Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Ziarah Bersama


__ADS_3

...Paginya aku terbangun, lalu menatap suamiku. Setelah itu aku lalu beranjak keluar kamar. Lha, ini kan rumah bulek. Ucapku lirih seraya melihat sekeliling kali saja ada mukena....


^^^Alhamdulillah ada. Ucapku seraya ke dapur ambil air wudhu. Selesai semua, aku lalu membersihkan semua rumah bulek. Tepat azan subuh semuanya selesai.^^^


Alhamdulillah. Ucapku lirih seraya bergegas membangunkan suamiku.


"Mas." Panggilku lembut.


"Hmm." Jawabnya.


"Bangun." Ucapku.


"Tumben bau asem." Ucap suamiku.


"Enggak bawa baju." Ucapku.


"Ya sudah, kita ziarah dulu ya." Ucapnya.


"Ya." Ucapku.


Lho, Gung istri kamu yang bersihin ini ?" Tanya bulek.


"Ya lek, maaf ya dia enggak bisa diam." Ucapnya.


"Walah, pantes kamu terkesan buru-buru, dia saja rajin banget." Ucapnya seraya tertawa.


"Aamiin." Ucap suamiku seraya tersenyum.


"Bulek kami sekalian pamit." Ucapnya.


"Oh ya, hati-hati ya. Makasih juga lho dah mau bantuin dan direpotin." Ucap Bulek.


"Iya bulek sama-sama." Ucap kami bersama.


...Saat di perjalanan, aku merasa enggak pede dengan aroma tubuhku, Suamiku yang melihat itu pun langsung mempercepat laju kendaraan. Sampai di makam, kami lalu mendoakan bapak. Selesai itu kami pun langsung pulang....


Tak lama kami pun sampai di rumah, aku lalu mandi. Selesai mandi, aku lalu berhias dan menyiapkan sarapan pagi untuk suamiku.


Tak lama suamiku datang, aku pun langsung memberinya teh hangat dan roti.


"Makasih ay." Ucapnya.


"Ya." Ucapku seraya tersenyum.


"Ay, tolong ambilkan laptopku." Ucapnya lirih.


"Ya mas." Ucapku.


"Ini." Ucapku.


"Makasih." Ucap suamiku.


"Sama-sama." Ucapku.


Aku hanya menatapnya, tanpa berniat mengganggu sama sekali. Tanpa ku sadari, suamiku melirikku dan tersenyum.


"Enak banget kerja di tunggu istri, berasa tambah semangat." Ucap suamiku.


"Aamiin." Ucapku seraya tersenyum.


"Mas, bumbu dapur dan sayuran di kulkas habis. Beli dulu yuk." Ajakku.


"Ya sudah ayo." Ucapnya seraya tersenyum.


^^^Kami pun pergi ke pasar, sesampai di sana aku lalu membeli bumbu dapur dan sayuran. Tak lupa juga buah, ikan, ayam, tahu dan tempe. Selesai membeli dan membayar, kini aku membeli bahan roti barulah kami pulang.^^^


"Sudah ?" Tanya suamiku.


"Sudah." Ucapku seraya melihat jam tangan.


"Sesampai di parkiran, aku lalu membayar uang parkir. Tak butuh lama kami kini sudah sampai di rumah.


"Mas, taruh di sini saja. Kamu nanti keburu terlambat." Ucapku.


"Ya." Ucap suamiku seraya tersenyum dan menghampiri aku.


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Jangan capek-capek." Ucap suamiku.


"Iya mas." Ucapku.


"Ay, nanti aku pulang agak terlambat. Ada kerja tambahan." Ucap suamiku.


"Ya mas." Ucapku seraya tersenyum.


"Ya sudah aku siap-siap dulu ya." Ucapnya.


"Ya." Ucapku seraya tersenyum.


Sepeninggal suamiku aku lalu bergegas membereskan belanjaan. Suamiku yang baru selesai pun terkejut. Masyaallah enggak sampai 10 menit, mejanya terlihat rapi. Ucap suamiku.


"Ay, masak apa ?" Tanya suamiku.


"Masak tempe, sop, usus krispi, sama sambal bawang." Ucapku.


"Sudah ?" Tanya suamiku.


"Belum." Ucapku.


"Lapar ay." Ucap suamiku.


"Bentar mas." Ucapku.


"Ya." Ucapnya.


10 menit, masakan sudah tersaji. Aku lalu menghidangkannya.


"Ini mas." Ucapku seraya tersenyum.


"Ay." Panggil suamiku.


Aku lalu mematikan kompor dan mendekatinya.


"Ya mas." Ucapku.


"Sini." Ucapnya.


Aku lalu mendekatinya, diapun lalu memangku aku.

__ADS_1


"Tunggu aku sampai selesai." Ucap suamiku.


"Iya." Ucapku seraya meletakkan tanganku di lehernya.


"Ay, apa uang bulananku kurang ?" Tanya suamiku.


"Untuk saat ini alhamdulillah masih cukup mas." Ucapku lirih.


"Terus kenapa kamu jualan tanpa seizinku ?" Tanya suamiku lembut.


Deg..


"Aku enggak jualan mas." Ucapku jujur seraya menatap netranya.


"Yakin ?" Tanya suamiku.


"Insyaa ALLAH." Ucapku.


Dia pun mengeluarkan gawainya, dan memperlihatkan kepadaku.


"Mas,sejak di posting Nia aku sudah jawab. Aku belum diizinkan suamiku." Ucapku jujur.


"Pintar." Ucapnya seraya menatapku.


..."Aku enggak mau kamu kecapekan, karena kandungan kamu jauh lebih penting. Biar aku saja yang kerja." Ucap suamiku seraya mencium bibirku lama....


"Iya." Ucapku seraya tersenyum setelah ciuman itu selesai.


"Dah jam 7 lewat mas, bentar lagi masuk kantor." Ucapku lirih.


"Iya." Ucapnya.


Dia pun lalu pamit, aku mengiyakan dan takzim.


Sepeninggal suamiku, aku lalu melanjutkan masak dan bikin roti juga putri salju.


Alhamdulillah selesai." Ucapku seraya tersenyum.


Barulah aku membersihkan rumah dan mencuci baju. Selesai itu, aku duduk di kursi depan jendela.


Dia lagi apa ya ? Tanyaku lirih.


Di kantor Agung nampak serius bekerja, dia mengecek data peminjam dan yang menabung. Tanpa dia tahu, Pak Roni menatap wajah Agung.


"Semangat banget kamu ?" Tanya pak Roni.


"Ya pak, buat istri bahagia." Ucapnya seraya tersenyum.


"Aamiin." Jawab pak Roni.


Malam pun tiba, aku yang bosan lalu menunggu suamiku di ruang tamu. Ck, tumben lama banget ya sayang, sabar ya sayang. Ucapku lirih.


Tak lama terdengar pintu di ketuk. Aku melihat dari jendela dulu, setelah itu barulah aku membuka kunci pintu.


"Assalamualaikum." Salam suamiku.


^^^"Waalaikumsalam." Ucapku seraya takzim.^^^


Suamiku lalu masuk ke dalam, dia berhenti di depan ruang tamu seraya mengambil putri salju buatanku.


"Enak." Ucapnya lirih.


"Alhamdulillah. Mas, ih jorok enggak cuci tangan dulu." Ucapku kesel.


"Maaf." Ucapku.


"Iya." Ucapnya.


"Ay, aku mandi dulu ya." Ucapnya.


"Ya." Ucapku.


"Selesai mandi, aku menyiapkan makan malam dan minuman teh hangat. Makan dulu mas." Ucapku seraya tersenyum.


"Iya." Ucapnya.


Selesai makan dan membersihkan meja dan mencuci piring, kami duduk di depan tv.


"Mas, tadi ada yang kirim sms ke aku." Ucapku.


"Wulan ?" Tanya suamiku.


"Bukan." Ucapku seraya menyerahkan gawaiku kepadanya.


Dia pun lalu membuka dan membacanya, lalu menatapku.


"Aku enggak buat kaya gitu ay." Ucapnya seraya berkaca-kaca.


"Kalau kamu enggak percaya, kamu lihat gawaiku." Ucapnya lagi.


Aku menatap netranya dan tak lama aku memeluknya.


"Aku percaya sama ALLAH." Ucapku seraya beranjak melangkah masuk ke dalam kamar.


Melihatku demikian dia lalu terdiam dan langsung menyusulku.


"Ay." Panggil suamiku.


...Aku hanya terdiam dan pura-pura tidur. Aku tahu kamu pura-pura tidur, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku di luar rumah selalu menjaga jarak dengan siapa pun. Kalau kamu enggak percaya ya sudah, yang penting aku sudah usaha dan membuktikan ke kamu. Ucapnya seraya melerai pelukannya dan tidur....


^^^Mendengar hal itu, aku masih terdiam. Satu jam berlalu, aku masih terjaga. Aku lalu melangkah keluar kamar untuk wudhu dan sholat. Tanpa ku tahu suamiku mengikutiku dari arah belakang dan menungguku sampai selesai sholat. ^^^


Saat ingin keluar, aku terkejut dia ada di depanku.


"Mas, belum tidur ?" Tanyaku.


"Belum." Ucapnya.


"Kenapa ?"Tanyaku.


"Takut kamu pergi." Ucapnya lirih seraya menatapku.


"Aku enggak bisa tidur mas, maaf sudah mengganggu istirahat kamu." Ucapku lirih.


"Aku daritadi juga belum tidur ay." Ucapnya.


"Ya sudah yuk tidur." Ajakku.


Dia hanya diam di tempat, lalu aku menarik tangannya.

__ADS_1


"Ada apa ?" Tanyaku lembut.


"Capek." Ucapnya.


"Aku enggak kuat, kalau gendong kamu." Ucapku seraya tersenyum.


"Ck, siapa juga yang minta gendong." Ucapnya.


"Terus ?" Tanyaku.


"Aku capek kerja, kamu malah marah." Ucapnya seraya menatapku.


"Aku enggak marah, cuma heran saja." Ucapku.


"Heran kenapa ?" Tanya suamiku.


"Heran saja, laki-laki enggak bisa hargai pasangan." Ucapku seraya beranjak dan melepas genggaman tangannya.


"Aku mau tidur dulu." Ucapku lirih.


"Ya." Ucapnya seraya memandang aku.


Sepeninggal aku, suamiku tidur di kamar dekat tv. Namun lagi-lagi tetap terjaga. Sementara aku langsung terlelap. Hingga tepat sepertiga malam aku terbangun, rupanya suamiku tidak ada.


Hmm, astagfirullah kuat ya sayang. Ucapku lirih.


...Aku lalu bangun dan berwudhu lalu sholat. Selesai sholat dan mengaji aku lalu beraktivitas seperti biasa. Selesai itu, aku lalu memasak dan tak lupa sarapan. ...


Tak lupa juga aku menyiapkan minuman hangat dan sarapan untuknya. Barulah aku mencuci piring dan gelasku.


^^^Aku lalu melanjutkan mencuci pakaian kami lalu menjemurnya. Selesai itu aku lalu masuk kembali. Dan tak lama suamiku keluar, dengan mata yang sembab. ^^^


"Mas, sarapan kamu sudah aku siapkan dan baju kamu sudah aku siapkan juga." Ucapku seraya tersenyum dan berlalu.


Dia lalu menarik pinggangku pelan dan berkata.


"Aku mohon jangan siksa aku." Ucapnya lirih.


"Siapa yang nyiksa kamu ?" Tanyaku lembut.


"Kamu beda dari biasanya." Ucapnya lirih.


"Aku beda juga karena kamu." Ucapku lirih seraya melepas pelukannya.


"Aku sudah jujur ay." Ucapnya.


...Aku hanya terdiam, dia lalu mengajakku ke kantor. Dan memperlihatkan rekaman cctv, beruntungnya kemarin dia enggak pergi. Selesai melihat cctv itu, aku lalu terdiam dan langsung pamit pulang....


"Sekarang kamu percayakan ?" Tanya suamiku.


"Insyaa ALLAH." Ucapku.


Aku lalu keluar dari kantornya dan dia pun menyusulku. Sesampai di rumah, kami masih terdiam.


"Aku izin keluar." Ucapku.


"Iya." Ucapnya.


Sepeninggal aku, suamiku bergumam sendiri. Sampai kapan kamu begini ? tanyanya lirih.


Tepat jam 7, suamiku pamit mau berangkat. Aku pun mengiyakan dan takzim kepadanya.


"Semangat ya mas." Ucapku seraya tersenyum dan mengecup pipinya.


Mendapati aku demikian, suamiku langsung memeluk dan mencium pipiku.


"Ya sayang." Ucap suamiku seraya tersenyum.


Sepeninggal suamiku, aku lalu masuk ke dalam. Duh ngapain lagi ya ? tanyaku lirih.


Mending bersih-bersih kamar. Ucapku.


Selesai bersih-bersih, aku lalu makan buah dan setengah jam kemudian aku makan. Lalu minum obat.


Tak lama aku tertidur di kursi sofa ruang tamu.


Tepat makan siang, suamiku pulang bersama Bayu.


"Assalamualaikum." Salam mereka.


Karna enggak ada jawaban, Bayu pun melihat di jendela.


"Pantas enggak di jawab, istrimu tidur." Ucapnya.


"Tumben ?" Tanya suamiku seraya melihat dari kaca jendela.


Melihatku demikian dia lalu mencoba membuka pintu, alhamdulillah enggak dikunci. Ucapnya lirih, namun masih bisa di dengar Bayu.


"Memangnya biasanya dikunci ?" Tanya Bayu.


"Iya." Jawab suamiku.


Dia lalu memindahkan aku ke kamar, cantiknya istriku. Ucapnya lirih seraya mencium bibirku lama.


^^^Sial baru gini saja, sudah pusing. Ucapnya seraya melepas semua atribut kami dan melakukan ritual. 20 menit berlalu, suamiku lalu menutupi tubuhku dengan selimut. Sementara dia langsung memakai baju kantornya lagi. Dan keluar kamar. ^^^


"Ngapain ja kamu ?" Tanya Bayu yang sudah selesai makan.


"Biasa, ketemu debay." Ucap suamiku seraya tersenyum.


"Haha,enak juga ya." Ucap Bayu seraya tertawa kecil dan pamit.


"Ya, hati-hati." Ucap suamiku.


...Sepeninggal Bayu, suamiku tersenyum sendiri. Lalu ambil makan sendiri, selesai makan dia kembali kerja lagi. Sementara aku di sini masih terlelap, mungkin efek begadang semalam. ...


Sore pun tiba, suamiku langsung pulang. Masih tidur ? Tanyanya lirih.


Dia lalu mandi dan berwudhu lalu sholat. Selesai itu, dia membangunkan aku.


"Ay, bangun sayang." Ucapnya seraya tersenyum.


"Hmm." Ucapku seraya mengerjabkan mataku.


"Bangun." Ucapnya.


"Jam berapa ?" Tanyaku.


"4.15 sore sayang." Ucap suamiku seraya menatapku.

__ADS_1


"Astagfirullah selama itu." Ucapku.


"Iya." Ucapnya.


__ADS_2