Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Melahirkan


__ADS_3

Setelah berfoto, kami semua pun makan bersama dan tak lama pamit pulang. Sesampai di rumah Lek Parjo, suamiku langsung pamit pulang. Mereka pun mengizinkan dan tak lupa memberikan kami buah tangan.


"Makasih lek." Ucap kami bersama.


"Ya." Ucap mereka bersama.


Tak berselang lama kami sampai di rumah, suamiku langsung ke kamar. Selesai menyimpan buah tangan, aku pun lalu ke kamar mandi membersihkan diri.


Masyaallah besar banget perutku. Ucapku lirih, saat membuka almari. Mendengar hal itu suamiku tersenyum ke arahku.


"Ya namanya ada debaynya ay." Ucap suamiku seraya tersenyum.


"Hehe, ya semoga sehat sampai lahir nanti." Ucapku.


"Aamiin." Jawab suamiku.


Tepat tengah malam, aku terbangun lalu keluar dengan perlahan. Aku lalu ke kamar mandi dan langsung keluar lagi.


"Mas." Panggilku lembut.


"Lapar ?" Tanya suamiku.


"Enggak, cuma kebelet saja." Ucapku lirih.


"Aku lapar ay, temani aku yuk." Ajaknya.


"Ya sudah ayo." Ucapku seraya tersenyum.


Aku lalu memanaskan lauknya, dan mengambilkan untuk suamiku tercinta.


"Makasih ay." Ucapnya.


"Ya." Ucapku seraya tersenyum dan menemaninya makan.


Selesai makan aku lalu mencucinya dan kembali ke kamar.


Sepeninggal aku, suamiku keluar sebentar.


"Weh Gung, kamu tinggal di sini to ?" Tanya orang itu.


"Iya pak, dari mana dan mau kemana nih?" Ucap dan tanya suamiku.


"Aku tugas malam disini." Ucap pak Umar. Mantan konsumennya dulu.


"Sudah lama pak ?" Tanya suamiku.


"Baru 3 hari." Ucapnya seraya tersenyum.


"Oh." Ucap suamiku.


"Sendiri ?" Tanya pak Umar.


"Sama istri pak." Ucap suamiku.


"Lha udah nikah to ?" Tanya pak Umar.


"Alhamdulillah sudah pak." Ucap suamiku seraya tersenyum.


Aku yang mendengar suamiku ngobrol pun langsung keluar, dan mendekatinya sementara pak Umar hanya menatapku sekilas lalu tertawa.


"Mas." Panggilku lembut.


"Ya." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ini istrimu ?" Tanya pak Umar.


"Iya pak." Ucap suamiku.


"Masih kecil." Ucapnya.


"Hehe iya." Jawab suamiku seraya tersenyum.


"Berapa bulan ?" Tanyanya.


"5 bulan." Ucap suamiku.

__ADS_1


"Sebentar, ini kan cewek yang kamu maksud dulu kan ya ?" Tanyanya.


"Iya pak." Ucap suamiku.


"Waduh puji TUHAN ya, penantian kamu tidak sia-sia." Ucapnya seraya tertawa.


"Aamiin pak." Ucap suamiku seraya pamit.


Pak Umar pun mempersilahkan, sementara aku hanya menyimak saja.


Sesampai di kamar, kami pun tertidur.


Paginya, aku sudah selesai aktivitas dan kini sibuk di luar menanam tanaman yang di kasih teman-temanku.


Suamiku yang sibuk mencariku, langsung keluar.


"Ay." Panggil suamiku.


"Ya mas." Ucapku seraya tersenyum.


"Ngapain ?" Tanya suamiku.


"Menanam pohon jambu." Ucapku seraya tersenyum.


"Hmm, besok aku belikan mangga deh untukmu." Ucap suamiku.


"Makasih." Ucapku seraya tersenyum.


"Ya." Ucap suamiku.


"Yuk." Ajaknya lagi.


"Kemana ?" Tanyaku. Ambilin aku makan, aku sudah lapar." Ucapnya.


"Ya." Ucapku seraya beranjak berdiri pelan.


Tanpa kami tahu, Bagus menatapku dengan tajam. Kalah cepat akunya. Ucap Bagus lirih.


...Tak terasa hari yang ditunggu pun telah tiba, pagi ini rumah kami ramai kedatangan tetangga. Karena nanti malam kami menggelar acara 7 bulanan. ...


"Insyaa ALLAH mas." Ucapku seraya tersenyum dan takzim.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Ucap dan salamnya.


"Waalaikumsalam." Ucapku.


Sepeninggal suamiku aku lalu membantu mereka. Hingga tepat jam 12 siang, mereka pun pamit pulang. Karena semua masakan susah selesai. Tak lupa aku memberi mereka buah tangan dan ucapan terima kasih sudah mau direpotin.


"Walah enggak apa-apa mbak, biasa saja." Ucap mereka semua seraya pamit.


Aku pun mengizinkan dan sepeninggal mereka, ibuku datang bersama keluargaku.


"Assalamualaikum." Salam mereka.


"Waalaikumsalam." Ucapku seraya membuka pintu.


^^^Melihat keluarga yang datang, aku lalu takzim dan meminta mereka masuk. Tak lama suamiku datang dan menyapa juga takzim kepada mereka semua.^^^


"Enggak nyangka ya sudah 7 bulan." Ucap mereka semua.


"Iya." Jawab suamiku.


Sementara aku hanya menyimak.


"Riri sekarang makin dewasa dan cekatan ya." Ucap bulekku.


"Aamiin lek." Jawabku seraya tersenyum.


Kami pun ngobrol dengan diselingi candaan. Dan enggak terasa sudah malam. Acara pun segera di mulai. Sejumlah warga dan rekan-rekan kerja suamiku pada datang.


"Wah selamat ya, bentar lagi jadi ayah." Ucap mereka semua.


"Aamiin, makasih semuanya." Ucap suamiku.


Sementara aku duduk di dekat ibuku seraya mengelus lembut perutku.

__ADS_1


"Kenapa ?" Tanya ibuku.


"Deg-degan saja." Ucapku.


"Jalani saja, dan perbanyak doa." Ucap ibuku seraya mengelus perutku.


"Insyaa ALLAH." Ucapku lirih.


Setelah lengkap, pak ustad pun membuka acara. Kami semua nampak khidmat mendengarkannya. Selesai membuka acara, kini kami semua ikut membaca alquran bersama. Dan selesai acara, kami makan lalu tak lama acara pun di akhiri.


Semua orang pamit pulang, terkecuali Nia dan Bayu. Sepeninggal mereka, aku pun langsung bergegas membersihkan rumah dan menyimpan makanan di dalam kulkas.


"Alhamdulillah selesai sudah." Ucapku lirih.


"Ya." Ucap suamiku.


Setibanya di ruang tamu, Nia tampak meringis kesakitan. Sementara Bayu sedang terima telfon. Aku dan suamiku langsung bertanya.


"Kenapa ?" Tanya kami bersama.


"Sakit kak." Ucapnya seraya meringis.


"Bay, Nia mau melahirkan." Teriak suamiku.


Mendengar itu Bayu langsung berlari dan membopong Nia membawanya ke bidan terdekat.


Sedangkan kami disuruh menunggu di rumah saja, mengingat aku juga masih hamil.


"Tidurlah ay." Ucap suamiku.


"Nia ?" Tanyaku.


"Dia sudah di tangani bidan." Ucapnya seraya memelukku.


"Syukurlah." Ucapku lirih seraya memejamkan mata.


Tepat jam 1 dini hari, suamiku terbangun.


("Ya." Ucap suamiku lewat telepon.)


("Belum bisa lahir Gung, harus di bawa ke klinik." Ucap Bayu.)


("Ya sudah bawa saja." Ucap suamiku. )


("Ya ini, dalam perjalanan." Ucap Bayu.)


("Kamu nangis ?" Tanya suamiku.)


("Ya, Nia pingsan. Ucapnya.)


Mendengar itu suamiku langsung mematikan telfon dan pura-pura tertidur. Karena melihatku yang terbangun. Perasaan tadi ada yang ngomong. Ucapku lirih.


Ah mungkin salah dengar. Ucapku lirih. Aku pun tertidur kembali.


Cup


Tidurlah yang nyenyak ay. Suamiku pun langsung menelpon mas Galuh.


("Halo kang, tolong kabari yang lain Nia sedang di klinik, mau lahiran." Ucap suamiku.)


("Ok." Ucap Galuh.)


("Makasih." Ucap suamiku lagi.)


("Yoi." Ucap Galuh lagi.)


Panggilan pun diakhiri. Malam yang semakin larut, membuat suamiku tidak bisa terpejam. Lindungi adik hamba ya ALLAH dan lancarkanlah persalinannya. Aamiin. Doa Agung.


...Hingga tepat jam 2 dini hari, suamiku baru bisa terlelap. Dengan memelukku dan berzikir. Tepat pagi, aku yang sudah selesai aktivitas dan mandi masih terdiam di depan pintu kamar. ...


Kenapa perasaan aku enggak enak ya ? Tanyaku lirih.


Aku pun membuka gawaiku, dan saat ku buka status aplikasi warna hijau aku pun menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang terjadi.


Enggak ini pasti bohong. Ucapku seraya menangis. Dan menghubungi Bayu, namun tidak dia jawab.

__ADS_1


Aku lalu menelepon dhe Marni, tapi tetap sama Nihil. Aku pun lalu telfon Nia, dan alhamdulillah di angkat.


__ADS_2