Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Akhirnya kami bertiga pun meninggalkan motel, dengan langkah pelan tapi pasti karena membawa barang bawaan yang cukup banyak. Sesampai di mobil, pak Ronal dan suamiku memasukkan barang-barang ke bagasi mobil. Sementara aku menata barang kami di mobil, biar muat dan tetap rapi. Setelah selesai, mereka pun masuk.


"Sudah ?" Tanyaku lembut.


"Sudah sayang." Ucapnya seraya tersenyum.


"Dinikahi lelaki sumeh itu nano-nano ya rasanya." Ucapku seraya tersenyum.


"Kok bisa ?" Tanyanya.


"Bisalah." Ucapku.


"Bisanya darimana ?" Tanya suamiku lembut.


"Ya bisanya dari senyummu. Kalau ketemu cewek lain yang baik, kamu senyumin dia enggak akan baper. Tapi kalau cewek yang baperan bisa salah paham." Ucapku.


Mendengar hal itu mas Agung langsung tersenyum seraya menatapku.


"Jadi kamu cemburu ?" Tanyanya.


"Enggak." Ucapku datar.


"Utu-utu cemburu ya." Ucapnya seraya tersenyum.


"Apaan sih." Ucapku lirih.


...Membuat pak Ronal ikut tersenyum. Hmm, pantes saja kamu begitu istimewa di hatinya. Kamunya juga tulus ikhlas. Ucap pak Ronal lirih....


Hening


^^^Setelah perdebatan tadi, mobil yang kami terasa hening. Namun mata kami bertiga enggan terpejam. Dan tepat sepertiga malam, aku tayamum dan sholat di dalam mobil. Selesai sholat, aku melihat jalanan. Sementara suamiku fokus menatap ke depan.^^^


Saat sedang asik menatap jalanan, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi berhenti mendadak. Spontan kami berdua langsung menatap pak Ronal.


"Ada apa pak ?" Tanya suamiku.


"Astagfirullah, enggak ada apa-apa. Kalian enggak apa-apa kan ?" Tanya pak Ronal dengan muka takut.


"Alhamdulillah enggak apa-apa pak." Jawab kami bersama.


"Ayo, sama-sama berdoa." Ucapnya lirih.


"Baik." Ucap kami.


...Selesai berdoa, pak Ronal langsung menyalakan mesin mobilnya dan jalan. Sementara mas Agung memelukku dan tak henti-hentinya berdoa, begitupun dengan aku....


"Mas." Panggilku lembut.


"Ya." Ucapnya lirih seraya menatapku.


"Lapar." Ucapku lirih.


"Sebentar ya, nanti kalau sudah sampai rumah makan kita makan." Ucapnya lirih seraya mencium pipiku.


Menyadari itu, pak Ronal langsung menutup tirainya lagi. Dan tetap mewanti-wanti kami untuk tetap berdoa. Kami pun mengiyakan.


"Ay." Panggil suamiku.


"Hmm." Ucapku.


"Ngantuk." Ucapnya seraya menutup wajahnya dengan hijabku.


"Tidurlah." Ucapku lirih.

__ADS_1


...Tak lama terdengar suara dengkuran halus mas Agung, dengan perlahan aku membenarkan posisi tidurnya biar lebih enak. Selesai membenarkan, aku memandangi jalanan lagi....


^^^Pikiranku mulai membayangkan kembali pertemuan kami di warung makan, membuatku tersenyum sendiri. Aku yang dulu hampa kini dipertemukan kembali dengan teman kakakku.^^^


"Huam." Suara suamiku menguap membuyarkan lamunanku.


"Sudah bangun ?" Tanyaku dengan suara lembut.


"Sudah." Ucap suamiku seraya beranjak untuk duduk lagi.


"Jam berapa mas ?" Tanyaku.


"Jam 5 ay. Sini tidurlah." Ucapnya seraya menyuruhku untuk tidur di pahanya.


...Aku pun menurut, dan langsung merebahkan kepalaku di kedua pahanya. Dia lalu mengelus lembut kepalaku dan perutku yang masih rata. Tak berselang lama, aku pun tertidur terlelap....


"Pak, masih berapa lama lagi kita sampai di rumah makan ?" Tanya suamiku.


"Bentar lagi mas." Ucapnya.


"Saya titip saja pak, soalnya istri saya sedang tidur." Ucap suamiku.


"Iya mas." Ucapnya.


Tak lama kami pun sampai rumah makan, pak Ronal pun langsung turun dan tak lupa juga memesan sarapan untuk kami.


Di lain tempat, Nia dan Bayu sedang asik menonton film.


"Kak, ke rumah kakakku yuk." Ajaknya.


"Masih perjalanan pulang han." Jawab Bayu.


Cup


Cup


Cup


"Apa kamu mau ?" Tanya Bayu dengan suara lembut.


^^^Membuat Nia, tersenyum seraya beranjak dari tempat duduknya dan menutup pintu. Lalu masuk ke dalam kamar, melihat Nia sudah masuk Bayu hanya menggelengkan kepala dan melihat film lagi.^^^


"Kakak." Panggil Nia.


"Iya hany, aku datang." Ucapnya seraya mematikan tv dan beranjak masuk ke kamar.


Disisi lain, kini aku sudah terbangun. Kami pun akhirnya makan dalam mobil, sementara pak Ronal tetap fokus nyetir mobilnya. Karena beliau tadi sudah makan terlebih dahulu.


"Mas, sudah." Ucapku lirih.


"Ya sudah, ini minum dulu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Makasih." Ucapku.


"Sama-sama." Ucapnya.


...Selesai makan aku menyandarkan di kursi mobil, sementara suamiku sedang memasukkan bekas makanan kami tadi di plastik. Saat tengah asik memandang jalanan, tiba-tiba aku kembali mual. Aku lalu mengambil plastik, namun belum sempat aku ambil mas Agung sudah memelukku. Bagai obat mual, saat sudah dalam pelukannya rasa mual itu sekejap hilang....


"Kenapa ?" Tanya suamiku lembut.


"Kangen." Ucapku dusta.


"Daritadi disini kok kangen sih ?" Tanyanya dengan lirih.

__ADS_1


Aku pun langsung menjelaskan dari awal hingga akhir, mendengar itu mas Agung langsung mengelus lembut perutku.


"Anak pintar." Puji mas Agung.


"Aamiin." Ucapku seraya membalas pelukannya.


Tak berselang lama, kami sudah sampai rumah. Sesampai di halaman, banyak tetangga yang bersiul senang.


"Cie-cie yang baru pulang hanymoon." Ucap tetangga kami.


Mendengar hal itu kami hanya tersenyum dan langsung pamit masuk. Alhamdulillah mereka pun langsung mempersilahkan.


"Mas, aku ke kamar dulu ya. Maaf enggak bisa bantu." Ucapku.


"Iya sayang enggak apa-apa. Tidurlah." Ucapnya seraya mengecup keningku.


Aku pun langsung masuk ke kamar, sementara mas Agung keluar kembali mengambil barang-barang kami yang masih tertinggal di luar. Nampak pak Rt berkunjung.


"Weh, baru sampai mas ?" Tanya pak Rt.


"Iya pak." Ucap suamiku.


...Setelah selesai memasukkan semua barang-barang kami, mas Agung langsung menemui pak Rt. Karena pak Ronal sudah pergi setelah selesai mengeluarkan barang-barang kami....


"Gimana liburannya ?" Tanya pak Rt.


"Alhamdulillah berjalan lancar pak." Ucap suamiku.


"Alhamdulillah. Oh ya mas, kemarin ada yang datang kesini ibu-ibu bawa anak kecil. Katanya pengen tanya soal kreditan." Ucap pak Rt.


"Oh, ibunya pakai kacamata enggak pak ?" Tanya suamiku.


"Iya mas." Ucap pak Rt.


"Itu membingungkan pak, katanya mau ambil pas mau di survei, enggak jadi." Ucap suamiku.


"Oh gitu." Ucapnya.


"Iya." Jawab suamiku.


"Ya sudah jangan ditanggapi lagi, sama satu lagi ada yang datang kesini tiap malam hari. Setiap saya dan warga dekati malah langsung pamit. Jaga baik-baik istrimu." Ucap pak Rt mewanti-wanti.


"Iya pak, makasih sarannya." Ucapnya lirih.


"Ya kamu kan dari kecil sudah hidup di sini, jadi wajar kalau aku memberimu nasehat. Palagi istrimu juga masih muda dan hamil." Ucapnya seraya pamit.


"Iya pak. Makasih." Ucap suamiku lagi.


"Iya." Jawab pak Rt.


Sepeninggal pak Rt, mas Agung langsung masuk dan mengunci pintu rumah lalu menyusulku.


"Mas, lama banget sih." Ucapku.


"Maaf sayang tadi ada pak Rt." Ucapnya.


"Oh." Ucapku seraya memeluknya.


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Enggak apa-apa, cuma pengen saja." Ucapku seraya mencium lehernya.


"Istirahatlah." Ucapnya seraya tersenyum.

__ADS_1


"Iya." Ucapku.


__ADS_2