
"Mandi gi, keburu siang." Ucapku lirih seraya tersenyum.
"Ya ay, Bayu sudah kamu bangunkan ?" Tanya suamiku.
"Belum, tapi si kembar sudah aku mandiin dan ku beri minum susu." Ucapku lirih.
"Jangan lupa juga sama kewajiban kamu dan calon anak kita." Ucapnya seraya menatapku.
"Insyaa ALLAH." Ucapku.
Sepeninggal suamiku, aku lalu membersihkan kamar kami. Selesai itu, menyiapkan baju kerjanya dan keluar menyiapkan sarapan.
"Masak apa ?" Tanya Bayu tiba-tiba.
"Masak sop ayam sama jamur crispi dan usus crispi." Ucapku datar seraya berlalu.
"Makasih ya." Ucapnya.
"Ya." Ucapku lirih.
Tanpa kami tahu, suamiku melihat itu semua. Dia tersenyum dan bersyukur melihat kami saling menyapa, walaupun sudah berbeda.
"Ri, disini ada tempat kos-kosan enggak ya ?" Tanya Bayu lagi.
"Hmm, ada di belakang rumah. Siapa yang mau ngekos ?" Tanyaku.
"Aku." Ucapnya.
"Oh." Ucapku.
Mendengar itu suamiku langsung menyarankan Bayu.
"Bay, mending kamu jual saja rumah kamu. Kebetulan kemarin rumah sebelah mau di jual." Ucap suamiku.
"Benar juga tu Bay, daripada ngekos." Ucapku seraya mengambilkan makanan untuk suamiku.
"Ya juga ya." Ucapnya.
"Tapi tetap izin orang tuamu dulu." Ucapku lagi.
"Itu pasti Ri." Ucap Bayu.
Kami pun sarapan bersama. Dan selesai sarapan, suamiku pamit. Aku pun mengizinkan dan takzim. Sementara Bayu, sudah berlalu. Sepeninggal mereka aku lalu mengunci pintu, dan bersiap aktivitas kembali.
...Haduh, kenapa sayang ? Tanyaku lembut seraya mengelus lembut perutku yang kini sudah berusia 7 bulan. Sabar ya sayang, ibu sekarang harus merawat keponakan kamu. Kakak harus kuat ya. Ucapku lirih. Tanpa kutahu, Bayu memasang kamera kecil di kamar. Dia khawatir anaknya menangis tidak ada yang mendengar....
Mendengar hal itu, Bayu menangis. Ya TUHAN sungguh mulia sekali kakak ipar ini. Ucapnya dalam hati.
"Kenapa Bay ?" Tanya Sony.
"Enggak apa-apa, aku izin ke toilet sebentar." Ucapnya lirih.
"Kasihan kamu Bay." Ucapnya seraya berlalu.
Siang hari pun tiba, suamiku dan Bayu kembali ke rumah.
"Assalamualaikum anak-anaknya ayah." Ucap Bayu seraya tersenyum menatap mereka yang ku taruh di kereta dorong.
"Assalamualaikum." Salam Suamiku seraya mengelus lembut perutku dan menciumnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Ucapku seraya tersenyum dan takzim.
"Makan siang dulu mas, Bay." Ucapku.
"Iya." Jawab mereka bersama.
Aku lalu menyiapkan makan siang mereka dan aku sendiri. Sementara si kembar tengah asik menatap mainannya.
"Ri, kalau kamu lelah bilang saja ya. Nanti aku akan cari baby sister." Ucap Bayu.
"Insyaa ALLAH enggak Bay." Ucapku lirih.
Walaupun sebenarnya lelah, namun demi keluarga akan aku lakukan.
"Jangan buru-buru Bay, ingat sekarang kamu duda. Kamu yakin anakmu dirawat dengan baik ?" Tanya suamiku.
"Ya aku takut saja Gung, mengganggu istirahat istri kamu. Ditambah lagi aku nginep di sini sama kalian. Palagi aku ini kan cowok." Ucapnya.
"Bay, aku kenal kamu sudah tahunan, aku kenal kamu." Ucap suamiku.
"Ya tapi kamu enggak mikir, mulut tetangga." Ucapnya datar.
"Jujur aku juga takut, tapi aku percaya kamu enggak akan merusak kebahagiaan kakak ipar." Ucapku seraya menatap mereka bergantian.
"Berdoa saja, dan yakin saja enggak akan terjadi apapun." Ucap suamiku menengahi.
"Aamiin." Jawab kami bersama, lalu melanjutkan makan. Selesai makan, Bayu masuk kamar membawa serta si kembar.
Sementara kami duduk di teras.
"Ay, kamu kenapa ?" Tanya suamiku.
"Kecapean kamu." Ucap suamiku lirih.
"Hmm." Ucapku seraya menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Yuk periksa." Ajaknya.
"Yuk." Ucapku.
"Bay, aku antar istriku dulu ya." Ucap suamiku.
"Iya." Jawab Bayu lirih.
Sepeninggal kami, Bayu lalu melihat rekaman kami bertiga.
Keponakan aku pinter ni sudah enggak rewel. Alhamdulillah tersenyum, kakak yang sabar ya. Maafin aku ya ganggu kakak. Ucapku bermonolog sendiri seraya mengelus lembut perutku sendiri.
Maafin ayah ya sayang, ayah belum bisa jagain kalian. Maafin aku juga Gung dan Riri, sudah terlalu sering merepotkan kalian. Ucapnya lirih seraya menangis.
Tepat jam 1, Bayu keluar kamar. Lalu menunggu kami di teras depan. Tak lama kami pun datang.
"Titip si kembar lagi ya." Ucap Bayu.
"Iya." Ucapku lirih.
"Ay, aku berangkat dulu ya." Ucap suamiku.
"Ya." Ucapku seraya takzim dan tersenyum.
__ADS_1
"Ayah kerja dulu ya debay." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Iya ayah." Ucapku menirukan suara anak kecil.
Membuat mereka tertawa bersama. Dan langsung menyebrang ke kantor. Sementara aku, langsung masuk ke dalam menemani mereka lagi.
Tok...Tok..Tok..
"Ya siapa ?" Tanyaku dari dalam.
Tok...Tok...Tok..
Aku lalu menghubungi suamiku, beruntung langsung tersambung. Baru juga pamitan, sudah kangen saja. Ucapnya seraya tertawa kecil.
("***-." Ucapnya terhenti karena terdengar suara menjerit. Suamiku langsung lari, dan menyebrang di jalan. Sony dan yang lainnya merasa ada yang aneh, mereka mengikuti suamiku dari belakang. Begitu juga dengan Bayu.
"Hai." Teriak suamiku.
"Lepasin istriku, kalian mau apa ?" Tanya suamiku seraya melihat sekitar dan melirikku.
"Aku mau uang." Ucap perampok itu.
"Berapa ?" Tanya bos suamiku yang datang tiba-tiba.
"1m." Ucap mereka.
"Lepasin dia, dan kalian ikut aku. Ucap bos suamiku.
"Tidak bisa." Ucap salah satu rampok itu.
"Kami tetap bawa bumil ini." Ucapnya seraya menekan tanganku.
"Lulu." Panggilku seraya menahan rasa sakitku.
Spontan mereka semua terkejut, tak terkecuali Lulu.
"Yang dia inginkan aku, bukan uang. Karena dia mencintai suamiku. Sama halnya Dewi, mereka membuat kami lemah dulu." Ucapku keras.
"Jangan sembarangan nuduh kamu." Ucapnya.
"Bay, lihatlah pesan hp milik almarhumah. Karena posisi kejadian gawaiku dengan gawai Nia terhubung. Nia khawatir kalau akan ada suatu masalah." Ucapku.
Bayu lalu membuka gawai Nia, dan benar saja disana ada nomer hpnya Dewi. Mengirimkan video dan foto syurnya yang sudah di edit dengan wajah Bayu.
"Astagfirullah." Ucap mereka semua.
..."Dan di RS, melihat Nia sadar kamu menyamar jadi suster dan mau memberikan suntikan untuk Nia. Namun melihat Bayu terbangun, kamu lalu pergi. Sementara Nia sudah tahu itu adalah kamu, namun dia tak bisa bicara." Ucapku panjang lebar. ...
Mereka yang mendengar itu langsung bertindak cepat, saat mereka lengah, Bayu, suamiku dan Sony langsung menangkap mereka. Sementara suamiku menyelamatkan aku.
"Lepas Bay." Ucapnya seraya menahan sakit.
Namun tidak digubris oleh Bayu, kedua perempuan itu langsung di bawa ke kantor. Dan di beri surat pemecatan di kantor, tak hanya itu saja mereka juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang dengan sengaja meneror Nia.
Sepeninggal mereka suamiku langsung memeluk tubuhku. Dan mengobati lukaku.
"Ay, ternyata kamu sudah tau semua ?" Tanya suamiku.
"Aku tahu juga baru tadi mas." Ucapku.
__ADS_1
"Saat banyak pesan masuk di gawaiku." Ucapku jujur.