Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Kembali Pulang


__ADS_3

Malam pun sudah larut, mereka juga sudah pulang. Namun mas Agung masih belum tertidur, aku pun langsung menghampiri dirinya dan bertanya.


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Enggak apa-apa." Ucapnya seraya tersenyum.


"Masih sakit ?" Tanyaku.


"Masih." Ucapnya seraya menciumku.


"Sudah minum obat ?" Tanyaku lagi.


"Sudah." Ucapnya.


"Yuk tidur." Ajakku.


"Ya." Ucapnya seraya tersenyum.


Setelah itu kami pun tertidur, hingga tepat jam 3 aku terjaga. Memandangi dia.


"Sholat yuk." Ajakku.


"Iya." Ucapnya.


...Kami pun lalu sholat bersama, dan mengaji. Barulah aku mulai aktivitas lagi, tepat jam 8 pagi aku mulai memandikan dia. Selesai memandikan dia, aku lalu memberikan dia pakaian dan juga menyisir rambutnya....


"Alhamdulillah selesai sudah." Ucapku lirih.


"Makasih." Ucapnya.


"Sama-sama." Ucapku.


Kini aku mengambilkan dia makan dan menyuapinya. Setelah selesai barulah aku minta dia untuk minum obat. Setelah minum, dia pun tertidur.


...Hari pun berganti hari dan bulan pun sudah berganti. Aku kini tengah membantu ibu membersihkan rumah. Kebetulan juga pas hari minggu, jadi mereka semua ada di rumah....


^^^Selesai membersihkan rumah dan almari, Kami pun istirahat siang. Saat sedang terlelap, terasa berat di tubuhku. Aku lalu membuka mataku dan ternyata tangan suamiku yang merangkulku.^^^


"Sudah bangun ?" Tanya suamiku lembut.


"Hmm." Ucapku seraya mencari tempat ternyaman di pelukannya.


"Ay, Kita sudah 3 bulan ninggalin rumah, kamu enggak kangen ?" Tanyanya.


"Nanti aku tanya ibu dulu." Ucapku.


"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.


Tepat malam hari, aku pun beranikan diri bertanya. Lalu ibuku menjawab.


"Boleh, tapi perbuatan yang kemarin jangan di ulangi lagi." Ucapnya.


"Insyaa ALLAH." Ucapku.


Selesai bicara, aku lalu berkemas kembali pulang ke rumah bersama dengan dirinya. Dan sebelum melangkah keluar, suamiku langsung diberi nasehat dan mengingatkan.


"Ingat ini kesempatan terakhir kamu." Ucap bapakku.


"Insyaa ALLAH akan saya perbaiki." Ucapnya seraya takzim. Aku pun juga melakukan hal yang sama dan kami pun pamit pulang.


Sesampai di rumah, aku tersenyum melihat Bayu dan Nia sedang bercengkrama di teras.


"Kakak ipar, selamat datang lagi di istanamu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Iya sayang. Makasih." Ucapku seraya membalas pelukanku.

__ADS_1


Sesampai di dalam, aku lalu merebahkan tubuhku di kasur.


"Ay, besok kamu ikut aku ya." Ucapnya.


"Nanti marah lagi ?" Tanyaku.


"Insyaa ALLAH enggak." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ya sudah yuk istirahat." Ucapku lirih.


Namun tidak dia jawab, dia langsung keluar kamar dan menutup semua pintu di rumah. Barulah dia kembali dan menjawab.


"Ayo." Ucapnya lirih.


Pagi pun tiba, kami terbangun bersama dan gotong royong membersihkan rumah. Selesai bersih-bersih, mas Agung lalu mandi. Sementara aku menyiapkan baju dia dan menunggu dia di meja rias.


"Pagi hari jangan melamun." Ucapnya membuyarkan lamunanku.


...Mendengar itu aku spontan terkejut dan tersenyum. Lalu beranjak melangkah dan bergegas mandi. Selesai mandi, aku berhias dan tak lupa memakai jilbabku....


"Sudah ?" Tanya suamiku lembut.


"Sudah." Ucapku seraya tersenyum.


"Yuk." Ajaknya seraya menggenggam tanganku erat.


"Ya." Ucapku seraya membalas bismillah.


Sesampai di kantor, aku menundukkan wajahku dan saat mas Agung berhenti, aku pun langsung berhenti.


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Ini ruanganku ay." Ucapnya lirih.


Aku langsung melihat ruangannya. Sementara dia langsung menemui pak Roni. Sesampai di ruangan pak Roni, suamiku lalu masuk dan bertanya.


"Ya biasa ke tempat yang deket dulu, baru yang jauh." Ucapnya seraya melihat filenya.


"Hmm." Jawabnya.


"Kamu jadi bawa istrimu ?" Tanya pak Roni.


"Jadi." Ucapnya.


"Ingat, jangan buang kesempatan." Tuturnya menasihati suamiku.


"Insyaa ALLAH pak." Ucapnya seraya beranjak berdiri.


Mereka pun langsung keluar dan tak lupa suamiku pamit dulu kepada aku. Aku pun mengizinkan dan tak lupa takzim.


"Hati-hati mas." Ucapku seraya takzim.


"Iya ay." Ucapnya seraya tersenyum.


Sepeninggal mereka, aku duduk di kursi mas Agung seraya menatap foto pernikahan kami yang ada di meja.


Enggak nyangka udah mau 5 bulan, tapi aku kok belum isi ya ? Tanyaku lirih. Mungkin efek kemarin. Ucapku bermonolog sendiri.


...Sementara di perjalanan, mas Agung dan pak Roni nampak terdiam dan fokus menatap jalanan. Sesampai di rumah peminjam, mereka langsung berhenti. ...


"Bismillah moga lancar." Ucap mereka bersama.


Setelah membaca doa, mereka lalu masuk mengucapkan salam. Dan tak lama orang yang di caripun muncul.


"Waalaikumsalam, mari masuk." Ucapnya lirih.

__ADS_1


^^^Mereka lalu duduk, dan tak lama ada seseorang gadis berjalan keluar. Pak Roni nampak berbicara, sementara mas Agung menyimak dan enggan menatap gadis itu. ^^^


Sementara di sini aku sudah mulai bosan, namun aku bingung mau kemana ? Keluar pun takut mengganggu pekerja lain. Aku akhirnya melangkah ke jendela, dan menatap sekitar. Akhirnya aku menemukan taman di dekat kantor. Aku langsung memfotonya dan mengirim pesan beserta foto ke nomer hpnya mas Agung.


Tak lama gawaiku berdering. Aku lalu mengangkatnya.


("Halo assalamualaikum." Ucap dan sapaku.)


("Waalaikumsalam, ay jangan kemana-mana. Tetap di ruanganku." Ucapnya.)


("Tapi aku bosen mas." Ucapku lirih.)


("Sabar, bentar lagi aku selesai." Ucapnya.)


("Baiklah." Ucapku.)


("Alhamdulillah makasih istriku." Ucapnya.)


Aku langsung mematikan tanpa menjawab. Ck, makin kesini aku makin dikekang. Ucapku lirih.


Tepat setengah jam mas Agung sampai, lalu menghampiri aku.


"Maaf ya nunggu lama." Ucapnya.


"Iya." Ucapku datar.


"Jangan marah." Ucapnya lirih seraya menarik tengkukku dan menciumku lama.


Aku berusaha mendorong tubuhnya, namun tenagaku kalah kuat dengannya. Tak lama dia lalu melepasnya dan tersenyum ke arahku.


"Maaf." Ucapnya lagi.


"Iya, aku jangan terlalu kamu kekang. Aku butuh kebebasan." Ucapku lirih.


"Baiklah." Ucapnya seraya tersenyum.


Dia pun lalu beranjak berdiri, dan mengajakku ke taman kantor. Sesampai di sana, mas Agung langsung menatapku.


"Ay, aku enggak bisa janji apapun sama kamu, namun aku akan berusaha semampuku mempertahankan kamu." Ucapnya lirih.


"Iya mas." Ucapku seraya tersenyum.


Tanpa sadar, pak Roni memanggil suamiku.


"Gung." Panggil pak Roni seraya menghampiri kami.


"Iya pak." Ucapnya.


"Kita ke ruangannya pak Tomi dulu." Ajaknya.


"Baiklah." Ucapnya seraya meninggalkan aku di taman.


Sepeninggal mereka aku pun duduk di taman, tanpa ku tahu Bagus menatapku sedari tadi tanpa berkedip. Hingga lamunannya berhenti, ketika bahunya di tepuk Bayu.


"Melamun aja, kerja dong." Ucap Bayu.


"Iya." Ucapnya masih memandang arah taman.


Bayu yang curiga pun langsung menatap, siapakah gerangan yang temannya pandang itu. Sampai-sampai menjawab ucapannya tanpa menoleh yang mengajak bicara. Spontan mata Bayu langsung membola, melihat yang Bagus tatap adalah aku.


"Ck, Astagfirullah kakak iparku kamu pandangi terus Gus ?" Tanya Bayu.


Membuat Bagus langsung gelagapan dan langsung menghindar tanpa menjawab.


"Ingat Gus, dia milik Agung." Ucapnya.

__ADS_1


"Apaan sih berisik." Ucap Bagus kesal.


Membuat Bayu menggelengkan kepala.


__ADS_2