
"Insyaa ALLAH Gung, mungkin ini yang buat istrimu tidak membalas sapaanku." Ucap Bayu lirih.
"Jangan buruk sangka dulu, Riri bukan tipe kaya gitu. Tadi kamu lihat sendirikan, Rindu nangis." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Iya juga sih." Ucapnya.
"Nanti sore ikut kami yuk." Ajak suamiku.
"Kemana ?" Tanya Bayu.
"Refresing." Ucap suamiku seraya tersenyum dan pamit.
"Ya." Ucap Bayu seraya melangkah masuk rumah.
Tak lama suamiku sampai di rumah, melihatku yang sedang asik makan seraya menonton televisi.
"Aduh, enak ni." Ucap suamiku seraya tersenyum.
Aku lalu menatap ke arahnya dan menawari dia makan.
"Mau ?" Tanyaku.
"Maulah." Ucapnya seraya mengambil makan.
Selesai makan, aku lalu mencuci piring kami dan kembali lagi.
"Ay, sore nanti jalan-jalan yuk." Ajaknya.
"Hmm." Ucapku yang masih asik nonton tv.
"Segitu baguskah, sampai-sampai suami bicara di cuekin." Ucapnya.
"Maaf." Ucapku seraya tersenyum dan memandangnya.
"Jalan-jalan yuk." Ajaknya.
"Ya." Ucapku seraya tersenyum.
Lalu menonton televisi lagi, tapi langsung dimatiin oleh mas Agung. Aku menghembuskan nafas pelan dan menatapnya.
"Aku kerja enggak boleh, aku lihat tv kamu matiin dan mau tidur kamu larang. Mau kamu apa ?" Ucap dan tanyaku.
Bukannya menjawab, dia malah berlalu ke kamar.
Ck, begini ya rasanya jadi seperti ibu. Ucapku seraya beranjak dan menghampiri dia. Sesampai di kamar, dia menatap jendela kamar.
"Mas." Panggilku dengan lembut.
"Hmm." Ucapnya lirih.
"Kamu kenapa ? Tanyaku.
"Aku rindu kamu ay. Pengen banget bisa me time. Tapi aku sadar, sekarang sudah ada Rindu." Ucap suamiku lirih seraya memelukku.
"Oh jadi kamu begini, karena pengen kaya dulu." Ucapku seraya membalas pelukannya.
"Iya. Aku lelah di kantor capek kerja, di rumah bisanya ngobrol sama kamu cuma sebentar." Ucap suamiku.
"Mas, bersyukur ALLAH masih beri kita waktu berdua." Ucapku.
"Alhamdulillah, iya." Jawab suamiku seraya tersenyum dan melerai pelukannya lalu menatapku.
"Mas, Rindu nama lengkapnya siapa ?" Tanyaku.
"Astagfirullah iya ay, aku lupa belum kasih tahu ke kamu. Gimana kalau Cahaya Rindu Agni." Ucap suamiku.
"Agni ?" Tanyaku.
"Iya Agung dan Triyani." Ucapnya.
"Iya." Jawabku seraya tersenyum.
"Kenapa ?" Tanya suamiku.
__ADS_1
"Unik nama belakangnya." Ucapku seraya tersenyum.
"Kalau kamu enggak suka, kamu bisa menggantinya ay." Ucap suamiku.
"Suka kok." Ucapku lirih.
Saat asik mengobrol, tiba-tiba simbok mengetuk pintu kamar, kami pun langsung menoleh dan bertanya.
"Ada apa mbok ?" Tanya suamiku.
"Maaf pak, buk itu ada yang cariin bapak." Ucapnya.
"Oh ya makasih mbok." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Sama-sama pak." Ucap simbok yang belum lama kami pekerjakan.
"Siapa ?" Tanya suamiku yang tadi lupa bertanya sama simbok, siapa tamunya.
"Hai Kang." Ucap orang itu.
Deg
"Ningrum." Ucap suamiku seraya menghindarinya.
"Wah akang sukses ya sekarang, sudah bisa beli rumah sendiri. Wah jadi enggak sabar di nikahin akang." Ucap Ningrum.
Mendengar hal itu hatiku terasa tercubit, namun aku tidak ingin menyimpan rasa kebencian yang akhirnya membuat hatiku kotor.
"Ehem, siapa mas ?" Tanyaku seolah-olah belum tahu.
Suamiku langsung menatap aku dan tersenyum.
"Ningrum, teman kecilku dulu ay." Ucapnya seraya tersenyum dan memelukku.
"Dia siapa kang ?" Tanya Ningrum.
"Oh ya maaf, kenalin ini istriku." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Enggak." Ucap suamiku seraya menatapku.
"Duduk dulu mbak." Ucapku seraya mempersilahkan tamu kami duduk.
Namun dia langsung pergi tanpa sepatah kata apapun. Membuatku merasa bersalah.
"Kenapa ?" Tanya suamiku setelah kepergian Ningrum.
"Banyak juga ya yang antri." Ucapku seraya tersenyum.
"Maksudnya ?" Tanya suamiku.
"Kamu banyak yang ngantri." Ucapku.
"Ya, tapi aku sekarang dan selamanya menjadi milikmu." Ucap suamiku seraya membopongku dan membawaku ke kamar lalu menidurkan aku.
"Mbok, titip Rindu sebentar ya. Kalau bangun." Ucapnya seraya mengunci pintu.
"Ya pak. Hmm, adem rasanya ngeliat majikan bahagia." Ucapnya seraya menunggu anak kami.
Sementara Bayu kini tengah asik main gawainya. Ck, susah juga ya kalau enggak ada pasangan. Ucapnya.
Di tempat lain, Tari bertanya dalam hati. Tumben suaminya ngajak bertemu, dulu aja aku main sebentar udah ngamuk. Ucapnya lirih.
Sementara di rumah kami, suamiku tampak bahagia.
"Makasih ay." Ucap suamiku.
"Iya." Ucapku seraya tersenyum dan beranjak untuk mandi.
Selesai mandi dan sholat, aku lalu memandikan Rindu, tapi sayangnya Rindu sudah di mandiin simbok.
"Wah, anak ibu sudah mandi ya." Ucapku seraya tersenyum.
"Akhhh." Ucapnya seraya tertawa.
__ADS_1
"Makasih ya mbok, maaf nambah tugas simbok." Ucapku seraya tersenyum.
"Enggak apa-apa buk." Ucap simbok seraya pamit.
Tak lama suamiku sudah siap. Dan mengajak kami jalan keluar bersama. Dengan rental mobil temannya.
"Lho, ini kan arah ke rumah Tari mas." Ucapku yang kini sudah sampai di rumah Tari.
"Iya." Jawab suamiku lalu meminta pak sopir bunyikan klakson.
Pak sopir itu menurut dan muncullah Tari. Aku tersenyum kepadanya. Dan dia pun membalas senyumanku. Sementara Bayu nampak biasa saja, tak seperti biasanya. Si kembar nampak memanggilk.
"Mamam." Ucapnya.
"Oh mau ikut bude ya." Ucapku seraya tersenyum.
Mereka pun langsung tersenyum, tak terkecuali Bayu. Alhamdulillah Riri sudah senyum. Ucapnya lirih.
"Yuk sayang." Ucapku seraya mengangkat mereka. Dan tanpa sengaja tanganku bersentuhan dengan tangan Bayu.
"Maaf." Ucapku seraya tersenyum.
"Iya." Jawab Bayu.
Sementara suamiku sibuk dengan Rindu, begitupun Tari sibuk dengan Bagas. Dan aku dengan Bara.
Tanpa terasa, kami susah sampai di taman.
"Mas, ini bukannya tempat kita dulu ya." Ucapku.
"Iya." Jawab suamiku seraya tersenyum.
"Ayo Tar, Bay." Ajakku.
"Iya." Jawab mereka bersama.
Setelah dapat tempat duduk, si kembar dan putriku duduk di dekatku dan Bayu.
"Sebelumnya aku trimakasih banget, kamu mau terima ajakanku. Dan maaf bila dulu aku pernah marah, saat kamu main ke rumah." Ucapnya.
"Iya, sudah berlalu juga kok." Ucap Tari.
"Bay, aku juga minta maaf sama kamu kalau nanti kamu enggak berkenan." Ucap suamiku.
"Maksudnya ?" Tanya Bayu.
"Ehem, jadi gini Bay. Suamiku dan aku berniat baik pengen deketin kamu sama Tari. Tapi kalau enggak bisa, juga enggak apa-ap." Ucapku langsung ke intinya.
"Jadi kalian mengajak kami kesini hanya ingin itu ?" Tanya mereka bersama.
"Iya." Jawab kami bersama.
"Maaf Tri, aku enggak bisa." Ucap Tari seraya berlalu.
Aku lalu minta izin ke suamiku dan mengejarnya.
"Tar, tunggu." Ucapku seraya menarik tangannya agar tidak lari lagi.
"Tri, aku mau pulang." Ucapnya.
"Iya, nanti kami antar, tapi plis jangan marah." Ucapku.
"Gimana enggak marah, suamimu ngajak ngobrol tahunya mau comblangin aku dengan adik iparnya yang sudah punya istri dan anak." Ucap Tari.
Mendengar itu aku lalu memeluknya dan menjelaskan semua kepada Tari. Mendengar penjelasan aku, Tari langsung minta maaf. Dan akhirnya dia mau kembali bersama kami.
Sementara Bayu hanya terdiam seraya menatap suamiku dengan penuh selidik.
"Maaf, daripada kamu dipaksa ibumu terus." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Haha, bener juga." Ucap Bayu seraya tertawa.
Tak lama kami sudah datang dan kembali duduk bersama.
__ADS_1