Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Mencoba


__ADS_3

Suamiku menatapku dengan tatapan mata penuh selidik. Aku lalu menjelaskan.


"Maaf tadi temanku mengira, Nia masih ada. Makanya dia memilih pergi." Ucapku.


Bayu hanya menghembuskan nafas pelan dan menatap Tari dengan intens. Jujur sih aku pengen menolak, karena wanita ini tidak seperti Riri. Namun setelah aku selidiki, tidak ada salahnya di coba. Tapi kalau untuk menjaga anak-anakku, aku masih ragu. Ucapnya dalam hati.


Hmm Triani ini sebenarnya baik sih, cuma kenapa harus aku yang dijodohkan dengan Bayu. Yang playboy gini, apalagi sekarang sudah punya anak. Kembar lagi, mana mereka gendut-gendut banget lagi. Ucap Tari dalam hati.


"Ehem. Kok diem semua sih ?" Tanya suamiku. Membuyarkan lamunan mereka.


"Maaf, aku bingung mau ngomong apa." Ucap Bayu.


Baru mau ngomong, Rindu minta minum asi. Aku langsung memberinya asi. Sementara suamiku menatapku lalu izin ke toilet sebentar.


Sepeninggal suamiku mereka masih terdiam.


"Tar, Wulan sudah pulang ?" Tanyaku.


"Sudah kemarin Tri, dia sedang hamil tua." Ucap Tari.


"Wah yang benar kamu ?" Tanyaku.


"Iya." Jawab Tari.


"Agung Hari juga kemarin baru lamaran Tri." Ucap Tari seraya tersenyum.


"Wah jarang kesana, enggak tahunya sudah pada lamaran dan nikah lalu hamil ya." Ucapku.


"Iya Tri, tinggal aku saja yang masih sendiri." Ucapnya.


"Masih ada lagi." Ucapku seraya tersenyum.


"Siapa ?" Tanya Tari.


"Ada yang belum halal, tapi pacaran." Ucapku.


"Betul juga ya." Ucapnya seraya tersenyum.


...Bayu yang sedari tadi sibuk dengan si kembar hanya menyimak. Sementara suamiku, nampak baru keluar dari keluar dari toilet. Dan tanpa sengaja melihat Sindi dan Ningrum disana, bersama om-om. Astagfirullah. Ucapnya seraya beranjak pergi....


"Agung lama juga ya ke toilet nya." Ucap Bayu.


"Bentar lagi pasti sampai kok." Ucapku seraya tersenyum.


Dan benar saja, tak lama dia datang dengan tergesa-gesa seperti ada yang mengejar.


"Kenapa ?" Tanya kami bertiga. Yang nampak keheranan melihat dia berlari.


"Enggak apa-apa." Ucapnya seraya minum dan menatapku lalu menggenggam tanganku.


Spontan aku langsung menatapnya dan tersenyum.


"Kalian aku tinggal dulu ya, si kembar biar aku bawa." Ucapku seraya menggendong Rindu dan Bara. Sementara suamiku menggendong Bagas.

__ADS_1


"Tapi Ri." Ucap Bayu.


"Sudah enggak apa-apa." Ucapku seraya tersenyum.


Sepeninggal kami berlima, Kini mereka berdua saling berbicara.


"Apa kabar ?" Tanya Bayu.


"Alhamdulillah baik." Ucap Tari.


"Syukurlah." Ucap Bayu seraya tersenyum.


"Jalan yuk." Ajaknya.


"Ya." Ucap Tari.


"Oya kata Riri kamu lagi enggak kerja ya ?" Tanya Bayu.


"Iya, baru cari saja." Ucap Tari yang nampak cuek.


"Oh." Ucapnya lirih.


Duh, ini cewek cuek banget. Persis banget sama Riri. Aku harus tanya apalagi ya. Bingung sendiri akunya.


"Nama lengkap kamu siapa ?" Tanya Bayu.


"Tariyanti." Ucapnya seraya tersenyum.


"Hmm, mudah diingat ya." Ucapnya.


"Ya, kalau kamu nikah nanti calon suami kamu, mudah mengingatnya." Ucap Bayu seraya tertawa.


"Bisa aja kamu." Ucap Tari seraya tertawa.


Melihat itu, Bayu nampak tertegun dan terpesona. Cantik, berlesung pipi juga tapi sayang cuek banget. Ucapnya lirih.


Disini aku dan yang lain sudah sampai di rumah. Sementara si kembar dan Rindu sudah tidur. Mungkin efek kecapean, mereka semua tertidur lelap. Aku dan suamiku keluar kamar dengan pelan-pelan.


"Besok aku libur ay." Ucap suamiku lirih.


"Ya kah ?" Tanyaku lembut seraya menaruh tanganku di lehernya.


"Iya." Jawab suamiku seraya tersenyum.


"Alhamdulillah bisa kumpul bersama dong." Ucapku lirih.


"Alhamdulillah wasyukurilah." Ucap suamiku lirih.


Kami pun menunggu Bayu datang sambil nonton tv. Tak lama si kembar menangis kencang, aku dan suamiku langsung menggendong mereka. Dan memberinya susu. Tak lama mereka tertidur lagi. Tak ingin mengganggu tidurnya Rindu, kami pun menidurkan si kembar di depan tv. Suamiku memeluk Bara, sedangkan aku memeluk Bagas.


Tak terasa kami tertidur pulas di depan tv. Hingga tepat jam 11 malam, Bayu baru pulang.


Tok..Tok..Tok..

__ADS_1


Sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu, suamiku langsung bangun dan menjawab.


"Iya sebentar." Ucap suamiku.


Setelah terbuka, Bayu langsung mencari si kembar dan membawa mereka pulang. Suamiku mengiyakan dan menunggu Bayu keluar rumah. Dia duduk di kursi sofa.


...Bayu melihat Bara dan Bagas dengan tersenyum lebar. Anak-anakku pinter banget sih kamu nak. Ucapnya lalu menggendong Bara dan memindahkan ke strolernya. Dan kini giliran Bagas, agak susah sih karena posisiku yang memeluk Bagas begitupun sebaliknya. ...


Duh gimana nih, bismillah semoga mereka enggak bangun. Ucapnya lirih. Saat ingin diangkat, tak sengaja tangan Bayu menyenggol area sensitifku. Beruntung aku masih terlelap.


Riri, astagfirullah maaf Ri, aku enggak sengaja. Ucap Bayu dalam hati. Duh Bagas tumben banget sih malah tambah nempel tubuh budenya. Minta tolong Agung, dia tidur. Coba lagi saja deh. Bismillah. Ucapnya seraya menggendong tubuh Bagas dan menaruhnya di stroler. Setelah berhasil, Bayu langsung beranjak namun naas, tubuhnya oleng tepat mengenai tubuhku. Beruntung dia dengan cepat menutup mulutnya, kalau tidak bisa perang dunia.


Alhamdulillah. Ucapnya lalu dengan langkah buru-buru keluar rumah Agung.


"Gung, kunci pintunya." Ucap Bayu lalu berlalu.


"Ok." Ucap suamiku seraya mengunci pintu. Barulah dia membawaku masuk ke kamar. Dan tidur bersama putri kami.


Tepat jam 12 malam, Rindu bangun sendiri dan cari asinya sendiri lalu meminumnya.


Anak ayah pintar, cari asinya sendiri. Ucap suamiku seraya tersenyum.


Setelah tertidur, suamiku lalu memelukku dan kembali tertidur. Sementara Bayu masih merutuki kebodohannya.


Namun tak lama dia tersenyum, mengingat Jalan-jalannya tadi bersama Tari. Semoga kita berjodoh. Ucap Bayu seraya tersenyum.


Tari yang juga belum tidur, masih memikirkan sesuatu. Enggak, aku enggak boleh senang dulu. Bisa saja dia hanya butuh pengasuh untuk anak-anaknya. Ucapnya lirih.


Dan di tempat lain, Rudi dan Risa nampak belum tidur. Karena tiba-tiba perut Risa merasakan sakit luar biasa. Padahal usia kandungannya baru 6 bulan.


"Sakit banget." Ucap Risa.


"Sabar sayang." Ucap Rudi.


Tak lama sang bidan datang dan memeriksa kondisi mereka.


"Rudi, maaf sepertinya istrimu harus di operasi." Ucap Bu Bidan.


"Ya bu." Ucap Rudi.


Dia lalu mengabari seluruh anggota keluarganya. Suamiku yang mendapat kabar itu, langsung membangunkan aku dan mengajakku ke RS. Sementara Rindu, aku titipkan ke simbok.


Sesampai di RS, nampak mereka yang menunggu dan berdoa semoga bisa selamat semuanya.


"Maaf ya ndok, malam-malam gini ganggu istirahat kamu sama suamimu." Ucapnya.


"Ya lek enggak apa-apa." Ucapku lirih seraya tersenyum.


Sementara suamiku menatapku dan tersenyum. Jujur lihat kamu tersenyum aku senang. Ucapnya lirih.


Tak lama dokter keluar.


"Gimana dok ?" Tanyaku.

__ADS_1


Dokter itu tersenyum menatapku dan menjawab.


"Alhamdulillah semuanya baik. Dan Bayinya berjenis kelamin perempuan. Jawab dokter itu. Seraya menatapku.


__ADS_2