Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Kelahiran Princes


__ADS_3

"Oh." Ucap suamiku seraya memandang aku.


Waktu pun begitu cepat berlalu, kini usia kandunganku memasuki usia 9 bulan lebih 10 hari. Sedari tadi pagi perutku sudah tidak enak, namun aku tetap beraktivitas seperti biasa.


"Mas, bangun." Ucapku seraya tersenyum.


"Hmm, jam berapa ?" Tanya suamiku.


"Jam 6." Ucapku.


"Kenapa ?" Tanya suamiku.


"Perutku sakit banget." Ucapku yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutku.


"Baca istighfar." Ucap suamiku.


Aku hanya menurut dan sambil berdoa dalam hati.


"Tunggu di sini ya, aku mandi dulu." Ucap suamiku seraya berlalu.


"Ya." Ucapku lirih.


Sepeninggal suamiku, sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu. Aku lalu membuka pintu, dengan hati-hati.


"Assalamualaikum bude." Salam Bayu.


"Waalaikumsalam." Ucapku lirih.


Melihatku yang sudah berkeringat dan kaki yang berlumuran darah, Bayu langsung berteriak memanggil suamiku.


"Gung, istrimu sudah mau melahirkan." Teriak Bayu.


Mendengar hal itu suamiku langsung keluar, sayangnya dia melihat kami sedang berpelukan. Tak ingin berfikir negatif, suamiku langsung mendekati kami.


"Gung, cepat istrimu pingsan." Ucap Bayu seraya mengangkat tubuhku.


"Ya, baiklah." Ucap suamiku seraya berlalu dan membawaku ke bidan.


Sesampai di bidan, suamiku menggenggam tanganku dan berbisik di telingaku.


"Ay, sadarlah." Ucap suamiku seraya menangis.


"Pak, bawa minyak kayu putih enggak ?" Tanya bu bidan.


"Bawa bu." Ucap suamiku.


...Tak lama suamiku menggosok hidungku dengan minyak. Namun belum sadar juga, tak putus asa dan harapan suamiku membisiki aku agar lekas sadar. Hingga titik terakhirnya dia langsung ganti pakaian dan ibadah di mushola RS....


Tak lama, suamiku kembali.


"Maaf pak, jika istri anda masih pingsan. Kami terpaksa lewat ceasar, karena kasian debaynya." Ucap Bu Alda.


"Ya bu, tapi tolong selamatkan kedua-duanya." Ucap suamiku seraya berlinang air mata.


"Insyaa ALLAH pak." Ucap Bu Alda. Lalu kembali ke ruang operasi.


^^^Saat mau dipindah, suamiku menciumku lama hingga air matanya menetes di pipiku. Lalu dia menyudahinya, dan membantu membawaku ke ruang operasi. Namun takdir berkata lain, tanganku mulai bergerak dan itu semua dilihat suamiku dan perawat.^^^


"Bu, istri saya sadar." Ucap suamiku


"Alhamdulillah, bawa ke dalam lagi sus." Ucapnya seraya kembali ke ruang persalinan.


"Mas, aku dimana ?" Tanyaku lembut.


"Kamu di klinik sayang." Ucap suamiku seraya berdoa dalam hati.


"Alhamdulillah, bu nanti mengejan ya. Ini sudah pembukaan 10." Ucap Bu Bidan.


...Aku hanya menganggukkan kepala dan tak lama rasa sakit itu datang lagi. Aku membalas genggaman tangan suamiku dekat kencang, kadang juga menggigitnya. Alhamdulillah suamiku membiarkannya....


"Ayo bu ngejan yang kuat." Ucapnya.


^^^Aku pun menuruti arahannya, hingga tepat jam 8 pagi, bidadari kami lahir. Sementara aku di sini lagi-lagi pingsan kembali, suamiku tak henti-hentinya mendoakan aku.^^^


...Hingga keluarga besar dan rekan-rekan kami pada datang pun, aku belum sadar. Bayu menatap suamiku dengan nanar, lalu memintanya untuk menemui sang anak dan mengazani juga mengqomati. Dia pun bergegas menuruti ucapan Bayu....


"Semoga jangan seperti Nia ya." Ucap mereka bersama.


"Aamiin." Jawab mereka semua.


Keluargaku yang menjengukku tak berhenti doa, semoga aku lekas sadar. Ibuku mendoakan aku terus, tanpa lelah. Begitupun mereka semua.


"Gung, anak kamu dimana ?" Tanya pak Roni dan yang lain.


"Di ruangan Bayi pak." Ucap suamiku lemas.


"Sabar, kuatlah demi anakmu." Ucap yang lain.


"Insyaa ALLAH." Ucap suamiku.


Mereka pun langsung pamit, begitu juga dengan Bayu bersama si kembar. Dan disini tinggal aku, suamiku dan keluarga inti.


"Buk, saya izin ke mushola dulu. Titip Riri." Ucap suamiku seraya takzim.


^^^"Sholat disini saja, takutnya dia pas sadar mencarimu." Ucap ibuku lirih seraya pamit pulang. ^^^


"Ya buk makasih dan maaf tidak bisa mengantar." Ucap suamiku.


"Enggak apa-apa, yang terpenting anakku jangan kau bentak." Ucap kedua orang tuaku.

__ADS_1


"Insyaa ALLAH pak, buk." Ucap suamiku seraya takzim.


...Sepeninggal mereka, dia masuk ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat mahgrib. Selesai sholat, suamiku lalu mengaji dan berdoa lalu berzikir seraya memangku putri kami. ...


Sementara aku kini baru sadar, dan menatap mereka terasa sejuk. Masyaallah. Ucapku lirih seraya beranjak dan menghampiri dia.


Sayang, Masyaallah cantik banget kamu." Ucapku.


Mendengar suaraku, suamiku menoleh, lalu memelukku. Makasih ya ALLAH, alhamdulillah. Ucapnya.


"Mas, kenapa menangis ?" Tanyaku lembut.


"Kamu sudah ay." Ucapnya seraya menciumku.


"Bentar ya, aku panggil bu bidan dulu. Kamu duduklah disini." Ucap suamiku.


^^^Sepeninggal suamiku, aku menatap putri kecilku. Nak, kamu mirip ayahmu banget ya. Kulitnya, matanya, hidungnya dan mulutnya. Ibu enggak kebagian. Tapi enggak apa-apa sayang, ibu suka banget sama kamu. Ucapku seraya tersenyum dan mencium pipinya. ^^^


"Alhamdulillah, maaf ya diperiksa dulu." Ucap Bu Alda.


"Ya bu." Ucapku lirih.


"Alhamdulillah pak, semuanya sehat dan besok boleh pulang." Ucap Bu Alda.


"Alhamdulillah, makasih dok." Ucap suamiku.


"Sama-sama, saya tinggal dulu ya." Ucapnya.


"Iya." Jawab kami bersama.


Sepeninggal bu Alda, mas Agung langsung mendekati aku dan tersenyum.


"Kenapa ?" Tanyaku lembut seraya mengelus lembut tangannya.


"Aku bahagia, kamu sadar." Ucap suamiku.


"Alhamdulillah,makasih." Ucapku seraya tersenyum.


Sementara di rumah Bayu, Bayu sedang bermain dengan kedua putranya.


"Bagas, lincah banget ya. Mau main bola ?" Tanya Bayu seraya tersenyum.


"Akhhh.. mam.." Jawab Bagas.


Sementara Bara asik minum susu. Sedang asik - asiknya main, terdengar suara ketukan pintu.


"Bentar ya ayah buka pintu dulu." Ucap Bayu.


Bayu lalu membuka pintu.


"Ya." Ucapnya seraya membuka pintu.


"Ck, mau apa lagi kamu ?" Tanya Bayu datar.


"Aku mau nengok Two B." Ucap orang itu.


"Enggak." Ucap seseorang, namun bukan Bayu yang menjawab.


Tapi pak Roni yang menjawab. Bayu hanya tersenyum, sementara pak Roni menatap tajam perempuan itu.


"Ck, siapa kamu ?" Tanya perempuan itu, yang ternyata adalah Olla teman sekelas almarhumah Nia. Dan dia juga pelaku kedua, rusaknya kesucian Nia.


"Aku om nya." Ucap pak Roni lagi, seraya menyuruh Bayu menutup pintu.


Bayu pun menurut, dia lalu menutup dan mengunci pintu. Lalu membawa si kembar ke kamar.


Melihat itu Olla langsung pergi, begitu juga dengan pak Roni.


Sementara kami di sini sudah terlelap. Dan tepat tengah malam, putriku terbangun.


Aku lalu menggendong dan memberikan asi untuknya. Suamiku masih terlelap dalam tidurnya.


...Selesai minum, putriku tertidur kembali. Aku lalu meletakkan di tempat tidur bayi. Aku lalu beranjak ke kamar mandi, untuk buang hajat. Tak lama, anakku nangis lagi. Dengan langkah terburu-buru, aku lalu menggendong dan memberikan asi lagi. ...


Ternyata begini ya rasanya melahirkan dan menjadi ibu. Ucapku lirih.


^^^Sampai tepat jam 3 jelang pagi, aku masih terjaga. Menatap mereka tertidur, aku mengabadikannya dengan aku foto. Ayah dan anak, bergaya sama. Tulisku lalu ku jadikan status. ^^^


Tak lama ada pesan berwarna hijau masuk, aku lalu membukanya.


("Haha, emang persis kamu Gung wajah dan gayanya." Tulis pesan itu.)


("Hehe, alhamdulillah pak, semoga yang persis yang bagusnya saja. Aamiin." Balasku seraya tersenyum.)


("Aamiin." Jawab pak Roni.)


Selesai berbalas pesan, kini Bayu menelponku.


("Assalamualaikum, gile kamu Gung jam segini sudah bangun kamu ?" Tanya Bayu yang tidak tahu, bahwa yang bikin status aku.)


("Waalaikumsalam, hahahaha ini aku Bay." Ucapku seraya tertawa.)


("Masyaallah, alhamdulillah. Kamu sudah sadar Ri ?" Ucap dan Tanyanya.)


("Alhamdulillah sudah." Ucapku.)


("Syukurlah, ku pikir Agung." Ucapnya lirih.)


("Bukan kok, oh ya si kembar mana ?" Tanyaku.)

__ADS_1


("Masih tidur, Tadi mereka habis bangun minta susu. Selesai minum, mereka tidur lagi." Ucapnya.)


("Boleh vc ?" Tanyaku.)


("Boleh, tapi biar aku saja yang vc kamu." Ucapnya.)


("Ya." Ucapku seraya mengelus lembut pipi suamiku.)


Tak lama panggilan vc pun terhubung, aku lalu menatap mereka.


("Sudah makin gemuk ya mereka." Ucapku.")


("Alhamdulillah, cuma ya itu Ri mereka kalau tidur suka makan tempat." Ucapnya.)


"Hehe, ya yang tua Ngalah." Ucapku.


("Wo itu pasti." Ucap Bayu seraya tersenyum menatap suamiku sudah terbangun.)


Tapi suamiku minta, jangan kasih tau ke aku. Sementara aku masih asik menatap kedua keponakanku.


("Oh ya, si princes mana ni ?" Tanya Bayu.)


("Ni masih tidur om." Ucapku seraya memindahkan hpku ke depan anakku.)


("Wih cantik banget. Masyaallah." Ucap Bayu seraya tersenyum.)


("Makasih om." Ucapku.)


("Ri, pulang kapan ?" Tanya Bayu.)


("Nanti sudah boleh pulang kok." Ucapku seraya tersenyum.)


("Alhamdulillah." Ucap Bayu.)


"Ya sudah ya aku mau siap-siap dulu." Ucapnya seraya pamit.)


Dan panggilan pun berakhir. Jadi kangen mereka. Ucapku lirih.


"Mulai, sudah punya suami malah kangen adik ipar." Ucapnya.


"Astagfirullah, bukan Bayulah, tapi si kembar." Ucapku seraya memeluknya.


"Bohong." Ucapnya.


"Serius mas suamiku." Ucapku seraya tersenyum.


"Enggak percaya." Ucapnya.


"Mas, serius aku enggak bohong." Ucapku seraya menarik tubuhnya pelan dan memeluknya.


"Makasih ay." Ucapnya seraya membalas pelukanku.


"Ya." Ucapku seraya tersenyum.


Pagi pun tiba, kini kami sedang mengurus administrasi. Selesai itu, kami lalu pulang. Dengan naik sepeda motor.


Sesampai di rumah, rumah sudah banyak orang yang berkunjung. Dan disana juga ada ibu dan emak. Aku lalu memeluk ibuku terlebih dulu.


"Bu, maafin aku yang kadang membuatmu sedih." Ucapku tulus.


"Iya." Jawab ibuku seraya membalas pelukanku.


Lalu memeluk emak dan baru yang lain. Suamiku menatapku dengan tersenyum. Sedangkan Bayu dan yang lain nampak terharu menyaksikan itu semua.


"Wah anaknya putih banget, kaya anak orang korea." Ucap ibu Restu.


"Makasih bu." Ucapku seraya tersenyum.


"Dhe Jimmi." Ucap suamiku seraya takzim dan mempersilahkan mereka masuk.


"Wah, jadi bapak sekarang ya. Yang benar, jangan pacaran saja." Ucap dhe Jimmi.


"Astagfirullah ya enggaklah dhe." Ucap suamiku.


"Ye sapa tahu, anak tidur kamu main sama istrimu." Ucap dhe Jimmi.


Membuat kami tertawa bersama. Tak kalah heboh dengan dhe jimmi, lek Parjo pun juga sama.


"Gung, anakmu persis kamu doang ni gimana ? Wah bikinnya kurang asoy." Tanya dan Ucapnya.


Membuat lek Sinta langsung menatapnya tajam.


"Ampun to ayang beb." Ucap lek Parjo.


Kami semua pun tertawa bersama. Hingga si kembar ikut tertawa juga.


"Lho, ada si kembar juga toh ini." Ucap budhe Marni.


"Utu-utu lucunya." Ucap Bude lalu menggendong Bara. Sementara Bagas, di gendong Rudi.


"Gung, Nama anakmu siapa ?" Tanya mereka bersama.


"Rindu." Ucap suamiku.


"Kok Rindu ?" Tanya lek Parjo.


"Karena awal pertemuan aku dan istriku, membuat hatiku rindu selalu." Ucap suamiku seraya tersenyum dan menatapku.


"Iya juga ya, kamu jatuh cinta sama dia dari kamu smp, dan ketemu lagi pas kamu kerja. Lalu lamaran terus nikahan." Ucap yang lain seraya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2