
"Weh, siapa ni yang datang ?" Tanya ibu Gina.
"Si kembar sama Rindu mbah." Ucapku seraya tersenyum.
"Utu-utu lucunya, Ti gendut juga ya si kembar." Ucapnya.
"Alhamdulillah bu, cocok susunya." Ucapku seraya tersenyum lagi.
"Haha, bukan cocok susunya. Tapi cocok sama yang ngasuh." Ucap Bu Gina.
"Aamiin bu. Kalau gitu kami pamit dulu bu." Ucapku seraya tersenyum.
"Oh iya." Ucapnya seraya tersenyum.
Kami pun jalan-jalan keluar bersama, tepat di persimpangan jalan aku ketemu Bayu dan suamiku juga pak Roni.
"Papapa." Panggil si kembar.
"Akh." Teriak Rindu.
Mendengar itu, aku dan mereka saling tatap.
"Oh papa sama ayah ya nak. Mereka sedang kerja sayang." Ucapku seraya tersenyum kepada si kembar dan putriku.
Sementara mereka berdua langsung melambaikan tangan. Dan mendekati kami.
"Utu-utu anak ayah, cantik banget sih." Ucap suamiku seraya mencium pipinya. Dan membuat Rindu tertawa.
"Utu-utu anak papa lucu-lucu banget." Ucap Bayu seraya menggendong si kembar.
Sementara pak Roni hanya melihat dan tertawa. Tak lama mereka pun pamit kembali kerja. Dan alhamdulillah ketiga anak-anak kami tidak menangis.
Sesampai di kantor, pak Roni menatap Bayu dan suamiku.
"Kenapa pak ?" Tanya mereka bersama.
"Dibalik anak-anak kalian yang gemuk, ada istri dan kakak ipar yang tubuhnya remuk." Ucapnya seraya berlalu.
"Maksudnya apa pak ?" Tanya mereka lagi.
"Ck, kalian sadar enggak sih, Riri itu butuh libur. Dulu sebelum nikah sama kamu dia kaya apa ? Sekarang setelah nikah dan punya anak, wajahnya beda." Ucap pak Roni.
Mendengar hal itu suamiku hanya terdiam dan Bayu juga terdiam.
...Tak lama mereka pun pulang. Bayu langsung pulang dan bergegas mandi lalu menjemput si kembar. Begitupun dengan suamiku, pulang ke rumah dia lalu membersihkan rumah dan mandi sholat dan ngaji....
Sedangkan aku disini, habis jalan-jalan langsung duduk di teras. Bermain dengan Rindu, karena si kembar sudah di jemput Bayu.
"Ay, mau mahgrib anaknya ajak masuk dan jangan lupa tutup pintu." Ucap suamiku.
"Iya mas. Ayo sayang masuk." Ucapku seraya menaruh Rindu ke stroler.
Selesai menutup pintu, aku lalu mengajak Rindu melihat tv.
"Aduh, cantiknya princes ayah." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Akhhh." Ucapnya seraya tertawa.
"Aduh kaget ayah." Ucap suamiku.
"Minum dulu mas." Ucapku seraya tersenyum.
"Makasih ay." Ucap suamiku.
"Sama-sama." Ucapku lirih.
"Kenapa ?" Tanya suamiku.
"Makasih sudah mau bantu urus rumah." Ucapku lirih.
"Ya." Ucapnya seraya bermain kembali bersama Rindu.
^^^Jam 7 malam, Rindu sudah menangis minta susu. Aku lalu membawanya ke kamar dan memberikan asi. Sementara mas Agung membersihkan mainan Rindu. Dan menyiapkan makan malam.^^^
Tak lama aku keluar, karena Rindu sudah tertidur lelap.
"Makan dulu." Ucap suamiku.
"Iya." Ucapku seraya mendekatinya.
Sementara Bayu kini tengah asik bermain dengan si kembar. Aduh kalian mau kemana ? Tanya Bayu.
Namun mereka malah naik ke kursi, seraya tertawa.
"Aku enggak nyangka Riri bisa melakukan sendiri. Sementara aku tidak bisa. Ucapnya lirih.
Saat asik melamun, Bara terjatuh dan menangis keras. Bayu langsung menenangkan, namun tidak berhasil.
Tangisan Bara yang kenceng membuat kami keluar.
"Bay, kenapa ?" Tanya suamiku.
"Jatuh." Ucap Bayu.
Mendengar hal itu mataku membola dan syok.
"Astagfirullah, mana yang sakit sayang." Ucapku seraya mengambil Barat dari gendongannya.
Melihat itu Bayu langsung menggendong Bagas. Sementara suamiku pamit pulang. Takut Rindu bangun. Setelah tenang dan ku olesi minyak, dia kini tertidur.
"Bay, nanti kamu olesi lagi ya. Biar enggak kelihatan memar." Ucapku seraya menidurkan Bara.
"Ya Ri. Makasih ya. Dan maaf soal tadi." Ucapnya.
"Iya." Ucapku seraya pamit.
Sesampai di rumah, suamiku sudah di kamar. Menemani Rindu.
"Sudah ?" Tanya suamiku.
"Sudah." Ucapku seraya tersenyum.
Aku menatap mereka seraya tersenyum, merasa diperhatikan suamiku lalu menatapku dan bertanya ?
__ADS_1
"Kenapa ?" Tanya suamiku.
"Kalian berdua ini persis banget ya." Ucapku seraya tersenyum.
"Namanya juga anak sama bapak." Ucapnya seraya menarik tanganku pelan.
"Ish, nanti dia bangun." Ucapku.
"Enggak." Ucap suamiku.
Sementara di lain rumah, Bayu kini melihat album poto pernikahannya dengan Nia.
Sayang aku rindu. Ucapnya dengan berderai air mata. Saat sedang asik melihat foto, Bagas tiba-tiba terbangun.
"Papapa." Panggil Bagas.
"Ya sayang." Ucap Bayu seraya mendekati Bagas lalu memeluknya.
"Papapa." Panggilnya lagi seraya menatap Bayu dan tangan kecilnya mengusap air mata sang papa.
"Makasih sayang." Ucap Bayu seraya tersenyum.
...Tak lama Bagas terlelap kembali. Bayu tersenyum melihat sang putra terlelap kembali. Selesai menidurkan Bagas, Bayu lalu merebahkan tubuhnya di dekat si kembar dan tidur bersama....
^^^Sementara aku di sini yang baru ingin istirahat, tiba-tiba anakku nangis. Aku lalu memberikan asi, tak lama dia tidur lagi. Sedangkan suamiku saat ini sedang di teras, dia sedang mencarikan Art untukku.^^^
Saat sedang asik mencari Art, tiba-tiba ada orang yang datang.
"Malam mas." Ucap perempuan berhijab dan memakai sorban itu.
"Ya." Ucap suamiku datar.
"Bisakah saya minta airnya mas ?" Tanya perempuan itu.
"Tunggu di sini, saya ambilkan di dalam." Ucap suamiku.
"Iya." Ucapnya.
Sementara aku yang mendengar suamiku masuk ke dalam dapur, langsung bertanya.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Ada perempuan bersorban minta air." Ucap suamiku.
"Sini biar aku saja yang kasih." Ucapku.
"Ini." Ucapnya seraya tersenyum.
Aku pun membuang air itu, dan mengisinya lagi dengan ku bacakan doa. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh.
"Ini mbak." Ucapku seraya menyerahkan botol itu lagi kepadanya.
"Makasih." Ucapnya seraya menatapku.
"Sama-sama. Ucapku.
...Melihat dia sudah pergi, aku lalu menutup gerbang dan masuk ke dalam rumah. Ya rumah yang di beli suamiku, ada pintu pagarnya. Itulah mengapa aku selalu menguncinya kalau sudah malam. ...
"Mas, besok - besok tutup aja pagarnya." Ucapku lirih.
"Memangnya kenapa ?" Tanya suamiku.
Dia tersenyum dan mendekati aku, lalu bertanya.
"Enggak peka gimana ay." Ucap suamiku lirih.
"Merasa janggal enggak sih kamu, sama perempuan tadi ?" Tanyaku.
"Janggal, karena setahuku orang bercadar itu mengucapkan salam dulu." Ucapnya.
"Mulai besok tutup pagarnya." Ucapku.
"Iya sayangku." Ucapnya seraya tertawa.
"Enggak ada yang lucu, ngapain tertawa ?" Tanyaku.
"Ada." Ucapnya lirih.
"Apa ?" Tanyaku.
"Melihat kamu cemburu aku bahagia." Ucapnya seraya memelukku.
"Wajarlah namanya istri." Ucapku.
"Iya." Ucapnya seraya menatapku.
Dan kini, Bayu kembali terjaga karena gawainya bergetar. Alhamdulillah anak-anaknya enggak terbangun.
("Assalamualaikum, halo." Jawab Bayu.)
("Waalaikumsalam Mas." Ucapnya.)
("Kamu siapa ?" Tanya Bayu.)
("Aku Lusi." Ucapnya.)
("Ck, Lusi siapa ?" Tanya Bayu.)
("Calon istrimu." Ucapnya lirih.)
("Jangan ngawur kamu. Aku sudah menikah." Ucap Bayu dengan nada ketus.)
("Katanya istrimu meninggal ?" Tanya Lusi.)
Namun tidak di jawab oleh Bayu dan langsung dia matikan. Astagfirullah, kenapa ibuku selalu begini. Ucapnya seraya istighfar.
("Gung, titip anak-anak bentar ya." Tulis pesan Bayu.)
("Kemana ?" Tanya suamiku.)
("Aku mau pulang, aku lelah dijodohin terus sama ibu." Tulis pesan Bayu.)
("Sabar, tunggu sampai besok." Balas suamiku.)
__ADS_1
("Baiklah." Ucap Bayu.)
"Siapa ?" Tanyaku.
"Bayu, mau dijodohkan ibunya." Ucap suamiku.
"Hmm." Ucapku.
"Ay, teman kamu ada yang single enggak ?" Tanya suamiku.
"Ada sih Tari, yang dulu datang kesini ngasih undangan. Tapi akhirnya batal nikah." Ucapku.
"Innalillahi, kok bisa ?" Tanya suamiku.
"Calon suaminya kecelakaan dan meninggal di tempat." Ucapku lirih.
"Innalillahi wainnalillahi rojiun." Ucap suamiku.
"Terus sekarang ?" Tanya suamiku.
"Sekarang dia masih sendiri, dan kemarin aku juga habis bertukar pesan kok dengannya." Ucapku.
"Bisa enggak besok diminta kesini ?" Tanya suamiku.
"Buat apa ?" Tanyaku.
"Minta tolong saja." Ucap suamiku.
"Enggak, aku tahu, kamu memintanya untuk pura-pura jadi pacarnya Bayu kan ?" Tanyaku.
"Bukan gitu ay, kita jodohin mereka berdua." Ucapnya.
"Aku rasa Bayu akan menolak." Ucapku lirih.
"Kenapa ?" Tanya suamiku.
"Dia sudah enggak virgin mas." Ucapku lirih.
"Dulu almarhumah Nia juga enggak ay, namun Bayu menerima. Kita coba dulu saja." Ucap suamiku seraya tersenyum.
"Baiklah." Ucapku seraya tersenyum.
^^^Malam pun semakin larut, aku masih terjaga. Sementara suamiku sudah terlelap bersama putri kami. Begitupun dengan Bayu, Bayu juga masih terjaga. Tak sengaja dia melihatku sedang onlain, dan langsung mengirimkan pesan. ^^^
("Belum tidur ?" Tanya Bayu.)
Hpku bergetar, aku lalu membaca pesan yang dikirim oleh Bayu.
("Belum." Balas pesanku.)
("Kenapa ?" Tanya Bayu.)
("Enggak tahu ni." Tulisku.)
("Pasti mikirin si kembar ya ?" Tanya Bayu.)
("Iya mungkin." Ucapku. )
("Mereka anteng kok, sudah buruan tidur." Ucapnya seraya mengirimkan foto si kembar.)
("Alhamdulillah mereka nyenyak tidurnya. Kamu sendiri kenapa begadang ?" Ucap dan tanyaku.)
("Aku enggak mau dipisahkan dengan kedua putraku." Ucap Bayu.)
("Innalillahi, enggak ada juga kali yang mau misahin kalian." Ucapku.)
("Ibuku menjodohkan aku dengan Lusi, dan ibuku juga meminta tinggalin si kembar." Ucapnya.)
Saat ingin menjawab, suamiku memelukku erat dan mengigau. Sayangnya ayah cantik banget sih. Ucapnya lirih seraya tersenyum.
Mendengar hal itu aku tersenyum dan lalu membalas pesan Bayu.
"Astagfirullah, lebih baik musyawarah dulu Bay." Ucapku.
("Percuma Ri." Ucap Bayu.)
("Di coba dulu." Ucapku.)
("Iya." Ucapnya.)
Aku lalu meletakkan gawaiku di nakas, suamiku pun langsung terbangun.
"Kirain siapa." Ucap suamiku lirih.
"Maaf, emang kamu kira siapa ?" Tanyaku lembut.
"Aku kira Rindu." Ucapnya seraya menatapku.
"Bukan." Ucapku.
"Kamu belum tidur ?" Tanya suamiku.
"Enggak bisa tidur mas." Ucapku lirih.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Mikirin si kembar dan Rindu juga kamu." Ucapku.
"Memangnya kenapa ?" Tanya suamiku.
Aku lalu menjelaskan semuanya. Suamiku pun mendengarkan dengan baik.
"Daridulu ibunya Bayu memang gitu ay, makanya dari lulus kuliah, Bayu memilih hidup mandiri." Ucap suamiku.
"Tetap saja kasian si kembar mas." Ucapku lirih.
"Terus kalau Rindu dan aku kenapa ?" Tanya suamiku.
"Kalau Rindu, biasa bersama si kembar kalau nanti mereka enggak ada pasti dia nyariin." Ucapku.
"Kalau aku ?" Tanya suamiku.
"Kalau kamu, aku takut kamu menuruti permintaan emak." Ucapku lirih.
__ADS_1
"Aku akan usaha ay, kalau aku bisa buat kamu dan Rindu bahagia. Agar emak, bisa lihat ketulusan hati aku mencintaimu." Ucapnya seraya menatapku dan menciumku.