
"Apa ay ?" Tanya suamiku.
"Aku enggak nglarang kamu berhubungan dengan siapapun itu, tapi kalau nanti di tengah-tengah kita di uji lagi aku harap kamu enggak lari kepada salah satu diantara mereka." Ucapku lirih.
"Insyaa ALLAH, aku akan menjaga hatiku dan syahwatku. Karena kini sudah ada Rindu, aku enggak mau jika apa yang ku perbuat sekarang akan mengusik di kehidupan Rindu." Jawab Mas Agung.
"Aamiin. Oh ya, aku juga minta jangan balas inboxnya dia dan jangan pernah angkat telfon darinya." Ucapku.
"Siap istriku." Ucapnya seraya tersenyum.
"Ya sudah lebih baik kita tidur dulu, besok kamu kerjakan ?" Tanyaku.
"Ya." Ucapnya.
"Ay, aku mau cerita dulu." Ucap Suamiku lagi.
"Apa ?" Tanyaku lirih.
"Ada anak konsumen aku yang suka sama aku, tapi aku jawab aku sudah punya istri dan anak maaf. Eh dianya jawab lagi mau di jadikan kedua."Ucapnya yang langsung melirik ke arahku.
"Kalau kamu suka ya silahkan, tapi kembalikan lagi aku ke orang tuaku. Aku enggak mau." Ucapku kesal.
"Jangan gitu dong sayang, lagian aku juga enggak mau kehilangan kamu. Kita akan menua bersama-sama." Ucapnya.
"Ya daripada nanti di belakang mendua, kan lebih gitu. Lagian kamu juga tampan, kulit putih, tinggi dan punya rumah sendiri. Siapa yang enggak bakal terpesona, apalagi model om-om kaya kamu. Pasti banyaklah yang antri." Ucapku panjang lebar.
"Hmm, sudah dong sayang. Lagipula aku kan sudah menjadi suami kamu, dan selamanya kita tetap bersama, menua bersama dan meninggal bersama." Ucapnya dengan menatapku.
"Gombal, masa iya meninggal bersama." Ucapku.
"Enggak, aku serius. Karena jujur saat ijab qobul, aku ingin hidup semati sama kamu. Dan jika aku dulu yang tiada, maka aku akan meminta ALLAH untuk menjemputmu, begitu pun sebaliknya." Ucapnya.
"Aamiin. Udah ah mending tidur aku capek." Ucapku yang langsung mendekati di dekat Rindu tidur.
"Iya, aku juga capek." Ucapnya lalu memeluk aku.
Tak lama kami tertidur dan tepat jam 10 malam Rindu terjaga, tapi dia tidak menangis. Senyumnya mengembang kala melihat kedua orang tuanya tidur saling berpelukan.
Di rumah Bayu, kini mereka juga sama-sama terlelap. Si kembar nampak nyenyak tidur di sebelah papanya. Namun tidurnya Bayu harus terusik, karena tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk.
__ADS_1
...Siapa sih malam-malam gangguan tidur saja, enggak tahu apa seharian sudah capek. Ucapnya kesal, namun masih mau bangun dan melihat dari jendela dulu siapa yang datang....
Masyaallah aku lagi enggak mimpikan ? Tanyanya lirih lalu mencubit tangan dia sendiri.Dan tak lama dia teriak kesakitan, bener ini nyata. Tapi tunggu dulu, kenapa Nike datang ke sini ? Tanyanya seraya melangkah ke pintu dan membukanya.
"Assalamualaikum, maaf ya ganggu tidur kamu. Aku terpaksa ganggu kamu, soalnya mobilku tiba-tiba saja mogok." Ucapnya.
"Ya, mana mobilmu ?" Tanya Bayu datar.
"Itu." Ucapnya yang langsung menunjuk ke arah mobilnya yang mogok.
"Oh, bentar aku telfon montir langganan aku. Semoga saja masih terjaga." Ucap Bayu.
"Iya, btw makasih ya dah mau bantu." Ucap Nike.
"Ya." Ucapnya datar.
Bayu lalu menghubungi montir langganannya, selesai menghubungi Bayu menghampiri Nike.
"Tunggu bentar, bentar lagi teman aku sampai." Ucap Bayu.
"Iya." Ucap Nike.
Hmm, cantik dan juga pandai. Apa iya aku bisa mendapatkan dia ? Aku yang hanya pegawai biasa dengan dia yang memiliki segalanya ? Ucap dan Tanyanya.
Ditengah pikiran mereka masing-masing, sang montir yang di tunggu pun sudah datang.
"Salom brow, sori ya gue telat. Macet tadi." Ucap temen Bayu.
"Ya." Jawabnya langsung menarik tangan sahabatnya itu mendekati mobil Nike.
Saat Bayu tengah menolong Nike, berbeda dengan Rindu. Rindu kini mengganggu tidur ayahnya. Dia memasukkan jari mungilnya ke lubang hidung ayahnya. Membuat Rindu geli, namun berbeda dengan ayahnya. Ayahnya nampak terkejut dan mengibaskan tangan mungil Rindu dengan kasar. Membuat Rindu beringsut ketakutan, lalu turun dan diam di sampingku.
Untungnya mas Agung langsung terjaga dan mendekati Rindu.
"Sayang, maafin ayah ya nak, ayah enggak tahu kalau itu Rindu." Ucap Agung dengan lembut lalu memeluknya.
Alhamdulillah Rindu pun membalas pelukannya, hingga tanpa terasa Rindu Terlelap di pelukan ayahnya. Rindu lalu di tidurkan kembali,selesai menidurkan Agung kembali ke tempatnya. Baru mau memejamkan mata, gawainya bergetar.
Dia lagi, mau apa sih. Ucapnya kesal lalu mematikan gawainya dan kembali tidur.
__ADS_1
Di seberang sana, nampak perempuan itu mencela tanpa henti. Karena di tolak terus sama Agung. Apa sih kurangnya aku Gung ? Tanyanya di depan kaca, sedetik kemudian dia angkat kursi rias untuk memecahkan cermin di meja rias.
Pyar
Glodak
Aakh... gadis itu teriak histeris, kamar yang tadinya rapi kini hancur berantakan. Membuat orang yang di satu atap dengannya lari tunggang langgang, dan masuk ke dalam gadis itu.
"Lita." Panggil lelaki itu.
"Apa ?" Tanyanya dengan nada tinggi.
"Ngapain kamu teriak-teriak enggak jelas dan mengotori kamar ?" Tanya lelaki itu.
"Gue mau ke rumah Agung." Ucapnya seraya melangkah dengan tertatih.
"Enggak, ini udah malam. Dan sampai kapanpun aku tidak pernah izinkan kamu mengusik rumah tangga mereka." Ucap Gilang.
"Kak." Panggilnya.
"Sadar Lit, Agung udah nikah dan dosa besar jika kamu masih mau mengusik dia." Ucap Gilang dengan nada tinggi satu oktaf.
"Aku enggak perduli." Ucapnya yang ingin pergi, namun langsung di cegah Gilang.
"Jangan salahkan kakak, kalau kakak harus tangani kamu dengan kasar." Ucapnya memperingatkan, berharap Lita mau mengurungkan niatnya.
Namun bukannya takut, Lita malah melawan kakaknya. Hingga Gilang pun terpaksa membawa Lita ke RS, agar dapat penanganan secepatnya.
...Disaat Gilang berusaha menenangkan sang adik, di sini suamiku nampak tersenyum menatap kami berdua. Kalian ini penyemangatku, tidak ada siapapun yang bisa menggantikan kalian dihatiku, doaku dan hidupku. Kalian berdua adalah kado terindah untukku. Ucapnya lirih. ...
Sedangkan di sini Bayu sudah terlelap, karena mobil Nike sudah berhasil di servis. Bayu lalu pamit pulang untuk tidur, mereka pun langsung mengiyakan dan berlalu.
Sesampai di kamar, Bayu bernafas lega melihat ke dua putranya masih terlelap, tapi dengan kondisi memegang botol susu.
Hmm, sudah di minum ternyata. Ucapnya yang melangkah ke arah nakas dekat jendela kamar, lalu membuatkan susu untuk si kembar.
Masyaallah, Bara keringatnya banyak banget. Ucap Bayu dengan tangan mengelap keringat Bara.Barulah dia tertidur.
Pagi pun tiba, aku terbangun di jam 3 jelang pagi. Aku lalu masak untuk Rindu dan mas Agung. Sedangkan simbok menyapu dan mengepel lantai.
__ADS_1