
Sesampai di kamar, suamiku lalu merebahkan tubuhku di tempat tidur, dan kini dia pun ikut serta juga. Tanpa ku tahu, dia merekam aktivitas itu di handycannya.
"Ay, apa yang kamu rasakan hari ini ?" Tanya suamiku.
"Bahagia, namun disisi lain aku juga kepikiran sama emak." Ucapku jujur.
"Jangan terlalu dipikirin, kasihan debaynya." Ucapnya lirih.
"Biar bagaimanapun dia mertuaku, ibu kamu juga. Pastilah aku fikirkan." Ucapku.
"Ya dipikir boleh, tapi jangan terlalu." Ucapnya seraya mengecup keningku dan perutku.
"Ya mas." Ucapku seraya tersenyum.
Kami pun saling memandang dan tersenyum.
"Dulu aku ragu bisa dapatkan kamu, mengingat kamu masih kecil banget." Ucapnya lirih seraya menyelimuti tubuh kami.
"Gerah mas." Ucapku.
"Bentar sayang, besok aku keluar kota selama 3 hari, boleh ya." Ucapnya.
Mendengar hal itu aku langsung bertanya.
"Kok enggak bilang ?" Tanyaku.
"Semalam bos baru kasih tahu, aku sama Bayu diminta keluar kota." Ucapnya.
Mendengar hal itu aku bisa maklum, karena semalam masih banyak orang. Aku pun hanya mengangguk dan langsung menggenggam tangan suamiku.
"Geli mas." Ucapku lirih.
Tanpa menjawab, suamiku langsung mencumbui aku. Selesai ritual, kami saling pandang dan terlelap di tempat tidur. Tepat jam 10, aku terbangun. Perutku terasa lapar lagi. Sementara suamiku, menatapku dengan tatapan teduh dan tersenyum.
"Mas makan yuk." Ajakku.
"Nanti ay." Ucap suamiku.
"Ya sudah, aku makan dulu ya." Ucapku lirih.
"Iya." Ucapnya seraya memperhatikan bekas tanda kepemilikan di tepat leher kananku.
Sepeninggal aku, suamiku lalu mengambil handycannya dan mematikan rekaman tersebut. Lalu menyimpan di laci nakas.
Selesai makan, aku lalu ke halaman belakang. Aku tersenyum melihat halaman belakang masih asri. Saat menatap arah kiri, ada bapak-bapak yang menatapku dengan genit seraya menjilati bibirnya.
Astagfirullah. Ucapku lalu masuk kembali ke dalam dan menutup pintu rumah.
"Kenapa ay ?" Tanya suamiku karena melihatku berlari.
"Aku takut." Ucapku seraya menatap pintu.
"Takut apa ?" Tanya suamiku.
Aku pun menceritakan semuanya kepadanya. Dia pun paham, dan menenangkanku.
"Besok selama pergi, kamu punya teman kok ay. Ada keluarga pak Roni disini." Ucap suamiku.
"Serius mas ?" Tanyaku.
"Insyaa ALLAH." Ucapnya seraya tersenyum dan memelukku, namun netranya masih menatap pintu belakang.
"Mas, terus kalau Bayu keluar kota, Nia sama siapa ?" Tanyaku.
"Nia minta ikut, awalnya sudah dicegah, namun dia ngotot pengen ikut." Ucapnya.
"Kalau gitu, aku ikut juga ya mas." Ucapku lirih.
__ADS_1
"Nanti aku tanya dulu." Ucap suamiku seraya tersenyum.
Suamiku yang penasaran, langsung mengajakku ke halaman belakang. Awalnya aku menolak, namun setelah mendengar ucapannya aku pun menurut. Sesampai di halaman belakang, bapak-bapak itu masih ada.
"Ay, duduklah disini, aku kesana dulu." Ucapnya.
"Jangan mas." Ucapku.
"Enggak apa-apa, cuma sebentar." Ucapnya.
"Baiklah." Ucapku.
Sesampai di pagar, suamiku menyapa mereka.
" Pagi pak." Sapa suamiku.
"Ya mas, masnya baru ya ?" Tanya bapak itu.
"Iya pak, nurut ngidamnya istri." Ucapnya dusta.
"Oh jadi dia tadi istrimu to ?" Tanya bapak yang genit tadi.
"Iya pak." Jawab suamiku seraya tertawa.
"Pantes di lehernya ada stempel, kirain cewek penghibur. Maaf ya mas, kami pamit dulu." Ucapnya seraya berlalu.
"Oh iya pak silahkan." Ucap suamiku.
Saat hendak melangkah, bapak yang menggodaku tadi datang lagi dan berkata.
"Mas." Panggilnya.
"Ya." Jawab suamiku.
"Hati-hati, disini masih banyak yang genit. Jangan pernah tinggalin sendiri istrimu. Semalam saja ada yang disini. Maaf saya hanya beri saran. Karena jujur saya juga tertarik dengan istri anda." Ucapnya.
"Waduh gawat dong." Ucapnya seraya lari terbirit-birit.
Sepeninggal bapak itu, suamiku kembali lagi seraya tertawa. Melihat dia begitu bahagia, aku lalu bertanya.
"Ada apa mas ?" Tanyaku.
Suamiku lalu menjelaskan secara detail, selesai menjelaskan aku ikut tertawa.
"Aduh, disunat kaya ucapan Nia kemarin malam." Ucapku seraya tertawa.
"Memangnya Nia bilang apa ?" Tanya suamiku.
Akupun langsung menjelaskan dengan jujur. Saat mendengar itu, suamiku menggelengkan kepala seraya tertawa.
Tak terasa siang pun tiba, kini aku mulai memasak lagi. Sementara suamiku duduk di ruang tamu, sembari merokok dan minum teh hangat.
...Dan ditempat lain, kini emak di kurung sementara oleh Bude Marni, karena suka sekali keluar tengah malam. Beruntung ada mas - mas yang kenal, hingga akhirnya dibawa ke rumah bude lagi. ...
^^^Banyak yang sedih, melihat sikap emak, namun tidak dengan lek Cahyo. Mungkin sudah hafal dengan wataknya, jadi tidak terlalu ambil pusing. ^^^
Sementara Nia dan Bayu sibuk jalan-jalan ke pasar dengan naik motornya.
"Kak, ke rumah emak yuk." Ajaknya.
"Lain kali saja hany, aku capek. Mana besok harus ke luar kota lagi." Ucapnya lirih.
"Ya sudah, yuk pulang." Ucapnya.
"Ok." Jawab Bayu.
...Dan disini, aku dan suamiku sedang makan bersama di teras belakang. Buat ganti suasana, biar enggak jenuh. Rumah baru kami memanglah lebih luas, di bandingkan rumah lama. Itulah mengapa aku sering keteteran. Namun aku tetap bersyukur atas nikmat yang ada. Besar atau kecil tetaplah ku syukuri. ...
__ADS_1
"Ay." Panggil suamiku yang sudah selesai makan.
"Hmm." Ucapku lirih.
"Tadi aku sudah bilang sama bos, dia memperbolehkan mengajak istri. Asal tetap kerja tepat waktu." Ucapnya.
"Alhamdulillah." Ucapku seraya tersenyum.
"Ya sudah aku cuci piring ini dulu, terus priper." Ucapku seraya tersenyum.
"Nanti saja, kamu jangan terlalu capek." Ucapnya.
"Enggak kok mas." Ucapku seraya minum vitamin.
Selesai itu, barulah aku beranjak berdiri dan mulai mencuci piring. Lalu ke kamar dan memasukkan baju kami ke dalam koper.
Selesai priper, suamiku mengajakku sholat dan mengaji. Barulah kami istirahat siang.
"Mas aku tidur dulu ya, enggak tahu kenapa aku ngantuk banget." Ucapku.
"Ya sudah yuk." Ajaknya seraya menggenggam tanganku.
Sesampai di kamar, aku langsung tidur di tempat tidur. Mendengar dengkuranku, mas Agung menatapku dan tersenyum. Sejak hamil kamu jadi sering mengantuk ay, tapi lebih baik sih daripada keluyuran enggak jelas. Ucapnya lirih. Lalu ikut tidur denganku.
^^^Sementara itu Wulan kini sedang menghubungi aku, dia mau memberiku kabar kalau dia sudah dilamar sang pujaan hati. Namun dia tidak tinggal di rumah orang tuanya, melainkan tinggal di rumah budenya yang ada di Jakarta. ^^^
("Assalamualaikum Tri." Salamnya di telfon.)
("Waalaikumsalam." Ucapku dengan suara khas orang yang bangun tidur.)
("Kamu sakit Tri ?" Tanya Wulan.)
("Alhamdulillah sehat, aku bangun tidur." Ucapku jujur.)
("Waduh maaf ya gangguin." Ucapnya lirih.)
("Enggak apa-apa." Ucapku seraya menggelengkan kepala karena mas Agung membuka bajunya.)
("Tri aku mau kasih kabar sama kamu, aku sudah dilamar sama kak Hari." Ucapnya.)
("Wah selamat ya." Ucapku ikut bahagia.)
("Iya. Ya sudah sambung nanti lagi ya. Assalamualaikum." Salam penutupnya.)
("Waalaikumsalam." Jawabku.)
"Siapa ?" Tanya suamiku lembut.
"Wulan mas." Ucapku lirih.
"Oh kenapa dia ?" Tanya suamiku lagi seraya mencium perutku.
"Dia baru saja di lamar kekasihnya." Ucapku seraya mengelus lembut rambutnya.
"Owh." Ucapnya.
"Kamu disuruh kesana ?" Tanyanya lagi.
"Enggak, dia hanya kasih tahu saja." Ucapku seraya tersenyum.
"Kirain suruh kesana." Ucapnya seraya tertawa.
"Enggak kok, dia saja di Jakarta." Ucapku seraya mencium tangannya.
"Oh cowoknya orang sana ?" Tanya suamiku.
"Ya." Ucapku.
__ADS_1