Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Keluar Berdua


__ADS_3

"Heh, pagi-pagi malah melamun." Ucapnya seraya tertawa karena melihatku terkejut.


"Enggak melamun, cuma lagi mikir. Enggak nyangka saja berjodoh dengan temanmu." Ucapku lirih, namun masih bisa di dengar olehnya.


"Iyalah, itu semua karena aku." Ucapnya dengan bangga.


"Mulai deh sombongnya." Ucapku mengingatkan.


"Haha, enggaklah adikku sayang." Ucapnya.


...Sepeninggal kakakku, aku langsung beranjak masuk kamar. Karena kegiatan aku sudah selesai, sementara ibuku ada di rumah simbah dengan bapak. Hmm sepi, ah mending chatingan sama Wulwul atau Tari. Ucapku seraya melangkah masuk kamar, mengambil hpku....


Belum juga terkirim,tiba-tiba dari luar terdengar suara menyapa.


"Assalamualaikum." Sapa calon suamiku.


Deg...


^^^Itu bukannya, ah ya ALLAH kenapa pikiran aku ke dia terus ? Sudah cinta kah aku padanya, atau ah mikir apa sih aku ini. Ucapku seraya keluar menemui tamu.^^^


"Waalaikumsalam". Ucapku.


"Hai, jalan yuk." Ajaknya.


"Ya, emang hubby enggak kerja ?" Tanyaku lembut seraya takzim kepadanya.


"Kerja, cuma kali ini kita semua di ajak liburan sama atasan." Ucapnya seraya menatapku yang memakai pakaian terbuka.


"Oh, kenapa liatinnya gitu banget ?" Tanyaku lirih.


"Ganti bajumu, aku enggak rela tubuhmu dinikmati laki-laki lain. Maksudnya dilihat laki-laki lain." Ucapnya.


"Iya pakcasu." Ucapku seraya tersenyum.


Setelah mengganti baju, aku langsung keluar. Dan dia tersenyum seraya bertanya.


"Pakcasu maksudnya apa ?" Tanyanya.


"Bapak calon suami." Ucapku lirih.


"Hmm, ada-ada saja kamu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Tunggu aku pamit dulu." Ucapku.


"Iya." Ucapnya.


...Selesai pamit, kami lalu naik bis dan banyak rekan-rekan kerjanya yang menggoda. Membuatku hanya menundukkan wajahku seraya mengikutinya....


"Cie-cie calon pengantin baru lewat cuy." Ucapnya seraya tertawa.


Sesampai di kursi, kami lalu duduk dan bus yang kami tumpangi pun berjalan dengan kecepatan sedang.


"Ehem, kenapa ?" Tanyanya.


"Aku enggak pede." Ucapku lirih.


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Ya aku kan bukan karyawan kantor, kok aku dibawa, entar Bosmu marah." Ucapku lirih seraya melihat sekitar.


Cup


"Enggak akan marah, aku bawa kamu juga bayar kok." Ucapnya seraya mencium pipiku.


"Ih, curi-curi kesempatan." Ucapku dengan cemberut.


"Hehe maaf, habisnya kamu cantik banget." Ucapnya seraya tertawa.


"Ih, udah ah aku mau liat jalanan dulu." Ucapku seraya menatap kaca jendela bisa.


"Hmm ya sudah, tapi jangan jatuh cinta selain sama aku." Ucapnya lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Insyaa ALLAH enggak." Ucapku seraya mengelus lembut pipinya.


"Makasih." Ucapnya.


"Sama-sama." Ucapku.


"Aku ngantuk hanny." Ucapnya.


"Tidurlah." Ucapku lirih.


Dia lalu merebahkan kepalanya di pahaku, dan tak lama dia tertidur. Begitupun dengan aku, aku memilih tidur.


^^^Tak sadar, sepasang mata menatap kami sedari tadi. Hmm, dasar Agung bucin sama anak abege. Tapi bukan salah dia juga sih, karena cinta itu kadang hilang logika. Ucapnya dalam hati.^^^

__ADS_1


...Tak berselang lama, kami terbangun karena sudah sampai. Kami saling memandang dan tersenyum. Namun aku langsung merapikan rambutnya yang acak-acakan karena tidur tadi....


"Makasih." Ucapnya seraya tertawa.


"Sama-sama." Ucapku lalu melangkah keluar dari bus.


Sesampai di pantai, kami langsung duduk di sana untuk makan siang.


"Makan dulu han." Ucapnya.


"Iya by." Ucapku lirih.


Selesai makan, kami langsung menuju ke pantai tanpa kami tahu bosnya mas Agung sedari tadi menatapku.


"Jadi dia Ron, calonnya Agung ?" Tanya bosnya.


"Iya pak." Ucapnya seraya tersenyum.


"Lumayan juga dia miliknya." Ucapnya seraya tertawa.


^^^"Iya pak, padahal enggak pernah bertemu ya. Tapi tetap saja, takdir mereka begitu indah. Moga sampai jannah." Ucapnya seraya mengaminkan doanya.^^^


Sementara kami, sedari tadi hanya melihat orang-orang sekitar pantai.


"Hmm, indah ya han." Ucapnya seraya tersenyum.


"Iya, lebih indah lagi senyummu." Ucapku seraya mengerlingkan mata.


Membuat dia tertawa dan langsung memelukku erat.


"Sudah pandai gombal ya sekarang." Ucapnya.


"Aku kan belajar dari kamu." Ucapku lirih.


"Pandai menjawab juga." Ucapnya lalu membopongku.


"Hubby, turunin aku malu." Ucapku seraya terisak.


"Enggak akan." Ucapnya seraya melangkah maju ke depan.


"Cie-cie." Ucap rekan kerjanya membuat aku malu.


Menyadari itu,dia menurunkan aku. Kami saling memandang dan tersenyum.


"Iya, ayuk." Ucapnya.


"Tapi aku enggak bawa baju." Ucapku.


"Udah aku bawakan hanny." Ucapnya genit.


"Ish genit." Ucapku seraya memukul dadanya.


"Hehe, enggak apa-apa." Ucapnya.


"Hmm." Ucapku kemudian.


Sesampai di pantai, aku dan dia saling berselfi. Selesai selfi, kami pun duduk di pasir bersama. Hingga terdengar suara pak Roni memanggil mas Agung.


"Gung, aku cariin kemana-mana, tahunya di sini." Ucapnya seraya cemberut.


Spontan kami menoleh dan tersenyum.


"Iya ada apa pak ?" Tanyanya.


"Aku mau bicara penting sama kamu." Ucapnya lirih.


Mendengar hal itu, aku lalu beranjak pergi.


"Hai, mau kemana ?" Tanyanya.


"Mau ke sana." Ucapku.


"Disini saja." Ucap calon suamiku.


"Tapi." Ucapku.


"Tidak boleh ada penolakan." Ucapnya.


"Iya." Ucapku.


"Jadi gini Gung, besok ulang tahun anakku. Dia pengen ultahnya dirayakan bersama kamu." Ucapnya seraya menatap kami.


"Yang cewek itu pak ?" Tanya calon suamiku.


"Iya." Ucapnya.

__ADS_1


"Gimana han ?" Tanyanya.


"Terserah kamu." Ucapku.


"Nanti pak, aku konfirmasi dulu." Ucapnya.


"Ok." Ucapnya seraya pamit berlalu.


"Kamu cemburu ya ?" Tanyanya.


"Enggak." Ucapku.


"Hmm, senang banget aku." Ucapnya seraya memelukku dan berbisik. Anaknya memang perempuan, namun dia masih balita." Ucapnya.


"Bohong." Ucapku.


"Beneran." Ucapnya seraya memperlihatkan foto balita itu kepadaku.


"Ini siapa ?" Tanyaku.


"Ini anak pak Roni." Ucapnya.


"Hmm." Ucapku.


"Boleh ya." Ucapnya seraya menatapku.


"Boleh." Ucapku.


"Alhamdulillah." Ucapnya seraya tersenyum.


Tak lama, kami pun kembali naik bis lagi. Dan pindah ke pantai berikutnya.


...Namun saat akan masuk bus, tanganku ditarik keluar oleh seseorang. Hingga membuat pegangan tangan kami terlepas....


"Aduh." Ucapku kesakitan.


Spontan mas Agung menghampiriku.


"Hanny, kamu tidak apa-apa ?" Tanyanya.


"Enggak." Ucapku.


"Dasar perempuan ja*ang." Ucapnya dengan ketus.


Mendengar hal itu kami terkejut dan aku juga belum mengenalnya, namun ucapannya menyakiti hatiku.


"Maksudnya apa ini ?" Tanyaku.


"Sudahlah tak perlu pura-pura, kau ini merebut calon suamiku." Ucapnya dengan suara parau.


"Astagfirullah, innalillahi, ALLAH Akbar, Nauzdubilahmindzalik." Ucap kami bersama.


"Mbak, mbak sadar enggak dia ini siapa ?" Tanya calon suamiku.


"Iya." Ucapnya.


"Dia ini calon saya mbak, enggak mungkin juga dia ganggu calonmu." Ucapnya.


"Aku punya buktinya." Ucapnya seraya mengeluarkan gawainya.


"Ok, mana buktinya." Ucapku seraya menunggu buktinya.


"Ini." Ucapnya seraya menyerahkan gawainya.


Kami saling menatap dan mengucapkan istighfar.


"Benarkan." Ucapnya dengan nada tinggi.


"Mbak, anda salah orang." Ucap kami bersama.


"Enggak." Ucapnya masih pada pendiriannya.


^^^Tak lama, calon yang ia sebut datang dan bertanya. Mas Agung pun akhirnya menjelaskan semuanya, mendengar hal itu dia minta maaf dan mengajak calonnya pergi. ^^^


Sepeninggal mereka, kami kembali ke dalam bis. Dia lalu mengobati luka di tanganku, akibat terlalu kasar perempuan tadi mencengkeram tanganku.


Selesai memberikan obat, dia langsung meniupnya.


"Masih sakit ?" Tanyanya lirih.


"Enggak." Ucapku seraya tersenyum.


"Alhamdulillah." Ucapnya.


Tak lama kami turun lagi dan melihat sekeliling pantai.

__ADS_1


__ADS_2