak di lihat, dan terakhir nampak fotoku disana.
__ADS_1
Darimana dia dapat foto istriku ? Tanyanya lirih.
Saat masih berfikir, tiba-tiba ada pesan masuk dari Sindi. Ha Sindi ? Tanyanya. Tanpa menunggu lama, suamiku membuka pesan itu.
("Gimana cantik enggak si doi, enak juga kan." Tulis pesan itu seraya memakai emoji ketawa.)
("Hmm." Tulis mas Agung.)
("Kenapa, masih main kuda-kudaan ya ?" Tanya Sindy.)
("Hmm." Tulis pesan suamiku.)
("Biar tahu rasa tu si Agung, itu akibat nolak aku." Tulis pesan Sindi.)
Membaca pesan itu, suamiku lalu mengirim pesan tersebut ke pak Robby. Mendapat pesan dari rekan kerjanya, dia menyuruh suamiku untuk tetap tenang. Biar nanti bawahannya yang bekerja.
Setelah itu, suamiku lalu meletakkan gawainya di nakas dan gawai Yudi di bawah tak lupa juga dia matikan. Barulah dia istirahat.
Tepat jam 10 malam, aku menangis sesenggukan dengan kondisi mata terpejam.
Beruntung suamiku langsung bangun, dan menyadarkan aku.
"Ay, kamu mimpi sayang ?" Tanyanya seraya mengusap air mataku.
"Mas, dia datang lagi." Ucapku penuh ketakutan.
"Shht, tenang ya ada aku di sini." Ucap suamiku seraya memeluk dan menenangkanku.
Tak lama aku tertidur kembali, tidurlah sayang jangan diingat lagi kejadian tadi. Ucap suamiku lirih.
Setelah melihat aku tertidur nyenyak, suamiku lalu menghubungi Sony.
("Malam brow, tumben kamu menghubungi aku ?" Tanya Sony dari seberang.)
("Malam juga bray, maaf mengganggu. Istrimu ada enggak ?" Tanya suamiku.)
("Ada nih, di sampingku. Ada hal apa ini ?" Tanya Sony.)
("Tanya soal kehamilan." Jawab suamiku.)
("Ok." Ucapnya.)
("Halo Gung, ada apa ?" Tanya Lisa istri Sony.)
Suamiku pun menceritakan kejadian tadi ke Lisa, dan setelah tahu Lisa menyarankan agar aku jangan di biarkan sendiri dan ajak komunikasi terus. Jawabnya.
("Intinya perhatian kamu kepadanya harus lebih deh Gung, soalnya trauma itu pasti ada." Jawab Lisa.)
("Ok, makasih ya." Ucap suamiku.)
("Ya." Jawab Lisa.)
Panggilan pun berakhir. Sony yang penasaran akhirnya bertanya kepada istrinya. Dan Lisa pun menjelaskan dengan jujur. Mendengar hal itu sony langsung mengucapkan istighfar.
..."Astagfirullah, luar biasa ujian istrinya Agung. Mulai dari mertuanya, suaminya, tetangga barunya, mertuanya lagi kini sekarang ponakan pak Robby. Padahal umurnya masih muda banget, tapi ujiannya Masyaallah." Ucapnya seraya menggelengkan kepala....
"Iya juga ya, padahal kalau di lihat dia lugu dan enggak neko-neko. Tapi mungkin memang jalan hidupnya harus begitu." Ucap Lisa.
__ADS_1
"Beruntung banget Agung." Ucapnya seraya tersenyum.
"Iya." Jawab Lisa.