
Tak lama gawainya bunyi lagi, namun suamiku hanya menatap sebentar lalu meletakkan di nakas lagi. Aku mengernyitkan kening, karena tidak biasanya dia cuek dengan hpnya jika sedang berbunyi. Aku lalu beranikan bertanya.
"Dari siapa ?" Tanyaku.
"Enggak tahu." Ucapnya seraya menatapku.
"Kenapa natap aku sampai begitu ?" Tanyaku.
"Karena ada pelakor yang godain suamimu, makanya aku lebih pilih natap kamu. Karena hanya kamu yang bisa melindungi aku dari kejahatan syahwatku." Ucapnya seraya tersenyum.
"Aamiin ya ALLAH." Ucapku.
"Aamiin." Ucap suamiku lagi.
Kami pun saling memandang lama, hingga tanpa sadar simbok melihat kami dengan terharu. Masyaallah, adem banget lihat mereka berdua. Ucapnya bahagia dan pergi kembali dengan tugasnya.
Di rumah Bayu, kini si kembar sedang asik makan bersama.
"Apah, Agas minta ayam oyeng." Ucapnya yang sudah agak lancar bicara.
"Oh ini sayang, Bara mau juga enggak ?" Tanya Bayu.
"No." Ucapnya.
"Ok." Jawab Bayu seraya tertawa.
Mereka kembar, namun beda sikap. Yang satu persis almarhumah mamanya, sedangkan Bara persis aku. Sayang, kalau kamu bisa lihat mungkin kamu akan tertawa sama seperti aku. Ucapnya dalam hati.
"Apah, Agas dah sai." Ucapnya lalu turun dan kursi.
"Oh Bagas udah selesai, hebat ya anak papa." Ucapnya seraya tertawa.
"Kasih apah." Ucapnya lalu memeluk tubuh papanya.
"Apah cuma ayang abang, ama adek enggak." Ucapnya langsung beranjak dari tempat duduknya.
Namun berhasil di cegah oleh mereka berdua.
"Abang, ama apah ayang adek." Ucap Bagas lalu memeluk Bara.
Bayu pun langsung memeluk si kembali, papa sayang kalian. Ucapnya lirih, namun masih bisa di dengar si kembar.
Sementara di rumah Rudi, lek Sinta nampak kecewa melihat Risa bersedih.
"Sudah to ndok, enggak usah sedih terus. Mending sini bantuin emak." Ucap lek Sinta.
"Ya mak, maaf." Ucap Risa.
"Ris, emak mau tanya. Tapi kamu jangan marah ya." Ucap lek Sinta.
"Insyaa ALLAH mak." Ucap Risa.
"Gini Ris, mak itu pernah dengar kamu pengen punya rumah sendiri. Apa itu benar ?" Tanyanya.
"Iya mak, maaf." Ucap Risa.
"Gini ya ndok, Rudi anakku itu hanya pegawai biasa. Bukan seperti Agung keponakan aku, yang bisa bangun rumah sendiri. Terus beli juga, Rudi itu anak orang enggak punya ndok. Dan Rudi juga anakku satu-satunya, besok kalau aku atau bapakmu enggak bisa apa-apa yang ngrawat kita ya hanya kalian." Ucapnya panjang lebar.
Mendengar itu, Risa langsung memeluk mertuanya dan minta maaf. Selesai minta maaf, mereka pun melanjutkan bekerja kembali.
Tak jauh juga dengan Bude Marni, dia kini tengah ada di toko emas.
"Aduh, mana ya yang pas buat anaknya Agung ?" Tanyanya.
"Yang ini mak pasti cantik."Ucap Nike.
Nike itu anak bungsu Bude Marni, dia baru pulang dari merantau jadi TKW. Jadi Riri belum kenal sama sekali.
__ADS_1
"Hmm, kalau si kembar ?" Tanyanya.
"Kembar mah ini aja." Ucap Nike.
"Ya, bagus." Ucapnya.
...Setelah di bungkus dan dibayar, mereka pun pergi. Membeli oleh-oleh untuk kami. Disana mereka sibuk cari oleh-oleh, disini kami asik selfi bersama Rindu dan mas Agung....
Tak lama si kembar datang.
Tok..Tok..Tok..
"Akak Ndu." Ucap mereka.
Mendengar suara mereka kami lalu bergegas keluar.
"Waalaikumsalam sayang." Ucap kami bersama.
"Lam wa ndut." Ucap Rindu.
"Atu ndak dut akak." Ucap Bara protes.
Mendengar itu kami semua tertawa, lalu memberi pengertian untuk mereka.
"Sayang, enggak boleh marah. Katanya anak papa, kalau anak papa enggak boleh marah." Ucap Bayu.
"Atu, ndak arah. Akak Agas ja tu yang arah teyus." Ucap Bara.
"Dia ngomong sih Ri, aku kurang faham." Ucap Bayu lirih.
"Maksudnya Bara, aku enggak marah, kakak Bagas saja tu yang marah terus." Ucapku.
"Oh gitu." Ucapnya.
"Iya." Ucapku.
Suamiku sedari tadi hanya diam, tidak seperti biasanya.
"Maaf ya Bay, niatku nyomblangin kami sama Tari gagal." Ucap suamiku.
"Ya elah, kamu daritadi diam karena itu ?" Tanya Bayu.
"Iya, aku takut kamu kecewa." Ucapnya.
"Santai saja kali Gung, semenjak Nia meninggal aku juga dah bertekad besarin si kembar dulu." Ucapnya.
"Terus jodoh dari emak kamu gimana ?" Tanya suamiku.
"Ck, ibuku hanya ngetes kesabaran Riri saja." Ucap Bayu lirih.
"Emangnya ujian, di tes segala." Ucap suamiku.
"Haha, bisa jadi." Ucap Bayu seraya menatapku sedang bercanda dengan mereka bertiga.
Tak lama bude Marni dan Nike datang.
"Assalamualaikum." Salam mereka.
"Kami yang di dalam langsung menoleh dan membalas sapaannya.
"Waalaikumsalam." Ucap kami.
Bude Marni, mari masuk." Ucap kami bersama.
"Halo cucu-cucuku." Ucapnya seraya mendekati mereka bertiga.
"Ish mbah au." Ucap mereka bertiga.
__ADS_1
"Ya sudah, mbah mandi dulu ya." Ucapnya.
"Ya." Ucap mereka bertiga.
Disini aku, mas Agung dan Bayu saling pandang.
"Siapa mas ?" Tanyaku lirih.
"Pacar aku." Ucapnya.
Mendengar itu aku hanya tersenyum, lalu mendekati orang itu.
"Siang mbak, kenalin saya Riri." Ucapku seraya tersenyum.
"Siang juga, aku Nike. Anak bungsu emak Marni." Ucapnya.
"Oh, kok saya baru tahu ya." Ucapku.
"Ya, aku kerja di TKW." Ucap Nike.
"Wah boleh dong saya ikut." Ucapku.
Mendengar itu suamiku langsung menatapku dan berkata.
"Enggak usah aneh-aneh deh, aku juga sudah kerja buat kalian." Ucapnya sedikit marah.
Bayu dan Nike melihat itu langsung tersenyum dan menggelengkan kepala.
Sedangkan aku hanya terdiam.
"Jangan gitu lagi Gung, menikah itu bukan berarti mengekang." Ucap Nike.
Tanpa menjawab suamiku lalu masuk kamar, dengan membanting pintu. Beruntung anak-anak sudah di bawa simbok keluar bersama Bude. Kalau tahu, bisa diikuti sama mereka.
"Maafin suamiku ya." Ucapku pada mereka.
"Tenang saja." Ucap mereka bersama.
Aku lalu masuk ke kamar, dan memeluknya dari belakang.
"Jangan gitu mas, enggak baik. Untung anak-anak pada enggak ada, kalau ada bisa bahaya." Ucapku.
Suamiku hanya diam, dia masih menatap arah depan.
"Mas." Panggilku.
"Hmm." Ucapnya.
"Jangan kaya gini dong." Ucapku.
Dia lalu melepas pelukanku dan beranjak mengunci pintu, lalu berbicara dengan aku.
"Kamu juga jangan gitu lagi ya. Aku menikahi kamu, karena ALLAH bukan karna yang lain." Ucapnya.
"Ya sudah iya." Ucapku.
"Biarkan begini dulu, aku mau kamu." Ucapnya. Dan tak lama, suamiku terlelap.
Ya ALLAH dia tertidur, jadi daritadi marah karena mengantuk. Hmmm besok lagi pasti lapar." Ucapku
Saat akan beranjak, pelukan suamiku makin erat hingga aku tidak bisa pergi kemana-mana. Aku lalu mengelus lembut rambutnya, dan berkata.
Putih, tampan dan pekerja keras. Itulah ayahnya Rindu. Tapi sayang masih hobi ngambek, alhamdulillah cuma sebentar. Aku bersyukur mas, kamu datang di waktu yang tepat. Waktu dimana aku hampir kehilangan kesucianku karena mabuk Cinta. Ucapku lirih.
Cup
Cup
__ADS_1
Cup
Tidur yang nyenyak mas. Ucapku sambil melepas pelukannya.