
"Duduk dulu yuk." Ajakku seraya mengajaknya duduk di ruang tamu.
Kini suamiku mulai menceritakan kejadian tadi. Aku belum memberikan jawaban, aku lalu melangkah ke dapur dan membuatkan dia minuman hangat.
"Minum dulu mas." Ucapku seraya tersenyum.
"Makasih." Ucapnya.
"Iya sama-sama." Ucapku.
"Sholat dulu yuk." Ajakku lagi setelah dia mulai nampak sedikit tenang.
"Iya." Ucap suamiku seraya melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai sholat, kami lalu keluar kembali. Dan aku pun mulai memberikan penjelasan kepada suamiku.
"Mas, jujur aku juga terkejut dan kecewa mendengar itu semua, namun kamu anak lelakinya yang terlahir dari dalam rahimnya. Apa kamu tega ninggalin beliau sendiri ?" Ucap dan tanyaku.
"Enggak sih, tapi ucapannya itu membuatku terluka." Ucapnya lirih.
"Istighfar, manusia tempatnya salah dan dosa. Maafkan beliau mas." Ucapku seraya tersenyum.
"Insyaa ALLAH ay." Ucapnya lirih lalu beranjak berdiri dan kembali pamit bekerja.
Aku pun memintanya menunggu sebentar, dan dia pun menurut.
"Tunggu mas." Ucapku lirih seraya memeluknya seraya berdoa dalam hati.
TUHAN, ampuni suami hamba hilangkan rasa sakit hatinya kepada emak. Bahagiakan hatinya disaat kerja nanti. Aamiin. Ucapku dalam hati. Selesai mendoakannya aku lalu melerai pelukannya dan takzim.
Dia menatapku dengan tatapan mata yang sulit aku artikan, tak lama dia mencium bibirku lama.
"Makasih sudah bersedia menerima aku dan keluargaku." Ucapnya seraya tersenyum.
"Sama-sama. Ingat selalu ya, seburuk-buruknya emak, dia tetap surgamu yang wajib kamu hormati, dan kasih saran bila berbuat salah. Bukan malah pergi meninggalkan." Ucapku lirih.
"Insyaa ALLAH." Ucapnya seraya mencium perutku lalu pamit berangkat lagi.
Sesampai di kantor, suamiku lalu mencari pak Roni. Dan saat bertemu pak Roni, dia lalu membahas pekerjaan.
"Pak, kita jadikan ke rumah pak Ahmad ?" Tanya suamiku.
"Jadi." Ucapnya seraya bersiap-siap.
"Ya sudah yuk." Ajaknya.
"Gung kamu sehat-sehat sajakan ?" Tanya pak Roni lagi.
"Alhamdulillah sehat. Udah yuk keburu sore." Ucapnya seraya tersenyum.
"Tadi mukanya masam sekarang happy banget." Ucapnya seraya menggelengkan kepala.
"Tadi aku pulang dulu pak." Ucap suamiku jujur.
" Hmm pantes, habis dapat jatah ya ?" Tanya pak Roni.
"Enggak, tapi motivasi dan semangat dari istri tercinta." Ucapnya seraya tertawa.
"Aamiin." Ucap pak Roni ikut senang juga.
Tak lama mereka pun sampai di rumah pak Ahmad.
"Assalamualaikum." Salam pak Roni.
"Waalaikumsalam." Ucap anak gadis itu.
"Bapaknya ada mbak ?" Tanya pak Roni.
__ADS_1
"Bentar saya cari dulu." Ucap gadis itu.
Sepeninggal gadis itu, pak Roni berdecak kesal.
"Kenapa pak ?" Tanya suamiku.
"Tu anak, pakai suara mendayu-dayu di kiranya aku suka." Ucapnya seraya menahan kesal.
"Haha, janganlah pak kasian istrimu." Ucap suamiku seraya tertawa.
"Hi Amit-amit jabang bayi nauzdubilahmindzalik jangan sampailah." Ucapnya.
"Iya. Aamiin." Jawab suamiku lagi.
Tak lama gadis itu keluar, melihat dia keluar suamiku langsung duduk di jok motor seraya memandangi fotoku. Sementara pak Roni langsung bertanya kepada anak itu.
"Gimana mbak ?" Tanya pak Roni.
Yang ditanya bukan menjawab, namun malah menatap wajah suamiku dengan tersenyum lebar.
"Mbak." Panggil pak Roni sedikit keras.
"Eh ya pak." Ucapnya kaget.
"Ck, bapaknya ada enggak ?" Tanya pak Roni.
"Ada pak silahkan masuk." Ucapnya seraya mencuri pandang suamiku.
"Gung." Panggil Pak Roni, namun tidak direspon.
"Triani, suamimu ada yang menyukai." Ucapnya lantang.
Membuat mas Agung gelagepan dan mendekati pak Roni.
"Ck, pak jangan bikin gosiplah. Istriku sedang hamil." Ucapnya.
"Jadi masnya sudah nikah ?" Tanyanya tiba-tiba.
"Sudah mbak." Ucap pak Roni.
Mendengar hal itu gadis itu langsung membanting pintu kamar dengan keras. Membuat seisi rumah terkejut.
"Maafkan anak saya ya pak dan mas." Ucap orang tua gadis itu.
"Iya pak." Ucap mereka bersama.
Selesai itu, pak Ahmad langsung membayar uang pinjaman. Setelah menerima, mereka pun pamit dan saat di jalan tiba-tiba ada orang yang kecelakaan. Dengan sigap mereka membantu orang tersebut.
"Pak, kamu tuntun yang cewek, biar aku yang cowok." Ucap suamiku.
"Iya." Ucapnya.
...Selesai membantu, suamiku lalu berbasa basi sebentar dan karena sudah ada warga yang membantu, mereka pun pamit. Sampai di kantor pun sudah sore, kini mereka bersiap pulang. ...
Sesampai di rumah, suamiku langsung merebahkan tubuhnya di teras, membuat bu Nindi bertanya.
"Mas, kenapa ?" Tanya bu Nindi.
"Lelah bu." Ucap suamiku.
"Kirain pingsan lagi." Ucapnya seraya tertawa kecil.
"Haha enggak buat." Ucapnya seraya tertawa.
^^^Sementara aku yang ada di halaman belakang, tidak tahu suamiku sudah pulang. Aku menjemur baju kami dan juga baju emak yang kemarin tertinggal di sini. Selesai menjemur, aku lalu masuk dan membuka pintu depan rumah. ^^^
Lalu menyirami tanaman, namun langkahku terhenti karena melihat suamiku duduk di teras seraya menatapku dan tersenyum.
__ADS_1
"Sore bidadariku." Ucapnya seraya tersenyum.
"Sore." Ucapku seraya takzim.
"Mandi dulu mas." Ucapku.
"Bentar ay." Ucap suamiku seraya mencium tanganku.
"Hmm bau rinso." Ucapnya lagi.
"Ya tadi habis nyuci." Ucapku lirih.
"Jangan terlalu capek, ingat debaynya." Ucapnya lirih seraya mencium pipiku.
"Ish malu tau." Ucapku.
"Rindu kamu aku." Ucapnya lirih.
"Mandi sana bau asam." Ucapku seraya menutup hidungku.
"Iya bawel." Ucap suamiku seraya beranjak berdiri dan masuk.
Sementara aku langsung menyirami bunga. Selesai menyirami aku kembali masuk. Dan menyiapkan baju untuk suamiku. Lalu ke dapur membuatkan minuman, dan cemilan untuknya.
Selesai semua, aku menunggunya di depan tv. Tak lama dia menghampiriku.
"Makasih ay." Ucapnya seraya menatapku.
"Ya." Jawabku.
"Ini kamu beli atau bikin sendiri ?" Tanya suamiku.
"Bikin sendiri mas." Ucapku seraya tersenyum.
"Hmm, enak ay." Ucapnya.
"Alhamdulillah." Ucapku seraya mencium pipinya.
Selesai makan dia lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku. Dan menceritakan kejadian di rumah pak Ahmad. Mendengar hal itu aku hanya terdiam.
"Jangan marah ya." Ucapnya.
"Enggak, aku percaya kamu tahu batasannya." Ucapku seraya tersenyum.
"Makasih ay." Ucapnya.
"Iya." Ucapku.
Kami pun lalu menyaksikan tv bersama, hingga malam pun tiba. Aku yang masih terjaga, masih asik menonton tv. Sementara suamiku sudah tertidur di kamar. Entah mengapa aku tidak bisa tidur. Hingga tepat jam 8 malam, emak memggedor pintu rumah dengan keras. Spontan aku langsung membukanya.
"Emak." Ucapku seraya takzim.
"Mana Agung ?" Tanya emak ketus.
"Sudah tidur mak, ada apa mak ?" Ucap dan tanyaku.
"Bangunin dia !" Titah emak.
"Baiklah." Ucapku lirih.
"Mas, dicari emak." Ucapku lirih.
"Iya." Jawab suamiku.
"Ada apa ?" Tanya suamiku.
"Besok kamu gajiankan, besok kamu wajib memberi uang gajimu padaku." Ucapnya seraya menyerahkan kertas.
__ADS_1
"Mak, aku sudah punya istri dan calon anak." Ucapnya lirih.
"Kalau masih mau tinggal di sini, separuh gajimu untukku." Ucapnya seraya berlalu.