
("Assalamualaikum, Nia gimana ?" Salam dan tanyaku di telfon.)
("Maaf mbak, ini saya bukan Nia. Saya Rudi, mbak Nia meninggal mbak." Ucap Rudi dan langsung mematikan sambungan teleponnya.)
...Innalillahi wainnalillahi rojiun. Ucapku lirih seraya menangis. Aku duduk terdiam di sofa ruang tengah, Ya ALLAH secepat itu KAU panggil Nia. Namun aku percaya, mungkin ini yang terbaik untuk kami semua. Ucapku dalam hati....
Aku lalu berkemas kembali RS, dan membangunkan suamiku.
"Mas, bangun." Ucapku.
"Hmm, lho ay kamu nangis ?" Tanya suamiku seraya mengerjabkan mata.
"Nia meninggal mas." Ucapku langsung memeluk tubuh suamiku.
"Innalillahi wainnalillahi rojiun." Ucap suamiku lirih.
Mendengar itu dia langsung bergegas mandi dan bersiap lalu izin enggak bisa kerja. Sesampai di RS, nampak Bayu terdiam seraya menggendong dua putranya.
"Bay, sabar." Ucapku seraya mengambil salah satu putranya.
^^^Dia lalu tersenyum ke arahku dan menganggukkan kepala. Dia di luar nampak begitu tegar, tapi hatinya berantakan. Sementara suamiku langsung memeluk Bayu dan menguatkannya.^^^
...Tak lama jenazah Nia dibawa di ambulance, kami pun langsung mengurus administrasi dan menyusul pulang. Sedangkan 2 putranya, sudah dibawa pulang juga oleh bude Marni dan istrinya lek Parjo....
...Sesampai di rumah Bayu, sanak saudara dan tetangga terdekat sudah pada datang. Aku lalu masuk, dan ikut memandikan Nia. Selesai memandikan Nia, kami pun memakaikan kain kafan untuknya. Sementara emak nampak pingsan melihat sang putri sudah di panggil TUHAN....
^^^Dan tak lama rekan-rekan kerja suamiku dan Bayu datang. Mereka pun langsung keluar dan menyalaminya, sementara aku duduk di depan jenazah.^^^
"Gung, bayinya mana ?" Tanya pak Roni.
"Ada di dalam pak." Ucap suamiku seraya menatap lurus.
"Sabar. Ingat Bayu juga butuh kekuatan." Ucap pak Roni lagi.
"Iya pak." Ucap suamiku.
...Sementara di dalam dua putra kembar Bayu menangis, aku pun langsung menggendong salah satunya. Tak lama yang ku gendong tenang dan nyaman....
"Oalah pengen di gendong bude to nak." Ucap ibu Bayu.
Aku hanya tersenyum dan menidurkannya di tempat tidur. Lalu satu lagi ku gendong, ku ajak keluar karena Bayu menatapku.
"Dia kenapa ?" Tanya Bayu.
"Pengen di gendong budenya." Ucap ibu Bayu.
Mendengar hal itu semua orang hanya tersenyum. Sementara Bayu menatap putranya.
Tepat azan zuhur, Nia pun diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku memilih di rumah Bayu, mengingat kedua putranya membutuhkanku.
^^^Tak berselang lama, mobil ambulance sampai di TPU. Bayu, Agung, Pak Roni dan yang lain membantu mengangkat jenazah Nia. Sesampai di tempat, Jenazah pun diturunkan dan di kebumikan. Agung lalu mengazani dan qomat, selesai itu barulah di doakan dan dikubur dengan layak.^^^
Selesai doa dan tabur bunga para pelayat langsung pulang. Sementara Bayu, masih di makam Nia.
"Nia, aku akan menyampaikan langsung permintaan terakhirmu kepada Agung dan Riri." Ucapnya seraya menangis.
"Permintaan apa ?" Tanya Agung.
"Nia minta, agar selama aku kerja kedua putra kami dititipkan ke Riri. Tapi jika kamu keberatan, aku enggak maksa." Ucap Bayu lirih.
..."Aku enggak keberatan, karena Nia adalah adikku. Dan sudah sewajarnya seorang kakak membantu sang adik, begitupun sebaliknya. Kita tetap saudara Bay, walau Nia sudah tidak ada di sini dan kamu kelak akan nikah lagi. Tapi kedua putramu, tetaplah keponakan aku untuk selamanya." Ucap suamiku seraya mengajak Bayu pulang....
"Makasih Gung." Ucap Bayu seraya tersenyum.
"Ya." Ucap suamiku.
Mereka kini pun langsung pulang dengan naik motor. Sesampai di rumah, mereka mematung melihatku menggendong kedua putra dan keponakannya.
"Cuci tangan dan kaki dulu sana. Baru pegang anak." Ucap ibu Bayu membuyarkan lamunannya.
"Iya." Jawab mereka bersama.
Selesai mencuci, mereka lalu sholat dan Bayu langsung meminta anaknya.
"Ri, sini aku gantiin." Ucap Bayu.
__ADS_1
"Ya." Ucapku seraya tersenyum.
Sementara yang satu masih dalam gendonganku. Tak lama ibu Bayu meminta izin mau menggendong, aku pun memberikannya.
Aku lalu membuatkan minuman untuk suamiku dan rekan-rekan kerjanya. Tak lama Bayu membawa kedua putranya ke depan.
"Tampan banget ya." Ucap mereka lirih.
"Pastinya dong, bapaknya juga tampan palagi pakdhenya." Ucap Bayu seraya tertawa.
"Hmm mulai deh sombong." Ucap Nisa karyawan baru di tempat kerjanya.
"Aduh janganlah, takut sama ALLAH." Ucap Bayu lagi seraya tertawa.
Mereka pun ikut tertawa, namun tidak dengan kami. Karena kami tahu, dia sangat hancur. Tepat sore hari kami pun pamit, dan nanti malam akan kembali lagi.
"Ay, aku tidur dulu ya." Ucap suamiku.
"Ya mas." Ucapku.
^^^Tepat jam 7 malam, kami pun kembali lagi ke rumah Bayu. Aku yang sedang duduk dan ingin ikut mendoakan Nia, malah di ajak ke dalam untuk nenangin si kembar. Aku pun langsung ke dalam, dan mendapati ibunya yang kesusahan menenangkan sang cucu.^^^
"Maaf buk, boleh saya gendong ?" Tanyaku seraya tersenyum.
"Ck, ini." Ucapnya seraya membentak ku.
Bayu yang mendengar hal itu langsung menggelengkan kepala dan meminta maaf kepadaku. Dia lalu pamit keluar, aku pun mengiyakan. Setelah tenang, dan aku menidurkan bayinya aku lalu beranjak keluar. Namun baru sampai di belakang pintu, ada yang masuk. Aku yang di belakang pintu pun awalnya mau keluar, namun mendengar namaku disebut aku lalu mengurungkannya.
..."Bayu Candra Aditya Pradipta bin Prayoga Pradipta, ibu ingin memberi saran sama kamu. Jauhkan kedua putramu dengan istri kakak iparmu itu, kalau kamu memang lelaki sejati." Ucap sang ibu....
"Bu, aku tahu iparku mautku, namun aku juga enggak bisa menolak permintaan terakhir Nia." Ucap Bayu seraya bersujud di kedua kaki ibunya.
"Ibu tahu nak, tapi Riri juga punya suami dan calon anak yang harus Riri jaga." Ucap ibu Bayu seraya menangis.
"Ibu, Bayu akan jaga jarak, namun jangan minta yang 1 itu bu." Ucap Bayu lirih.
Mendengar itu aku langsung keluar dan bersikap biasa saja. Namun entah kenapa suamiku tahu, aku menyimpan sesuatu. Dia lalu mendekatiku dan bertanya.
"Kenapa ?" Tanya suamiku.
Selesai kirim doa, kami langsung pamit pulang. Dan mereka pun mengizinkan.
Sesampai di rumah aku menceritakan semuanya kepada suamiku.
"Sabar ay, jujur sebenarnya ibunya Bayu tidak setuju Bayu menikah dengan Nia." Ucap suamiku seraya menatapku.
"Mas, enggak baik buka aib adik sendiri palagi Nia sudah meninggal." Ucap suamiku.
"Astagfirullah, iya ay." Ucapnya seraya mengelus lembut perutku.
"Nia meninggal karena apa mas, maaf aku sedari mau tanya tapi takut." Tanya dan ucapku.
"Nia meninggal karena kehabisan darah, penyebab utamanya belum saatnya di buahi." Ucap suamiku.
Mendengar hal itu, aku hanya menganggukkan kepala.
"Sudah malam, yuk tidur." Ajaknya.
"Ya." Ucapku seraya beranjak dari ruang tamu.
Namun baru saja akan melangkah pintu rumah diketuk dengan keras.
Tok...Tok...Tok..
"Gung, tolong." Ucap Bayu.
Mendengar suara Bayu, aku memilih ke kamar. Sementara suamiku langsung membuka pintu.
"Kenapa ?" Tanya suamiku.
Bayu langsung masuk dan menutup pintu. Lalu berlutut di depan suamiku.
"Astagfirullah, kamu kenapa ?" Tanya suamiku.
"Tolong izinkan kedua putraku bersama istrimu." Ucap Bayu.
__ADS_1
Mendengar hal itu, suamiku meminta Bayu untuk berdiri. Bayu pun langsung menurut dan suamiku pun menjelaskan apa yang sudah aku dengar tadi.
"Maaf Gung, tapi mereka sedang butuh sosok ibu." Ucap Bayu.
"Maksud kamu, kamu mau nikahi Riri ?" Tanya suamiku.
"Hais, bukan itu. Maksudku mereka hanya mau tenang jika dipeluk Riri." Ucapnya.
"Oh maaf." Ucap suamiku.
"Ya." Ucapnya.
"Sebaiknya kamu izin dulu sama ibumu." Ucap suamiku.
"Ibuku tadi sudah langsung pulang Gung." Ucap Bayu.
"Terus anakmu sama siapa ?" Tanya suamiku.
"Aku bawa." Ucapnya seraya membuka jaketnya.
"ALLAH Ya Qarim, sinting kamu ya. Bayi merah kamu ajak main." Ucap suamiku seraya marah-marah.
"Maaf." Ucapnya lirih.
Suamiku lalu memanggil aku.
"Ay, ikut aku." Ucapnya seraya menuntun aku.
"Kemana ?" Tanyaku lembut.
Sesampai di luar, aku melihat si kembar dan Bayu.
"Ya ALLAH, kamu ajak mereka malam-malam begini Bay ?" Tanyaku seraya menatap si kembar.
"Iya, tolong bantu aku." Ucapnya.
Yang tanpa kami tahu, dia menelepon sang ibu.
"Aku mau bantu, tapi kamu sudah izinkan sama ibumu ?" Ucap dan tanyaku.
"Ibuku sudah pulang, dan untuk yang kamu dengar tadi. Aku minta maaf ya." Ucapnya.
"Ya, wajar juga kok ibumu begitu. Pasti ada alasan terbaik dalam setiap tutur katanya." Ucapku lirih seraya membawa si kembar ke kamar.
"Makasih Ri." Ucapnya.
"Sama-sama." Ucapku.
"Sudah, lebih baik kamu temani mereka. Nanti kalau nangis antar ke kamar kami." Ucapku seraya berlalu.
Sementara ibunya Bayu nampak tersenyum lega. Alhamdulillah, tak salah aku mengujinya." Ucapnya seraya tersenyum dan mematikan panggilan.
Tepat dini hari, Bayu mengetuk kamarku.
"Ya." Ucapku seraya menghampirinya dan menggendongnya. Tak lupa memberinya mereka asi.
"Alhamdulillah. Ucapku lirih seraya mencium kedua pipinya. Bentar lagi dia bangun, kamu berikan mereka susu. dan peluk mereka. Insyaa ALLAH mereka enggak rewel." Ucapku.
"Ya." Ucapnya.
Aku pun tertidur lagi, dan tepat jam 3 jelang pagi, aku beraktivitas seperti biasa. Tak lupa juga masak.
Alhamdulillah selesai. Ucapku.
Aku lalu melihat kedua keponakanku yang sudah bangun. Aku mengambilnya dengan sangat hati-hati.
Mandi dulu ya sayang. Ucapku lembut.
...Selesai memandikan dan memakaikan baju dan diapres serta bedong, aku lalu memandikan yang satunya lagi. Selesai semua, aku mengajaknya untuk berjemur. Setelah itu barulah ku bawa masuk, dan ku tidurkan di dekat Bayu lagi. ...
Saat akan beranjak, nampak Bayu mengigau Hanny aku rindu kamu. Aku lalu Cepat-cepat pergi. Sesampai di kamar, suamiku belum juga bangun.
"Mas,bangun." Ucapku lirih.
"Ya." Ucapnya seraya tersenyum dan memelukku.
__ADS_1