
"Ini terus langsung aqiqahan gitu Gung ?" Tanya lek Parjo.
"Ya lek, biar sekalian liburnya." Ucap Agung.
"Ya juga ya, ya sudah ayo di sembelih langsung aja." Ucap lek Parjo.
"Ya sudah yuk." Ajak para tetangga.
Selesai menyembelih, mereka langsung memotong daging kambing itu. Lalu mencucinya dan memasaknya. Aku disini bersama ibu sedang mengobrol.
"Yan, anak-anak adik kamu siapa yang jaga ?" Tanya ibuku.
"Ada kok buk, Bayu sedang mencari yang tepat. Tapi untuk saat ini, aku yang merawat mereka." Ucapku lirih.
"Oh gitu." Ucap ibuku.
"Iya bu." Ucapku.
Saat asik bicara, terdengar namaku di panggil. Aku lalu izin keluar. Alhamdulillah ibuku mengizinkan.
"Ya." Ucapku seraya menemui tamu itu.
"Maaf, apa benar di sini rumah ibu Triyani ?" Tanya mas itu.
"Iya pak, dengan saya sendiri. Ada apa ya ?" Tanyaku.
"Gini bu, anda dapat paket dari penggemar rahasia anda." Ucap mas itu.
Mohon tanda tangan dulu bu." Ucapnya.
...Aku lalu menandatangani dan menerima paket itu. Sepeninggal mas kurir, aku tidak langsung masuk. Namun membuka dulu isinya apa, alangkah terkejutnya aku melihat isi paket itu. Berisi perlengkapan bayi dan ucapan selamat untuk kami. ...
"Ada apa ?" Tanya ibuku.
"Ada yang kirim stroler, sama mainan dan ucapan selamat." Ucapku seraya tersenyum.
"Alhamdulillah." Ucap ibuku.
"Wasyukurilah." Ucapku.
Malam pun tiba, kini tiba waktunya pemotongan rambut putri kami.
Aku berjalan di depan, sementara suamiku di belakang seraya menggendong putri kami.
"Masyaallah cantiknya, rambutnya kaya Gung. Ngombak." Ucap para undangan dan sanak saudara.
"Aamiin." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Wih putihnya, kaya kapas." Ucap Bagus.
"Hehe, makasih om." Ucap suamiku seraya tersenyum.
Cup
Cup
Cup
"Pinter ya cantik, jadi anak yang sholehah. Jangan kaya ayahmu galak." Ucap pak Roni seraya menciumi pipinya.
"Aamiin makasih pakdhe." Ucap suamiku seraya tersenyum.
Selesai potong rambut, suamiku menemui mereka semua, sementara aku memangku putriku.
Tak lama Keluargaku saling berebut menggendong putri kami. Dan tepat jam 10 malam, acara pun berakhir.
__ADS_1
^^^Selesai membersihkan rumah dan semua yang kotor, ibuku lalu pamit pulang. Awalnya tidak kami izinkan, mengingat hari sudah malam. Namun karena ada urusan lain, mau tak mau kami pun mengizinkan dan tak lupa takzim serta membawakan aneka makanan. ^^^
Sepeninggal mereka semua, barulah aku istirahat. Tepat jam 1 anakku terbangun, suamiku langsung menggendong putri kami dan membuka bajuku. Karena sedari tadi aku dibangunkan tak bangun-bangun.
Cup sayang. Ucapnya seraya mengeluarkan asi lalu di berikan padanya.
"Mungkin kamu capek." Ucap suamiku seraya melihat putri kami minum dengan cepat.
"Mas." Panggilku.
"Hmm." Jawabnya.
"Makasih, maaf aku capek banget." Ucapku seraya tersenyum.
"Iya sayang. Aku paham kok." Ucap suamiku seraya tersenyum.
Paginya, pekerjaan rumah sudah selesai, kini tinggal memandikan putri kami.
Hari berganti hari. Kini usia si kembar sudah 8 bulan, dan anak kami 6 bulan. Mereka nampak aktif, terkadang lucu, kadang juga nangis terus seharian. Namun itulah anak-anak.
Seperti saat ini, si kembar merangkak ke sana kemari sedangkan Rindu diam menonton kartun. Sementara aku sedang menutup pintu kamar mandi. Selesai itu, aku lalu mencari Bagas.
Lho, Bagas mana ? Tanyaku lirih.
Mamam. Teriak Bagas yang sudah ada di luar.
Ya ALLAH ya Qarim, aduh kamu kok disini sih sayang. Ucapku seraya menggendong Bagas. Tanpa ku tahu, Bayu, suamiku dan yang menatap kami.
"Papapa." Panggil Bagas, yang tahu ayahnya menatap dirinya.
"Papa kerja sayang, yuk masuk." Ajakku lalu menggendongnya.
"Bay, apa enggak sebaiknya kamu cari baby sister saja ?" Tanya Sony.
"Belum nemu yang pas." Ucap Bayu Jujur.
"Ya, apalagi sekarang sudah ada Rindu." Ucap Bayu.
"Tenang saja, tunggu mereka besar." Ucap suamiku.
"Tapi kan kasihan istrimu." Ucap Bayu.
"Aku semalam sudah berunding, kami mau cari Art. Soal anak-anakmu tetap yang urus istriku." Ucap suamiku.
"Yang benar kamu ?" Tanya Bayu.
"Insyaa ALLAH." Ucap suamiku.
Siangnya mereka pulang, aku sudah menyiapkan mereka makan siang. Sementara aku dan mereka bertiga, tertidur pulas di dekat tv.
"Assalamualaikum." Salam mereka.
"Shht." Ucap Bayu tiba-tiba.
"Kenapa ?" Tanya suamiku.
"Mereka tidur." Ucapnya seraya tersenyum.
Begitupun dengan suamiku dia juga tersenyum menatap kami semua terlelap.
Mereka pun langsung ke meja makan, selesai makan mereka langsung mencuci dan membersihkan tempat meja makan. Lalu istirahat sejenak.
Tak lama Rindu bangun, aku lalu memberikan asi. Tak lama dia tidur lagi. Sementara aku langsung bangun, dan makan. Selesai makan aku lalu keluar, membersihkan halaman. Namun baru sampai di luar pintu, aku sudah dilarang oleh suamiku.
"Kemana ?" Tanya suamiku.
__ADS_1
"Keluar, mau membersihkan teras." Ucapku.
"Enggak usah,biar aku saja." Ucapku lirih.
"Ya sudah." Ucapku seraya duduk.
Bayu yang melihat itu hanya tersenyum. Jadi kangen kamu Hanny. Ucapnya.
"Bay, susu si kembar mau habis, diapresnya pun juga." Ucapku lirih.
"Oh ya, aku belikan sekarang saja." Ucapnya seraya berlalu.
Sepeninggal Bayu, suamiku lalu menciumku. Aku hanya diam, suamiku lalu pindah ke bawah, membuatku sedikit mend**ah.
"Sisain buat Rindu mas." Ucapku lirih.
"Hmm." Jawabnya seraya menatapku.
Tepat jam 1, barulah suamiku melepaskan dan pamit kerja. Aku pun mengizinkan dan takzim.
Tak lama Bayu juga datang, dan memberiku susu dan diapres untuk kedua putranya.
"Makasih." Ucapku lirih.
"Ya, kalau habis jangan lupa bilang." Ucap Bayu.
"Ya." Ucapku.
Sayup-sayup terdengar suara teriakan Bagas, membuat kami langsung berlari.
"Anak ayah sudah bangun ya ?" Tanya Bayu seraya tersenyum.
Dan dia pun tertawa lalu minta gendong Bayu. Begitupun dengan Rindu, Rindu juga minta gendong aku. Sementara Bara, masih tidur nyenyak.
"Ri, aku bawa dulu ya. Nanti aku kembali lagi." Ucapnya seraya menggendong Bagas.
"Jangan Bay, firasatku enggak enak. Biarkan dia bersamaku." Ucapku lirih.
"Cuma bentar." Ucap Bayu.
"Bay." Ucapku seraya menatap netranya.
"Baiklah." Ucap Bayu seraya menyerahkan Bagas kepadaku.
"Ck, bukan ibunya tapi sok ngatur." Ucap Bayu lirih, namun masih bisa ku dengar.
"Aku memang bukan ibunya Bay, tapi setidaknya aku mencegah hal buruk yang akan terjadi. Ingat Bayu naluri istri dan ibu tak pernah salah." Ucapku seraya menutup pintu.
...Setelah pintu ditutup, Bayu lalu menyebrang jalan dan tepat saat itu ada truk yang remnya blong. Beruntung Bayu bisa selamat, walaupun harus terluka lecet di lengannya. ...
"Akh, sial." Ucapnya.
"Kenapa Bay ?" Tanya suamiku.
"Di srempet truk." Ucapnya seraya mengobati luka di lengannya.
"Kok bisa ?" Tanya suamiku.
"Remnya blong." Ucap Bayu lirih dan mengingat ucapanku tadi.
"Oh." Ucap suamiku.
Masyaallah ternyata ini firasat Riri, pantas dia mencegahku. Ya ALLAH maafin hamba. Sudah sudzon dengan kakak ipar." Ucapnya dalam hati.
Sementara aku di rumah, sedang ngupasin buah untuk mereka. Selesai itu aku memberi si kembar buah apel. Sementara Rindu, aku buatin jus.
__ADS_1
"Alhamdulillah habis ya." Ucapku pada mereka.
Tepat jam 3.30, aku memandikan mereka bertiga. Selesai mandi, aku bawa mereka jalan-jalan sore.