Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Makamkan Bapak.


__ADS_3

Selesai memandikan, mereka lalu mengangkat tubuh bapak ke dalam. Lalu di pakaikan kain kafan. Selesai itu mas Agung langsung pingsan kembali.


"Bantu saya, ada yang pingsan." Ucapnya seraya berteriak. Gegas Bayu lari, niat hati ingin ambil minum untuk kakak iparnya, namun dia batalkan karena mendengar teriakan seseorang.


Sesampai di luar, Bayu langsung membantu mereka.


"Antar ke rumahnya saja pak." Ucap Bayu.


"Baiklah." Ucapnya.


Sementara emak kini di peluk oleh warga dan saudara terdekatnya.


...Sesampai di rumah, aku dan Nia nampak terlelap. Karena ada ibu bidan yang sengaja di panggil oleh Bayu. Takutnya sang istri tidak bisa tidur, dan bisa membahayakan kesehatan janinnya....


Tak lama mas Agung sudah diletakkan di samping aku. Sementara Bayu dan yang lain memilih kembali lagi ke rumah duka.


Bu Nindi, yang kini berjaga di rumah kami pun memilih tidur menemani Nia. Hingga tepat jam 2 malam, aku terbangun. Aku lalu mengerjabkan mataku, dan menatap sekeliling kamar.


Mas, ku sentuh tubuhnya pelan. Dia yang baru sadar langsung menarik tubuhku perlahan dan menangis dalam pelukanku.


"Istighfar mas, kasihan bapak jangan nangis terus tapi doakan beliau." Ucapku seraya mengelus punggungnya pelan.


"Padahal kemarin beliau masih tersenyum bahagia ay." Ucapnya seraya menangis.


"Shtt, Menangislah mas tapi cukup malam ini saja." Ucapku lirih.


"Insyaa ALLAH ay." Ucapnya lirih.


...Dan tepat azan subuh, kami sudah berada di dalam rumah emak. Sebelum kesini, aku sudah minta izin ingin ikut serta. Awalnya mereka melarang, namun karena orang tuaku dan suamiku mengajak mereka akhirnya menyetujui....


Sesampai di rumah mertua, orang tuaku mengucapkan bela sungkawa pada mertuaku. Emak pun hanya mengangguk. Sementara aku di dekat suamiku, dia nampak meneteskan air mata lagi. Melihat itu bapak langsung memintaku memberi minuman itu kepada suamiku. Aku hanya menurut dan memberikan minuman itu kepadanya. Tak lama dia langsung terima dan minum. Selesai minum dia lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku.


"Sudah mas, doakan saja." Ucapku lirih.


"Iya." Ucapnya.


"Mas pak Roni dan bosmu datang." Ucapku lirih.


^^^Mendengar hal itu mas Agung lalu beranjak berdiri, namun belum juga bersalaman lagi-lagi suamiku pingsan. Hingga mereka pun langsung membantu kami menggotong tubuh suamiku masuk.^^^


Aku langsung memberi dia minyak kayu putih di hidungnya. Setelah sadar, dia langsung memelukku erat dan menangis lagi.


"Sabar Gung." Ucap mereka bersama.


...Lagi-lagi suamiku pingsan lagi. Melihat kondisi suamiku, atasan suamiku langsung memeluk tubuhnya dan berbisik tepat di telinga suamiku. Saat aku ingin bertanya kepada pak Roni, tiba-tiba aku menjadi mual. Melihatku demikian pak Roni langsung mengantarku ke kamar mandi....


"Duh mbak, mending emak pulang saja. Kasian Mbaknya mesti bolak-balik." Ucap Bu Nindi.


"Insyaa ALLAH enggak apa-apa buk." Ucapku lirih seraya pamit masuk lagi.


"Tri, Minumlah." Ucap pak Roni.

__ADS_1


Tanpa rasa curiga sedikitpun aku lalu menerima dan meminumnya.


"Makasih pak." Ucapku.


"Ya." Ucapnya seraya melangkah.


Sesampai di kamar, mas Agung sudah sadar. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan, aku lalu menghampirinya dan berkata.


"Sabar ya mas." Ucapku.


"Iya." Ucapnya seraya memelukku, namun netranya melirik ke arah pak Roni.


Pak Roni hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Kenapa ?" Tanya pak bos.


"Beres pak." Ucap pak Roni.


"Alhamdulillah." Ucap bos mereka.


Aku yang mendengar hal itu menjadi bertanya dalam hati. Mereka sedang apa sih ?


^^^Waktu pun berlalu, kini tiba waktunya untuk proses mengantar jenazah ke makam. Saat ini, aku berdampingan dengan mertua dan ibuku. Sementara suamiku, berdampingan dengan bapak dan Bayu.^^^


...Sesampai di makam, kami pun menyaksikan bapak dimasukkan ke liang lahat. Karena tidak mampu, akhirnya mas Agung digantikan oleh Bayu. Selesai dikubur, kami semua berdoa dan tabur bunga lalu pulang ke rumah....


Kedua orang tuaku pun juga langsung pulang, tanpa mampir. Karena di rumah sedang ada tamu. Aku pun mengiyakan dan langsung takzim kepada mereka.


Sesampai di kamar, aku melihat suamiku melamun.


"Mas, makan yuk." Ajakku.


"Ya." Ucapnya lirih.


...Kami pun langsung makan, bersama mereka semua. Dan tak ketinggalan ada emak juga di sana. Selesai makan, aku lalu masuk ke dalam dapur dan membersihkan semuanya. Barulah aku istirahat sejenak....


Saat akan terlelap, terdengar suara tangisan suamiku. Aku lalu mencari sumber suara itu dan rupanya ada di dalam kamar mandi.


"Mas." Panggilku lembut.


"Ay, aku gagal merawatnya ay." Ucap suamiku.


"Shht, kamu enggak gagal mas." Ucapku seraya mengajaknya berdiri dan pindah ke kamar. Sesampai di kamar, aku mengganti pakaiannya dan mengajaknya istirahat.


"Tidur yuk." Ajakku.


"Aku gagal ay." Ucap suamiku.


"Shtt." Ucapku seraya mengelus lembut rambutnya.


Tak lama terdengar suara dengkuran halus mas Agung. Aku pun langsung bersyukur, dan tak lama aku juga tertidur.

__ADS_1


^^^Sementara di kamar tengah, Nia dan Bayu sama-sama sudah terlelap juga. Berbeda dengan emak, emak masih terjaga. Bahkan kini beliau tersenyum sendiri. Akhirnya kamu meninggal juga. Ucapnya seraya tertawa kecil.^^^


Tanpa emak sadari, Bayu yang hendak ke kamar mandi menjadi terkejut mendengar perkataan emak. Ya ALLAH, aku lagi enggak salah dengarkan ? Tanyanya lirih.


...Tak ingin ada yang curiga, Bayu lalu ke kamar mandi dan selesai buang air, dia lalu kembali lagi. Namun lagi-lagi dia mendengar penuturan emak yang sama lagi. Membuat dia merekam ucapan beliau, dan berlalu masuk kembali....


^^^Kini hari pun sudah berganti, tepatnya sekarang sudah sebulan meninggalnya bapak mertuaku. Aku yang sudah beraktivitas seperti biasa begitupun dengan yang lain. Termasuk emak, yang kini tampak bahagia di rumah.^^^


"Mak, sudah makan ?" Tanya Riri anak tetangga sebelah.


"Belum." Ucapnya ketus.


"Sudah masak ?" Tanya Riri lagi.


"Belum". Ucapnya.


"Oh ya sudah." Ucapnya seraya berlalu.


Sementara kini, di kantor mas Agung sedang makan siang bersama dengan Bayu dan pak Roni.


"Gung, boleh aku tanya ?" Tanya pak Roni.


"Boleh." Ucapnya.


"Ini audio apa ya ?" Tanya pak Roni langsung ke intinya.


Ya sejak dimakamkan bapak, dan Bayu tanpa sengaja mendengar ucapan mertuanya Bayu langsung cerita dengan pak Roni. Kalau dirinya yang tanya, yang ada malah tambah runyam. Itulah mengapa Bayu memilih pak Roni yang menanyakan.


"Emang apa pak ?" Tanya suamiku.


"Coba kamu dengerin dulu." Ucapnya.


Suamiku pun menurutinya, dan doa langsung mendengarkan audio itu dengan headseat. Sementara Bayu hanya menundukkan wajah seraya berdoa. Selesai mendengar hal itu suamiku langsung bertanya.


"Darimana ini pak ?" Tanya suamiku.


"Kemarin pas kamu pingsan, dan mengantarmu ke kamar hpku jatuh." Ucapnya dusta.


Mendengar hal itu mas Agung langsung istighfar dan dia memilih untuk bekerja lagi. Sementara Bayu dan pak Roni hanya saling berpandangan.


Di rumah, kini aku tengah membungkus makanan untuk emak. Namun, belum juga selesai tiba-tiba terdengar pintu di ketok.


Tok...tok..tok..


"Ya siapa ?" Tanyaku.


"Aku." Ucap suamiku.


Mendengar hal itu aku lalu membukakan pintu, dan langsung takzim. Dia memelukku dan berkata.


"Ay, bawa aku pergi." Ucapnya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, aku lalu mengajaknya masuk.


__ADS_2