Lamaran Dadakan

Lamaran Dadakan
Memberi Pelajaran Bianca


__ADS_3

"Sore istriku." Ucapnya seraya tersenyum.


"Sore suamiku." Ucapku lirih.


"Mandi yuk." Ajaknya.


"Ya." Ucapku seraya beranjak bangun.


Sesampai di kamar mandi, aku lalu mandi dan berwudhu. Selesai itu aku langsung sholat dan mengaji. Setelah itu barulah aku menemuinya.


"Sudah makan mas ?" Tanyaku lembut.


"Belum, nunggu kamu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Makan dulu yuk." Ajakku.


"Ayo." Ucapnya.


Setelah selesai makan, aku lalu ke halaman belakang mengambil jemuran yang sudah kering. Barulah aku membawanya masuk.


"Ay, keluar yuk." Ajak suamiku.


"Kemana ?" Tanyaku.


"Kemana saja." Ucapnya seraya tertawa kecil.


"Kamu saja deh mas, aku dirumah saja." Ucapku lirih.


"Ya sudah aku pergi sebentar ya." Ucapnya seraya menciumku.


"Ya." Jawabku seraya takzim.


Sesampai di rumah Bayu, Mas Agung langsung turun. Dan lalu mengajak ibu Bianca, tanpa sepengetahuan Bianca.


"Bay." Panggil suamiku.


"Brow, dah sampai kamu ?" Tanya Bayu.


"Sudah. Dimana dia ?" Tanya suamiku.


"Tu, baru digilir." Ucapnya seraya tertawa.


"Maksudnya ?" Tanya suamiku dan ibu Bianca.


"Ya, dia habis digilir 7 laki-laki. Lemas mungkin dia." Ucap Bayu to the poin.


"Astagfirullah." Ucap ibunya.


..."Maaf bu, saya ajak ibu kesini karena putri ibu sudah keterlaluan. Meludahi, Menyiram tubuh dan menampar istriku. Saya masih mengingat istri, kalau tidak saya bisa menghajar anak ibu." Ucapnya penuh kesal....


"Astagfirullah, maafin putri ibu le." Ucapnya seraya menangis.


^^^"Adik saya juga pernah hampir dijual oleh dia, beruntung Bayu datang tepat waktu. Kalau tidak, saya tidak tahu nasib adik saya. Saya bisa maafin dia, asal jangan ganggu ketenangan kami lagi." Ucapnya menahan amarah.^^^


"Baiklah le. Makasih sudah memaafkan dia." Ucapnya seraya berlalu.


"Biar saya antar bu." Ucapnya.


"Makasih nak." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ya." Ucap suamiku.


"Bay, aku antar ibunya dulu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ok." Ucap Bayu.


...Sesampai di rumah Bianca, ibunya meminta maaf dan masalah tentang Bianca ibunya sudah lepas tangan. Mendengar hal itu mas Agung terdiam sejenak dan lalu pamit....


Saat berjalan, tanpa sengaja suamiku menatapku yang asik dengan menyirami bunga seraya memegang pipiku. Dia pun langsung berhenti.


"Mas, sudah pulang ?" Tanyaku lembut seraya takzim.


"Iya. Kangen istriku." Ucapnya seraya tersenyum.


"Hmm." Ucapku seraya menahan sakit di pipi.


"Masih sakit ?" Tanyanya.


"Nyeri mas, kalau buat bicara." Ucapku tanpa ku tahu, dia mengepalkan jarinya.


"Mungkin karena kena cincinnya, jadi masih sakit." Ucapku membuyarkan lamunannya.


"Coba ku lihat." Ucapnya seraya menatap pipiku.


Cup


"Bismillah sembuh." Ucapnya seraya menciumi pipiku.


"Ish main cium saja." Ucapku lirih seraya memegang pipiku.


"Kasih vitamin biar cepet sembuh." Ucapnya.


"Hmm, aamiin dan makasih." Ucapku seraya memeluknya.


"Sama-sama." Ucapnya.


"Yuk." Ajaknya.


"Kemana ?" Tanyaku.


"Ke rumah Bayu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ngapain ?" Tanyaku.


"Main sayang." Ucapnya seraya tersenyum.


"Kamu saja." Ucapku.


"Tadi bapak itu, liatin kamu lagi makanya aku balik." Ucapnya dusta.


"Yang benar ?" Tanyaku.


"Iya." Ucapnya seraya menatapku.


"Ya sudah aku ikut." Ucapku seraya melangkah masuk kamar dan ganti baju.


...Sesampai di rumah Bayu, mas Agung menggenggam tanganku erat. Aku langsung menatapnya. Dan dia pun menjelaskan semua tanpa ada yang dia tutup-tutupi. Mendengar penjelasan darinya aku hanya tersenyum dan melanjutkan langkah masuk ke rumah Bayu....


"Assalamualaikum." Salam kami berdua.


"Waalaikumsalam." Ucap Bayu, yang langsung menatapku iba.


Ya ampun gusti, pantes Agung sampai begitu marahnya sama tu Bengkeong, pipi istrinya memar gitu. Ucapnya dalam hati.


"Ehem, jangan melamun." Ucapku mengalihkan lamunannya.


"Astagfirullah, sori-sori silahkan duduk." Ucapnya seraya tersenyum.


"Makasih." Ucapnya lirih seraya duduk.


"Gung, itu pipi kenapa sampai memar gitu ?" Tanyanya pelan.


"Kena cincinnya bengkoang." Ucapnya seraya menyusulku duduk.


Apa kabar Tri." Ucap Bayu.


"Alhamdulillah baik." Ucapku lirih.


"Brow kerjaan kamu numpuk." Ucapnya seraya tertawa.


"Yang benar kamu ?" Tanya suamiku seraya memeluk bahuku.


"Beneran." Ucapnya.


"Ya enggak apa-apalah, siapa tahu dapat bonus." Ucapnya seraya tertawa.


"Aamiin." Ucapku lirih, namun masih bisa di dengar suamiku dan Bayu.


"Ya aamiin." Jawab mereka bersama.


"Tri mau minum apa ni ? Sori lupa nawari." Ucapnya seraya tertawa.


"Air putih saja." Ucapku lirih.


"Aduh, sehat dan hemat ya bro istrimu." Ucap Bayu seraya melangkah ke dapur.


Sepeninggal Bayu, mas Agung menatapku dengan tatapan teduh dan langsung bertanya.


"Cari siapa ?" Tanyanya.


^^^"Enggak cari siapa-siapa, aku hanya ingin menatap sekeliling rumah temanmu saja." Ucapku seraya mengelus lembut pipinya.^^^


"Kamu suka tempat ini ?" Tanyanya.


"Suka, tapi sayangnya jauh dari jalan raya." Ucapku seraya menyandarkan kepalaku di bahunya.


"Memangnya kenapa kalau jauh dari jalan raya ?" Tanyanya.


"Pengen buka usaha susah." Ucapku lirih seraya memegang pipiku.


"Hmm, masih sakit ?" Tanyanya.


Aku hanya terdiam seraya menangis. Dia pun langsung melepas jaketnya dan menutupi pipiku.


"Kita periksa saja ya." Ucapnya penuh khawatir.


"Iya." Jawabku.


"Aku pamit dulu sama Bayu dulu." Ucapnya seraya hendak melangkah, namun aku tahan.


"Nanti saja, kasihan dia sudah mau menjamu kita, masa kita terus pulang." Ucapku seraya mengusap air mataku.


"Tapi kan kamu sakit." Ucapnya.


"Shht, habis ini kita pulang." Ucapku seraya tersenyum.


"Hmm, okelah." Ucapnya seraya menciumku.


"Wah maaf ya kelamaan, habisnya stok aqua di rumah habis. Jadi mampir dulu ke warung." Ucapnya seraya tertawa.


"Maaf lho udah ngerepotin." Ucapku seraya tersenyum dan menunduk.


"Santai saja." Ucapnya seraya menatap suamiku.


("Habis nangis, sakitnya kambuh lagi." Tulis pesan suamiku di nomer hp Bayu.)


Hening.


Sedetik kemudian, Bianca keluar. Bay, tega kamu masa daritadi aku tidur telan**ng." Ucapnya absurd tanpa tahu, kami masih ada di sini.


...Mendengar hal itu mas Agung tetap diam dan menganggap seolah tidak mendengarnya. Sementara aku juga tetap di posisi sama. Mengingat pipiku masih sakit dan juga enggak mau lagi mengingat tamparan yang dia berikan padaku. ...


"Bukan aku yang buka bajumu, tapi om Rion yang pertama membuka." Ucapnya santai.


"Rion, duda gendut itu bukan ?" Tanyanya seraya memakai celananya di luar.


Melihat itu kakiku langsung menendang meja dengan kencang.


Brak

__ADS_1


Semua yang di atas meja jatuh, mereka yang ada di sana terkejut melihat sikapku demikian.


"Awh, panas." Ucapnya yang tanpa ku tahu ada teh panas di sana dan tepat mengenai sela***angnya.


Bayu dan mas Agung tersenyum lebar melihatku demikian.


"Woi, apa salah aku ?" Teriaknya.


Aku langsung membuka jaket mas Agung. Dia menatap wajahku,dan mengingatnya kembali. Istrinya Agung.


"Oh jadi kamu kesini mau membalas aku ?" Tanyanya seraya mendekati aku.


Aku terdiam dan melangkah mendekatinya, namun di cegah oleh suamiku. Dia menggelengkan kepala seraya menatapku. Aku pun kembali duduk di sampingnya.


Melihat itu Bayu tambah tersenyum. Selain masih remaja, dia juga penurut. Pantas Agung buru-buru melamarnya. Ucapnya lirih.


Bianca hanya terdiam, dan tetap berdiri seraya menahan sakit karena ketumpahan air panas.


"Minumlah." Ucap suamiku lembut.


Aku hanya menurut, namun setelah minum air itu 5 menit kemudian aku tertidur di bahunya. Menyadari aku sudah tidur, mereka berdua tersenyum smrik dan berkata.


"Waktunya beraksi." Ucapnya yang langsung membuat Bianca merinding.


"Tunggu Bay, aku numpang tempat tidurmu. Kasian istriku disini." Ucap suamiku.


"Silahkan, kamarku yang paling tengah." Ucapnya.


"Ok." Ucap mas Agung.


Maafkan aku ay, aku enggak ingin kamu di sakiti dia lagi. Biar aku yang memberinya pelajaran." Ucapnya seraya mencium bibirku lama.


Setelah itu dia langsung menuju keluar lagi.


"Bi." Panggil Bayu.


"Hmm." Jawabnya.


"Kamu pakai cincin siapa Bi ?" Tanya Bayu.


"Cincinku sendiri." Ucapnya jujur.


"Kenapa di kasih batu kecil ?" Tanyanya lagi.


"Buat kasih pelajaran tu perempuan." Ucapnya.


"Perempuan siapa ?" Tanya Bayu.


"Istrinya Agung." Ucapnya lirih seraya melihat ke dalam.


"Oh, jadi kamu tadi sudah tahu mereka ada disini ?" Tanya Bayu lagi.


"Enggak tahu, aku kan kemarin kerumah Agung." Ucapnya lagi.


"Kenapa batunya tidak di buang ?" Tanya Bayu lagi.


"Lupa." Ucapnya seraya Melepas cincin itu dan membuangnya.


Setelah itu Bianca pun tanya lagi.


"Bay, emang mereka nikah resmi ?" Tanya Bianca.


"Ya resmilah, kalau enggak resmi ya enggak maulah dia." Ucap Bayu jujur seraya mengambil foto kami yang kebetulan sudah jadi.


"Ni liat, ini pas tukar cincin. Kalau yang ini pas ijab dan ini yang kemarin." Ucapnya.


"Ini bukan editankan ?" Tanya Bianca lagi.


^^^Bayu pun langsung menarik tangan Bianca, dan memutar video acara lamaran kami dan acara ijab kami dan juga acara kemarin pas di rumah Mas Agung.^^^


"Melihat itu, Bianca meneteskan air mata. Aku enggak nyangka, kenapa harus dengan dia ?" Tanya Bianca.


"Emang kenapa ?" Tanya Bayu.


"Dulu saat aku minta putus, dia hanya tersenyum dan berkata makasih. Pas aku tanya apa sudah memiliki penggantiku ? Dia menjawab sudah. Bahkan sebelum kenal aku." Ucapnya.


"Sekarang kamu sudah tahukan, mereka sudah menikah ? Jadi jangan ganggu mereka lagi deh." Saran Bayu.


"Enggak bisa, pokoknya perempuan itu harus ngerasain apa yang aku rasain saat ini." Ucapnya.


"Oh, masih belum puas nyakitin istriku ?" Tanya suamiku dengan keras seraya mengunci semua pintu.


...Bayu bergidik ngeri, ya dia sudah lama kenal suamiku. Bila masih nekat mengganggu, siap-siap saja kehilangan segalanya. Ya ibarat pepatah jangan suka mengganggu singa yang tidur, bila tidak ingin mati sia-sia. ...


"Gung, ingat istrimu kamu marah boleh tapi ingat istrimu butuh kamu." Ucap Bayu.


"Astagfirullah, makasih brow." Ucap mas Agung.


"Iya, emang kamu mau apa ?" Tanya Bayu."


"Awalnya aku akan menelanjangi dia dan diarak di kampung, namun karena saranmu aku memilih membatalkannya." Ucapnya lirih.


Sementara Bianca hanya terdiam.


"Terus sekarang mau kamu apakan dia ?" Tanya Bayu lagi.


"Aku beri dia kesempatan terakhir, jika dia masih nekat maaf saranmu sudah tidak berguna." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ini baru sohibku." Ucapnya seraya memeluk suamiku.


"Hmm thanks Bay, kamu memang teman baikku." Ucap mas Agung seraya tertawa.


^^^Setelah itu, Bianca pun memilih pergi dari sana. Sementara mas Agung dan Bayu masih menungguku di kamar seraya mengobati lukaku. Resep dari dokter, yang sengaja di panggil Bayu. ^^^


"Makasih ya Bay, sory ngerepotin." Ucap suamiku.


"Enggak ada yang direpotin Gung, jujur aku kasian sama istri kamu. Masih remaja sudah kamu nikahi, dia datang langsung hajar. Kasian banget istrimu." Ucap Bayu seraya menatapku tanpa berkedip.


Pengorbanan cewek besar juga ya." Ucapnya.


"Iya." Jawab suamiku.


"Lebih baik kalian tidur saja di sini, aku tidur di kamar lain saja. Di luar juga hujan." Ucapnya seraya tersenyum.


"Ok. Makasih." Ucapnya.


"Ya." Jawab Bayu.


...Tepat jam 10 malam, aku terbangun dan ku pandangi suamiku. Sayup-sayup terdengar suara Bayu tertawa. Tunggu itu kan Bayu, masa di rumah kami ada Bayu ? Tanyaku lirih, namun segera aku pandangi sekitar....


Ini bukan kamar kami, terus ini kamar siapa ? Tanyaku lirih.


"Ay, sudah bangun ?" Tanya suamiku.


"Mas, ini rumah siapa ?" Tanyaku lembut tanpa menjawab pertanyaan dia.


"Kita tidur di rumah Bayu ya, di luar tadi hujan." Ucapnya lirih.


"Tapi Bayu, tidur dimana ?" Tanyaku.


"Ada kamar lain kok." Ucapnya.


"Syukurlah." Ucapku seraya tersenyum.


"Masih sakit ?" Tanyanya.


"Sudah enggak." Ucapku seraya tersenyum lebar.


"Alhamdulillah." Ucapnya seraya memelukku.


"Iya." Ucapku lirih.


"Boleh ?" Tanyanya seraya tersenyum.


"Ada Bayu, enggak malu sama Bayu ?" Tanyaku.


"Hehe, ya habisnya lagi kepingin." Ucapnya seraya tertawa.


"Shht, kedengeran Bayu, aku malu." Ucapku lirih.


"Enggak." Ucapnya seraya tersenyum.


"Boleh, tapi pulang sekarang." Ucapku.


Mendengar itu mas Agung langsung tidur lagi.


"Marah ni ye." Ucapku seraya tersenyum.


"Enggak, aku ngantuk." Ucapnya seraya tengkurap.


"Yang bener ?" Tanyaku seraya memeluknya.


"Iya." Ucapnya.


"Kalau enggak marah peluk dong." Ucapku lirih.


^^^Dia lalu merubah posisi dan memelukku. Aku pun tersenyum mendapati dia selalu perhatian seperti ini. Semoga hingga akhir nafasku, dia tetap seperti ini. Aamiin.^^^


...Hingga saat ingin terpejam, aku merasakan area bawah suamiku bergerak dan terus bergerak. Membuatku hanya terdiam. ...


"Ay, aku ke kamar mandi dulu ya." Ucapnya minta izin.


"Tunggu, aku ikut." Ucapku.


"Yuk." Ajaknya.


^^^Sesampai di kamar mandi, aku langsung buang air kecil. Selesai itu, aku lalu keluar dan sekarang mas Agung yang masuk ke dalam. ^^^


15 menit berlalu, namun suamiku belum juga keluar. Khawatir terjadi sesuatu aku mengetuk pintu kamar mandi perlahan.


Tok..Tok...Tok..


"Ya." Ucapnya.


"Mas, masih lama enggak ?" Tanyaku.


"Sudah selesai ay." Ucapnya seraya membersihkan diri dan memakai celananya.


"Lama banget sih mas." Ucapku lirih.


"Maaf, tadi kebelet." Ucapnya seraya tertawa.


...Sesampai di depan pintu dapur, netraku membola dan langsung menutup mata. Terlihat di sana, Bayu sedang telanjang dada, seraya makan seblak. Mas Agung yang melihatku demikian hanya tersenyum dan menggelengkan kepala....


"Ayo." Ajaknya seraya menarik tanganku.


"Mas." Panggilku lembut.


"Ya cintaku." Ucapnya.


"Pulang yuk." Ajakku.


"Di luar hujan ay." Ucapnya.


Melihatku demikian mas Agung langsung membopongku dan aku pun langsung menutup wajahku.


"Kenapa Gung, pingsan lagikah ?" Tanya Bayu.


"Enggak, dia malu melihatmu telanjang dada." Ucapnya seraya menatapku.

__ADS_1


"Hais, aku lupa sory brow." Ucapnya.


"Ya." Ucap suamiku.


Sesampai di kamar, aku langsung ditidurkan dan diapun kini memelukku erat.


"Mas, dingin." Ucapku lirih.


"Sini, hadap sini." Ucapnya seraya memelukku dan memberiku selimut.


"Makasih." Ucapku.


"Sama-sama cintaku." Ucapnya.


Satu jam berlalu, kami pun masih terjaga. Sementara Bayu sudah terlelap dengan suara dengkuran yang keras.


"Tidur sayang." Ucapnya.


"Enggak bisa." Ucapku lirih.


"Terus mau apa ?" Tanya suamiku.


"Mau kamu." Ucapku asal.


"Jangan menggoda, nanti junior bangun lagi." Ucapnya seraya berbisik.


Mendengar hal itu, aku yang tega dengan rasa gelisahnya langsung mengangkat kepalaku dan mensejajarkan tubuhku dengannya.


"Kenapa ?" Tanya suamiku.


"Enggak apa-apa, cuma ingin lihat wajah kamu saja." Ucapku seraya tersenyum dan tanganku mengusap lembut pipinya dan memegang bibirnya.


Awalnya dia terdiam, namun dia menggenggam tanganku dengan lembut. Melihat itu aku langsung menatapnya dan tersenyum.


"Tidur yuk, sudah malam." Ucapnya seraya tersenyum.


"Tidurlah, aku belum ngantuk." Ucapku lirih.


"Ya sudah aku tidur dulu ya." Ucapnya seraya menyembunyikan wajahnya di dadaku.


"Iya." Ucapku lirih.


Tak berselang lama, sayup-sayup terdengar suara dengkuran halus mas Agung. Aku tersenyum dan merubah posisiku lalu membenarkan posisi tidurnya.


^^^Pantes keponakanku dulu sebut kamu tampan, ternyata kamu memang tampan. Namun sayang galak banget. Ucapku lirih seraya tersenyum. Alhamdulillah banget aku bisa menjadi pendamping hidup kamu. Ucapku seraya mencium bibirnya lama. ^^^


...Selamat malam mas suamiku. Ucapku seraya beranjak dari tempat tidur. Aku lalu membuka sedikit tirai jendela, ku pandangi hujan yang turun dan aku tersenyum menatap gadis remaja tepat sebelah rumah Bayu. Dia nampak bahagia dengan ditemani ibunya. ...


Hingga sayup-sayup terdengar suara suamiku memanggilku dan aku pun langsung menghampiri dirinya. Rupanya dia mengigau.


Ya mas aku di sini." Ucapku lirih seraya memeluknya. Tak lama dia sudah tenang, Hingga tepat jam 12 malam, aku tertidur dengan lelap.


"Bayu bangun Bay." Panggil seseorang dari luar.


"Bayu." Panggil orang itu.


Mendengar ketukan dan suaranya, kami pun terbangun.


"Siapa sih ?" Tanya suamiku dengan kesal.


Melihat itu aku mengelus lembut tangannya.


"Sabar." Ucapku.


"Hmm." Ucapnya seraya beranjak membangunkan Bayu.


"Bay, ada orang ketuk pintu tu." Ucap suamiku.


"Ck, siapa sih ganggu saja. Aku tidurin baru mewek." Ucapnya kesel.


"Shht, kamu ini." Ucap suamiku.


"Ngantuk brow." Ucapnya.


"Sama." Ucap suamiku.


Sepeninggal Bayu, suamiku langsung kembali ke kamar lagi menemui aku untuk tidur.


"Hmm, tidur disini banyak gangguan kaya sinyal hp." Ucap suamiku lirih.


Mendengar hal itu aku hanya tertawa dan menatapnya.


"Kenapa tertawa ?" Tanya suamiku lembut.


"Lucu saja." Ucapku seraya tersenyum.


^^^Dia lalu memelukku dan karena gerakanku, kancing bajuku terlepas dengan sendirinya. Membuat mas Agung memejamkan matanya. Ck kenapa jadi terbuka gini, apa iya karena aku tindih. Ucapnya dalam hati.^^^


Sementara aku yang belum tahu, masih cuek dan mencoba tidur kembali. Ck, kenapa enggak bisa tidur sih. Ucapku lirih.


Sementara di luar, Bayu diminta bertanggung jawab atas apa yang tidak ia lakukan.


"Maaf pak Rt, saya berani bersumpah saya tidak menyentuh wanita ini." Ucap Bayu dengan nada emosi.


"Tapi perempuan ini ngaku kenal sama kamu." Ucapnya.


...Sementara kami yang di kamar, sayup-sayup terdengar suara Bayu marah. Membuat kami pun keluar. Sesampai di luar, pak Rt tersenyum melihat suamiku. Suamiku pun membalas dengan tersenyum juga. ...


"Itu pak Rt, perempuan itu yang mengenalkan saya dengan Bayu." Ucapnya seraya menuduhku tanpa bukti.


Membuat kami semua terperangah kaget, terutama pak Rt sendiri yang tahu siapa kami.


"Mbak, jangan nuduh sembarangan. Perempuan itu, istrinya mas Agung lelaki disamping dia itu suami sahnya.


^^^Dia dari desa Xx, sedangkan mas Agung di desa W. Saya kenal dia, dia pun juga kenal saya. Kalau ngarang cerita jangan kebablasan." Ucapnya seraya menggelengkan kepala.^^^


"Pak, dia ini namanya Triyani Susanti, Ayahnya bernama Wijaya dan ibunya bernama Sri Sundari. Saya kenal dia pak, dan dia ngenalin saya sama cowok ini." Ucapnya seraya menunjuk wajah Bayu.


"Mbak, lihat saya." Ucap suamiku.


"Istri saya, belum pernah kenal Bayu kalau bukan saya yang ngenalin mereka." Ucapnya lirih.


"Sudah mas, tinggal tidur saja. Susah ngomong sama orang begini." Ucapnya seraya pamit pulang diikuti anaknya.


"Sabar mas, jadi cowok tampan memang banyak ujiannya." Ucapnya seraya tertawa.


"Asem." Ucapnya seraya memijit keningnya.


"Mbak, mbak enggak pulang ?" Tanyaku lembut.


"Sialan gagal dapat mobil dan suami tajir." Ucapnya seraya berlalu.


"Astagfirullah." Ucap kami bersama.


"Wah bener-bener ini, aku emang harus nikah." Ucapnya seraya masuk ke dalam.


Mendengar hal itu kami hanya menggelengkan kepala. Sesampai di kamar, mas Agung menatapku dengan tatapan teduh.


"Kenapa ?" Tanyaku lembut.


Tanpa menjawab dia langsung memelukku dan memejamkan mata.


Paginya tepat jam 8 pagi, kami baru terbangun. Sementara Bayu sudah berangkat kerja.


"Kesiangan." Ucapku lirih.


"Enggak apa-apa." Ucapnya seraya tersenyum.


"Mandi terus pulang yuk." Ajakku.


"Dikunci dari luar ay." Ucapnya.


"Yang benar ?" Tanyaku.


"Iya." Ucapnya.


"Ya ALLAH ya Qarim." Ucapku.


"Sabar. Dia cuma setengah hari." Ucapnya.


"Hmm." Ucapku seraya beranjak melangkah keluar.


Sesampai di kamar mandi, aku lalu cuci muka dan berkumur. Lalu memasak yang ada di sana. Mending bikin nasi goreng saja. Ucapku lirih.


...Sementara suamiku membuka tirai jendela kamar, tak sengaja ada perempuan yang menatap suamiku dengan tatapan berbeda. Suamiku yang merasa ada yang menatap dirinya, langsung menoleh. Dan langsung beranjak pergi dari sana, membuat wanita itu kecewa. ...


"Masak apa ay ?" Tanyanya lembut.


"Masak kesukaan kamu mas." Ucapku seraya tersenyum.


"Wah enak ni." Ucapnya.


"Insyaa ALLAH." Ucapku.


Dia pun langsung duduk di dekatku.


"Kenapa ?" Tanyaku lembut.


"Tadi ada cewek natap aku." Ucapnya jujur.


"Dimana ?" Tanyaku.


"Di depan jendela kamar Bayu." Ucapnya lirih.


"Remaja atau seumuran kamu atau ibu-ibu ?" Tanyaku lembut.


"Seumuran aku,tapi enggak aku tanggapi." Ucapnya.


"Alhamdulillah." Ucapku seraya tersenyum.


"Wasyukurilah." Sambungnya seraya tersenyum dan menciumku.


^^^Selesai mengupas dan memotong sayur dan lauk, aku langsung mencucinya. Lalu memasaknya, 20 menit kemudian masak pun selesai. Kami pun sarapan berdua. Beruntung di dalam kulkas Bayu, ada bermacam-macam sayuran. ^^^


"Enggak ada cabai ay ?" Tanya suamiku.


"Enggak ada mas, tadi udah ku cari tapi enggak ada." Ucapku.


"Ya sudahlah seadanya saja." Ucapnya seraya tersenyum.


Selesai makan, kami langsung membersihkan dapur dan mencucinya. Setelah selesai, barulah kami masuk ke dalam kamar lagi.


"Masih lama enggak sih mas ?" Tanyaku.


"Bentar lagi ini masih di jalan." Ucapnya seraya menunjukkan hp kepada aku.


"Aku dah gatel." Ucapku seraya menggaruk punggungku.


"Sabar." Ucapnya.


"Iya." Ucapku seraya tersenyum.


Tanpa kami tahu, wanita itu mendengar ucapan kami. Jadi dia sudah menikah ? Pantas saja sia cuek. Ucapnya lirih.


"Mas, boleh enggak aku ikut kejar paket ?" Tanyaku lembut seraya menyandarkan kepalaku di lengannya.


"Maaf ya ay bukan aku melarang, namun tabunganku belum cukup." Ucapnya lirih.


Mendengar hal itu aku langsung menatapnya dan tersenyum. Lalu menganggukkan kepala, pengganti kata iya.

__ADS_1


"Makasih sayang." Ucapnya lirih.


"Sama-sama mas." Ucapku seraya tersenyum.


__ADS_2