Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Istirahat Total


__ADS_3

"Ay periksa ya." Ucapnya.


"Enggak mas, ini masuk angin saja. Insyaa ALLAH buat tidur sembuh." Ucapku lembut.


"Ya sudah." Ucapnya seraya tersenyum.


Malam pun tiba, aku yang sudah terlelap mendadak bangun karena mas Agung tidak ada di sampingku. Kemana dia ? Tanyaku dalam hati.


Aku lalu keluar kamar, ku lihat dia sedang menonton bola dengan ditemani kopi dan cemilan.


"Disini ternyata kamu mas, pantes di kamar enggak ada." Ucapku seraya duduk di sebelahnya.


"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.


"Sudah jam 12 malam, enggak tidur ?" Tanyaku.


"Nanti." Ucapnya.


^^^Aku pun ikut lihat bola, namun pandangan aku teralihkan tepat di jendela dekat televisi. Mataku membola melihat seseorang meringkuk disana. ^^^


"Mas, itu siapa ?" Tanyaku lembut seraya menggenggam tangan suamiku.


"Mana ?" Tanyanya.


"Itu." Ucapku seraya menunjuk ke arah jendela.


Dia pun lalu mendekati arah jendela dan dia langsung membuka pintu.


"Pak, kok tidur di sini ?" Tanya suamiku lembut.


"Emakmu itu, nuduh bapak selingkuh terus." Ucapnya seraya menahan dingin.


"Masuk dulu pak." Ucapku lirih.


"Iya." Ucapnya seraya masuk.


...Aku langsung membuatkan minuman untuknya, dan tak lupa meminta mas Agung untuk memberi bapak minyak angin agar tidak masuk angin. Mas Agung pun mau, begitupun dengan bapak....


"Diminum pak." Ucapku lirih.


"Makasih." Ucapnya seraya menatapku.


"Iya." Ucapku seraya tersenyum.


"Besok bapak mau ke Jakarta Gung." Ucapnya.


"Mau ngapain ?" Tanyanya datar.


"Mau kerja." Ucap bapak.


"Ck, di rumah saja pak. Bapak tu sudah tua, enggak perlu kemana-mana." Ucap suamiku dengan nada sedikit meninggi.


Membuatku langsung menenangkan hatinya.


"Bapak pusing Gung, tiap di dalam rumah di suruh kerja, kalau di luar dituduh selingkuh." Ucapnya seraya meneteskan air mata.


Mendengar hal itu aku merasa terharu, begitupun dengan suamiku. Dia lalu mendekati bapak dan memeluknya.


"Sabar pak." Ucapnya seraya menenangkan bapak.


"Lebih baik sekarang bapak tidur, sudah malam pak. Besok kita bicarakan lagi." Ucapku lirih.


"Iya nduk, makasih ya." Ucapnya.


"Sama-sama pak." Ucapku seraya tersenyum.


Setelah mengantar bapak istirahat di kamar, mas Agung lalu memelukku seraya melihat bola lagi.


Aku hanya terdiam, pikiranku mulai memikirkan yang belum terjadi. Namun lamunanku buyar, saat dia meniup wajahku.


"Ish, emangnya aku lilin ditiup." Ucapku lirih.


"Hehe, iya kamu lilin kehidupan aku sekarang hingga akhir hayatku." Ucapnyaseraya tersenyum.


"Hmm." Ucapku seraya menatap netranya.


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Perutku sakit." Ucapku.


"Kok bisa ?" Tanyanya.


"Baru datang bulan." Ucapku lirih.


"Besok beli jamu." Saran suamiku.


"Iya." Ucapku seraya tersenyum.


"Tidur yuk." Ajakku.


"Tidurlah dulu, nanti aku menyusul." Ucapnya seraya tersenyum.


"Aku enggak bisa tidur sendirian." Ucapku jujur.


"Ya sudah. Ayo." Ucapnya seraya mematikan tv dan membopongku.


"Aku berat." Ucapku.


"Enggak." Ucapnya.


"Bohong." Ucapku.


"Serius." Ucapnya seraya menatapku.


^^^Sesampai di kamar, kami langsung merebahkan tubuh dan tak berselang lama tertidur. Tepat jam 3 aku terbangun. Lalu bersih-bersih rumah, masak nasi dan lain-lain. Selesai itu, aku lalu mencuci baju dan mandi. Tepat azan subuh, aku membangunkan suamiku karena bapak sudah bangun. ^^^


"Mas, bangun sudah pagi. Bapak sudah bangun lho." Ucapku lirih.


"Hmm, iya. Jam berapa ay ?" Tanyanya.

__ADS_1


"Jam 5." Ucapku.


Cup


"Ih, nakal main nyosor saja." Ucapku seraya memegang pipiku.


"Haha, kamunya bikin aku tergoda." Ucapnya seraya tertawa.


"Aamiin. Tapi sama aku saja ya." Ucapku seraya tersenyum.


"Insyaa ALLAH." Ucapnya.


"Ya sudah mandi sana, sudah di tunggu bapak." Ucapku lembut.


"Morning kiss dulu dong." Ucapnya.


"Enggak, kamu bau jagung." Ucapku seraya melangkah keluar.


"Hmm, nggemesin." Ucapnya seraya melangkah keluar kamar.


...Dia lalu ke kamar mandi, sementara aku nunggu sayur datang. Tak lama penjual sayur datang, aku pun lalu belanja untuk makan nanti dan sekalian besok. ...


"Banyak banget mbak belanjaannya ?" Tanya bu Rt.


"Hehe,iya bu sekalian buat besok." Ucapku seraya tersenyum.


"Oalah. Ya juga ya." Ucapnya seraya tersenyum.


"Mari semuanya saya duluan." Ucapku kepada mereka setelah selesai membayar.


"Iya." Jawab mereka semua.


Tanpa sengaja aku bertemu emak. Aku pun lalu menyapa dan takzim kepadanya.


"Mak, mau kemana ?" Tanyaku lembut seraya takzim.


"Enggak kemana-mana, jalan kaki saja." Ucapnya.


"Ayo mak, ke rumah." Ajakku.


"Ya nanti saja." Ucapnya datar.


"Mak, apa salah aku ?" Tanyaku lembut.


"Ck, kamu enggak ada salah ndok. Emak lagi pengen sendiri." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ya sudah tapi kalau ada apa-apa cerita ya mak." Ucapku seraya pamit dan takzim.


"Iya." Ucapnya seraya berlalu.


^^^Sesampai di rumah, aku lalu memasukkan belanjaanku ke dalam kulkas. Selesai itu, aku lalu mencuci bekas sarapan mereka. Barulah aku sarapan di dapur sendiri. ^^^


Sementara bapak, memilih tidur di kamar, Mas Agung sedang duduk terdiam.


Selesai makan aku lalu menghampiri dirinya. Dan menawarkan buah untuknya.


"Iya." Ucapku lembut.


"Ay, aku nanti ke rumah emak dulu ya." Ucapnya.


"Iya." Ucapku seraya tersenyum.


"Kamu di rumah saja, atau ku antar ke rumah ibu." Ucapnya.


"Enggak usah mas. Aku nanti mau setrika baju." Ucapku.


"Ya sudah." Ucapnya seraya tersenyum.


"Tadi aku ketemu emak." Ucapku lirih.


"Terus ?" Tanyanya.


Aku pun menceritakan semuanya kepadanya. Selesai menjelaskan mas Agung menarik nafas panjang dan menatapku. Lalu mengajakku ke dalam kamar.


"Aku minta maaf ya sama kamu, tentang keluargaku." Ucapnya lirih dengan memelukku erat.


"Mereka juga keluarga aku mas. Untuk apa minta maaf, setiap rumah tangga pasti ada masalah dan ujiannya." Ucapku lirih.


"Iya. Tapi aku merasa gagal." Ucapnya.


"Shht, udah ah jangan pesimis gitu dong." Ucapku seraya tersenyum.


"Iya ay. Makasih ya." Ucapnya seraya tersenyum.


"Sama-sama paksu." Ucapku lirih.


...Setelah obrolan itu, kami pun keluar kembali. Aku lalu menyetrika, sementara suamiku langsung ke rumah emak. Tak lama kemudian dia kembali ke rumah dengan wajah memerah begitupun dengan matanya. Aku lalu beranjak dan membuatkan dia minuman. Selesai itu, aku langsung menghampirinya....


"Ehem, minum dulu mas." Ucapku seraya tersenyum.


"Makasih." Ucapnya.


"Sama-sama." Ucapku.


^^^Selesai minum, dia lalu meletakkan gelas itu ke nakas. Lalu memelukku erat dan menangis dalam pelukanku. Aku langsung membalas pelukannya dan mengelus lembut punggungnya.^^^


"Menangislah mas, insyaa ALLAH setelah ini kamu harus kuat." Ucapku.


"Emak minta cerai ay." Ucapnya seraya menangis.


"Sabar mas." Ucapku lirih.


Tanpa kami tahu, bapak sudah pulang ke rumah. Karena tanpa sengaja beliau melihat mas Agung menangis.


"Shht, sholat dulu mas." Ucapku lirih.


"Iya ay." Ucapnya seraya beranjak pergi ke kamar mandi.


Namun, belum sempat masuk dia terkejut melihat pintu kamar terbuka lebar. Dengan langkah cepat dia melihat sekeliling kamar, tapi tidak ditemui sosok bapak.

__ADS_1


"Kenapa ?" Tanyaku lembut.


"Bapak enggak ada." Ucapnya seraya menatapku.


"Sholatlah dulu, bapak enggak akan kemana-mana." Ucapku lirih.


"Baiklah." Ucapnya seraya berlalu. 30 menit berlalu, suamiku baru keluar dan ingin ke rumah emak.


"Aku ikut mas." Ucapku lirih seraya membawa roti buatanku tadi.


"Ayo." Ucapnya.


"Yuk." Ucapku.


"Assalamualaikum." Salam kami berdua.


"Waalaikumsalam." Ucap bapak.


"Gung, bapak-." Ucapnya terhenti karena emak menyela.


"Bapakmu mau nikah lagi." Ucapnya seraya tersenyum mengejek.


Kami langsung membawa mereka masuk ke dalam. Sementara Sonia, menghampiri aku.


"Mbak." Ucapnya seraya menangis.


Ya anak mana yang enggak sedih melihat orang tuanya bertengkar. Siapapun itu pasti sedih dan menangis. Begitupun dengan suamiku dan adiknya.


"Mak, selesaikan masalah dengan kepala dingin. Bukan dengan begini." Ucapnya pelan.


"Makan dulu mak, pak dan Nia. Tadi aku sempetin bikin ini." Ucapku mengalihkan obrolan karena ada tetangga yang lewat.


"Iya kak, ayo makan mak, pak." Ucapnya seraya tersenyu.


Sementara suamiku tak menyangka, aku yang masih remaja mampu mengalihkan perhatian mereka.


"Wih, makan bareng nih." Ucap simbah itu, yang sempat melihat kami.


"Iya mbah. Ayo sekalian." Ucapku seraya tersenyum.


Bersyukur kedua mertuaku, mau memakannya.


Selesai makan, simbah itu pun pergi. Aku yang tahu simbah ingin pulang, menawarkan diri mengantarnya. Alhamdulillah simbah itu mau.


"Saya antar mbah." Ucapku setelah dapat izin mas Agung.


"Walah ya ayo." Ucapnya seraya tertawa.


Aku lalu takzim kepada mertua dan suami. Lalu beranjak berdiri dan mengantar simbah ke rumahnya.


"Rumah simbah yang mana ?" Tanyaku lembut seraya menggenggam tangannya pelan.


"Yang itu ndok, yang paling pojok." Ucapnya.


"Oh." Ucapku.


Sesampai di rumah simbah, aku lalu bertanya.


"Simbah namanya siapa ?" Tanyaku lembut.


"Walah, belum tahu to. Kenalin nama simbah, simbah Dirjo." Ucapnya seraya tertawa kecil.


"Owh mbah Dirjo." Ucapku seraya tersenyum.


"Iya." Ucapnya.


"Mbah tinggal sama siapa ?" Tanyaku.


"Sendiri." Ucapnya seraya duduk.


"Walah, anak-anak simbah dan suami simbah kemana ?" Tanyaku lembut.


"Simbah tu enggak nikah ndok. Ya jadi ya sendiri." Ucapnya.


"Kenapa enggak nikah mbah ?" Tanyaku lagi.


"Trauma sama pertengkaran orang tua simbah dulu." Ucapnya.


"Maaf ya mbah, jadi ngingetin masalalu simbah." Ucapku lirih.


"Walah enggak apa-apa." Ucapnya.


Setelah berbincang, tak lama suamiku menjemputku dan mengajakku pulang. Akhirnya kami pun pamit pulang. Simbah mengiyakan.


Di sepanjang jalan, kami hanya terdiam. Namun saat sudah sampai di rumah, barulah mas Agung mengajakku ke kamar untuk istirahat.


Aku pun mengiyakan. Setengah jam kemudian, dia sudah terlelap. Aku lalu beranjak berdiri dengan pelan, namun rupanya dia tahu aku akan pergi.


"Jangan setrika dulu, aku butuh kamu saat ini." Ucapnya lirih.


"Iya aku ada di sini." Ucapku seraya mengelus lembut pipinya.


Satu jam berlalu, tubuhku yang di tindih olehnya tak mampu pergi. Aku memilih diam dan menunggu dirinya hingga terbangun.


Putih banget sih kamu mas, kaya susu. Tapi sayang rambutnya bergelombang. Ucapku lirih.


"Kenapa, kamu mau ?" Tanyanya seraya tersenyum dan menatapku.


"Sudah bangun ?" Tanyaku.


"Ya." Ucapnya.


Cup


"Makasih, untuk semuanya. Berkat kamu, kedua orang tuaku sudah baikan." Ucapnya seraya mengecup keningku.


"Bukan aku, namun karena ALLAH. Aku hanya perantara." Ucapku lirih.


"Iya." Ucapnya seraya memandangku.

__ADS_1


__ADS_2