
"Harus dong ya, ALLAH memilihmu karena ALLAH yakin kamu mampu." Ucapnya.
"Iya kak, tapi aku takut dan malu." Ucapnya.
"Takut kenapa ?" Tanya Bayu.
"Aku takut jika nikah nanti, suamiku nyesel." Ucapnya seraya menundukkan wajahnya.
"Shht, enggak akan. Percaya deh sama aku." Ucapnya lirih.
"Makasih kak." Ucapnya seraya tersenyum.
"Sama-sama." Ucapnya.
Kami yang sudah sampai dan tepat berdiri di kamar pun ikut tersenyum.
"Alhamdulillah, akhirnya ya mas, Nia mau tersenyum walau tidak seceria dulu." Ucapku dulu.
"Iya." Ucapnya seraya menatapku dan tersenyum.
"Kenapa tersenyum ?" Tanyaku.
"Emangnya enggak boleh ?" Tanyanya balik.
"Kamu nanya ?" Ucapku berbalik bertanya.
Dia menatapku dengan tatapan teduh dan memeluk pinggangku.
"Enggak sopan" Ucapnya.
"Hehe maaf." Ucapku seraya mengangkat 2 jari.
"Harus di hukum sampai 10 ronde." Ucapnya lirih membuat aku membola.
"Ehem." Deheman mereka membuatku langsung menatap mereka.
"Aduh, kasihani kami para jomblo disini." Ucap mereka lagi seraya tertawa.
Dan kami pun langsung melerai pelukan, aku lalu ke dapur mengambil 4 piring.
"Ini dia rujaknya sudah tersedia." Ucapku seraya membawa nampan.
"Wah enak ni pasti." Ucap Sonia.
"Insyaa ALLAH dek." Ucapku.
"Ini buat kamu Bayu." Ucapku seraya memberikan piring kepada Bayu.
"Dan ini untuk suamiku." Ucapku seraya tersenyum.
...Namun dia terdiam dan hanya menatapku, membuatku langsung minta maaf. Dia masih diam tanpa kata, dan tak lama dia menganggukkan kepala seraya berkata nanti malam aku minta. Mendengar hal itu, mataku langsung membola. Dan menelan saliva dengan susah, membuat Bayu tersedak karena tanpa sengaja menatapku demikian....
"Ish, kak Bayu ni jorok. Tanggung jawab ni bajuku jadi kotor." Ucap Nia seraya ambil tisu.
"Ya ayo kalau perlu langsung menikah juga enggak apa-apa." Ucapnya.
"Mendengar itu mas Agung langsung menepuk bahunya keras. Sembarangan kamu, kalau bicara di jaga." Ucapnya.
"Iye sory." Ucapnya seraya tertawa.
^^^Sementara Nia, nampak tersenyum dan menatap ke arah Bayu. Aku hanya memandangi gelagat Nia. Nia yang merasa aku pandang langsung makan lagi. ^^^
Selesai makan rujak, aku dan Nia ke dapur mencuci piring yang kami pakai tadi.
"Nia, kamu suka sama Bayu ?" Tanyaku lembut.
"Tahu aja kakak ini." Ucapnya seraya menatap sekitar.
"Dari kapan ?" Tanyaku lirih.
"Sejak setahun lalu kak, cuma ya itu Kak Agung melarang aku pacaran." Ucapnya seraya menunduk.
"Sabar Nia, insyaa ALLAH kalian jodoh." Ucapku lirih seraya tersenyum.
"Aamiin kak." Ucapnya seraya tersenyum.
Kami pun melangkah keluar, namun saat jalan tiba-tiba Nia dan Bayu bertabrakan.
"Aduh." Ucap mereka bersama.
Aku dan mas Agung terkejut menatap mereka. Melihat itu, mas Agung langsung membantu Nia. Sementara Bayu hanya dicuekin.
"Kamu enggak apa-apa ?" Tanya suamiku.
"Enggak kak." Ucapnya seraya menatap Bayu.
"Kenapa ?" Tanya suamiku.
"Ah aku mau masuk kamar dulu, mau ambil baju terus mandi." Ucapnya seraya berlalu.
"Aku juga Gung, pamit dulu mau pulang." Ucap Bayu.
"Tunggu." Ucapku.
"Kenapa Tri ?" Tanya Bayu.
"Mas, aku izin ngobrol sama temanmu yang. " Ucapku lirih.
"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.
"Makasih." Ucapku.
"Sama-sama." Ucapnya.
"Ada apa Tri ?" Tanya Bayu.
"Maaf ya kalau aku lancang." Ucapku lirih.
"Iya." Ucapnya seraya menatapku.
__ADS_1
"Kamu ada rasa enggak sih sama Nia ?" Tanyaku lembut.
"Jujur Tri, aku sudah sejak lama memiliki rasa dengannya. Cuma ya itu, Agung ketat banget didik adiknya." Ucapnya lirih.
"Ya wajarlah Bay, Nia kan perempuan." Ucapku lirih.
"Iya, kalau boleh tahu, kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu Tri ?" Tanyanya.
"Tadi pas kamu bilang menikah, aku lihat wajah Nia bahagia." Ucapku lirih.
"Serius kamu ?" Tanyanya.
"Iya". Ucapku jujur.
"Alhamdulillah, makasih ya. Ya udah aku pulang dulu. Nanti aku kesini lagi." Ucapnya seraya pamit.
"Iya. Hati-hati di jalan." Ucapku.
"Ok, kakak ipar." Ucapnya seraya tertawa.
"Ay." Panggil suamiku.
"Ya mas." Ucapku.
Saat ingin mendekati dia malah masuk kamar. Hmm marah lagi dia. Ucapku lirih. Sedangkan Nia, menatapku seraya mengelus punggungku.
"Sabar kakak iparku." Ucap Nia.
"Insyaa ALLAH." Ucapku lirih.
Sesampai di kamar, aku lalu menutup pintu dan menguncinya. Barulah aku duduk di bawah kakinya.
"Duduk sini." Ucapnya lirih.
"Enggak di sini saja." Ucapku seraya meluruskan kakiku.
"Enggak ada penolakan." Ucapnya sedikit keras. Membuatku spontan pindah.
"Tadi bicara apa kamu sama Bayu ?" Tanyanya.
Aku pun langsung menjelaskan semuanya tanpa ada yang ku tutup-tutupi. Setelah selesai barulah mas Agung menghela nafas dengan panjang.
"Kenapa ?" Tanyaku lembut.
"Apa harus aku nikahkan mereka ?" Tanyanya seraya menatapku.
"Lamaran dulu saja." Ucapku lirih.
"Kaya kita dong." Ucapnya.
"Beda." Ucapku.
"Sama, hanya beda tipis saja." Ucapnya seraya tertawa.
Melihat dia tersenyum, aku hanya menatapnya.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Maaf." Ucapnya seraya memelukku.
"Iya, tapi aku mohon jangan sering-sering marah." Ucapku lirih.
"Insyaa ALLAH istriku." Ucapnya.
"Ya udah aku ganti baju dulu, dan siapkan makan malam." Ucapku.
"Ya." Ucapnya seraya mengambil gawainya.
("Bay, aku tunggu di rumah." Tulis pesan suamiku.)
("Otewe." Balas Bayu.)
Selesai berbalas pesan, dia menatapku dengan tanpa berkedip. Karena aku melepas pakaian. Saat ingin mengambil baju, tiba-tiba tangan mas Agung mencegah dan berkata.
"Tutupi tubuhmu, dan ini baju untukmu." Ucapnya seraya memakaikan baju untukku.
"Terima kasih." Ucapku seraya tersenyum.
"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.
Tak lama Bayu pun datang.
"Assalamualaikum." Salam Bayu.
"Waalaikumsalam." Ucap Nia.
"Masuk kak." Ucapnya.
"Iya." Jawab Bayu.
Sementara Nia langsung mengetuk pintu kamar kami.
"Kak ada kak Bayu di depan." Ucapnya.
"Iya." Jawab suamiku.
Kami pun langsung keluar, dan menemui Bayu.
"Brow." Ucap Bayu.
"Iya." Jawab suamiku.
Aku langsung ke dapur, membuatkan mereka minum. Sementara Nia asik nonton tv.
"Ada apa Gung, kok aku disuruh kesini ?" Tanya Bayu lirih.
"Kapan kamu siap melamar Nia." Ucapnya sedikit keras.
...Membuat Nia langsung menatap mereka. Sementara Bayu menatap suamiku tak percaya. Ini aku enggak salah dengarkan ? Tanyanya lirih, namun masih bisa di dengar oleh suamiku....
__ADS_1
"Enggak." Ucap suamiku.
Sementara Nia langsung lari ke kamar, entah apa yang akan gadis itu lakukan. Sedangkan aku langsung keluar dapur seraya membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
"Silahkan." Ucapku seraya tersenyum.
"Makasih Tri." Ucapnya.
"Sama-sama." Ucapku.
Selesai minum, Bayu menjawab. Lebih cepat lebih baik." Ucap Bayu.
"Yakin ?" Tanya suamiku.
"Insyaa ALLAH." Ucapnya lirih.
Baiklah besok aku tunggu niat baikmu itu." Ucap suamiku.
Sementara aku sedari tadi melihat sekitar, Nia mana ya ? Tanyaku dalam hati.
"Nia ada di kamar." Ucapnya.
"Oh." Ucapku.
Aku lalu masuk beranjak dan melangkah ke kamar Nia, setelah kubuka aku tersenyum mendapati Nia berhias diri.
"Cie, yang bentar lagi dilamar." Ucapku lirih.
"Apaan sih kak." Ucapnya seraya tersenyum.
"Sholat Dek, minta petunjuk ALLAH." Ucapku.
"Sudah kok kak." Ucapnya.
"Alhamdulillah. Ingat selalu libatkan ALLAH, insyaa ALLAH bahagia." Ucapku lirih.
"Aamiin." Jawab Nia.
"Yuk, temui calon kamu." Ajakku.
"Kak, kok rasanya jedag jedug gini ya ?" Tanyanya seraya tersenyum.
"Wajar." Ucapku lirih.
^^^Sesampai di luar, Bayu langsung menatap Nia tanpa berkedip. Sementara mas Agung langsung menutupi pandangan Bayu dengan tangannya. ^^^
"Ilernya tu, di lap dulu." Ucap suamiku.
"Ish ganggu saja." Ucapnya.
Sesampai di kursi, kami pun duduk bersama seraya ngobrol.
...Saat asik ngobrol, emak dan bapak datang dan langsung menutup pintu. Mereka lalu mendekati Sonia dan akan menamparnya. Namun langsung aku cegah....
"Maaf, bukan saya mau ikut campur. Namun saya enggak suka menyelesaikan masalah dengan tamparan." Ucapku.
"Nia, apa salah kami." Ucap kedua mertuaku.
Aku lalu memeluk emak, sementara mas Agung langsung mendekati Bapak. Dan Bayu memilih ke dapur.
"Sabar mak, ini ujian untuk kita. ALLAH menguji kita, karena ALLAH yakin kita bisa melewatinya." Ucapku seraya memeluknya.
"Sementara Bapak menatapku dengan tatapan teduh. Nak, terbuat dari apa hatimu itu ? Hingga masalah sebesar ini pun, kamu tetap sabar." Ucapnya lirih.
Aku hanya tersenyum, tak mampu menjawab apa-apa. Sementara Nia bersembunyi di belakang tubuhku.
"Mak, emak mau kan maafin Nia ?" Tanyaku lembut.
"Insyaa ALLAH nak." Ucapnya seraya menarik tangan Nia dan memeluknya.
"Maafin Nia mak." Ucap Nia seraya menangis.
"Pak, maafin Nia." Ucapnya.
"Pasti nak." Ucap Bapak.
^^^Tanpa kami tahu, Bayu menangis melihat kami saling berpelukan. Suamiku pun langsung mengutarakan niat sahabatnya itu kepada emak dan bapak. ^^^
"Kamu yakin le ?" Tanya mereka bersama.
"Insyaa ALLAH mak." Ucap Bayu.
"Tapi putriku sudah tidak suci." Ucapnya lirih.
"Saya tahu mak." Ucap Bayu lagi.
"Makasih ya le,tolong bimbing dia dan sayangi dia." Ucap mertuaku bersama.
"Insyaa ALLAH mak dan pak." Ucap Bayu lagi seraya tersenyum.
"Lega rasanya." Ucap mereka bersama.
Kami pun saling tersenyum. Dan aku beserta Nia, langsung menyiapkan makan malam. Setelah selesai, barulah kami makan bersama.
Selesai makan, mertuaku pamit pulang. Sedangkan Bayu masih di rumah kami.
"Selesai bersih-bersih dan mencuci, Nia izin pulang, namun aku cegah. Tidur disini saja." Ucapku.
"Tapi kak." Ucapnya.
"Enggak apa-apa, besok kan hari minggu." Ucapku.
"Takut gangguin kakak bikin Debay." Ucapnya yang membuat kami menatap dirinya.
Setelah berucap demikian, Nia langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Tu bocah, bicaranya enggak bisa di filterkah ?" Tanya Bayu.
"Maklumin aja. Bentar lagi juga jadi istrimu." Ucap suamiku.
__ADS_1
"Hmm, udah malam brow aku pamit dulu ya." Ucap Bayu.
"Iya." Jawab suamiku.